AKU RINDU

AKU RINDU
MAY BE YES MAY BE NO


__ADS_3

Dari jauh terlihat Karno terduduk di salah satu kursi tunggu stasiun, sesekali Karno nampak menyesap ringan rokok di tangannya, asap mengepul menerobos bibirnya.


"No sudah lama menunggu?" Suara yang terdengar familiar dipendengaran Karno.


Segera Karno menoleh pada sumber suara itu.


Dibuanganya putung rokok yang hanya menyisahkan filter putih pada ujungnya.


"Lumaya" jawab Karno singkat.


"Karena aku tidak mungkin membawa kau ketempat ku jadi aku menyewakanmu sebuah penginapan" terang mas Nano.


Karno hanya mengangguk singkat, segera langkah kaki mereka bergerak bersamaan menuju tempat yang mas Nano maksud.


Sebuah ruangan yah, bisa dibilang kamar yang berisi satu tilam kecil yang mampu menampung satu orang untuk menempatinya.


"Kapan kita bereskan? Aku sudah tidak sabar?". Ucap Karno to the point.


"Tenanglah aku sudah mengantongi informasi genk mereka" terang mas Nano dengan senyum miring di sudut bibirnya.


"Oke... itu artinya aku perlu istirahat sekarang, pulanglah aku ingin tidur" usir Karno pada temannya ini.


"Kumat! Oke aku pulang baik-baiklah disini" ucap mas Nano. Terlihat sedikit demi sedikit mas nano mendekatkan dirinnya pada Karno, Karno yang tau itu sedikit mengernyitkan dahinya heran.


"Awas ada hantu" bisik mas Nano pada Karno dengan diakhiri tawa yang terbahak-bahak.


"Cihh...omong kosong, sudah sana pergi merepotkan saja" usir Karno lagi.


Cengar cengir mas Nano meninggalkan Karno.


"Segera kita lakukan penyerangan. Ya, lebih cepat lebih baik" ucap mas Nano pada seseorang di seberang telfon.


Dua hari berlalu sejak percakapan mas Nano dengan orang yang entah siapa.


"Markas ditemukan" ucap Hari.


"Tunggu apa lagi, ayo." Karno bersemangat.


Kini seluruh kenalan mas Karno dikota tersebut sudah siap untuk membantu.


Tak banyak basa-basi Karno melangkang kedepan untuk mengatakan maksud kedatangannya.


Karno tampak begitu keren dengan setelan serba hitam. Rambut yang sedikit gondrong menambah karismanya.


Dibuangnya putung rokok kesembarang tempat. "Berani sekali kalian bermain-main dengan saudaraku?"



Dari sisi lain nampak Dony dan orang kepercayaannya. Begitu rapi dengan setelan berwarna silver. Siapa pun yang bergabung dalam genk doni harus digunduli rambutnya.


"Saudara mana yang kau maksud" ucap Doni acuh.



Karno kembali berbicara.


"Sayang sekali, kalian sudah terlalu tua untuk mengingatnya!!" Ledek Karno. "Bahkan otot-otot kalian sudah mulai kendor, cih hanya orang lemah yang berani keroyokan" imbuhnya.


"Banyak bicara!" Doni menjetikkan jari agar orang-orangnya menyeran Jarno.


Pertempuran satu lawan lebih dari sepuluh orang. Santai Karno menghajar semuanya. Pergelutan sengit terjadi, sengaja Hari, Setya, dan mas Nano tidak turut andil. Mengingat mereka masih ada kontrak kerja dengan salah satu pabrik dikota ini. Yang artinya mereka tidak boleh terlibat kasus kriminal.

__ADS_1


Kini orang suruhan Doni tengah tersungkur lemas ditanah. Lebam disana-sini. Dengan sangat mudah Karno menjatuhkan lawannya.


Tiba-tiba hujan turun, Karno bergerak mundur meninggalkan gerombolan semut yang tengah memaki-maki dirinya. Sumpah serapah keluar dari mulut Doni.



Hujan lebat tidak sedikitpun mengurangi kadar ketampanan mas Karno.


Sengaja Jarno membawa teman-temannya, jaga-jaga jika Doni bermain curang. Mungkin dengan senjata tajam atau senjata api misalnya.


May be yes may be no.


*****


Ditempat lain.


"Setya kenapa har?" Tanya mas Nano pada Hari.


"Dia ingin ikut menyerang Doni katanya." Terang Hari.


Kini Setya menatap keluar jendela, awan hitam berkumpul diluar sana. Menurunkan tetesan-tetesan air tanpa celah. Sorot mata tajam tak berkedip dalam jeda waktu beberapa detik. Kemarahan terlihat jelas.


Ditepuk pundak Setya.


"Jangan kotori tanganmu dengan darah pria phsyco seperti Dony!" tutur mas Nano penuh penekanan.


"Rasanya aku belum puas jika tidak menghajarnya!" Ucap Setya penuh kemarahan.


"Tenanglah belum waktunya." Masih dengan nada bicara santai mas Nano berbicara.


"Sial kenapa wanita merepotkan sekali" ucap Setya frustasi.


"Kau tau Setya, tiga penghancur manusia?" Tanya mas Nano penuh teka-teki.


"Omong kosong" Setya meninggalkan mas Nano begitu saja. Melangkah pergi dengan mengacak-acak rambutnya frustasi.


Hari perlahan mendekati mas Nano.


"Kenapa kita tidak ikut dalam penyerangan itu No?." Tanya hari masih tak mengerti.


"Dasar, kau masih tak mengerti juga. Kita masih ada kontrak dengan pabrik. Tidak mungkin kita terlibat dalam kasus seperti itu!" Kini giliran mas Nano pergi meninggalkan hari sendiri.


"Sial!! Benar juga" Hari pun mengacak-acak rambutnya frustasi.


Kini waktu sudah menunjukkan tengah malam. Mas Nano serta kedua temannya memutuskan untuk menemui Karno dipenginapan.


Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di tempat tujuan.


Tok tok tok


Segera Karno membukakan pintu, karena sudah tau siapa yang mengunjunginya tengah malam setelah mendapatkan pesan singkat.


"Sudah makan No?" Tanya setya.


"Sudah." Sedikit Karno memberi jeda. "Makan angin!!" Geram Karno menjawab pertanyaan Setya.


Setya hanya nyengir kuda. Diserahkanya bungkusan nasi kepada Karno.


"Maaf aku baru bisa datang jam segini" ucap mas Nano tak enak hati karena merepotkan Karno.


Hari hanya diam bersandar pada kaki tilam. Tak ingin ikut mengobrol karena kantuk menghinggapi matanya.

__ADS_1


"Woy Har jangan tidur" sentak Karno. "Minum dulu baru bisa tidur nyenyak" imbuh Karno dengan memberika gelas berisi wine.


"Nah ini baru" tanpa basa-basi Hari menyambar.


Mas Nano yang tak biasa meminum-minuman yang berbau alkohol hanya menghabiskan kacang dipiring.


Bau alkohol dan asab rokok menyeruak pada indra penciuman mas Nano. Hingga mas Nano undur diri keluar kamar.


"Aku keluar dulu ya" pamit mas Nano.


Serempak ketiganya hanya melambaikan tangan keudara.


Mas Nano hanya menggelengkan kepalannya. Kini mas Nano mendudukan dirinya pada salah satu kursi diluar penginapan.


"Hallo lin" ucap mas Nano saat sambungan telponnya terhubung.


"Hallo mas Nano, belum tidur. Tumben malam-malam begini telfon?" Tanya Linda di seberang.


"Tiba-tiba aku terbangun dan merindukanmu" ucap bohong mas Nano.


"O begitu. Mumpung mas Nano telfon, bisa Linda minta tolong?" Tanya Linda.


"Apa? Katakan saja?" Ucap mas Nano.


"Tolong lihatkan pembangunan butik baruku bisa mas. Kira-kira kurang berapa persen?" Terang linda sedikit antusias.


"Oke, besok mas lihatkan." Mas Nano menyanggupi


"Terima kasih mas." dengan semangat Linda mengucap terima kasih.


"Ya sama-sama. Tapi ingat ini tidak gratis." senyum licik mas Nano tidak terlihat oleh Linda yang berada diseberang.


"Maksud mas Nano apa? Tidak ikhlas begitu membantuku." rajuk Linda terdengar jelas diindra pendengaran mas Nano


"Hahahaha aku hanya bercanda sayang." ucap mas Nano.


Yakinlah disebrang sana pasti Linda sudah tersipu malu mendengar kata sayang dari mas nano.


"Hallo Linda tertidur ya?" Tanya mas Nano yang tidak mendengar suara Linda.


"E tidak mas." jawab Linda gugup.


"Ya sudah beristirahatlah. Maaf sudah mengganggu waktu tidurmu." ucap mas Nano.


"Tidak apa-apa mas. Assalamualaikum." Linda memilih berpamitan lebih dulu.


"Waalaikumsalam. Mimpi indah sayang" ucap mas Nano lembut.


Linda yang ada diseberang sana tak menjawab. Mas Nano pun mengakhiri telfon dengan menekan tanda merah pada ponselnya.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu

__ADS_1


__ADS_2