
Hari ke empat festival, seperti biasa Zeria hanya berdiam diri di kamarnya karena enggan pergi ke festival yang sangat ramai. Namun hari ini mungkin akan sedikit berbeda dari biasanya, karena hari ini gaun Zeria sudah selesai dibuat dan akan diantarkan ke kamarnya langsung.
Zeria duduk di sofa ditemani dengan Arin dan secangkir teh, "Arin, kira kira bagaimana bentuk gaunku ya?" Zeria menyeruput teh nya dengan perlahan.
"Entahlah, yang pasti gaunnya sangat indah"
"Tentu harus indah dong, Zeria harus menjadi pusat perhatian saat pesta nanti" Eric tiba tiba muncul dari jendela dan melompat masuk. "Yo!" Sapanya sambil mengangkat salah satu tangannya.
"Muncul darimana bocah ini?" Tanya Arin.
"Dia melompat dari bawah"
"Tidak waras"
Arin merasa kalau sesuatu yang dilakukan oleh Eric itu sangat tidak masuk akal, walaupun menggunakan sihir pun pasti akan sangat sulit untuk melompat ke ketinggian 15 meter di atas tanah.
Eric bergabung dengan Zeria dan Arin, ia duduk di sofa tepat di sebelah Zeria dan menyeduh teh nya sendiri. Suasana menjadi hening, entah karena rasa gugup akan pesta yang sudah mulai dekat atau terlalu banyak hal yang harus difikirkan.
Eric melirik Zeria yang berada disampingnya dengan lekat, jelas sekali kalau Zeria sedang terhanyut dalam pikirannya. Zeria yang biasanya sangat peka bahkan tidak menyadari kalau dirinya sedang ditatap dengan lekat begitu. "Zeria?" Zeria tak mendengar panggilan dari Eric, padahal suaranya sedekat itu.
Arin yang sudah merasa kesal karena Zeria tak merespon, akhirnya berjalan mendekati Zeria dan menyentil keningnya. "Hei bodoh, bocah blonde ini dari tadi memanggilmu"
"Aduh!" Akhirnya Zeria tersadar dari lamunannya, ia memperhatikan waja dua orang yang ada di dekatnya, wajah mereka terlihat khawatir. "Apa?" Zeria mengusap usap keningnya yang terasa sakit.
Di wajah mereka terlihat ekspresi yang ambigu, ekspresi antara khawatir dan kesal. Zeria menatap mata Eric dalam dalam, berharap kalau Eric akan mengulangi perkataannya yang tak terdengar olehnya tadi. Namun Eric malah memalingkan wajahnya ke arah lain, seolah enggan menatap mata Zeria.
"Eric?" Zeria berjalan ke arah yang dipandang Eric dan berdiri dihadapannya, tapi lagi lagi ia menolak untuk melihat Zeria. "Eric? Ada apa?" Zeria masih berusaha untuk membuat Eric menatapnya, namun Eric masih terus menghindarinya.
__ADS_1
"Dia marah, dasar bodoh" Celetuk Arin lewat telepati dengan nada jengkel.
"Marah?"
"Kau tanya saja sendiri"
Zeria ragu ragu untuk bertanya, namun ia membulatkan tekadnya untuk bertanya. Zeria berjalan dengan cepat ke hadapan Eric dan meraih wajahnya dengan cepat. "Eric!" Ia memegang wajah lelaki itu dengan kedua tangannya dan memaksanya untuk menatap dirinya. "Kau marah?" Zeria terus memegang wajah Eric dan memaksanya untuk menatap matanya, walaupun Eric terus memberontak.
"Tidak" Jawabnya dengan melirikkan matanya ke arah lain dan menghindari tatapan mata Zeria.
"Jangan bohong"
"Aku tidak bohong"
"Kalau begitu, kenapa kau menghindariku?"
"Habisnya tadi kau mencuekkanku" Jawabnya sambil memoncongkan bibirnya, rasanya jengkel saat orang lain tidak merespon panggilan darimu.
"Ehh?!" Teriak Arin dan Eric secara bersamaan, mereka kelabakan karena Zeria meminta maaf sampai seperti itu. "Ja- jangan begitu, angkat kepalamu! Angkat!" Arin menarik Zeria kebelakang dan membuat postur Zeria kembali seperti semula.
Jantungnya berdetak dengan cepat, rasanya seperti akan meledak. "Apa apaan dia? Kenapa minta maaf sampai seperti itu sih?" Pikir Eric. Karena prilaku Zeria yang barusan sangat tidak terduga dan tak pernah ia fikirkan.
***
Louise berada tepat di depan pintu kamar Zeria, ia tidak langsung masuk karena ia mendengar suara keributan dari dalam dan membiarkan mereka selesai bertengkar dulu. Setelah merasa kalau situasi sudah tenang, Louise mendorong pintu kamar Zeria dan melihat mereka bertiga yang sedang tatap dengan wajah panik.
"Selamat siang, apa aku datang di saat yang salah?" Tanya Louise.
__ADS_1
Mendengar suara Louise, mereka bertiga langsung dengan sigap mengambil posisi dan memberi salam. "Salam bagi Baginda Kaisar, sang matahari pemilik kekaisaran" Arin dan Eric menundukkan kepala mereka, karena perbedaan kasta mereka sangat jauh.
"Baiklah, kalian...sedang apa?"
"Emm, tadi hanya ada sedikit pertengkaran kecil saja, Baginda"
"Begitu? Untung sekali kalian berdua ada disini, pakaian kalian sudah jadi dan sudah kubawakan kemari. Tunggulah sebentar lagi, pelayan akan membawakannya kemari" Louise berjalan mendekati Zeria, ia duduk di sofa dan mengangkat Zeria ke dalam pangkuannya.
Mereka terdiam tanpa suara sedikitpun, rasanya gugup jika berhadapan dengan orang yang berpangkat tinggi, apalagi dengan seorang kaisar seperti Louise. Arin berdiri, berjalan mendekati meja yang berada di dekat jendela dan menyeduhkan teh untuk Louise.
Suasana terus terasa hening sampai akhirnya pelayan mengetuk pintu. Enam orang pelayan memasuki kamar Zeria, tiga diantaranya membawa pakaian milik Zeria, Arin dan Eric. Lalu tiga sisanya bertugas membantu mereka mencoba pakaian tersebut.
Gaun bernuansa malam yang gelap dengan cahaya bulan biru, seperti itulah kira kira gaun milik Arin. Gaun berwarna hitam di bagian atas dan biru tua dibagian bawah, dengan lengan pendek dan berhiaskan dengan permata yang berbentuk kupu-kupu menghiasi bagian bawah gaun itu. Gaun yang tak terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek, dengan sepatu hitam yang dibagian belakangnya ada sebuah hiasan kupu-kupu biru yang cerah.
Pakaian Eric juga serasi dengan warna gaun Arin, Atasan dengan warna biru tua, celana hitam dan jubah hitam yang terdapat sebuah bros berwarna biru laut dengan lambang bunga mawar di bagian dadanya. Dan dengan beberapa aksesoris lain yang tak kalah penting.
Dan gaun Zeria adalah gaun yang paling mewah, Gaun berwarna abu muda. Rok gaun yang panjangnya hanya selutut, dengan hiasan beberapa mawar berwarna putih dan abu tua di bagian pinggang. Jubah berwarna putih transparan dibagian bahu kebelakang. Walaupun terlihat simple, namun jika diperhatikan lagi. Hiasan bunga mawar yang ada di bagian pinggang itu terbuat dari kristal yang langka, dan di bagian jubahnya menempel pecahan pecahan permata warna emas yang akan berkilau jika terkena cahaya.
Mereka terpana dengan pakaian mereka masing masing, pakaian yang seolah olah menyatu dengan tubuh mereka. Terasa sangat nyaman saat dipakai.
"Ahh, aksesorismu ada di kotak yang ada disana" Louise menunjuk kotak yang berada di ujung meja dan menyuruh Arin membukanya.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah kalung permata biru dengan lambang bunga mawar didalamnya. Sekilas terlihat sama dengan bros milik Eric. Lambang bunga mawar sendiri dapat diartikan 'Istana Putri'. Entah sejak kapan Zeria memiliki lambang dan cap dengan bentuk mawar, namun ia menerimanya dengan senang hati. Jadi dengan kata lain, kalung dan bros itu menunjukkan kalau mereka adalah bagian dari Istana Putri.
***
"Hmmm, pestanya masih tiga hari lagi" Vicent memutar mutar sebuah kalung ditangannya dengan wajah bosan.
__ADS_1
"Berisik Vicent"
Vicent tersenyum dan berhenti memutar kalung ditangannya,"Haha, baik baik. Aku hanya tidak sabar untuk menabur bunga merah ke tanah"