
***Keadaan Di Istana***
Orang orang sibuk berlarian kesana kemari untuk melindungi diri mereka sendiri, keadaan semakin kacau karena tidak adanya putri dan putra mahkota di istana mereka. Bahkan Louise sendiri pun sempat panik karena putrinya tiba tiba menghilang begitu saja. Namun mengingat keadaan yang sedang kacau balau, ia terus coba menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
“Will, Kirim pasukan untuk berjaga di depan gerbang istana” Louise terus memegangi kepalanya, mencoba berpikir positif kalau Zeria dan Lucas baik baik saja.
William juga dibuat pusing dengan penyerangan yang sangat tiba tiba ini, kenapa ia tak merasakan keanehan apapun sebelum penyerangan terjadi? “Tenang saja, aku sudah mengirim pasukan 1 dan 2 kesana. Pasukan 3 dan 6 sudah berangkat ke gerbang timur, lalu sisanya berpencar ke seluruh desa” William mendekati Louise dan memukul kepalanya.
Duak!
“APA APAAN KAU?!”
“Sudah kubilang tenang saja, aku paling benci melihat wajahmu yang seperti mayat hidup itu. Tuan putri dan putra mahkota bukanlah orang biasa, mereka bisa menjaga diri mereka sendiri”
Bukannya tenang, Louise malah makin khawatir. Memikirkan bagaimana keadaan putrinya yang lemah itu saat ini. “Semoga tidak terjadi apapun pada mereka” ucapnya, lalu beranjak pergi untuk memberi perintah secara langsung.
***Keadaan Zeria***
“Kau tidak berpikir kalau aku tak akan bisa mengenalimu kan? Vicent” Sebuah senyuman terukir di wajah Zeria.
Pandangannya agak sedikit buram karena penggunaan kekuatan yang cukup besar, namun itu bukanlah masalah. Perlahan pria di hadapannya mulai tertawa terbahak bahak. Apa yang membuatnya tertawa sampai seperti itu?
“AHAHAHA, sial, aku lengah ya?” Ia menyibak rambutnya dan dengan sekejap warna rambutnya yang semula berwarna ungu mulai berubah menjadi coklat gelap. “Maaf atas kecerobohanku, Tuan Putri Luczeria” seperti tak terjadi apa apa, ia memberi salam layaknya seorang bangsawan.
Kedua orang itu terkejut, tentunya mereka tak akan menyangka kalau ternyata ada orang lain yang menguasai sihir ilusi kecuali Azra. “Kau mirip sekali dengan Azra ya, Vicent” Zeria melangkahkan kakinya.
Vicent tersenyum, wajah yang persis seperti Azra namun kepribadian yang terbalik itu membuat Zeria merasa rishi. “Apa kau penasaran?” Seolah menggoda Zeria, ia bertanya dengan nada yang halus dan lembut.
__ADS_1
“Jangan meniru cara bicara Azra, karena itu terdengar menjijikan” Zeria membuat ekspresi jijik seolah itu adalah hal terburuk.
Lucas dan Eric masih bersiaga dibelakang Zeria, berjaga jaga kalau masih ada bangsa iblis yang tersisa. “Kenapa kau ada disini? Bagaimana dengan kerajaanmu?” Zeria mendekati Vicent. Walaupun Lucas mencoba untuk menahanya, namun itu tidak berhasil.
“Aku ada disini tapi kau malah bertanya soal kerajaanku? Tega sekali” Bahkan di situasi seperti ini pun dia masih bisa bercanda? Apa yang membuatnya percaya diri sampai seperti itu?
Zeria mulai merasa curiga, kenapa yang menyerang kekaisaran adalah bangsa iblis dan bukan pasukan dari kerajaan Lilua? Dan mengapa mereka tak langsung menyerang istana, melainkan malah menyerang desa lebih dulu?
“Jangan membuat wajah yang menyeramkan begitu. Jika kau ingin jawaban, maka aku akan menjawabnya.” Vicent membuka jubahnya dan menunjukkan lehernya pada Zeria. Terdapat sebuah tanda disana, apakah itu tato? Tapi kenapa berbentuk sayap?
Melihat tanda itu, Lucas langsung menarik tangan Zeria sekuat tenaga dan membuatnya menjauh dari Vicent. “Tanda itu…”
Suasana aneh pun menyerang, kenapa ia sangat sensitif hanya karena tanda berbentuk sayap itu?
“Ohoo, nampaknya Yang Mulia Putra Mahkota mengetahui sesuatu ya?” Vicent memegang tanda yang ada di lehernya sambil tersenyum.
“Kenapa?” Lucas menggenggam erat tangan Zeria dengan sedikit gemetar. “Kenapa kau membuat perjanjian dengan bangsa iblis?”
“Bayaran apa yang kau berikan pada mereka?” Tanya Zeria. Ada satu kemungkinan yang ada di kepalanya, namun ia tak mau memikirkannya karena itu terlalu kejam.
Vicent terdiam, apa yang sedang ia pikirkan sampai wajahnya berubah begitu? Ia perlahan berjalan menjauh dari mereka bertiga, memakai Kembali jubahnya lalu kemudian tersenyum.
“Apa apaan senyuman itu?”
Angin kencang tiba tiba menerpa mereka, angin yang tak wajar disertai kelopak bunga yang beterbangan. “Jika ini adalah novel fantasi, mungkin aku adalah antagonisnya. Mungkin aku akan menjadi orang yang hanya berguna untuk membuatmu terlihat lebih menonjol”
“Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Biarkan aku memperkenalkan diriku sekali lagi. Aku Vicent, Adik kembar Azra. Dan aku telah mengorbankan seluruh nyawa di kerajaan Lilua untuk membuat perjanjian dnegan bangsa iblis” Senyuman manis merekah di wajah tampannya, namun hal itu justru terlihat menyeramkan.
“Dia sudah gila!” mungkin itulah yang ada di pikiran mereka bertiga saat mendengar perkataan Vicent barusan.
Amarah menghampiri Zeria, dadanya terasa sakit saat membayangkan orang orang tak berdosa di kerajaan Lilua yang mati hanya karena ide gila manusia itu. “KENAPA KAU MENGORBANKAN ORANG ORANG YANG BAHKAN TIDAK TAHU APAPUN ITU?!”
Zeria memberontak dari pelukan Lucas, rasanya ia ingin sekali membunuh laki laki itu saat ini juga. Matanya terasa panas, jantungnya berdetak kencang, rasanya ia ingin setidaknya menampar laki laki itu.
“Kenapa kau melakukannya?” Zeria terduduk.
“Aku tak ada pilihan lain. Jika kau berpikir kalau aku ini egois, itu bagus” Ekspesi Vicent terlihat aneh, kenapa wajahnya terlihat sedih seperti itu? Padahal dia sudah membunuh semua orang di kerajaannya, bahkan keluarganya. Dan lagi dia adalah kembaran Azra?
Eric melangkah maju mendekati Vicent lalu berdiri tepat dihadapanya. Mereka bertatap mata, lalu tanpa mengatakan apapun, Eric menampar wajah Vicent. “Jadi kali ini kau menggunakan cara yang ribet ya?”
“Haha, sudah kuduga itu kau, sialan” Dengan pipinya yang memerah karena tamparan dari Eric, dia bahkan masih bisa tersenyum.
“Kali ini aku akan menghentikanmu” Eric menatap tajam
“Kau sendiri tahu bukan kalau hal itu tak mungkin terjadi?”
Seolah perkataan Vicent benar, Eric sama sekali tak bicara. Ia sama sekali tidak menjawab perkataan Vicent, dirinya hanya diam membatu.
“Kau tau kalau aku, dilahirkan hanya untuk membunuhnya. Dan aku tak akan pernah mati sebelum bisa membunuhnya. Dan kau juga tau kalau ini bukanlah keinginanku” Vicent membuat ekspresi menyakitkan diwajahnya. Apa apaan wajah menderita itu?
Ada yang salah disini, kenapa Vicent bersikap seolah dia juga adalah korban? Apakah itu untuk mengecoh kami? Atau itu memang perasaanya yang sebenarnya? Aku tidak tahu, semua ini membuatku bingung. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa harus aku yang merasakan sakit?
“Hei Zeria, apa kau tau?” Eric membalikkan tubuhnya dan menatap Zeria.
__ADS_1
Zeria tersentak, apa apaan mereka berdua? Kenapa mereka membuat ekspresi seperti itu?
“Jika menyelamatkanmu sama seperti tertusuk anak panah, maka aku bersedia untuk tertusuk ribuan anak panah sekalipun”