AKU RINDU

AKU RINDU
BECAUSE TIME IS MONEY


__ADS_3

Cerahnya hari ini menambah semangat penduduk bumi mengawali pagi. Waktu seakan berjalan cepat. Bosan menunggu sesuatu yang tak tepat. Because time is money.


Lama tak membahas tetang kehidupan pria satu ini. Apa iya sudah bebas? Bebas dari cinta yang terhalang dinding kaca.


Setelah mengecap manis madu dunia, dosa tak membuat hatinya bergetar takut akan Tuhan. Mengulangi kesalahan yang sama seolah menjadi candu yang tak ternilai hargannya.


Secara diam-diam Setya dan Sita sering bertemu, menghapus rindu yang semakin hari bertumbuh. Hasrat yang menuntut tersalurkan menjadi gada pemecah dinding kaca.


Hubungan yang tak seharunya terlampiaskan sebelum halal selalu berulang. Kegilaan apa ini? Dimana moral dan adab dua insan penikmat dosa.


Apa syaitan mulai bertahta, hingga ia lupa akan Tuhannya.


"Setya! dari mana?" Tanya Nano yang tak melihat temannya di mes semalam.


Tiga detik terdiam kemudian Setya menjawab asal, "Ada urusan penting."


Nano menatap penuh curiga. Menelisik kejujuran disana. Ah, sudahlah setiap orang punya urusan masing-masing. Nano menepis prasangka buruk tentang Setya.


Nano mengangguk lalu pergi begitu saja. Rona lega terlihat jelas pada raut wajah panik Setya pagi itu. Melangkah gamang menuju kamar.


Mentari yang sejak tadi merangkak naik, meninggalkan peraduannya diufuk timur. Memoleskan kehangatan menyusup di sepanjang waktu. sampai tak terasa, kini telah kembali terjun bebas ke arah barat. Sehingga panasnya mulai menyurut tak lagi menyengat.


Kegiatan yang berlangsung selalu sama setiap harinya. Bangun pagi dan pulang bekerja di sore hari. Rasa lelah seolah tak pernah singgah.


Selesai membersihkan diri Nano bermaksud menemui Linda, menghabiskan waktu bersama sepertinya menyenangkan.


Cukup singkat perjalan menuju butik. Jalan tampak lenggang, seolah dewi fortuna membuka jalan dua insan yang lagi kasmaran.


Linda menunggu Nano dengan tenang, mempercayakan butik kepada karyawan. Style yang terlihat santai membuat Linda seperti gadis SMA menanti kekasih menjemputnya.


"Tunggu ojek Mbak?" Iseng Nano bertanya tepat didepan Linda.


"Iya! Ojek yang super nyebelin," jawab Linda.


"Hahaha ya sudah dari pada tunggu ojek yang super nyebelin mending sama aku aja, ojol ganteng diatas rata-rata," ucap Nano dengan senyum yang tertahan melihat ekspresi Linda yang cemberut.


"Jiiaahhh somse," Linda menutar bola matanya jengah dengan di selingi senyum termanisnya.


Mas Nano memasangkan pelindung kepala pada Linda. Senyum mengembang memperlihatkan gigi gingsulnya.


Canggung saat saling bertatap muka, Nano menelisik di tiap inci wajah ayu Linda.


"Udah ah! Yuk," tepis Linda dengan segera mendudukkan diri dibelakang Nano.


Menyusuri ramai kota bertemankan bulan bulat sempurna. Bintang bertaburan hingga tak terhitung jumlahnya. Mereka berdua masuk disalah satu outlet yang cukup terkenal dikalangan anak muda.


"Sayang mau pesan apa?" Nano bertanya pada Linda.

__ADS_1


"Ice madu yuzu dan toast curry tuna," ucap Linda.


"Okey tunggu bentar,"


Tak lama Mas Nano kembali, suasana saat ini cukup ramai mengingat sekarang akhir pekan.


Pesanan sudah tertata rapi diatas meja. Menikmati makan yang diselingi cengkrama ringan. Terlihat Linda mulai mengingat sesuatu.


"Mas, tempo hari Rindu cerita kepada ku ingin bermitra dengan brand ini," ucap Linda setelah meneguk icenya.


"Lalu?"


"Aku sih sudah cari info mengenai dana yang harus dikeluarkan, eemm sekitar tujuh puluh lima jutaan gitu. Mahal gak sih Mas?" Linda meminta pendapat.


"Mas sih gak seberapa tahu sayang, kalau dilihat sih murah ya. Karena brand ini cukup terkenal di Indonesia," terang Nano.


Linda terlihat menimbang-nimbang perkataan Mas Nano.


"Rindu punya modal berapa?" Nano balik bertanya.


"Hehe itu dia. Rindu baru ada dana dua puluh lima juta," ucap Linda sedikit memberi jeda, "Sebenarnya aku ingin membantu biar dia bisa belajar berniaga."


"Ya sudah bantu saja, nanti kamu bisa ajari dia menghemat uang saku sebagai tambahan yang lima puluh juta. Hehehe," ucap Mas Nano.


"Waduuhh ya tidak bisa Mas, selama ini uang saku Rindu tak seberapa," terang Linda.


"Nanti deh aku bicarakan dengan Papa," ucap Linda.


Waktu berjalan singkat keduanya sudah keluar dari sana. Memang gaji yang Nano dapat tak seberapa dibandingkan dengan penghasilan Linda menjadi pengusaha.


Tapi setiap kali keluar atau makan bersama selalu Nano yang merogoh kocek. Kadang Linda memaksa untuk bergantian membayar tapi selalu dapat penolakan dari Mas Nano.


"Mas selama disini Setya kok jarang sekali ya kumpul bareng kalian lagi, maksud ku biasanyakan kalian bertiga selalu bersama?" Panjang lebar Linda bertanya.


"Entah, setiap Mas ajak gabung selalu beralasan sibuk," jawab Mas Nano sambil mengedikkan bahu.


Bulan terdiam ditempatnya, atau mungkin waktu yang berhenti. Hari yang dinanti tak kunjung datang menghampiri. Semoga iman selalu tebal membentengi.


Motor Nano berjalan stabil, mencoba menikmati moment yang ada dengan seksama. Tak ingin terlewat begitu saja.


"Yuupp dah sampai," ujar Mas Nano.


Linda turun dari motor, berusaha melepas helm yang terpasang dikepala, "Kemarilah bantu aku!" Sentak Linda kemudian.


"Hahaha iya-iya," kemudian Mas Nano segera turun dan membantu.


"Dasar tidak peka!" Hardik Linda.

__ADS_1


Nano hanya tersenyum, sebenarnya dia iseng. Sengaja ingin tahu semandiri apa Linda. Karena Linda hampir tidak pernah mengeluh apa pun. Kata Tolong seolah anti ia ucapkan. Bukan sombong, Linda memang tak ingin menyusahan orang lain. Berusaha sesuatu sendiri terasa menyenangkan.


Setelah helm terlepas Nano berkata, "Apa tidak apa-apa sayang kamu disini sendiri? Atau kamu ingin kuantar kerumah Pak Teguh?"


"Mas tak perlu cemas, jika ada sesuatu aku akan menghubungi Mas," ucap Linda dengan serius.


"Baiklah, jaga diri baik-baik. Mas tinggal ya, Assalamualaikum," Mas Nano berpamitan. Rasanya enggan untuk pergi tapi mau gimana lagi. Mereka masih belum menjadi suami istri.


"Ya, Mas juga hati-hati, Waalaikumsalam," ucap Linda dengan melambaikan tangan melepas kepergian tunangannya.


Malam makin larut, suara bising serangga mesin masih terdengar jelas.


Berbeda jauh dengan di kampung Krajan. Suasana damai dimalam hari, hawa dingin yang menyejukkan hati.


****


Setelah mempertimbangkan segalanya Linda memutuskan untuk memberitahu Papa Ari tentang keinginan Rindu memulai bisnis. Tentu saja ini membuat bangga, bagaimana tidak Rindu si tukang tidur akhirnya ingin memulai langkah pertamanya belajar berbisnis.


Sarapan pagi ini ditemani secangkir kopi, koran terbentang lebar menyertai. Pade Ari sesekali menyesap kopinya dengan mata masih menatap surat kabar didepannya. Hingga aktifitasnya teralihkan oleh sapaan keponakan manisnya.


"Pagi pade?"


Seketika Pade Ari melipat koran dan menghabiskan kopi, "Rin? Kak Lin sudah menceritakan keinginanmu pada Pade."


Rindu tampak bingung, keinginan? Keinginan yang mana? Bahkan keinginan Rindu banyak sekali, dengan santai Rindu bertanya, "Apa itu Pade? Banyak sekali keinginan Rindu. hehehe."


Pade menggelengkan kepala, mana mungkin orang seperti Rindu bisa berbisnis, "Ya sudah kalau tak ingat. Tak usah dibahas dan," sedikit memberi jeda, "Lupakan saja."


Apa ya? . Batin Rindu mencoba mengingat apa yang jadi inginnya.


"Ah ya aku ingat!" Seru Rindu. Matanya memancarkan sesuatu, hal baru dalam langkahnya, seketika itu Rindu menatap lekat Pade Ari bertanya lagi mengenai pertanyaan barusan, "Rin ingat Pade, Rin ingin sekali belajar berbisnis seperti Kak Lin."


"Pade bisa saja memberi modal untuk mu, tapi ada syaratnya. Uang saku dan uang jalan-jalan mu Pade kurangi," tutur Pade Ari.


Mata coklat Rindu semakin berbinar, tak menyangka lampu hijau sudah ada, saking senangnya Rindu berhambur memeluk Pade seraya berucap, "Terima kasih Pade."


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.

__ADS_1


__ADS_2