AKU RINDU

AKU RINDU
GANGGUAN


__ADS_3

" Gimana Lin? Kok malah melamun, iya atau tidak?" Nano bertanya dengan raut wajah tak sabaran.


Linda menatap lekat-lekat pemuda di sebelahnya ini, kedua tangannya kini berada dalam genggaman tangan Nano.


Sedikit meragu Linda menganggu, " Iya mas aku mau jadi kekasih mu, terima kasih sudah menunggu ku selama ini."


Malam itu di saksikan langit yang berhias bulan dan bintang akhirnya mas Nano dan Linda resmi jadi sepasang kekasih. Suasana yang begitu menyenangkan kedua insan yang lagi kasmaran ini begitu terlihat romantis seperti di film darkor.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Tapi berbeda di tempat lain nampak tiga anak muda yang berpenampilan sangar mendekati tempat Setya dan ke dua temannya.


Tak di duga sebelumnya, satu pukulan mendarat tepat di pipi Setya yang tak tau apa kesalahannya. Rindu yang sedang antri membeli camilan dari kejauhan sontak kaget dan segera menghampiri ketiga temannya.


" Mas siapa mereka?" Tanya Rindu sedikit berbisik-bisik dari balik punggung Hari.


Dengan tatapan penuh amarah Setya membalas pukulan orang yang memukulnya tadi, " Siapa lo dateng-dateng main pukul orang sembarangan." tanya Setya sambil mengusap darah di sudut bibirnya yang tadi terkena pukulan.


" Jangan sekali-kali lo deketin Sita! dengar baik-baik!! " orang tersebut menjelaskan maksud kedatangannya menghampiri Setya.


Dari kejauhan Nano berlari menghampiri rekan-rekannya, di ikuti Linda dari belakang yang nampak bingung dengan kejadian menegangkan yang baru saja terjadi.


Belum sempat Linda dan Nano bertanya, Setya sudah menghampiri mereka berdua, " Tolong kau bawa Linda dan Rindu dulu, ada urusan yang harus kubereskan," setengah berbisik Setya menyampaikan apa yang dia mau. Seketika Nano mengerti dan membawa kedua gadis itu bersamanya.


Saat menuju tempat parkir Rindu yang masih syok menyaksikan baku hantam di depan matanya sedikit gemetar dia meraih tangan mas Nano.


Tapi di sisi lain mas Nano yang baru saja mendapat balasan cinta dari Linda sepanjang jalan tidak berniat melepaskan genggaman tangannya dari Linda.


Jika orang melihat momen ini seperti serial kuch kuch hota hai.


Tapi masih beda adegan ya 😊😊😊



Akhirnya Nano, Linda, dan rindu mengendarain motor bertiga persis cabe-cabean😊😊😊.


Disepanjan perjalan tidak ada pembicaraan. Hingga Mas Nano membuka percakapan, "Ri coba kamu priksa saku hoodie ku?" perintah Mas Nano pada Rindu.


Rindu pun mengikuti perintah Nano,


Ini sih paku, untuk apa mas Nano membawa benda seperti ini, apa dia mau memaku kepala mbak kunti? Gumam Rindu dalam hati.


"Ada apa Ri disana?" tanya Mas Nano pura-pura tidak tau apa yang ada di dalam saku hoodienya.


"Kayaknya si pensil," jawab Rindu berbohong.

__ADS_1


Rindu-Rindu jelas-jelas yang kamu pegang itu paku, gak tau apa memang pura-pura tidak tau? Nano bertanya pada dirinya sendiri atas jawaban polos yang Rindu lontarkan padanya.


Kini di tempat Setya, Hari, dan Karno, suasana cukup menegangkan. Masih dengan tatapan serius tampak mata Setya semakin memerah menahan amarah yang belum reda, walaupun impas dengan pukulan satu sama.


"Apa masalahnya dengan mu? Jika aku mendekati Sita haahh..!!!?" dengan nada kerasa Setya bertanya pada orang yang tidak ia kenal dan tiba-tiba saja mendaratkan pukulan di pipinya tadi.


Dengan santai orang tersebut membuang putung rokok di tangannya sambil mematikan dengan alaskaki, hingga mengeluarkan asap tanda bahwa api pada rokok sudah padam.


"Jelas masalah bagi ku, apa lagi dengan Doni adik ku!" jawab pria tersebut yang ternyata teman Doni yang sudah menganggap Doni sebagai adiknya.


"Ha ha ha lucu sekali, jelas-jelas Sita masih single dan belum berkeluarga bukan? lantas apa hak mu melarangku dekat dengannya?" Jawab Setya sinis


"BANYAK BACOT!!!"


Bhuuuukk


Pria tersebut memukul Setya kembali, sehingga baku hantam dari ke enam pemuda itu tak terelakkan. Tanpa terlihat ada yang mau mengalah hingga tanpa sadar ada mobil polisi patroli.


Wiiiuuu wiiu wiuuuu


"Setya...!!! Polisi....ayo kita pergi?" Hari menarik paksa Setya dan Karno, hingga mereka berenam membubarkan diri dengan tujuan masing-masing.


Malam yang sangat menegangkan pun berlalu dengan kedatangan polisi yang menang sering melakukan razia disana.


*****


Tak terasa pagi sudah menampakkan sinarnya untuk menemani mahkluk di bumi beraktivitas.


"Ri! Sudah siap?" Bude Winy memanggil Rindu agar segera keluar kamar, karna mang Udin yang biasa antar Rindu pergi kesekolah sudah datang.


"Sudah di tunggu mang udin tu!" imbuh Bude Winy.


"Iya-iya, assalamu'allaikum Bude, Pade Kak Linda, Rindu berangkat ya?." Akhirnya Rindu keluar dan berpamitan segera berangkat bersekolah.


"Eehh Rindu ini bekalnya, sampai lupa Bude.." terburu-buru Bude Winy menghampiri Rindu.


"Terima kasih Bude," dengan senyum mengembang Rindu menerima bekal yang di siapkan mama Linda untuknya.


Karna Rindu sudah di anggap seperti anak sendiri oleh keluarga Padenya.


Hari ini Rindu sengaja berangkat lebih awalan karena ada jadwal piket yang mengharuskannya datang lebih pagi dari pada teman-temannya.


Siulan kecil lolos dari bibir merah jambu milik Rindu. Saat hendak memasuki kelas seseorang yang baru saja datang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Dian!! " ya Rindu sangat hafal kelakuan temannya yang satu ini. Teman beda kelas Rindu, Dian adalah siswa dari kelas A, yang sudah cukup dekat dengan Rindu.


"Ke kantin yuk...? Lapar nih," tanpa menunggu jawaban ya dari Rindu. Dian terus mengajaknya kearah kantin yang lebih tepatnya memaksa Rindu. Ya, itu memang kebiasaan Dian.


Sesampai kantin suasana masih tampak sepi tanpa ada siswa-siswi berada di tempat itu.


"Naaahhh, lihatkan masih sepi Dian. Ini masih jam berapa? kantin buka baru pukul sembilan. Kenapa gak tunggu aku ngomong dulu, main tarik-tarik orang sembarangan! nih aku bawa bekal," sedikit manyun Rindu memberikan bekal dari Bude Winy pada Dian, karna Bude Winy membawakan lebih banyak dari biasanya, "Hari ini aku ada jadwal piket, gara-gara kamu nih aku jadi buang waktu ku yang berharga," imbuh Rindu seraya meninggalkan Dian yang berada di kantin.


"Thank's ya!" ucap Dian saat menerima pemberian Rindu. Cepat-cepat Dian memakan bekal itu karna Dian berniat untuk membantu Rindu sebagai balasan karna sudah memberikan bekalnya.


Rindu yang melihat Dian terburu-buru saat makan hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sebelum benar-benar pergi Rindu berbalik dan memberikan air mineral pada temannya itu "Niihh minumnya, jangan buru-buru gitu kalo makan! Nanti tersedak lo," pesannya pada Dian sebelum pergi berlalu.


Sesampainya Rindu di ruang kelas segera mengambil sapu dan mulai membersihkan ruang kelasnya.


"Huuhhh ... selesai sudah tugas ku," gumam Rindu yang sudah mendaratkan dirinya di bangku.


Ya tuhan lucu sekali mas Nano, baru pertama kali aku lihat dia takut sampai seperti itu ha ha ha. Batin Rindu sambil mengingat kejadian semalam.


Flashback on


Sedikit ragu-ragu Mas Nano mengetuk pintu rumah Linda, ya sekarang mereka bertiga sudah sampai di depan rumah.


Setelah perdebatan panjang antara siapa diantara mereka yang harus lebih dulu mengetuk pintu. Jatuh pada Mas Nano selaku orang yang mengajak kedua gadis di belakannya ini, yang merasa takut karna pulang terlambat dari waktu yang sudah di tentukan.


Tok tok tok


"Assalamu'allaikum." sambil mengucap salam Nano mengetuk pintu rumah Linda.


"Ekheemm, kenapa baru pulang?" terdengar suara papa Linda dari arah belakang mereka, yang pulang dari tugas ngeronda malam ini.


Seketika suasana yang tadinya tegang menjadi semakin menegangkan mereka bertiga, angin yang berhembus menambah suasana semakin horror saja.


"Om, Assalamuallaikum," jawab Nano dengan keringat dingin menggenangi keningnya. Di tambah expresi panik yang nampak jelas terlihat oleh Rindu.


Hahahaha...mas Nano bisa-bisanya terlihat sepucat itu kayak habis lihat hantu. Rindu menertawai Nano dalam hati.


Akhirnya penjelasan Nano bisa di terima dengan baik oleh Papa Linda. Kemudian Nano meninggalkan kediaman Linda dengan hati yang lega.


Flashback off


Rindu yang senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam, tak menyadari Dian sudah ada tepat di depan wajahnya yang hanya berjarak kurang lebih 15 centi.


"Astagah...! Dian....!!!! Minggir!! mengagetkan saja," seru Rindu sedikit panik. Karna baru pertama kali sedekat ini dengan Dian.

__ADS_1


Gangguan dari Dian sukses membubarkan lamunan Rindu saat ini.


__ADS_2