
"Rin kemari!!"
Rindu membalas lambaian tangan Linda.
Saat Rindu hendak menyeberang tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya hingga genggaman stroller baby Nan terlepas.
"Naaaannn!!!" Pekiknya.
Mendengar jeritan Rindu, seketika
Mas Nano berlari, menyebrang jalan berusaha menggapai stroller yang terdapat Baby Nan didalamnya.
"Massss!!!! Awass!!!" Teriak Rindu.
Diluar dugaan, ada sebuah mobil fortuner dengan kecepatan tinggi menabarak Mas Nano hingga terpental.
Darah bersembah dimana-mana.
Linda seolah terpaku. Gula kapas itu terlepas.
"Maaasssss!!!" Rindu kembali memekik.
Barulah Linda tersadar dari keterpakuannya, berlari dengan berurai air mata, berteriak dengan histerisnya. Meletakkan kepala Mas Nano dalam pangkuannya. Memeluknya. Buliran bening menganak sungai pada kedua pipinya. Menggoncang tubuh lunglai suaminya.
Jeritan Linda menggema, "Maaaaaasss!!! Bangun, hiks hiks, bangun Mas!!"
Tangan Mas Nano berusaha meraih pipi Linda, terbata Mas Nano berucap, "Ja - jangan menangis, a - aku tidak apa - apa."
"Mas, jangan banyak bicara, diamlah. Ambulan sebentar lagi datang," gemetar Linda memegangi tangan suaminya yang penuh darah.
Mas Nano tersenyum, "Jaga Nan baik -baik, bilang padanya. Papa sangat menyayangi Nan, uhkk," darah segar keluar dari mulutnya. Satu detik kemudian, mata Mas Nano menutup sempurna diiringi hembusan nafas.
"Mass!!!" pekik Linda.
Mata suaminya kembali terbuka, jari telunjuk Mas Nano menempel tepat pada bibir istrinya, "Sstttt, jangan teriak keras-keras nanti Nan kaget dan menangis."
"Mas jangan bercanda! Diamlah sebentar lagi ambulan datang, hiks hiks," Linda memegang kuat jemari Mas Nano.
"Sayang, aku akan sangat merindukanmu nanti," ucap Mas Nano disela isak tangis Linda. Nafasnya mulai terasa berat. Tangannya mulai melemas.
"Apa yang kau katakan, kau tidak akan kemana-mana!" tungkas Linda, didekapnya Mas Nano dalam pelukan. Perlahan rengkuhan Mas Nano terlepas, tangannya terkulai lemas. Nafas berhembus lirih, memandu mata sayu kembali menutup rapat.
"Maass!!!" Jerit pilu Linda menggema.
Kedua kalinya Linda harus melihat Mas Nano terbaring tak bernyawa. Berharap semua akan baik-baik saja seperti waktu itu.
Tapi pada kenyataannya ini bukanlah luka biasa. Kaos putih yang Mas Nano kenakan memerah karena darah.
Linda menangis sejadi-jadinya, "Maaaassss Mas buka matamu Mas!!!!!"
Setelah itu Linda terbaring lemas tak berdaya.
Orang-orang yang ada disana mencoba membantu sebisanya, ada yang hanya melihat sebagai penonton saja.
Beruntung baby Nan tidak turut tertabrak. Rindu terpuruk. Merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa tangannya begitu teledor hingga membiarkan Nan terlepas dari genggaman.
Selang beberapa saat sirine ambulan terdengar, ada aparat kepolisian juga disana. Dibantu para medis, jenazah Mas Nano dievakuasi. Begitu pun dengan tubuh Linda yang terbaring lemas.
Rindu terlihat gemetar wajahnya pucat pasi bagai orang yang telah mati. Baby Nan turut menangis dalam pelukan. Berbagai pertanyan aparat polisi lontarkan. Tapi tak sepatah kata pun mencuat dari bibir Rindu. Nampaknya Rindu masih syok dengan kejadian sore ini.
Orang sekitar yang mengenal mereka segera menghubungi keluarga. Rindu hanya terdiam membisu dalam mobil patroli. Rengekan baby Nan berangsur menenang, tangan mungil itu dengan atau tanpa sengaja mengusap lembut pipi Rindu. Seketika Rindu tersadar.
"Mas Nano," gumam Rindu. Mata Rindu memerah tapi tidak mengeluarkan setetes pun air mata. Tangis dihatinya kini lebih mendominasi.
Siapa yang menduga ini semua bisa terjadi. Semua sudah di gariskan sejak tiga bulan dalam kandungan, jodoh, rejeki, dan maut sudah tercatat dengan jelas.
Beberapa saat kemudian mobil patroli dan ambulan tiba di rumah sakit. Bersamaan dengan Pakde Ari dan Bude Winy juga babysister Nan. Seketika Nan beralih dari pelukan Rindu.
"Bude!" pekik Rindu, berhambur memeluk Budenya.
__ADS_1
Rindu mencoba mengatur nafasnya yang mulai sesak, "Bude tadi Nan, Mas Nano, tadi Nan, tadi, tadi," Seolah keluh Rindu berucap.
"Tenang sayang tenangkan dirimu," Bude Winy menenangkan keponakannya yang masih syok. Mendekap dalam pelukan.
Rindu seolah tak bisa berkata-kata, air mata pun tak bisa luruh, entah mengapa tangisnya tak pecah.
"Bude, Mas Nano De!!" Menatap lekat Bude Winy, masih mencoba menjelaskan sesuatu.
Bude Winy membenamkan kembali tubuh Rindu dalam pelukannya. Seraya mengajak Rindu menuju ruang rawat Linda.
Terlihat seorang polisi menghampiri Pakde Ari kemudian mengajaknya berbicara, "Pak menurut saksi mata, kejadian terjadi begitu cepat. Sebuah mobil melesat saat korban hendak menghentikan sebuah stroller bayi."
Pakde Ari mencermati penuturan Pak polisi. Kemudian pak polisi menceritakan kronologi kejadian secara detail menurut saksi mata. Keduanya terlihat serius. Nan tak lagi berada di rumah sakit. Babysister sudah membawanya pulang kerumah.
Linda masih tak sadarkan diri. Bangun sebentar lalu pingsan kembali, seolah tak bisa menerima kenyataan. Perlahan mata yang membengkak itu terbuka, berucap dengan berderai air mata, mempertanyakan kembali kenyataan yang baru saja terjadi, "Mas, tidak mungkinkan Ma, Mas Nano meninggalkan aku dan Nan?"
Mata Bude Winy memerah buliran bening menetes pada kedua pipinya. Merasakan apa yang putrinya rasa. Rasa kehilangan yang amat mendalam. Dipeluknya erat tubuh lemah sang putri. Berharap bisa meringangkan beban dihati.
Mengusap lembut pucuk kepala Linda, "Sayang kuatkan dirimu, ingat Nan sayang."
"Hiks hiks hiks," Linda kini menangis dipelukan Sang Mama.
Tubuh Linda berguncang, tangis pilu menyayat hati, "Mas!! Ma, Mas Nano tidak mungkin pergikan, hiks hiks. Benarkan Ma? Benarkan?"
Rindu tak berani mendekat. Bersandar pada daun pintu yang terbuka, air matanya seolah mengering. Bukan tidak bersedih. Melebihi itu Rindu sungguh merasa kehilangan. Kehilangan sosok yang sangat ia rindukan.
"Menangislah Rin," seseorang menepuk pundaknya, "Manangislah, luapkan segalanya. Jangan biarkan hatimu yang menangis, itu tidak akan baik."
Ya, hati Rindu menangis, menangisi kepergian Mas Nano, menangisi kecerobohannya, bahkan untuk menatap Linda pun tak kuasa.
Setelah melakukan berbagai pemeriksaan jenazah Mas Nano di kebumikan. Linda saat itu masih belum kuat untuk berjalan. Sakitnya kehilang membuatnya rapuh bukan kepalang.
Di pemakam para pelawat berangsur pergi menyisakan sanak famili. Rindu berdiri bersama Bude dan Pakde. Menabur bunga di atas pusaran menantu serta kakak yang baru saja menjadi keluarga.
"Rin mari pulang," Bude mengajak Rindu untuk segera pulang bersama.
Kaca mata hitam bertengger pada hidungnya, jemari lentik Rindu menggenggam kuat tangan Bude Winy, "Bude duluan saja, Rindu masih ingin disini."
Sekuat hati Rindu menahan diri, hatinya seolah membeku. Hingga ari mata tak mampu menggambarkan luka didada.
Diusapnya pusaran yang masih basah. Kemudian beralih mengusap nisan yang bertulisakan nama seseorang yang paling ia sayang.
Mas ini semua salahku, harusnya aku memegangi kuat kuat Nan agar tak terlepas. Bodohnya aku Mas. Bodohnya aku. Rasanya aku tak sanggup, untuk menatap dalam kedua mata Kak Lin. Rindu membatin.
Rinai hujan mulai membasahi pemakaman, seseorang tiba-tiba datang dari arah belakang memayungi Rindu dengan payung hitam. Rindu mendongakkan kepala melihat siapa yang sedang berdiri dibelakangnya.
"Diiaaaannn!! Hiks hiks hiks," teriakan, tangis penuh luka kini terdengar, Rindu berada dalam pelukan teman akrabnya.
Dian mengusap lembut pucuk kepala Rindu, "Tenanglah Rin semua sudah ditakdirkan. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Allah lebih menyayangi Mas Nano dibanding kita semua."
Langit seakan ikut berduka, mendung menyelimuti sebagian bumi. Merasakan sakitnya kehilangan yang amat mendalam.
"Ayo kita pulang Rin, jangan seperti ini. Mas Nano pasti akan sedih," sulit sekali meyakinkan Rindu kalau semua akan baik-baik saja. Ada ketakutan didalam diri sahabatnya ini.
Cukup lama menjelaskan, akhirnya Dian berhasil membujuk Rindu agar segera pulang, keadaannya tampak kacau. Tak jauh beda dengan Linda yang tampak seperti orang linglung.
****
Dirumah duka Linda termenung sendiri dikamar. Bayangan renteran kejadian masih terlihat jelas. Sesekali air mata merembes melewati pipi.
"Aaaaggrrrrhhh," teriak Linda terdengar.
Bude Winy yang berada didapur buru-buru menghampiri Linda. Beruntung pintu tidak terkunci.
"Sayang, ada apa Nak?"
"Ma kenapa semua ini terjadi kepadaku? Mengapah Allah tak adil? Aku tidak sanggup Ma. Bagaimana aku menjalani hidup ini sendirian!" Keluh Linda dengan berurai air mata. Membenamkan dirinya pada pelukan sang mama.
Bude Winy nampak mendongak, berusaha menetralkan air mata yang hendak keluar, "Sayang, jangan pernah mempertanyakan keadilan Allah. Setiap makhluk yang ia ciptakan takkan pernah diuji melebihi kemampuan merekan. Berwudhulah, iringi kepergian suamimu dengan do'a. Supaya hatimu juga bisa ikhlas menerima segala yang menjadi suratan illahi robbi."
__ADS_1
Astagfirullah, apa yang sudah aku katakan. Batin Linda, membenarkan apa yang Mamanya sampaikan.
Air mata yang masih setia menemani ia hapus perlahan, "Terima kasih Mama, bantu Linda melewati semua ini."
Anggukan mantap menjadi jawaban Mama Winy. Memapah putrinya menuju tempat suci. Mushola kecil dirumahnya.
Kemudian meninggalkan putrinya sendiri, untuk menumpahkan segala keluh kesah dihati kepada sang pemilik alam semesta.
Benar saja, rasa lega menghinggapi. Keikhlasan membawa pada sebuah hati yang lapang. Menerima berbagai macam ujian. Bahkan pada setiap insan berbeda-beda cara Allah menguji. Rasa kehilang tidak bisa dijadikan patokan sebagai ujian. Sebab rasa bahagia yang terlalu juga bisa disebut ujian. Sudah bersyukurkah setiap kali Allah berikan kenikmatan. Sudah berlapang dadakah jika Allah memberi kesusahan. Sesungguhnya kenikmatan dan kesedihan sebuah kode agar kita senantiasa ingat kepada zat yang maha agung.
Ingatlah Allah disetiap kali kita melangkah. Jika kesedihan menghinggapimu jangan tenggelam didalam jurang kepedihan, Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar dan ikhlas. Pun sama halnya jika nanti mendapat kebahagian jangan pernah terlalu larut dalam kegembiran. Selalu ucapkan syukur kehadirat Allah S.W.T.
Usai menunaikan ibadah shalat untuk menenangkan hati. Linda akhiri membaca Al fatihah, kini dalam do'a Linda bisa menyapa suaminya. Sedikit derai air mata ia usap. Perlahan bibir melengkung simpul. Menatap lurus kedepan. Seoalah ada seseorang yang beberapa saat amat ia rindukan.
Aku akan selalu mendo'akanmu Mas, terima kasih atas cinta kasih yang selama ini kau beri.
Waktu tujuh hari berlalu, tak memungkiri sebagai manusia pada umumnya. Setiap kali ingatan yang tertinggal melintas hati seakan bergetar. Mencoba menjalani hari-hari seperti sebelum dan setelah kehilangan tidak lah mudah.
"Bubububu," celoteh Nan menyadarkan lamunan Linda.
Linda tersenyum, "Sayang temanin Mama melalui ini semua."
Jemari mungil Nan mengusap lembut mata Linda, lebih tepatnya menoel-noel mata sipit yang semakin menyipit karena sembab.
"Lin!!" terdengar suara Mama Winy dari dalam. Segera saja Linda masuk kedalam rumah.
****
Secepat detik merah jarum jam, tak terasa menginjak hari ke empat puluh kepergian Mas Nano. Namun tak secepat itu untuk melupakan memori yang terukir selama ini. Mungkin tak butuh waktu lama untuk memulai cinta. Tapi butuh waktu sepanjang masa untuk melupakan sesuatu yang sudah masuk tepat kejantung hati.
Luka kehilangan tak bisa menjadikan rapuh seseorang,
Justru cintahlah yang membuat seseorang rapuh karena kehilangan,
Cinta memang mendatangkan banyak hal,
Tapi bagaimana jika cinta itu tiba-tiba hilang?
Dia juga akan membawa apa yang sudah ia berikan.
Cinta manusia kepada manusia tak ada yang kekal,
Jika bukan karena orang ketiga yang memisahkan.
Pasti mautlah yang menjadi pemisahnya.
Tidak ada cinta yang kekal selain cinta kasih dari Allah untuk umatnya.
Mencintai sesama manusia sewajarnya jika tak ingin terluka, atau tersiksa karena berpisah. Karena sejatinya apa yang kita punya didunia akan kembali kepada pemiliknya.
Hidup harus terus berjalan. Bersedih boleh tapi jangan sampai terhempas jatuh dilubang keterpurukan.
Don't just cry, get up and enjoy God's scenario
thanks you for reading
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
Sekali lagi saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan meluangkan waktu membaca novel pertama saya.
Tak kurang juga rasa terima kasih untuk para author yang sudah memberikan kirsar.
__ADS_1
arigatou gozaimasu.