AKU RINDU

AKU RINDU
GOTONG ROYONG


__ADS_3

"Apa kalian tau siapa orang yang sudah mengikuti kita?." Tanya Hari sambil melipat kembali jas hujannya. Mereka kini berhenti didepan ruko yang kebetulan sedang tutup.


"Mana aku tau." Ucap Karno kemudian. Sambil menyalakan sebatang rokok.


"Sudahlah tidak perlu kita pikirkan, lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan. Nanti keburu malam." Ucap Nano kemudian.


"Yuk?" Setya sudah bertengger gagah diatas motor.


Beberapa jam yang lalu tanpa mereka sadari sebelum pergi meninggalkan mes. Sepasang mata dan telinga menguping ketiganya bericara. Hingga sampailah pembicaran ketiganya pada telinga Doni. Tentunya Doni tak tinggal diam. Ia menyuruh James mengganggu perjalan Setya, Karno, Nano, dan Hari.


Pepohonan jalan satu persatu mulai terlewat sampailah Nano dan kawan-kawan itu tiba diperkampungan tempat keempatnya melewati masa kecil bersama.


Hari sudah gelap, sesekali bertegur sapa dengan orang yang tak sengaja mereka temui.


"Aku langsung pulang ya!" Seru Hari berlalu meninggalkan teman-temannya sambil melambaikan tangan.


Satu persatu menuju rumah masing-masing. Terlihat Karno dan Setya masih diatas motor karena memang rumah keduanya berada paling ujung.


"Heh Setya secantik apa wanita yang memikatmu itu?" Tanya Karno kepo.


Setya hanya berdecak dengan senyum miring disudut bibirnya.


"Heh jawab!" Tanya Karno kali ini dengan tangan menoyor ringan kepala Setya yang terbungkus helm.


"Sudah tidak penting." Hanya itu yang keluar dari mulut Setya.


"Lalu kenapa brandalan-brandalan tidak berguna itu masih mengusikmu hah!?" Lagi-lagi tangan usil Karno menoyor ringan Setya.


Setya hanya mengangkat bahunya.


****


Dikediaman keluarga paman Ari.


"Paman, bibi. Rindu makan disofa saja ya sambil nonton tv?" Pamit Rindu hendak beranjak dari meja makan.


"Tumben?" Tanya bibi.


"Ada drama kesukaanku bi, boleh ya?" Ucap Rindu sudah siap membawa makanan dengan baki.


"Pergilah." Ucap paman Ari kemudian.


Bibi Winy hanya terseyum hangat.


Rindu kini sudah duduk dengan baki bertumpu diatas pangkuannya. Sesekali melihat tv dan sesekali fokus pada makannya. Ia kini makan spaghetti dengan saus diwadah yang terpisah.



"Be bisakan temani aku pergi sebentar untuk membeli beberapa bahan desain baruku?" Tanya Linda yang baru saja datang dari arah ruang makan.


"Heemmm" hanya itu jawaban Rindu karena mulutnya masih penuh makanan.


"Deket kok." Ucap Linda lagi.


Rindu hanya mengangguk.


Segera Linda menuju kamarnya. Bersiap untuk pergi membeli beberapa keperluannya.


Beberapa menit kemudian.


"Ri!!." Seru Linda saat tak melihat Rindu diruang tv.


"Aku tunggu ya!?" Linda masih berseru memanggil Rindu.


"Ya!!!" Sahut Rindu yang sudah ada didalam kamar.

__ADS_1


Terlihat Linda tengah duduk dengan dagu bertumpu pada kedua tangannya yang saling bertautan,dengan siku tampak berdiri kokoh diatas meja.



"Yuk kak, nanti keburu semakin larut." Ucap Rindu.


Linda mengangguk.


"Papa, mama Linda keluar dengan Rindu sebentar ya?" Pamit Linda kepada kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum." Mengucap salam bersamaan dengan mencium punggung tangan kedua orang tua mereka.


"Ingat jangan malam-malam." Pesan paman/papa Linda.


Linda kini melangkah bersama rindu mendekati bagasi mobilnya. Mobil merah jambu yang selalu menemani linda kemana pun.



Keduanya kini sudah berada didalam mobil. Duduk berdampingan, terlihat Linda memutar lagu untuk menemani perjalanannya.


Ruang Rindu -Letto


Di daun yang ikut mengalir lembut terbawa sungai ke ujung mata


Dan aku mulai takut terbawa cinta menghirup rindu yang sesakkan dada


Jalanku hampa dan ku sentuh dia, terasa hangat di dalam hati


Kupegang erat dan kuhalangi waktu, tak urung jua ku lihatnya pergi


Tak pernah kuragu dan selalu kuingat kerlingan matamu dan sentuhan hangat


Ku saat itu takut mencari makna, tumbuhkan rasa yang sesakkan dada


Kau datang dan pergi begitu saja, semua ku terima apa adanya


Mata terpejam dan hati menggumam, di ruang rindu kita bertemu


Kau datang dan pergi begitu saja, semua ku terima apa adanya


"Kak, kak Lin bagaimana kabar mas Nano?" Tanya rindu ditengah perjalanan.


Linda masih belum menjawab. Menengok kekanan mencari celah untuk memarkir mobil kesayangannya.


"Baik Ri." Ucap Linda kemudian. "Apa kau tidak pernah bertukar kabar dengan mas Nano?" Imbuh Linda sambil melepas sabuk pengannya. Karena sukses memarkir mobil.


"Jarang. Malah sekarang tidak pernah." Jawab Rindu sedikit tertunduk.


Keduanya melangkah keluar mobil.


Rindu berjalan mengikuti Linda, kini Rindu menggerai rambut panjangnya. Ia menggunaka baju serba hitam dengan tas slempang kecil berwarna hitam pula. Jam tangan putih melingkar pada pergelangan tangan.



Sampai pada tujuannya Linda memilih beberapa ornamen-ornamen lucu yang nantinya akan menempel pada baju hasil karyanya. Beberapa set benang masuk dalam keranjang.


Rindu hanya asik dengan ponselnya.


"Hi, sahabatđź‘‹" Pesan singkat Hari


Sebentar Rindu mengerjapkan matannya.


"Aku sekarang ada dirumah." Pesan Hari


Masih enggan untuk membalas. Tiga detik kemudian.

__ADS_1


Ponsel rindu berbunyi.


"Hi sahabat, kenapa tidak membalas pesanku?" Tanya Hari disebrang sana.


"Emm aku sedang diluar dengan kak Lin." Jawab rindu jujur.


"Aku ingin mengajakmu berlibur?" Ucap Hari.


"Trus?" Jawab Rindu singkat.


"Ya ayo ikutlah. Kita pergi bersama yang lain. Tenang saja kita tidak pergi berdua.hahaha" suara Hari tampak ceria.


"Apa kau pulang dengan mas Nano juga?" Tanya Rindu kepo.


"Kenapa yang kau tanyakan selalu Nano. Hah! menyebalkan sekali.hahaha" masih dengan bercanda.


"Okey sahabat nanti ku telphon kembali." Imbuh Hari sebelum mematikan telphonnya.


Rindu masih menatap ponsel yang sudah mati.


Tunggu, kenapa tiba-tiba Hari memanggilku sahabat?" .gumam rindu dalam hati.


"Syukur jika dia tidak menanyakan perihal perasaanku padanya". Ucap lirih Rindu.


"Perasaan apa be?" Tanya Linda yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.


"Apa? Aku tidak bicara apa-apa." Rindu sedikit memberi jeda. "Yuk kak Lin. Sudah semua ya?". Tanya Rindu lagi saat melihat Linda sudah membawa kantong belanjaan yang lumayan besar.


Linda mengangguk. Berjalan sejajar.


Rindu menenteng sisi yang lain agar Linda tidak terlalu repot. Seperti kata pepatah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.


Kalo tidak begitu bisa disebut gotong-royong.


Linda kembali memacu mobilnya menuju jalan raya. Terlihat Rindu tertunduk menatap ponselnya.


"Hey Rindu, apa kau pikir aku supir!" Sentak Linda membuat Rindu menoleh kearahnya.


Rindu nyengir tau maksud Linda. Diletakkannya benda pintar itu dipangkuannya.


Linda tidak suka jika ia sedang mengemudi orang disebelahnnya malah asik sendiri.


"Ri kamu apa kamu sudah menemukan universitas yang cocok?." Tanya Linda masih fokus melihat kedepan, dengan tangan memutar setir.


"Sudah kak Lin." Jawab Rindu. Sekilas melihat Linda.


"Dimana?." Tanya linda lagi.


"Ditempat kakak dulu." Jawab Rindu.


Kini Linda tampak mangut-mangut mengerti. Beberapa saat kemudian mobil sudah sampai tepat berada dihalaman kemudian melaju menuju garasi.


"Ri bantu menurunkan ya!." Pinta Linda.


"Hemm." Rindu membantu kak Lin untuk menurunkan belanjaan.


Semoga rasa lelah hari ini terbayar dengan berkah yang melimpah ruah. Batin Linda.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,

__ADS_1


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.


__ADS_2