
Belum usai acara makan malam bersama, yang baru saja di bicarakan datang, "Assalamualaikum Rindu pulang!"
Langkah panjang Rindu terhenti saat ingin segera memeluk Nan. Lupa kalau dia belum membersihkan diri dari kuman-kuman nakal, "Ahh ya tunggu Pangeran kecilku Aunty akan mandi, setelah itu mengajakmu."
Nan tersenyum, tangan mungilnya bergerak mengusap mata. Beberapa kali matanya mengerjap. Mencoba mengangkat tubuh, seolah hendak melompat. Kini Nan duduk di kursi khusus bayi, dengan meja kecil dekat dada.
"Muuaaahhh cium jauh sayang," sempat-sempatnya Rindu kiss bye sebelum pergi.
Selalu ada saja hal yang Rindu lalukan, untuk membuat rumah sedikit berisik. Mungkin rumah akan sepi tanpanya. Sebentar Rindu sudah kembali. Seakan lelah tak menjalari, dibawanya Nan dalam pelukan. Mencium pipi gembulnya. Menempelkan kepala Nan pada pundaknya, dengan memegangi tengkuk si bayi.
Bukannya ikut makan malam bersama, ia malah menuju ruang keluarga, membawa serta bayi gembul itu.
"Makan dulu sayang!" Teriak Bude Winy pada Rindu yang membawa Nan keluar dari ruang makan.
Sambil jalan Rindu menyahuti, "Ya Bude setelah ini Rin akan makan."
"Apa Rindu setiap hari seperti itu?" Tanya Mas Nano.
Tidak ada capek-capeknya, baru pulang langsung mengajak Nan. Padahal sejak pukul tujuh pagi ia sudah berangkat untuk kuliah, dan baru pulang pukul tujuh petang. Rindu si tukang tidur sepertinya sudah bertransformasi.
"Ya begitulah, rasanya Nan begitu berarti baginya. Kadang aku suka berebut mengurus Baby Nan," ucap Linda diiringi senyuman.
"Eemmm," ada makna tersendiri dalam kata Eemm yang terlotar dari bibir Mas Nano. Rasa syukur karena sudah diberi keluarga utuh, keluarga yang mau menerima apa adanya. Kebahagian melimpah ruah untuk buah hatinya.
Suara celotehan Rindu terdengar, yang di sahuti Baby Nan dengan senyum dan sesekali lenguhan khas seorang bayi.
Diruang keluarga tidak hanya terdengar suara TV yang menyala. Sesekali suara Rindu mendominasi.
"Ayo Nan ganbatte!!" pekik Rindu dengan mengepalkan tangan. Memberi semangat.
Bocah kecil itu berusaha untuk tengkurap, beberapa kali memiringkan badannya. Menyeimbangkan tubuh. Hingga satu sampai empat kali percobaan, Nan berhasil. Senyum mengembang sempurna pada bibir mungil Nan.
"Yeeeeyyyy!!" Rindu bersorak senang.
Puas berceloteh tak jelas dengan keponakannya, rasa kantuk menyerang. Rindu membuka mulut, menarik nafas dalam-dalam dan mengisi rongga paru-parunya dengan udara. Hingga mata mulai terpejam. Bahkan jemari mungil Nan tak membuatnya bergerak. Hanya tangan Rindu yang sesekali bergerak, menepuk- nepuk ringan Nan.
Rindu sudah tertidur pulas disebelah Nan yang juga tertidur pulas diatas kasur kecil khusus bayi. Bude Winy menghampiri, sedikit mengguncang bahu Rindu. Mengingatkan Rindu agar segera makan.
__ADS_1
"Rin bangun, makanlah dulu," pinta Bude Winy.
Rindu menguap, mengerjabkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang menembus netranya, "heemmm, ya Bude."
Dengan langkah gontai Rindu menuju dapur. Mengambil dua apel dan satu kaleng sedang susu cair. Kemudian menghabiskannya dalam hitungan menit. Seketika mata sayunya kembali terbuka. Rasa kantuk perlahan sirna.
Diruang TV ternyata sudah ada Linda dan Mas Nano, Bude Winy serta Pade Ari. Rindu terlihat menghampiri semuanya.
"Sayang karena Mama dan Papa mu ingin kangen-kangenan jadi Nan dengan Aunty saja ya?" Ledek Rindu yang tampak sibuk bermain dengan keponakannya.
"Bibi!!!!" Kompak keempatnya berseru.
Seketika Rindu mencebik kesal, "Astagah, ayolah! Bibi terlalu kuno untuk ku, oke aku memang Bibinya Nan. Tapi kan, aku bisa dipanggil yang lebih keren sedikit. Misalnya seperti Aunty."
"Hilih kalau bibi ya bibi saja kenapa harus pakai Aunty segala, gak cocok dengan potongan mu Rin," Mas Nano menimpali.
Pade Ari yang pada dasarnya tak banyak bicara, memperhatikan satu persatu anggota keluarganya. Kadang menimpali juga. Keluarga lengkap. Ada istri tercinta, anak serta keponakan, menantu dan juga cucu. Anugrah terindah dalam hidupnya.
Rindu mendelik kesal, seolah biji mata hampir keluar, komat kamit tanpa suara.
"Jangan melotot begitu, nanti Nan takut," ledek Linda, melihat ekspresi adik sepupunya seperti itu.
"Mata ku udah lebar dari sononya!" tungkas Rindu dengan mencebik dan bersedekap dada. Saat ini Rindu duduk bersilah di bawah, dekat dengan Bude dan bayi kecil yang sudah mahir tengkurap.
Tawa memenuhi ruangan, rona kepuasa terlihat jelas karena berhasil menggoda Rindu.
Malam semakin larut. Satu persatu anggota keluarga memasuki kamar masing-masing.
Kampung tak lagi ramai seperti waktu Rindu remaja, banyak para anak muda yang merantau kekota. Mengingat disini tak banyak pabrik atau lapangan pekerjaan.
Di tempat Rindu tinggal kebanyakan orang bekerja di kebun atau bertani. Yang jarang sekali anak muda zaman sekarang lakukan. Apa lagi jika tidak memiliki kebun atau sawah sendiri, mereka lebih memilih pergi merantau ke kota.
****
Suara kicau burung pagi ini terdengar murung, matahari pun tertutup mendung. Angin yang terbiasa berhembus ringan kini begitu kencang. Sepertinya akan turun hujan.
Satu tahun sudah berlalu, di usia Rindu yang ke sembilan belas sudah memilik tiga cabang coffee shop di tiga kota. Linda tak lagi memegang langsung butiknya, hanya sesekali datang memeriksa. Mas Nano pun tak lagi bekerja dipabrik. Sesuai mimpinya ia menjalankan bisnis jasa ekspedisi. Tapi masih skala kecil, dibantu dua temannya Hari dan Setya.
__ADS_1
"Har hari ini aku pulang, mau ikut?" tawar Mas Nano.
Hari menggeleng, "Ngaklah, minggu lalu aku sudah pulang."
"Ya sudah, eemm Setya dimana?" tanya Mas Nano yang tak melihat teman satunya.
"Katanya ada urusan. Membeli beberapa perlengkapan untuk acara pernikahannya" jawab Hari lugas.
Mendengar itu Mas Nano hanya ber-oh ria, kemudian kembali bersiap-siap. Membawa sedikit oleh-oleh untuk keluarga di rumah.
Mas Nano mendongak menatap langit. Awan hitam menggumpal. Sudah bisa dipastikan bahwa perjalan kali ini bertemankan rintikan hujan.
"Har berangkat dulu ya. Assalamualaikum," pamit Mas Nano.
"Wa'allaiumsalam, hati-hati No. Salam untuk keluarga dirumah," jawab Hari.
"Heemmm,"
Mobil Mas Nano meluncur, keluar dari area parkir ruko berlantai dua. tempatnya tinggal saat ini. Memilih tinggal disebuah ruko dengan alasan sekalian jadi tempat tinggal sekaligus tempat mencari uang. Bagian atas ruko untuk beristirahat, sedangkan bagian bawah untuk mengerjakan beberapa laporan penerimaan dan pengiriman barang.
Selain ruko dua lantai, Nano menyewa sebuah gudang untuk memarkir dua truck dan tiga mobil box sebagai sarana transprotasi.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan meluangkan waktu membaca novel pertama saya.
Tak kurang juga rasa terima kasih untuk para author yang sudah memberikan kirsar.
arigatou gozaimasu.
__ADS_1