
Lantunan lagu penuh cerita menemani malam sunyi, seolah mata enggan mengatup meraih mimpi. Rindu masih sibuk dengan ponsel ditangan, sayup-sayup terdengar lolongan binatang malam.
"Huuffttt, coba ada Kak Lin pasti bisa ku tanyai," gumam Rindu.
Ponsel ditangannya bergetar, tertera sebuah nama yang tak asing baginya.
Sahabat? Hah! Yang benar saja sejak kapan sebutan itu tercipta.
"Hallo, assalamualaikum," sahut Rindu, "Ada apa Mas Hari telfon?"
"Waalaikum salam, tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukanmu," sahut Hari dari seberang.
Rindu belum menyahuti, tak apalah, mungkin itu yang ada dipikiran Rindu saat ini. "Lalu?" Bertanya kembali.
"Benarkah kau tak ingin menjawab pertanyaanku waktu itu?" Hari bertanya kembali dengan gusar. Menunggu sesuatu yang tak pasti rasanya sulit. Ikatan yang hanya disebut sahabat tak membuat hatinya lega.
Rindu berdiri dari tempatnya, seolah mencari jawaban yang tepat. "Eemm begini ya Mas Hari soal itu, maaf aku tidak bisa. Aku hanya ingin kita jadi teman saja. Ya teman saja," ucap Rindu mantap tanpa jeda.
Hening, tak ada sahutan dari sana. Hanya suara gaduh yang tertangkap indera pendengaran Rindu. Gelisa terlihat dari wajah gadis manis keponakan Winy. Takut jika pernyataannya menyinggung hati.
Digigitnya kuku di jemari lentiknya, hingga satu kalimat tanya terlepas. "Mas? Mas Hari masih disana?"
"Ya, aku masih disini!" Hari menjawab dengan nada yang memelan.
"Maaf jika aku mengganggumu malam ini," imbuhnya.
"Tak apa," ucap Rindu singkat.
"Baiklah aku tutup telfonnya, Assalamualaikum," pamit Hari lesu.
"Waala___" belum rampung Rindu menjawab sambungan telephone terputus, " ikumsalam." sambung Rindu lirih.
Gundah merasuki hati Rindu. Sebenarnya tak ingin memberi jarak pada siapapun. Namun hati tidak bisa bohong, apa yang ia cari hanya ada pada satu orang saja.
Langkah berat Rindu menemani raga yang tak lagi bernyawa, pikiran Rindu kosong. Melepaskan Rasa yang tercipta sejak lama itu sangatlah susah.
"Bunda mengapa meninggalkanku tanpa kabar?" Rindu bergumam, langkahnya terhenti tepat didepan jendela. Mengamati langit gelap tanpa bintang.
Rintik hujan mulai turun, mengerti kegundahan hati bercampur perih.
"Bukan hanya uang yang Rindu butuhkan. Bunda aku rindu. Teramat merindu," air mata mengalir menggambarkan isi hati pemiliknya.
Tangan Rindu menarik laci meja didepannya. Mengeluarkan sebuah buku kecil yang didalamnya terselip foto masa kecil Rindu dengan seorang wanita.
Sosok yang selama ini ia rindukan. Apa kabarnya? Bukan. Bukan itu yang hendak Rindu tanyakan. Jauh dari lubuk hati Rindu ada yang mengganjal. Mengapa disana hanya ada dia dan ibunya.
Dimana? Ya pertanyaan itu yang selalu menganggu Rindu selama ini. Dimana sosok yang tak pernah Rindu kenali. Keluarga lengkap yang selalu ia rindukan setiap waktu.
Kembali Rindu meletakkan foto itu di tempat semula, kemudian melangkahkan kaki menuju tilam. Merebahkan tubuhnya disana, ia menatap nanar tilam kosong disebelah.
Masalah pribadi tidak perlu di publikasi. Cukup keluarga inti yang tahu.
"Andai Kak Lin masih disini, sepi takkan menghampiri," isak tangis lirih terdengar dibalik wajah yang terbenam dalam bantal. "Aku merindukanmu kak Lin."
__ADS_1
Lambat laun Rindu mulai tertidur. Tangan lembut Bude Winy membelai pucuk kepala Rindu, menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut.
Diam-diam Bude Winy memperhatikan Rindu. Rasa bersalahnya semakin mengakar ketika melihat buliran bening meleleh pada kedua mata keponakannya.
"Harusnya Bibi menceritakan sebenarnya kepadamu sayang," ucapnya lirih. Sebelum ikut memejamkan mata disamping Rindu.
Rahasia apa yang sampai sekarang tersimpan rapi. Haruskah yang seharunya diungkapkan terus terpendam dalam-dalam. Seolah tak patut untuk di perbincangkan. Apa ini sebuah aib yang Tuhan saja tidak ingin memberi jalan.
Whathappen? Ah sudahlah. Sepintar-pintar orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya. Banyak yang bilang seperti itu. Laluu?
Lalu apa lagi nikmati dan syukuri apa yang ada. Skenario sudah ada yang atur.
Gelap malam mulai menghilang berganti kilau mentari pagi hari. Sahutan burung mendahului kokokan si ayam jago.
Perlahan mata Rindu mengerjap tubuhnya terasa berat. Ada tangan yang memeluk tubuhnya.
Bude?. Rindu bertanya dalam hati.
Jika diingat semalam dia hanya sendiri. Mengapa setelah terbangun ia mendapati Bude tidur begitu pulas disampingnya.
Rindu melihat jam yang menggantung di dinding. Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Tumben Bude masih tertidur sepulas ini. Apa semalam ada yang mengganggu pikirannya hingga susah tidur. Tentu saja, pasti Bude Winy sedang merindukan Linda. Ibu mana yang tak merindukan anaknya saat berjauhan.
Hati-hati sekali Rindu menurunkan tangan Bude Winy. Melangkah perlahan-lahan seperti kucing yang hendak mencuri ikan.
Langkahnya terhenti tepat didepan washtafel menatap lekat wajah manisnya di cermin kemudian mencuci muka lalu melangkah menuju kulkas, membuka dan mengambil beberapa bahan masakan.
"Hari ini aku yang akan masak," oceh Rindu.
"Rin apa kau lihat Budemu?!" Tanya Pade mengagetkan Rindu. Terlihat dari tubuh Rindu yang menjingkat.
Kini dengan isyarat Pade Ari bertanya. Mulutnya terbuka tanpa bersuara, dengan alis dan mata sedikit melebar.
"Bude ada dikamar ku, hari ini aku yang masak untuk kalian. Hehehe," terang Rindu dengan berbisik.
"Memang bisa?" meragukan kemampuan Rindu yang hanya belajar memasak enam bulan belakangan ini.
"Diam dan nilai saja nanti," jawab Rindu tengil.
Pleeettaakk
Sendok melayang mendarat tepat pada kening Rindu, "Bicara yang sopan sama orang tua!" Ucap Pade Ari kemudian.
Digosok-gosoknya kening yang tak begitu sakit, bibirnya mencebik kesal. Selalu saja jika bersinggungan dengan Pade, keningnya harus merasakan punggung sendok yang keras.
Rindu mendorong punggung Pade nya. Tak ingin konsentrasi terganggu dalam merapal mantra, eehh salah salah. Merapal resep dari Bude Winy.
Jika dilihat sekilas Rindu tampak kerepotan. Kikuk rasanya. Menyesal tidak pernah belajar pelajaran yang satu ini. Tak apalah terlambat, dari pada tidak sama sekali.
Pergulatan didapur menimbulkan kegaduhan, entah apa yang Rindu lakukan. Dapur yang tadinya rapi menjadi tak beraturan.
Baru seekor ikan terjun bebas didalam minyak panas. Rindu berjingkat saat minyak meletup.
"Astagah ikannya marah!" Pekik Rindu.
__ADS_1
Dari dalam kamar Bude Winy sayup-sayup mendengar teriakan Rindu. Heren sejak kapan ikan bisa marah. Perlahan melangkah keluar kamar. Sedikit merenggangkan ototnya yang kaku.
Kaget bukan main melihat apa yang terjadi didalam dapur. Apakah ada badai sehingga dalam semalam yang tadinya rapih menjadi amburadul tak karuan.
Memijat ringan pelipisnya sebelum bertanya apa yang sudah terjadi, "Rindu ada apa ini? Bisa jelaskan pada Bude?" Cercahnya.
Yang ditanya hanya nyengir, tau karena ulah sok bisanya semakin membuat Bude Winy harus bekerja keras pagi ini.
Bude Winy melangkah mendekati Rindu. Tanganya hendak membuka wajan yang tetutup rapat.
"Jangan De!!" Teriak Rindu.
Bude Winy menoleh kearah Rindu, alisnya mengerut. Meminta jawaban.
"Ikannya lagi marah. Lihatlah tanganku disembur dengan minyak panas," menunjukkan tangan yang memerah.
Bude Winy menepuk keningnya. "Kau apakan ikannya sampai marah begitu?" Tanya Bude Winy asal.
"Tidak ku apa-apakan De," sedikit memberi jeda, "Hanya ku lemparkan dari sini."
"Pantas saja ikannya marah, harusnya kau letakkan dengan hati-hati dan penuh cinta," terang Bude Winy ngasal menambahkan kikikkan geli atas ungkapannya sendiri.
"Bude ih," bibir Rindu mencebik. Kemudian terduduk.
Bude Winy menggeleng. Lucu sekali keponakannya ini. Memang sih selama membantu di dapur Rindu hanya kebagian mengupas bawang dan sayuran. Tidak langsung berhadapan dengan kompor dan penggorengan.
"Astagah ada apa ini?" Tanya Pade Ari yang baru datang dari rutinitasnya di pagi ini berlari kecil sekitar kampung.
"Tidak pa-pa hanya badai kecil mempora-porandakan dapur," sahut Bude Winy dengan senyum.
"Apa Pade bilang," ucap Pade Ari sambil berlalu meninggalkan dapur.
Rindu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Rambut kuncir duanya tampak berantakan.
"Sudah sana biar Bude yang lanjutkan. Tak apa lain waktu Bude ajari menjinakkan ikan," masih dengan kalimat menggoda disertai senyum.
"Terima kasih Bude," ungkap Rindu sambil berhambur memeluk Budenya erat. Kemudian berlalu.
Tak memakan waktu lama dapur kembali seperti semula. Makanan tertata rapi diatas meja. Setelah semua selesai Bude Winy segera membersihkan diri yang terasa gerah.
Pagi ini menjadi sejarah, mengapa ikan bisa meletup saat digoreng karena nenek moyangnya disuruh terjun bebas oleh Rindu kedalam penggorengan.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.