
Dari kejauhan terlihat Bude Winy berdiri didepan ruangan. Segera saja Karno dan Rindu berjalan lebih cepat. Menghampiri dengan tergesa.
"Bagaimana Bude, Bagaimana kejadiannya? Bagaimana kondisinya? Apa semua baik-baik saja?" Rindu mendesak dengan berbagai banyak pertanyaan yang sedari tadi berputar dipikirannya.
"Ayo duduk dulu." Bude Winy meminta Rindu duduk dulu agar lebih tenang.
Nan beralih dari gendongan Rindu, didudukannya pada salah satu bangku besi disisi kanan. Karno pergi, tanganya terlihat merogoh saku celana. Kemudian masuk pada salah satu ruangan berdinding kaca yang bertuliskan smoking area.
Rindu menggengam erat tangan Bude Winy, "Bude bagaimana?"
Mata sayu Bude Winy merah karena tangis, menyiratkan ada kecemasan disana, "Bude, hanya berharap semua akan baik-baik saja Rin, Bude berharap Linda segera tersadar. Dokter masih belum berani mengambil tindakan operasi karena kondisi Linda tidak stabil."
Rindu memberi pelukan pada Bude nya. Mencoba menguatkan satu sama lain, "Sekarang Pakde dimana De?" Rindu bertanya karena tidak melihat Pakde Ari.
"Dipanggil Dokter, semoga hasil pemeriksaan terakhir Linda membaik," ucap Bude Winy ditengah-tengah kecemasan.
"Bude sudah makan? Makanlah De, biar Bude tidak turut sakit." Rindu berujar agar Bude nya mau mendengar.
Tidak menunggu jawaban dari Bude, Rindu langsung beranjak dari duduknya. Melangkah cepat menuju foodcourt yang ada di luar Rumah Sakit.
Sebenarnya Rindu malas sekali untuk melangkahkan kaki di tempat makan di luar Rumah Sakit. Karena mengingatkan dia pada seseorang. Tapi sudahlah, itukan dulu. Sekarang hubungannya baik-baik saja. Dengan pemuda yang pernah mencari perkara dengannya.
Tak butuh waktu lama Rindu sudah kembali. Membawa empat kotak nasi lengkap dengan air mineral dalam kemasan botol.
Ternyata ada Karno yang sudah selesai dengan rutinitas hariannya. Bukan harian, tapi rutinitas wajib. Seperti tidak ada bosan-bosannya menyesap gulungan kertas ber'aromakan nikotin.
"Ayo Bude makanlah, ini untuk mu Mas," ucap Rindu dengan menyodorkan satu persatu kotak nasi kepada masing-masing.
Saat hendak mencari tempat untuk duduk, Pade Ari datang. Kemudian Rindu pun menghampiri Pakde, memberikan Nasi kotak yang masih tersisa satu.
Keempatnya menikmati sarapan yang sudah terlewat dari jam yang seharusnya.
Setelah selesai, Pade Ari menjelaskan secara gamblang mengenai kondisi Linda.
"Jadi tindakan operasi sudah bisa dilakukan De?" Selidik Rindu.
"Ya, mari sama-sama kita berdo'a." Pakde Ari berharap puteri tercintanya segera mendapat tindakan lebih lanjut.
Setelah mendapat persetujuan dari anggota keluarga pasien, segera Dokter ditemani dengan dua perawat memindahkan Linda ke ruang operasi.
Harap-harap cemas keempatnya menunggu, hanya Nan yang terlihat biasa saja. Malah ia aktif berjalan kesana kemari. Ditemani Karno. Sesekali Karno tampak berkacak pinggang. Kewalahan menjaga batita yang sedang aktif-aktifnya berjalan.
__ADS_1
"Yayayayah," ditengah kepanikan celoteh Nan mengukir senyuman.
Tangan mungil Nan nampak terangkat ke udara, seolah ingin meminta gendong. Sayanganya bukan kepada keempat orang dewasa di sekitarnya, Entah pada siapa. Karena saat ini tak terlihat ada siapapun di depannya.
Karno segera saja menggendong Nan. Mengajaknya keluar jalan-jalan. Mungkin Nan mulai berhalusinasi saat ini.
Akhirnya operasi selesai. Ditandai padamnya lampu yang sedari tadi menyala berwarna merah. dokter keluar melangkah menghampiri sanak keluarga.
"Alhamdulillah semua berjalan lancar, tapi saudari Linda masih belum sadarkan diri. Mari ikut saya keruangan!" Ajak dokter kepada anggota keluarga.
Kini Bude Winy dan Pade Ari terduduk didepan meja, menunggu penjelasan dari dokter yang menangani operasi puteri tunggalnya.
"Begini Pak, Bu. Kami selaku tenaga medis sudah berusaha semaksimal mungkin agar operasi berjalan lancar, tapi untuk berapa lama saudari Linda tersadar paska operasi kami masih belum bisa pastikan. Mungkin bisa satu minggu, dua minggu, atau bisa juga lebih dari itu." Dokter memberi jeda sejenak, "Kalau pun sudah sadar, bisa saja terjadi kelumpuhan, atau lemah otak."
Deg ...
Sontak penuturan Dokter membuat ketiganya down. Kembali kecemasan mengusik hati yang mulai menenang.
"Semua tergantung pada Allah, semoga apa yang kita harapkan di wujudkan," ucap Dokter, "Mari sama-sama kita berdo'a untuk kesembuhan saudari Linda." Imbuh dokter kembali.
Setelah menjelaskan, Dokter kemudian berdiri menjabat tangan Pakde, dengan langkah gontai ketiganya meninggalkan Ruangan.
Airmata Bude Winy kembali merembes, menggantungkan nasib kepada yang maha kuasa. Berharap, banyak sekali harapan dan permintaan.
"Bagaimana Pak?" Karno bertanya pada Pakde Ari.
"Operasi berjalan lancar, tinggal menunggu Linda tersadar." Pakde menjelaskan.
"Sabar Pak Bu, yakin saja Allah pasti memberikan jalan terbaik," ucap Karno.
Keempatnya kini melangkah menuju ruang rawat Linda. Disana ada dokter yang sedang memeriksa kondisi Linda.
Hanya satu orang yang boleh melihat Linda secara langsung, akhirnya Bude Winy yang masuk dengan menggunakan baju steril berwarna hijau.
"Bu, saya harap Bu Winy sering-sering mengajak Linda berbicara. Walau mata Linda terpejam namun masih bisa merespon." Dokter menerangkan.
Kemudian dokter tersebut memberi contoh kepada Bude Winy, "Lin, Linda," ucap Dokter tersebut, "Ayo genggam kalau kamu mendengar saya," imbuh Dokter.
Sayangnya masih belum ada tanggapan. Linda masih bergeming. Banyak luka jahit dikepalanya yang terbungkus perban. Mungkin Linda belum merespon karena obat bius yang belum habis efeknya.
Dan setelah melakukan tugasnya, dokter pun keluar meninggalkan ruangan. Disusul Bude Winy yang mengekor dari belakang.
__ADS_1
Bude Winy Meminta Rindu untuk menjaga Nan, sementara Bude Winy akan menjaga Linda yang terbaring lemah di dalam.
Sengaja Linda tidak dipindah perawatannya, Karena Rumah sakit di daerah Rindu tinggal, alat medis yang tersedia kurang lengkap.
Selama Linda dirawat, Bude Winy lah yang menemani. Pakde Ari pulang pergi dari kota ke kampung. Kadang menggunakan kendaraan pribadi, Kadang juga menggunakan transportasi umum.
****
Sudah satu minggu ini Linda belum bisa membuka mata, sesuai perkataan Dokter, walau mata Linda masih terpejam gerakan tangan ia tunjukkan. Membuat Bude Winy merasa lega. Harapan dan doanya tak sia-sia. Suatu contoh bahwa Allah Maha Pengasih, Maha Penyanyang lagi Maha Mendengar. Bahkan dalam hati pun Allah mendengar ucapan kita.
Hari ini Pakde Ari memutuskan pulang barang sebentar, mengabari Rindu jika perkembangan Linda mulai terlihat. Selain itu lama tidak bertemu Nan cucu kesayangan, membuatnya rindu ingin bertemu.
"Pakde sudah makan? Makanlah dulu De," pinta Rindu saat melihat Pakde Ari ada dirumah.
"Nanti Pakde makan dengan Bude mu," sahut Pakde Ari.
"Bagaimana kondisi Kak Lin De? Sudah ada kemajuan?" Rindu bertanya sambil meletakkan tas besar berisi pakaian.
"Sudah. Jemarinya mulai menunjukkan respon saat namanya dipanggil," ada guratan kelegaan dan kebahagian di dalam jawaban Pakde Ari.
Rindu mengusap punggung Pakde Ari, "Alhamdulillah De, semoga semakin hari semakin membaik."
Tak terasa bulir bening keluar pada sudut mata pria yang hampir tidak pernah menunjukkan kelemahannya itu. Tetapi kali ini, setelah musibah datang silih berganti. Seakan kokohnya benteng ketenangan ambrol. Gelisah serta kecemasan terlihat jelas, Apakah setelah ini keadaan akan baik-baik saja.
Akhir cerita hidup tak selamanya indah, tergantung bagaimana kita menyikapinya agar terasa mudah.
Inilah jalan hidup ketiganya berakhir. Setya bahagia dengan hidup barunya, Mas Nano sudah tenang disisi yang Maha Kuasa dan untuk Rindu masih setia dengan kesendiriannya. Suka duka terlewat sudah. Kenangan indah saat bersama, menjadi pengobat dikala rindu datang. Tawa, tangis, bahagia dan kecewa terkemas dalam selaksa peristiwa.
Thanks you for reading. Pada beberapa bab yang akan segera end.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
Sekali lagi saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan meluangkan waktu membaca novel pertama saya.
__ADS_1
Tak kurang juga rasa terima kasih untuk para author yang sudah memberikan kirsar.
arigatou gozaimasu.