
"Hallo," dari seberang terdengar suara yang sedang di tunggu oleh Nano beberapa bulan ini.
"Hallo juga, gimana kabar mu Lin?" Tanya Mas Nano pada si penelfon.
"Aku baik mas," jawab Linda dengan senyum yang iya tahan karena ada rasa yang tidak bisa dia artikan sendiri. Yang bahkan dengan dia tersenyumpun tidak mungkin yang di seberang sana tahu.😊
Sudah sepersekian detik berlalu tanpa ada basa basi yang terlontar dari masing-masing.
Deheman kecil sontak membuat suasana mencair, "Ekhem...minggu depan mas pulang, boleh minta waktu sedikit untuk berbicara setelah sampai?" tanya Nano pada Linda.
"Iya mas bisa tapi, kita tidak cuma berdua ajakan nantinya?" Linda menanyakan ini agar bisa diijinkan keluar oleh papanya, karena Linda tau kalau hanya pergi berdua mustahil bisa dapat ijin.
"Tentu saja, nanti kita perginya rame-rame biar seru." dengan sedikit kekecewan Nano menjawab. Karena Nano hanya ingin bicara berdua saja dengan Linda.
"Mas udah dulu ya, nanti di sambung lagi telfonnya...daaa," Linda memutuskan sambungan telfonnya.
Sejenak Nano memandangi ponsel yang mati secara sepihak itu. Dengan menghembuskan nafas berat dia hendak pergi, namun urang iya beranjak terdengar suara panggilan dari arah belakang.
"Nano!! kenapa muka mu kau tekuk begitu?" Hari menghampiri Nano dengan raut wajah bertanya-tanya karena teman yang biasanya ceria menjadi sedikit mendung.
"Tidak ada apa apa kok." jawab Nano dengan menampilkan senyum setulus mungkin dengan tujuan temannya ini tidak curiga.
"Lamanya sih cuman manggil doang," dari jauh Setya memanggil temannya yang diutus untuk mengajak berkumpul bersama lepas penat seharian bekerja.
Untung saja si Bambang ini datang tepat waktu.Nano membatin
__ADS_1
"Nih giliran mu!?" Setya menyodorkan minuman di dalam gelas kecil pada Nano.
"Nggak, apaan nih? aku gk minum yang gitu," Nano menolak Setya.
"Sedikit saja No! gak bakal hilang kesadaran mu, cuma biar anget ajha," Hari mencoba membujuk Nano.
"Ya udah sekali aja. setelah ini aku akan masuk, capek tadi kerjaan banyak banget," dengan cepat Nano meneguk minuman itu dan pergi meninggalkan temannya yang sedang ngumpul bersama.
Nano berjalan menyusuri lorong tempat para karyawan beristirahat untuk meregangkan ototnya yang kaku karena seharian bekerja , lebih tepatnya ini adalah deretan kamar-kamar yang di sediakan oleh pabrik mereka bekerja.
Sreeekkk sreeekkkk...
Sedikit menaikkan alis Nano melangkah mantap kearah sumber suara. Sontak kedua mata Nano membulat seakan tak percaya tengah apa yang dia lihat, untuk kesekian kalinya Nano melihat sosok yang sangat tidak ingin dia temui selamanya.
Sosok yang selalu membuat mimpi buruk dalam setiap tidurnya.
Dengan sedikit berjalan cepat nano pergi meninggalkan tempat itu , dimana ada sosok yang menyerupai manusia dengan rambut tergerai panjang dan kusut.😱
Tok tok tok
"Nano boleh aku masuk?" Suara dari arah pintu mengagetkan Nano yang masih ngos ngosan dan panas dingin dengan keringat terlihat di keningnya.
"Ya masuk aja gak papa," sahutnya mengatur nafas sedikit lega bahwa orang yang dia kenal dari balik pintu yg dia buka.
"Ada apa silla malam-malam kemari?" imbuh Nano.
__ADS_1
"Gak papa cuma mau tanya, apa kamu tau Sita dimana?" Tanya Silla basa basi mencari alasan apa yang membawanya pada sosok Nano yang satu minggu lalu pernah ditawari hatinya.
"Kayaknya tadi aku lihat dia keluar, katanya si mau cari makan." karena tadi sewaktu masuk lorong Sita sempat berpapasan dengan Nano "Tumben kamu gak keluar bareng Sita?".
"Iya tadi aqu baru pulang jadi gak ketemu Sita," Silla menjawab pertanyaan Nano.
"Masuk dulu Sil, sambil tunggu Sita lewat, memang hp kamu kemana kok gak tanya lewat WA saja?" Nano kembali bertanya pada Silla.
Gugup silla menjawab pertanyaan Nano.
"Hp aku tadi batrainya habis "...
" Ooo..." Nano hanya menjawab tanpa ada niat untuk bertanya lagi.
"Eemmm, Nano soal pertanyaan ku waktu itu, gimana?" Sedikit ragu Silla bertanya, namun sekuat hati Silla meyakinkan diri agar membuat pikiran dan hatinya terus memikirkan sosok pemuda cuek namun hangat yang ada di depannya ini.
"Soal itu, maaf Sil aku udah punya seseorang yang selama ini mengisi kekosongan dalam hati ku." jawaban mantap yang semoga saja cewek cantik di depannya ini menerima dengan hati lapang.
"It's oke, aku mengerti," dengan senyum yang dipaksakan Silla menegarkan hatinya, harapan yang merasa bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan pun menguap.
Hening sejenak dalam ruangan itu, yang lebih tepatnya kamar yang tadinya dingin oleh hembusan kipas angin menjadi terasa panas.
"Woeyy ngapain berdua-duan disini? ada setan lewat baru tau lo!" suara Sita memecah keheningan.
"Pa'an sih Sit, gue lagi nungguin lo dari tadi. Malah lo pergi sendirian gak nunggu-nunggu gue lagi." jawab Silla sambil menarik tangan Sita agar pergi dari kamar Nano.
__ADS_1
Maaf ya Sil, kalo aku menyakiti perasaan mu. Jujur aku gak ada maksud buat kamu kecewa, tapi aku gak mau buat kamu kecewa lebih dalam jika aku harus terpaksa membohongi persaan ku yang sudah terpatri untuk orang lain.
Dalam diam Nano berbicara