
Food court...
Ya, kini Rindu telah berada di area food court, mata lebar Rindu menyapu seluruh ruangan. Mencari-cari tempat ternyaman untuk menikmati sarapan paginya.
Waaaooo...mewah sekali tempat ini. Gumam Rindu dalam hati, karena takjub dengan arsitektur bangunan yang saat ini ia pijak.
Hingga tatapan Rindu tertuju pada meja persis di dekat jendela yang bisa menampakkan suasana yang lebih luas memandang keluar.
Saat Rindu sudah terduduk, seorang waiters menghampiri Rindu dengan membawa sebuah buku ya lebih tepatnya buku menu. Diserakannya buku tersebut pada Rindu.
Mata dan tangan Rindu nampak bergerak seirama, tidak butuh waktu lama akhirnya Rindu sudah menetapkan pilihan. "Uumm mbak aku pesan potato wedges dengan saus mayonaise, sandwich dan...umm minumnya air mineral saja boleh?" ucapnya kemudian.
"Tentu saja!...boleh saya ulang kakak, potato wedges dengan saus mayonaise satu, sandwich-nya satu dan minumnya air mineral betul ya kak." ucap waiters ramah.
"Yeaah." jawab Rindu sambil mengacungkan dua jempolnya.
Sang waiters pun meninggalkan Rindu disana, untuk menunggu pesanannya datang.
Dari kejauhan tampak seorang pemuda memperhatikan Rindu, entah apa yang membuat pemuda tersebut begitu enggan untuk berpaling.
Rindu yang tak menyadiri seorang pemuda tengah memperhatikannya nampak begitu santai dengan memainkan ponsel miliknya. Hingga apa yang tengah ia tunggu-tunggu telah sampai di depan mata.
"Silahkan kakak pesanan sudah lengkap ya kak potato wedges dengan saus mayonaise satu, sandwich-nya satu dan minumnya air mineral selamat menikmati." dengan sigap waiters menjelaskan detail menu pesanan Rindu.
Rindu mengangguk dengan senyum melengkung di bibirnya. "Terima kasih." ucapnya kemudian.
Diletakkannya popato wedges lebih dulu diatas piringnya, sebentar mata Rindu terpejam sambil bibir koat kamit baca mantra hehehe salah salah baca do'a
Tidak salah lagi itu wanita yang sama wanita yang telah menuangkan es jeruk di baju mahal ku. Ucap pemuda yang sedari tadi memperhatikan Rindu dari jauh.
Baru suapan pertama akan mendatar cantik di bibir Rindu, Rindu di kagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba berdiri tepat dihadapannya. Rindu sedikit mendongak untuk melihat siapa yang tengah mengganggu sarapan paginya.
"Hay gadis tak punya sopan santun." ucap si pemuda.
Ketika melihat posisi duduk Rindu dengan satu kaki sedikit terangkat layaknya dirumah sendiri.
Seketika mood Rindu yang sedang baik ambyar begitu saja, saat menyadari siapa yang sedang berada di depannya.
"Maaf anda siapa ya?" ucap Rindu santai dengan tangan masih menggantun memegang garpu.
"Jangan pura-pura lupa, aku orang yang waktu itu sengaja kau siram dengan es jeruk." ucap pemuda itu dengan posisi masih berdiri didepan Rindu.
"Oohh ... ya ya ya aku ingat. Orang yang waktu itu ya bukankah aku sudah meminta maaf, apa anda melupakannya? ku rasa anda tidak terlalu tua untuk melupakan sesuatu yang baru terjadi?" Ucap Rindu pura-pura mengingat-ingat sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan walaupun hanya sedetik.
"Ciihhh bahkan aku saja belum mengucapkan ya, kau sudah pergi begitu saja." ucap si pemuda sambil berdecak dengan senyum miring di sudut bibirnya. "Ngomong-ngomong apa kau memiliki uang untuk makan disini?" imbuh si pemuda.
"Maaf sepertinya anda terlalu meremehkan orang yang baru anda kenal sehari. Tunggu bukan sehari, tapi hanya beberapa menit!!" Ucap Rindu dengan sedikit penekanan pada akhir kalimatnya.
"Ayolah omong kosong, bahkan untuk membayar cilok saja kau tak mampu." ucap si pemuda penuh ledekkan.
__ADS_1
"Sepertinya anda kemari hanya untuk merusak sarapan pagi saya." ucap Rindu sarkas.
Rindu pun berdiri hendak meninggalkan food court, namun tangannya tertahan.
Sepertinya si pemuda belum cukup puas berargumen dengan Rindu.
"Tolong lepaskan tangan anda!!" ucap Rindu penuh intonasi.
"Tenanglah santai saja, duduklah kembali." ucap si pemuda dengan sedikit memaksa untuk Rindu duduk kembali.
Karena Rindu benar-benar lapar mau tak mau Rindu pun menurunkan egonya sedikit. Dengan membuang muka, enggak hanya untuk sekedar melihat si pemuda di hadapannya.
Perlahan si pemuda berjalan mendekati Rindu, dibungkukkan tubuhnya hingga bibirnya lebih dekat di sisi Rindu, bahkan hembusan nafasnya tepat menerpa pipi cubby Rindu.
Dag dig dug kurang lebih seperti itu reaksi jantungnya merespon sikap spontan si pemuda.
Hingga satu kalimat terlontar dari mulut pemuda itu.
"Ingat disini tidak bisa berhutang." bisik si pemuda pada daun telinga Rindu, kemudian berlalu meninggalkan Rindu yang masih terpaku tak percaya.
Mata Rindu membulat sempurna.
SIAL...SIAL...SIALL...dasar pemuda gila. Umpat Rindu dalam hati. Seketika Rindu pun menoleh pada si pemuda yang baru saja memiliki julukan baru.
Si pemuda gila itu pun tersenyum penuh kemenangan sambil menjulurkan lidahnya mengejek Rindu.
Aagrrrrhhhhh... jerit Rindu dalam hati.
Untuk sisanya Rindu memilih membungkusnya.
"Mbak bill-nya." ucap Rindu di depan kasir.
Sejenak matanya melihat ke sekeliling ruangan, netranya menangkap sosok si pemuda gila ya itu julukan untuk pemuda yang sudah dua kali ia temui dua hari ini.
"Mbak sekalian dengan orang yang disebelah sana." ucap Rindu sambil menunjuk meja paling sudut di tempat itu. Kemudian menyerahkan black card milik Linda yang telah ia pinjam.
"Tentu." jawab kasir. "Silahkan." si kasir memberikan black card pada Rindu setelah melalukan transaksi.
"Mbak berikan ini padanya." ucap Rindu pada kasir dengan memberikan secarik kertas.
Dengan langkah tak seceria tadi Rindu meninggalkan food court, yang telah rusak moodnya sejak kedatangan pria gila tadi.
*****
Pelan Rindu melangkah menuju ruang mas Nano di riwat. Nampak jelas kalau suasana hati Rindu tampak tidak baik, terlihat dari bibirnya yang mencebik kesal.
"Kenapa Ri?" Tanya Linda saat Rindu sudah memasuki ruangan.
"Tidak apa-apa ini sandwich untuk mu!!!" Jawab Rindu dengan memberikan paper bag pada Linda. Beserta black card milik Linda.
"Kak, kapan kita bisa pulang?" Ucap Rindu mengulangi pertanyaannya pagi tadi.
__ADS_1
"Hey Ri, apa kamu tidak kasihan kepada ku? Bahkan aku baru saja terbangun dari tidur panjang." sahut mas Nano kemudian.
"Bukan begitu hanya saja." ucapan Rindu menggantung.
Linda menghampiri Rindu yang tengah duduk di sofa, di usapnya lembut pundak Rindu.
"Ada apa Ri, apa kamu bosan? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu?"
Tanya Linda yang sedang mencari tau apa gerangan yang tengah membuat mood Rindu tak jelas sejak tiba di rumah sakit ini.
"Tidak ada kak baiklah kita pulang setelah mas Nano keluar dari rumah sakit. Ngomong-ngomong ini kan hari minggu kenapa Setya dan mas Hari tidak kesini ya?" Ucap Rindu mengalihkan pembicaraan.
Kini waktu sudah menujukkan pukul 10:30
Sesaat kemudian seorang suster datang dengan membawa baki berisi makan siang untuk mas Nano.
Ketiganya tampak sibuk dengan pikiran masing-masih, tak ada percakapan hanya terdengan detak jarum jam dinding di kamar itu.
Tok tok tok...
Pintu kamar di ketuk ringan dari luar, hingga menampakkan dua orang pria tampan bertubuh atlentis. Siapa lagi kalau bukan Setya dan Hari, yang tengah memasuki kamar itu.
"Hay No gimana? Sudah membaik badan mu?" Ucap Hari dengan seulas senyum mengembang.
"Sangat baik." jawab Nano.
"No ini ada makanan dari Silla" ucap Setya sambil menyerahkan kotak makan yang Silla titipkan padanya.
"Kenapa Silla tidak ikut?" Tanya balik Nano pada Setya seraya tangan menerima kotak tersebut.
Hari tanpa canggung mendudukkan dirinya di sebelah Rindu yang sibuk main game talking angela. Sedikit hari menyandarkan tubuhnya pada bahu Rindu, Rindu berdecak sambil menggerakkan ringan bahunya tanda ia menolak di jadikan sandaran.
"Rindu apa kau tak bosan disini? mau ikut dengan ku jalan jalan di kota ini." tawar Hari pada Rindu sambil menatap penuh harap.
Rindu masih belum merespon hanya kedua bola matanya yang nampak melirik Hari singkat. "Kemana?" Tanya Rindu setelah meletakkan ponsel miliknya.
"Masih tanya , ya jalan jalan berkeliling kota ini." jawab Hari.
"Ikutlah Ri agar kau tak merasa bosa.n" tungkas Linda.
Akhirnya Rindu mengiyakan dan pergi berdua bersama Hari, dengan mengendarai motor milik Hari.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu