
tepat 18 : 30....
Tidak satu kalimat pun yang keluar dari bibir kedua orang yang tengah duduk berjajar.
Setelah sepersekian detik, barulah Nano berbicara, "Ri boleh tanya sesuatu?"
"Tanya aja mas, mau tanya apa?" kata Rindu.
"Eemm ... bener gak si waktu di aula kamu bilang kalo suka sama Mas?" tanya Mas Nano.
"Oo, waktu itu, kenapa mas Nano tanya itu?"
Rindu menjawab pertanyaan mas Nano dengan pertanyaan.
Mas Nano menghela nafas panjang "Mas ini tanya kamu Ri, kenapa pertanyaan kamu jawab dengan pertanyaan?"
"Sudahlah Mas tidak perlu di bahas,aku sudah tau semuanya," kata Rindu.
"Aku tau mas gak ada rasa sedikit pun kan pada ku?" Rindu menambahkan.
__ADS_1
"Hahahahaha ... tidak perlu dianggap serius semua kelakuan ku waktu itu Mas, santai aja, aku gk serius ko, hahaha," ungkap Rindu. Tanpa beban.
"Syukurlah setidaknya aku tidak merasa bersalah padamu," pungkas Mas Nano.
"Tapi ... ." dengan expresi serius Rindu menatap Mas Nano, "Bener gak sih yang aku baca tempo hari," imbuh Rindu. Belum selesai dengan kalimatnya. Teman sepermainannya tiba, Karena hampir setiap hari anak muda kampung krajan berkumpul, hanya sekadar menghilangkan penat karena kesibukan dari pagi hingga petang.
"Serius amat, bahas apaan sih?" tanya Karno. Yang muncul dari belakang mas Nano.
"Gak ada, gak lagi bahas apa-apa kok!" sahut Rindu.
"Woe ada kabar bagus nih!!" suara laki-laki yang tiba-tiba datang, suara yang Rindu hafal. Sesuai dugaan Mas Setya menghampiri mereka bertiga.
Wajah Setya bisa dikatakan serius saat ini.
"Begini, kemarin sore aku dapat kabar dari CV.The Krup, katanya lagi butuh karyawan," ucapnya mantap dengan menatap kedua rekannya Karno dan Nano.
"Trus, kenapa kalo lagi butuh karyawan?" tanya Karno. Sambil sesekali memainkan gitar yang dibawanya.
Mas karno jelas tidak tertarik dengan apa yang di katakan Setya, karna mas Karno sudah bekerja dibengkel TV milik kakak iparnya. Ya, walaupun hasilnya tidak begitu banyak. Bukan hanya bengkel TV, kadang kala mas Karno juga ikut pamannya memborong. jika ada kenalan pamannya yang ingin membangun rumah.
__ADS_1
Kemudian Setya beralih menatap Nano dengan wajah serius, " gimana No? kamu mau ikut atau tidak?" Setya bertanya dengan harapan Nano mau ikut denganya ke kota.
"Okey aku ikut dengan mu," jawab Nano mantap. Karena mas Nano tidak punya pekerjaan yang tetap. Mas Nano biasanya bekerja di meubel kampung sebelah yang kadang rame kadang sepi tergantung pesanan.
Seperti biasa malam itu terlewatkan dengan nyanyian. Semakin malam semakin ramai, banyak para tetangga yang sebentar ikut bergabung. Sekadar basa-basi mengusir sepi.
"Rindu!" suara yang terdengar dari kejauhan, Pade Rindu memangil.
Memang sejak bangku sekolah dasar Rindu di tinggal bekerja kedua orang tuanya di kota.
Susahnya pekerjaan di kampung membuat orang tua Rindu pergi merantau untuk mencukupi kebutuhannya.
"Sudah dulu ya mas-mas sekalian, Rindu pulang dipanggil Pade," Rindu pamit.
"Lagian anak masih sekolah jam segini bukannya belajar malah nongkrong," seloroh Setya. Tanpa menoleh ke arah Rindu.
Rindu berlalu pergi, tidak ada minat sama sekali untuk menyahuti omongan Setya.
Malam makin larut satu persatu orang-orang yang sedang asik berkumpul pergi.
__ADS_1