
Sore ini langit begitu cerah, sinar surya terlihat mengintip dibalik celah pepohonan. Sejuk terasa menghilangkan hawa panas yang sedari siang merajai sebagian bumi.
Tangis Nan tidak terlalu sering terdengar, kadang harus menggodanya dulu baru suara rengekan keluar.
Tidur masih jadi kebiasaan si bayi kecil pemikat hati. Lin qiunan sebuah nama yang diambil dari penggalan nama kedua orang tuanya.
Mama Winy terlihat menghampiri anaknya yang terlihat sibuk. Padahal Nano sudah menyiapkan babysister untuk istrinya.
Sebagai orang tua Linda ingin mencurahkan segala kasih sayangnya kepada sang buah hati. Tidak ada niat untuk berbagi waktu kepada seorang pun dalam menjaga bayinya.
"Lin jangan melakukan pekerjaan yang memberatkanmu, biar babysister yang mengerjakan," tutur Mamanya.
Linda menatap sekilas Mama Winy, kemudian melanjutkan kembali aktifitasnya. Memberikan bedak pada perut buncit Nan, minyak telon dan cologne bayi.
"Tidak Ma, aku bisa mengurus keperluan Nan sendiri. Ini tidak merepotkan, justru aku bahagia Ma," jawab Linda, sibuk memakaikan popok putranya, "Selesai, dah wangi."
Kemudian Bude Winy mengangkat cucunya yang menggemaskan setelah selesai. Menciuminya disana sini, "Ayo sayang kemarilah cucu Oma, biarkan Mama mu mengurus dirinya sendiri dulu."
Sejak memiliki putra Linda menjadi seperti Rindu dalam hal membersikan diri, orang biasa menyebutnya mandi ala bebek. Nan menjadi prioritas utama saat ini dan seterusnya.
Sikecil Nan tersenyum, binar mata keceriaan. Seolah tau jika saat ini sang Oma mengajaknya berbicara. Bude Winy terlihat berjalan-jalan diluar rumah. Memperkenalkan berbagai hal pada cucunya yang baru berusia tiga bulan.
"Nan sayang lihatlah itu layang-layang," tunjuknya pada benda diatas langit, melihat respon Nan Bude Winy kembali berbicara, "Ya sayang apa kau ingin bermain layang-layang. Nanti ya tunggu kau besar. Minum susu yang banyak ya."
Rindu yang baru saja sampai hanya menggeleng, melihat Budenya berbicara, memperkenalkan ini itu kepada keponakanya si baby Nan.
Semakin hari Nan semakin gembul saja, pipinya meluber kemana-mana, rambutnya merah, mata yang tak terlalu lebar mirip Papa Mamanya, bahkan jika tertawa ia terlihat memejamkan mata.
"Kalau itu Bibimu sayang, lihatlah dia dekil sekali. Bau hacim," ledek Bude Winy.
"Assalamualaikum De," ucap Rindu yang menghampiri hendak mencium keponakannya.
"Waalaikumsalam, eeettss sana bersihkan dirimu setelah itu baru boleh cium," menjauhkan cucunya dari jangkauan Rindu.
Rindu mencebik, "Astagah De pelit sekali."
__ADS_1
Bude Winy tersenyum seraya berkata, "Mandilah dulu, biar apa yang terbawa dari luar tidak mengganggu Nan."
Rindu pun menurut, membersihkan diri setelah seharian beraktifitas diluar rumah.
Mengguyur tubuh dengang air hangat akan membuat otot yang kaku sedikit rilexs.
Didalam kamar yang berbeda Linda terdengar merajuk, ponsel tertempel pada telinga. Hubungan jarak jauh dengan Mas Nano membuat Linda menjadi rindu. Karena setelah menikah tidak pernah lagi berjauhan dalam waktu yang lama.
"Mas kenapa minggu ini tidak pulang, apa Mas tidak merindukan Nan?" Masih dengan nada kesal.
"Bukan begitu sayang, ada beberapa hal yang harus Mas kerjakan. Bersabarlah kalau pun minggu ini Mas tidak bisa pulang, Mas akan ambil cuti sebagai ganti," terang Mas Nano dari seberang.
"Mas tahukan aku sudah terbiasa dengan mu, rasanya berat jika berjauhan seperti ini," lirih Linda berbicara.
"Iya sayang, maafkan Mas yang belum bisa menemanimu setiap waktu," dengan sabar Mas Nano menanggapi Linda, "Do'akan Mas ya."
"Tentu saja, Mas sudah makan?" Ucap Linda.
"Sudah nih lagi makan sama Hari," ucap Mas Nano. Suara Hari see hello dari jarak jauh tertangkap indera pendengaran Linda.
"Ya sudah Mas Baik-baik ya disana, salam untuk semua. Assalamualaikum," putusnya.
"Luv you too," hembusan nafas terdengar.
Kesal masih mendominasi.
Kesibukan semakin hari semakin bertambah, repotnya menjadi ibu rumah tangga membuat Linda jarang sekali melihat perkembangan butik.
Rindu mulai sibuk mengurus bisnis yang baru ia rintis, bagaimana tak sibuk jika ia melakukannya sambil kuliah. Benar sih Rindu tak harus datang secara langsung untuk melihat outletnya. Rindu bisa mengontrol semua itu lewat beda pipih canggih digenggamannya.
Berkat bantuan Pade Ari pula Rindu bisa mengerjakan semuanya, kadang-kadang dibantu juga oleh Bahtiyar selaku pihak pertama. Apa lagi kurang beberapa bulan masa kontrak sudah habis.
Walau terkadang rasa malas menerjang, nyatanya Rindu sudah memiliki segudang rencana untuk melanjutkan bisnis coffee shop. Mungkin akan membuka beberapa cabang di luar kota.
Setelah malakukan percakapan lewat telfon tempo hari, Mas Nano benar-benar mengambil cuti. Tak banyak sih hanya tiga hari. Cukup lah untuk pengobat rasa rindu kepada keluarga kecilnya.
__ADS_1
Didalam kamar berukuran 6x5 ini terdapat box bayi untuk Nan tidur, satu buah lemari yang lumayan besar untuk menampung pakaian ketigannya. Dipojokan dekat jendela ada tempat tidur yang bisa digunakan untuk berdua.
"Sayang anak Papa mana ketawanya, Papa ingin lihat dong," Mas Nano tampak menikmati saat-saat bersama putranya.
"Nan tak ingin senyum, Papa jahat pulangnya telat," goda Linda dengan suara anak kecil seolah anaknyalah yang menjawab.
Mas Nano mencubit ringan hidung Linda, "Sayang mengapa masih membahas masalah itu?"
Linda kemudian memeluk erat Mas Nano, seakan tidak ada waktu yang tersisa, "Aku hanya ingin terus bersamamu Mas, hanya itu."
Ditangkupnya wajah cantik Linda, memberi kecupan ditiap sisinya. Mulai dari kening, kedua pipi, lalu dagu, dan terakhir memberikan kecupan ringan pada bibir mungil Linda, "Sayang dengarkan aku, aku melakukan ini untuk mu dan juga Nan."
"Hemm,"Linda membenamkan dirinya dalam dada Bidan Mas Nano. Memutar putarkan jari telunjuknya pada kacing baju suaminya.
Si baby Nan yang berada didalam box bayi tersenyum seolah turut bahagia. Kemudian Mas Nano melepaskan pelukannya beralih menggendong Nan. Mengajaknya keluar kamar bersama untuk makan malam.
"Cabe belum pulang Ma?" Tanya Linda yang belum melihat adik sepupunya.
Saat sudah duduk bersama diruang makan.
"Belum, dia bilang ada sesuatu yang membuatnya datang terlambat," terang Mama Winy.
Linda mengangguk mengerti, terkadang Rindu pulang terlambat, mengingat kini banyak sekali yang harus ia kerjakan.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu membaca novel pertama saya.
__ADS_1
Tak kurang juga rasa terima kasih untuk para author yang sudah memberikan kirsar.
arigatou gozaimasu.