AKU RINDU

AKU RINDU
KOSONG? SUGESTI.


__ADS_3

Alis Linda terangkat sebelah. Ada pertanyaan tersirat dari sorot matanya. Tahu. Sebenarnya Linda tahu apa yang ada di dalamnya, tetapi ia masih menatap tak percaya. Kenapa harus secepat ini kekasih hati melamarnya. Se-so sweet ini pula.


"Apa ini Mas?" tanya Linda. Bukan tanya isinya, tapi tanya maksudnya. Kemudian Linda membuka tempat perhiasan berbentuk angsa itu.


Duuuaaar kosong? !!!


Linda memutar bola matanya jengah. Tau jika dibalik sikap Nano yang bijaksana tersimpan sifat kejahilan yang tak kalah seperti Rindu.


Hampir-hampir Linda meneteskan air mata karena terharu. Ternyata apa yang ia banyangkan tak sesuai ekspetasi. Senyum kemenangan menggembang pada bibir Nano melihat Linda yang menampilkan wajah cemberut. Wajah lucu yang membuat Nano gemas.


"Hahahaha." Tawa Nano pecah, diacak-acaknya rambut Linda.


"Aku belum beli isinya. Ini masih nyicil tempatnya dulu. Uangnya aku pake buat makan disini," imbuh Nano dengan masih menampakkan senyum keberhasilan yang membuat kekasihnya semakin memajukan bibirnya menahan kesal.


"Tau aahh! Dasar!" umpat Linda dengan mengambil gelas berisi es moccacino yang masih penuh. Lalu menghabiskannya untuk mengusir rasa kesal. Hingga es itu habis ada benda yang menarik perhatian Linda.


Terpendam dalam tumpukan batu kristal dingin.


Nano meraihnya. Tak sengaja tangan Nano bertemu dengan jemari lentik Linda. Desir yang tak biasa menjalar, seakan tersengat aliran listrik. Nano pun mengambil alih gelas yang hanya menyisahkan es batu. Kemudian menuangnya pada piring kosong di atas meja itu.


Benda berkilau terbungkus rapi dengan plastik ikut tertuang di atas piring, Linda bersendekap dada. Namun matanya fokus pada apa yang tengah Nano lakukan. Seketika mata Linda membulat melihat beda kecil yang biasa tersemat pada jemari manis. Nyaris saja senyum di bibirnya mengembang. Namun urung. Sekuat hati Linda menahannya.


Tanpa melihat langsung ke arah Linda. Nano masih sibuk membersihkan cincin putih yang simple namun tak mengurangi keindahannya.


"Kalau ingin senyum ya senyum saja. Jangan ditahan," ucapnya kemudian dengan sebelah tangan menengadah di depan Linda.


"Will you marry me?" tanya Nano kemudian.


Rona merah terlihat jelas di wajah Linda saat ini. Rasa bahagia yang amat sangat. Apa sudah sedewasa ini hingga kata menikah bisa hadir secepat pergerakan detik jarum jam? Lama, cukup lama rasanya. Bagi Nano menunggu jawaban Linda. Tanpa menunggu kata iya Nano meraih tangan Linda menyematkan cincin itu pada jemari manis wanita yang bisa membuatnya mantap untuk segera terikat dalam ikatan suci.


"Iihhh tak romantis," sangkal Linda namun dengan senyum manis yang tak lagi tertahan. Air matanya menetes jatuh tanpa diminta.


Secepat kilat Nano menengadahkan tangannya. Menerima tetesan air mata Linda yang hampir terjatuh, hingga mendarat tepat di tangannya, "Aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu bersedih. Apa kau takut aku tidak bisa membahagiakanmu? Coba, coba pegang lah?" ucap Nano dengan senyum menghiasi wajah dan meminta agar Linda menurutinya untuk memegang telapak tangan Nano.


Linda mengusap telapak tangan Nano.


Kening Linda mengernyit.

__ADS_1


"Tanganku cukup kasar bukan? Tentu saja! aku tipe pria yang pekerja keras," ucap Nano dengan sebelah tangan menepuk-nepuk Dada.


Uuhhukk uuhhuukk


Batuk yang dibuat-buat.


"Isshh," desis Linda. "Sudahlah sudah malam ayo pulang," ucap Linda dengan melempar kain kecil yang terlipat rapi di atas meja ke dada bidang Nano yang terbungkus kemeja, kemudian pergi berlalu dengan mengengam erat tangannya. Memutar-mutar cincin yang tersemat manis pada jemarinya.


Nano mengikuti Linda yang sudah berjalan lebih dulu, ia mengulum senyum yang belum juga surut saat memandang langkah Linda dari belakang.


Semoga aku bisa membahagiakanmu dengan caraku. Batin Nano.


"Ayo Mas, Lambat sekali!" seru Linda yang sudah tepat berdiri di samping motor Nano.


Sedikit berlari kecil Nano menghampiri Linda. ia bergeming, berdiri tanpa berniat sedikit pun menyentuh motornya.


"Menunggu apa? Ayo?" ucap Linda lagi, meminta agar segera pulang.


"Kau masih hutang jawaban? Kalau kau menjawab tidak, pulang saja sendiri," ucap Nano. Sambil mendudukkan dirinya di atas motor. Mengeluarkan benda pipih super canggih dalam sling bag.


"Astaga memaksa sekali. Perasaan dulu sabar-sabar saja menungguku. Kenapa sekarang jadi pemaksa?" ucap Linda dengan sedikit memiringkan kepalanya.


"Hentikan." Linda menutup ponsel Nano dengan telapak tangan. Lalu nendekatkan sedikit bibirnya pada daun telingan Nano, tetapi masih berjarak satu jengkal. "Ya," ucap Linda lirih kemudian berlalu meninggalkan parkiran.


Nano tertegun sejenak, lagi-lagi senyum mengembang suguh ini adalah hari paling spesial. tak disangka wanita yang selama ini ia puja menerima lamarannya.


Malam indah, malam manis, malam penuh cinta. Terlewat begitu sempurna. Tidak ada barisan kalimat yang bisa menggambarkan kebahagian keduanya. Hanya senyum yang tak kunjung sirna dari sudut bibir masing-masing.


Yang tadinya hanya menginap satu hari saja menjadi terpundur karena habisnya waktu untuk mengukir kenangan baru. Kenangan manis yang bisa diceritakan pada anak cucu. Eellahh nikah aja belum udah ngomongin anak cucu.


Jadilah dua hari Linda menginap. Dihari berikutnya Nano mengantarkan Linda kembali pulang kekampung halaman. Tapi mereka belum memutuskan kapan akan melangsungkan lamaran secara resmi. Mengingat saudara Nano masih dikalimantan.


*****


Setelah Linda mendapatkan ungkapan keseriusan Nano. Ia menceritakan kepada kedua orang tuanya beserta keluarga. Terutama Opa dan Oma. Akhirnya mereka memutuskan untuk berkunjung kerumah orang tua Papuh Ari.


Tidak memakan waktu lama sekitar dua jam perjalan keempatnya sudah sampai. Rumah Opa dan Oma sangat sejuk dengan ditumbuhi pohon pinus.

__ADS_1


Rindu sedikit terpundur selangkah saat menapaki halaman rumah itu. Takut. Mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat ia tinggal dirumah Opa.


Tangan lembut Bupuh Winy menguatkan Rindu seolah memberikan keyakinan jika tidak akan terjadi apa-apa. Mata lebar Rindu terpaku menatap pohon besar disamping rumah, ingatan masa lalu terlintas.


Flashback on


"Nduk surup-surup jangan main diluar!" Teriak Oma dari ruang tamu. Surup dalam bahasa ditempat Oma artinya waktu magrib.


"Iya Oma," sahut Rindu kecil yang sedang asik membelai kucing hitam diteras rumah. Namun entah kenapa kucing itu berlari. Rindu yang gemas pun mengikutinya sampai akhirnya ia berhenti dibawah pohon samping rumah Opa.


Disana Rindu melihat nenek-nenek yang menggunakan kebayak. Rambutnya tergulung keatas menyisakan beberapa juntai anak rambut. Perlahan Rindu mendekat. Tak ada rasa takut awalnya. Ia terus mengarah dimana nenek itu berada.


Tangannya terulur kedepan hendak menyapa. Hingga___


"Sopo koe, ngalio, minggato ojo ganggu cucuku!" Sentak Oma dengan menggendong tubuh kecil Rindu.


Kemudian Oma melangkah pergi dari pohon besar itu.


Setelah berada didalam rumah Oma mendudukan Rindu diatas kursi, menakup wajah Rindu agar menghadap kearanya, "Nduk Oma-kan sudah bilang jangan keluar saat Surup," ucap Oma


Rindu mengangguk.


Kriincing bunyi kalung kucing hitam itu terdengar. Seketika Rindu turun dan mengejarnya. Oma hanya tertegun.


Flashback off


Rindu meremas kuat jemari Bupuh Winy. Nafas berat berhembus. Itu hanya kenangan buruk dimasa lalu. Sekarang adalah masa depan, tidak ada hal-hal semacam itu lagi. Itu hanya sugesti.


Opa dan Oma sudah berada di depan pintu mendengar kabar jika anak dan cucunya akan berkunjung. Rumah yang Opa tempati memang tergolong jauh dari pemukiman warga yang lain jika malam tiba yang terdengar hanya suara serangga-seranga dan binatang malam.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,

__ADS_1


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.


__ADS_2