
Dua sosok yang bentuk dan perangaiannya sangat familiar bagi Nano. Berdiri yah kira-kira lima meter didepannya. Hingga saat___
"Wooyyy Setya, Silla!!!" Seru Hari memanggil kedua temannya.
Kedua orang itupun menoleh. Mendegar seseorang memanggil dari arah belakang. Langkah mereka terhenti menunggu Hari dan Nano sampai didepannya.
"Dari mana? Pantas saja tadi ku ketok-ketok pintu kamarmu tidak ada yang menjawab," Ucap Hari setelah sampai didepan keduanya.
"Aku lapar. Jadi aku keluar dan kebelutan bertemu dengan Silla," Terang Setya.
"Iya. Kami baru saja sampai. Hay No?" Sapa Silla saat Nano tepat berada dibelakan Hari.
"Hay Silla," Sambutnya.
"No, Setya bilang tadi dia sudah makan. Jadi__"
"Ambil saja," Tungkas Nano sebelum Hari menyelesaikan kalimatnya.
Mendengar itu Hari nyengir. Rejeki ditanggal tua mungkin kini itu yang sedang berada dipikirannya.
Merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini, bertemu dengan seseorang yang spesial dihatinya. Takut jika rasa itu enggak tuk meninggalkan hati, Silla memilih menghindar. Menjauh sejauh kaki melangkah dan mata memandang.
"Eemm aku akan masuk duluan. Assalamualaikum," Silla berpamitan dan memberi salam.
"Waalaikumsalam," jawab ketiganya kompak.
"Aku akan menyusul Silla." Pamit Hari.
Yang spontan dihujani plototan dua pasang mata pria dewasa didepannya.
"Hahaha. Tenang tenang. Maksudku aku juga pamit. Aku lelah," Ucap Hari meralat ucapan pertamanya.
Hari pun melenggang meninggalkan kedua temanya yang masih enggan untuk beristirahat.
Suasana sedikit lebih tegang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dihati masing-masing.
"Sorry Setya aku ingin berbicara serius dengamu," Ucap Nano.
"Aku pun sama," Tegas Setya.
Keduanya berjalan mencari tempat yang pas untuk berbincang. Tempat aman agar tidak ada satu orang pun yang mendengar.
Dirasa sudah aman dari jangkauan pendengar gelap. Mereka berdua menepuk-nepuk gorong-gorong bundar bakal saluran air ditempat itu agar bisa diduduki.
"Begini No kemarin malam____" Setya mulai menceritakan semua rentetan kejadian sepulangnya dari berlibur kepantai waktu itu. Mulai dari saat ditelfon, dipenginapan, bahkan apa saja yang dilakukan dari malam sampai pagi dan siang hari tiba dipabrik yang menjadi ending ceritanya.
"Jadi begitu No," Terang Setya panjang lebar semua ia ceritakan tanpa sisa.
"Termasuk ditengkukmu? Itu juga kenang-kenangan darinya?" Tanya Nano. Tersenyum miris. Sedikit mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Ya. Ayolah No. Bantu aku, kali ini saja. Aku berjanji setelah ini. Setelah dapat jawaban pasti darinya. Apapun itu aku siap," Ucap Setya.
"Tidakkah kau berfikir sebelum melakukan sesuatu?" Tanya Nano. "Bukankah kau tau siapa dia? Kau tau apa akibat dari perbuatanmu?" Imbuhnya.
"Aku tau. Tapi akal sehatku menguap saat itu," Pembelaan Setya.
"Kau yakin tidak ada yang mengawasi?" Tanya Nano sekali lagi.
"Kurasa," Jawab Setya mulai ragu.
"Aku tanya. Jangan menjawab menggantung seperti itu!" Tegas Nano sedikit lebih keras. Ada kepanikan disana. Cemas, seolah Nano tau apa yang akan terjadi nanti.
"Kenapa kau jadi marah No," Ucap Setya.
"Dengar, aku bukan orang tua mu yang bisa marah dengan kecerobohanmu. Aku hanya berusaha memastikan. Jangan main-main Setya. Kau tau akan seperti apa nantinya jika ada yang melihatmu?" Tanya Nano. Agar Setya bisa memikirkan apa akibat dari tindakan bo*ohnya.
"Aku yakin saat aku meninggalkan tempat itu. Aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan," Setya menjelaskan detail saat ia keluar dari tempat tersebut.
"Oke jika kau yakin," Tepukan berat Nano daratkan pada pundak kiri Setya.
"Aku benar-benar tidak bisa tanpanya No," Ucap Setya, nadanya terdengar penuh kesungguhan. Sejenak mendongakan wajahnya jauh menatap angkasa. Hembusan nafas berat terdengar.
"Ngomong-ngomong kau dan Hari darimana?" Tanya Setya mengganti topik.
"Cari makan sekaligus melihat butik yang nantinya akan Linda tempati untuk berbisnis." Ucap Nano.
"Oo. Apakah sudah siap? Ada yang perlu aku dan Hari bantu." Tawar Setya.
Angin malam berhembus lirih. Membuat dedaunan pohon ditempat itu bergoyang perlahan. Melambai-lambai mengikuti arah angin yang sebentar lagi membuatnya meninggalkan ranting.
Petir menyambar diufuk selatan. Yang artinya sedang ada badai disana. Mungkin hujan deras disertai gembelegarnnya guntur.
Malam ini udara cukup bersahabat, tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas.
Entah karena sebagian bumi sudah tersirami tetesan air dari langit atau tanda bahwa badai akan segera datang. Tidak ada yang tau hukum alam. Semua terjadi karena kehendaknyan, kehendak gusti Allah SWT.
****
Derap langkah terdengar teratur. Pagi yang hangat begitu terasa, warna jingga dari arah timur begitu indah. Menandakan langit yang cerah.
Seorang wanita nampak masih meringkuk malas dibawah selimut tebal.
"Rindu bangun." Tangan lembut Bibi Winy menggoncang ringan sosok didalamnya.
"Zzzzzz" masih saja bergeming.
"Bangun, apa kau tidak pergi kekampus?" Dengan lembut Bibi Winy berusaha membangunkan Rindu si tukang tidur.
Dengkuran terdengar teratur dibawah selimut. Yang tandanya masih ada kehidupan dibawahnya. Entah apa yang membuatnya susah dibangunkan. Biasanya dengan menggoncang sedikit tubuh sang empunya suara, mata itu terbuka.
__ADS_1
"Ma kenapa disini." Suara Linda mengagetkan Bibi Winy yang tidak menyadari kehadiran Linda.
"Semalam Rindu apa kau ajak begadang?" Tanya Bibi Winy pada putrinya.
"Hehehe iya Ma. Yah sekitar jam dua dini hari ia baru tidur." Ucap Linda, yang memang benar Rindu semalaman begadang bersamanya untuk menyelesaikan pesanan yang harus segera dikirim hari ini.
"Astagah sayang, jika kau butuh pegawai bilang. Jangan Rindu kau ajak begadang. Rindu ada kelas pagi hari ini." Omel Bibi Winy pada putrinya.
Tidak sampai disitu omelan mama kini merambat kemana-mana mungkin tujuh hari tujuh malam tidak kelar kelar.
Petuah-petuah nenek moyang keluar semuanya. Yang dijadikan bahan obrolan seperti sedang tersihir tak bergerak sedikitpun dari posisinya.
"Ada apa Ma? " tanya Paman Ari yang mendengar celotehan pagi sang istri.
"Ini Pa akibat dari perbuatan anakmu. Aku ingin memaksa bangun Rindu jadi tidak tega. Ternyata dia baru tidur jam dua dini hari." Terangnya pada suami.
Kemudian paman Ari melihat arloji yang menempel pada pergelangan tangannya.
"Bangunkan setengah jam lagi saja." Ucap ringan Paman Ari.
"Dia harus berangkat pukul tujuh Pa. Dan ini sudah pukul enam." Tunjuk Bibi Winy pada jam dinding kamar itu.
Hingga terlihat pergerakan ringan yang menampakkan tangan terulur dari balik selimut. Menyibak secara perlahan, jelas terlihat sang empunya malas untuk terbangun.
Mata coklat indah dan lebar itu mengerjap-ngerjap untuk menetralkan cahaya ruangan. Tangan lentik yang menutup mulut saat menguap.
Rindu menatap heran, kenapa orang dirumah ini mengerubunginya. Tatapan itu jelas menpertanyakan prihal berkumpulnya anggota keluarga Ari Wiralodra disini. Lebih tepatnya dikamar putri mereka.
"Ada apa Bi?" Tanya Rindu polos.
"Kenapa brisik sekali? Kepala Rindu jadi pusingkan." Imbuhnya.
"Aku baru saja tidur pukul dua Bi." Celoteh Rindu saat merasa kepalanya sedikit pusing karena kurang tidur atau terkaget karena suara berisik disekitarnya.
"Rindu kau kan ada kuliah pagi hari ini." Terang Bibi Winy.
"Aku bolos ya Bi." Rindu memohon pada Bibinya karena kurang sehat.
"Ya beristirahatlah." Lembut Bibi Winy menyelimuti tubuh Rindu yang hanya menampakkan kepalanya saja.
Ketiganya pun kembali mengerjakan aktifitas masing-masing.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu