
"Oma!!" Rindu dan Linda berhambur memeluk neneknya. Lalu mencium punggung tangan secara bergantian.
Oma menciumi pipi cucu-cucu perempuannya satu persatu dengan sayang. Usia tak memudarkan kecantikan alami ibu Pade Ari.
Kemudian beralih mencium pungung tangan Opa secara bergantian, "Opa."
"Ami, Abi maaf Ari dan keluarga baru bisa kemari sekarang," ucap sesal Pade Ari karena kurang lebih sudah tiga bulan tidak berkunjung. Biasanya Pade Ari akan berkunjung satu bulan sekali dengan Bude Winy. Kadang juga dengan Linda. Kalau Rindu? Jangan ditanya. Ada sesuatu yang membuatnya tak ingin datang lagi.
"Tak apa mari masuk," ucap Opa
"Oma sehat?" Tanya Rindu yang sudah lama sekali tidak berkunjung. Paling ia ikut berkunjung jika hari raya tiba.
"Sehat nduk," jawab Oma.
Kini keluarga lengkap itu tengah asik bercengkrama. Membicarakan banyak hal. Maklum karena jarang bertemu jadi waktu yang ada dipergunakan dengan sebaik-baiknya agar hubungan yang jauh menjadi erat.
"Oma nanti Rindu tidur dengan Oma ya," rengek Rindu sambil memeluk wanita tua namun cantik yang ada disebelahnya.
Oma mengusap lembut pucuk kepala Rindu, "Iya sayang."
"Aku juga Oma," rengek Linda pula.
"Eehh kaukan akan segera menikah masih saja manja," ledek Oma.
Linda mencebik, "Lihatlah Opa, Oma selalu saja seperti itu," berusaha mencari pembelaan dari kakeknya.
"Hahaha kalian ini masih saja tak berubah," ucap Opa dengan menggelengkan kepala. Ingat dulu ketika cucu mereka masih kecil bukan membedakan, memang Rindu dekat sekali dengan neneknya. Pun sama dengan Linda yang lebih dekat dengan sang kakek.
Waktu semakin larut, saatnya semua pergi untuk beristirahat. Agar saat bangun esok pagi badan menjadi segar.
Saat ini Rindu sudah tidur bersama Oma, memeluk tubuh beraroma minyak angin 1001 atau ppo.
Mata rindu terpejam namun terlihat gusar. Seolah ia sedang berada ditempat yang berbeda. Keringat dingin membajiri kening. Matanya tertutup sangat rapat hingga tercipta kerutan dikedua kelopak itu.
Mimpi yang sama seperti datang membayangi tidurnya.
"Kumbang apa kau lapar?" Tanya Rindu kecil pada kucing hitam yang tengah meraung-raung.
"Tunggulah disini, sebentar aku akan mengambilkanmu makanan," ucap Rindu, kemudian langkah kecilnya berhenti dimeja makan. Mengambil satu buah sosis.
Saat kembali keteras dilihatnya kumbang sudah tidak ada, "Kumbang, kumbang puss kau dimana?" Rindu telihat celingukan mencari-cari keberadaan kucing hitam itu. Hingga terdengar lonceng yang tergantung pada leher si kucing. Suara itu mengarah pada pohon besar disamping rumah.
"Kemarilah," ucap nenek-nenek yang pernah ingin Rindu temui.
Tanpa fikir panjang Rindu melangkah mendekati nenek tersebut. Kuku panjang rambut kusut yang terjuntai hingga menyentuh tanah. Baju putih yang terlihat usang serta mata merah besar.
__ADS_1
Namu dimata Rindu hanya seorang nenek yang menggunakan kebaya dengan rambut tersangul rapi.
Digendongnya Rindu. Kemudian menghilang dibalik pohon.
Kuat-kuat Rindu menggenggam selimut yang membungkus tubuh. Dengan mata masih terpejam mencoba bangun dari mimpi.
"Oma!!!" Teriak Rindu, kemudian terjingkat dari tidurnya. Nafas tersegal mana kala terbangun dari mimpi buruknya.
"Sayang Oma ada disini. Apa kau mimpi buruk lagi?" Tanya Oma sambil mengusap lembut pucuk kepala Rindu, "Minum dulu sayang," imbuh Oma dengan menyodorkan segelas air mineral pada Rindu.
"Iya Oma, Rindu takut," Ucap Rindu setelah minum.
Didekapnya Rindu. Menepuk-nepuk pungung cucu manisnya. Berharap agar kenangan buruk dimasa lalu tak kembali mengusik. Tanpa terasa mata senja Oma pun merawang. Mengingat masa itu.
FLASHBACK ON
"Rindu!!" Suara Bude Winy mencari keberadaan Rindu.
"Ami, apa Ami melihat Rindu?" Tanya Bude Winy yang mulai cemas. Kepada ibu mertua.
"Tidak. Bukankah tadi Rindu ada sini?" Jawab Ami.
Terlihat Opa dan Pade Ari melangkah kedalam rumah setelah melakukan sholat berjama'ah dimasjid.
"Abi, Pa. Rindu tidak ada?" Ucap Bude Winy yang cemas sejak mencari Rindu kesana kemari tidak ada.
"Tidak ada Pa, Linda tidur sendiri dikamar," ucap Bude Winy mundar-mandir gelisa.
"Abi ayo kita temui Adam." Pinta Oma pada suaminya. Adam diyakin penduduk setempat memiliki kekuatan supranatural. Yang bisa berinteraksi dengan makhluk astral.
"Kalian yakin Rindu tidak ada disekitar rumah," Opa menegaskan.
"Iya Abi," jawab kompak kedua wanita yang sudah cemas sedari tadi.
"Ya sudah jangan panik, jangan melakukan apa-apa dulu sebelum kami kembali," tutur Opa pada istri dan menantunya.
Keduanya mengangguk. Setelah kepergian kedua pria rumah itu Bude Winy dan Oma terduduk dikursi. Tak selang beberapa lama Pade Ari dan Opa kembali.
"Bagaimana pa?" Tanya Bude Winy sambil mengeggam tangan Pade Ari.
"Tenanglah. Duduk dulu," Tak ingin menambah kecemasan istrinya.
Terlihat Opa mengajak Oma pergi dari tempat anak dan menantunya berada. Pelan Opa berbicara tak ingin didengar sang menantu.
"Mi aku sudah menemui Adam," sedikit memberi jeda, "Adam bilang Rindu tidak jauh dari rumah," terangnya.
__ADS_1
"Maksud Abi?" Oma kala itu mengerti namun takut jika apa yang ia fikirkan benar.
"Rindu disembunyikan barang alus di pohon samping rumah," ucap Opa
Seketika kaki Oma lemas. Bagaimana bisa ia kecolongan. Harusnya dia bisa menjaga cucunya.
"Ayo Bi sebelum semua terlambat. Minta tolong warga," pinta Oma dengan mengguncang lengan Opa
"Ya. Tapi Abi minta tolong pada Ami jaga Winy dan Linda jangan ada yang boleh keluar rumah sebelum aku kembali," tutur Opa.
"Iya Bi. Tolong segera temukan Rindu," ucap Oma
"Yuk Ar ikut Abi," Opa mengajak putranya.
Keduanya menceritakan apa yang telah mereka alami kepada warga. Kemudian beberapa orang mengambil alat-alat dapur atau sejenisnya yang bila ditabu mengeluarkan suara.
"Blek blek nong blek blek nong blek blek nong!!!" begitu teriak warga sambil tangan terus menabuh benda-benda yang mereka bawa. Memutari wilayah yang dimaksudkan Adam. Entahlah apa maksud dari kalimat yang terlontar dari bibir warga.
"Bagaimana? Sudah ketemu bocah e?" Tanya salah satu warga yang berpencar.
"Belum."
Pencarian pun diakhiri tanpa menemukan Rindu. Yang entah dimana ia berada.
Langkah kedua pria gagah itu seolah memberat. Dengan langkah gontai memasuki rumahnya. Hampir subuh mencari tapi masih saja tak membuahkan hasil.
"Dimana cucu ku Bi?" Tanya Oma.
Opa mengeleng pelan. Kemudian menuju musollah kecil dirumah itu. Membasuh muka dengan berwudhu. Hendak melakukan sholat tahajud. Diikuti istri, anak dan menantunya.
Keempatnya menunaikan sholat berjama'ah.
Selang beberapa saat adzan subuh berkumandang. Pengeras suara dimasjid-masjid setempat saling bersahuta.
Kembali keempatnya melanjutkan sholat dua rakaat. Berdoa, memohon pertolongan kepada sang pencipta.
Tiba-tiba suara tangis terdengar.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.