
Benar saja setelah mengantarkan mas Nano, Linda segera berpamitan pulang.
"Kak...kakak melupakan sesuatu ya?" Tanya Rindu tiba-tiba.
"Apa ya Ri." jawab Linda seolah meminta clue.
"Isshhh kakak...bahkan aku dari tadi belum memakan nasi." ucap Rindu sebal, lengkap dengan mengerucutkan bibirnya lima centi.
"Astagah!!!...ya...okey sorry sorry...mau makan dimana?" Jawab Linda dengan menepuk dahinya ringan.
"Di dekat dekat sini saja tak masalah...itu itu ada richeese factory!!!" tunjuk Rindu dengan mata berbinar.
"Okey." segera Linda mengarahkan mobil ke tempat yang Rindu pinta.
Tak tanggung-tanggung Rindu memesan richeese level lima, Linda yang tau kesukaan Rindu menanggapi biasa saja.
"Huuuhhhh." Rindu mendesis pedas.
"Rasakan...siapa suruh pesan sepedas itu." ucap Linda.
Rindu tak menghiraukan, mata lebar Rindu memerah seperti menahan tangis karena pedas. Tapi itulah Rindu, tidak berselera makan jika tidak memakan makanan yang pedas.
"Yeeaahh selesai." ucap Rindu kemudian dengan punggung tangan mengusap dahi basah oleh keringat karena pedas.
Linda hanya geleng geleng kepala melihatnya. Pasalnya Linda sudah selesai makan sejak sepuluh menit yang lalu, menunggui Rindu yang asik menikmati ayam goreng pedasnya.
"Sudah Ri? Ayo kita lanjut jalan? Nanti keburu malam." ucap Linda mengajak Rindu agar segera mengikutinya.
Rindu mengangguk ringan, mata lebarnya nampak menginginkan sesuatu. Terlihat tangan Rindu menghentikan langkah Linda, Linda mengankat alisnya seperti mengisyaratka ada apa lagi Ri.
"Ice cream." pinta Rindu kemudian.
"Baiklah ini, kakak tunggu di mobil ya." ucap Linda dengan menyerahkan selembar uang pada Rindu.
"thank you." ucap Rindu meninggalkan Linda untuk membeli ice cream yang ia inginkan.
Kini Linda telah mengemudikan mobil menuju tempat tinggalnya, Rindu nampak antusias menikmati ice cream seolah takut ada yang akan memintanya.
Setelah beberapa jam perjalanan Linda sudah sampai di kampung halamannya, kini Linda memarkir mobilnya di halaman rumahnya yang luas dengan rumput hijau menghiasa bak karpet lembut berbulu.
"Assalamualaikum." ucap Linda memberisalam pada kedua orang tuanya yang ada dirumah. Tak lupa Linda dan Rindu mencium punggung tangan keduanya.
"Waalaikumsalam." jawab bibi Winy hangat, tatapan matanya yang lembut khas seorang ibu.
"Gimana kabar Nano Lin?" Tanya paman Ari.
"Sudah baik pa." ucap singkat Linda.
"Ya sudah kalian segeralah mandi, kemudian makan." ucap bibi Winy.
Kedua gadis itu kemudian segera membersihkan diri agar lebih segar serta rasa capek dibadan sedikit berkurang.
"Pa kopinya." ucap bibi Winy pada suaminya.
"Terima kasih ma." jawab paman Ari sambil melipat koran yang ia baca segera meraih kopi buatan istri tercinta. Kembali tangannya membentangkan koran setelah sedikit menyruput kopi.
"Pa Linda sepertinya perhatian sekali pada nano." ucap bibi Winy mengingat Linda begitu panik mendengar kabar Nano jatuh sakit beberapa hari yang lalu. "Apa papa tidak masalah." imbuhnya.
"Maksud mama?" Tanya balik paman Ari tak merasa bahwa selama ini selalu membatasi putrinya dekat dengan seseorang.
"Yaahh jika mereka berdua akan melangkah kejenjang yang lebih serius." ucap bibi Winy to the point.
"Tidak semudah itu ma, aku akan melihat sejauh mana Nano serius pada putri kita." terang paman Ari tak ingin putrinya salah pilih pendamping hidup.
Tante Winy hanya mengangguk mengerti maksud dari suaminya, tentu sama menginginkan yang terbaik untuk putrinya.
"Pa setelah ini segeralah kemeja makan, sudah waktunya makan malam." ucap bibi Winy kemudian.
"Heemm." jawaban singkat paman Ari karena telah serius mengamati koran di tangannya.
Kini segera tante Winy memanggil dua dara kesayanganya, berjalan dengan langkah santai menuju kekamar yang tak jauh dari meja makan.
"Sayang, segeralah keluar sudah waktunya makan malam." suara lembut bibi Winy mengingatkan siapa saja yang ada di dalam sana.
"Iya bi, kami akan segera keluar." jawab Rindu dari dalam kamar.
Segera bibi Winy pergi menuju meja makan, terlihat paman ari sudah duduk manis disana.
Banyak sekali makanan yang sudah bibi Winy siapkan setelah tau anaknya akan kembali pulang setelah kepergian dadakannya.
"Mama banyak sekali makan di atas meja apa kita akan kedatangan tamu?" Tanya Linda bingung saat sudah tiba di meja makan.
__ADS_1
"Ya, tamunya sudah datang, tamu spesial yang selama tiga hari ini pergi mendadak dan hanya meninggalkan memo kecil didepan pintu lemari ice." terang bibi Winy sedikit memasang wajah sedih.
Linda yang merasa bersalah segera berhambur memeluk sang mama, terlihat matanya berkaca-kaca penuh haru. "Aaa mama, maafkan Linda." ucap Linda kemudian.
"Linda dari mana dirimu tau jika Nano sedang sakit." ucap paman Ari memecah momen so sweet itu.
Linda menggit bibir bagian dalam, takut jika sang papa memarahinya setelah ini.
"Eemm ... itu ... Linda..." ucapan Linda terputus, singkat melirik mimik wajah papanya. "Tak sengaja Linda mendengar pembicaraan papa dengan Nani dan Neno." sambung Linda.
Rindu kali ini hanya menjadi pendengar setia, tak ingin ikut masuk dalam pembicaraan yang cukup bisa di bilang serius.
Setelah mendengar penjelasan Linda tak ada lagi percakapan yang tercipta di tengah-tengah makan malam. Hanya terdengar denting sendok garpu berbenturan dengan piring.
"Aku sudah selesai." ucap Rindu setelah menyeleasaikan makanannya, Rindu memang banyak melamun setelah kejadia-kejadian yang terjadi tiga hari yang lalu.
Dengan piring ditangan Rindu pergi meninggalkan meja makan menuju washtafel, kemudian mencucinya dan segera menuju kamar untuk beristirahat.
"Ada apa dengan Rindu sayang." tanya bibi Winy merasa bingung dengan sikap rindu yang tak seperti biasanya bila di rumah.
"Entahlah, Linda sudah bertanya waktu itu tapi tidak ada jawaban." ucap Linda jujur.
"Eemm pa ma, Linda ingin mengembangakan bisnis Linda." ucap Linda kemudian.
"Bagus jika kamu ingin seperti itu." ucap mantap paman Ari penuh kebanggaan.
"Untuk itu Linda mohon ijin kepada papa mama untuk membuka butik di kota, selama tiga hari belakangan ini Linda mencari lokasi yang pas untuk mengembangkannya." ucap tegas Linda, karena benar selain menjaga Nano di rumah sakit Linda juga mengamati kota besar tersebut.
"Sayang apa itu artinya dirimu akan meninggalkan kami berdua?" Ucap bibi Winy dengan mata mulai mengkilat.
"Bukan begitu ma, jika Linda membuka butik disini kurang strategis." Terang Linda seraya memegang lembut tangan bibi Winy mencoba untuk menenangkan.
"Papa tidak keberatan, jika itu untuk mengembangkan bisnis dan cita-cita mu." ucap tegas paman Ari penuh bijaksana
"Terima kasih papa." ucap Linda dengan menghadiakan pelukan pada papa tersayang.
Makan malam pun usai dengan kebahagian tersirat diwajah Linda, terlihat Linda tersenyum begitu anggun.
Linda adalah wanita yang cerdas, ia selalu bisa membuat keluarga bangga.
Dikamar yang gelap Rindu terdiam menatap layar ponselnya, entah apa yang tengah ia amati.
Aaagggrrrhhh .teriak Rindu dalam hati.
Belum sempat ia mematikan ponsel seseorang yang tengah ia pikirkan menelphon.
Mas Hari...untuk apa dia VC. Bantin Rindu
Rindu memutar kedua bola matanya jengah.
"Hallo." ucap Rindu masam.
"Hallo Rindu." ucap mas Hari dari sebrang dengan dadah dadah, nampak di belakangnya ada Setya sedang berbicara dengan seseorang.
"Untuk apa mas Hari menelphon." ucap Rindu ketus.
"Aku merindukan mu." jawab Hari cengengesan. Setya tampak menyemburkan minuman mendengar perkataan Hari. Sejenak Hari dan Setya ribut-ribut di sebarang tak peduli ada Rindu yang mengawasi lewat ponsel.
"Jika tidak ada yang penting apa bisa aku matikan." sarkas Rindu.
"Eehh jangan-jangan, biar aku mencari tempat lain saja, disini banyak pengacau." jawab Hari cepat, tak menggubris triakan Setya yang tak terima di kata pengacau.
Rindu memutar bola matanya yang lebar merasa jengah, lebih tepatnya sebal.
Wajah hari tampak sedikit serius. "Kamu berhutang jawaban Ri." ucapnya kemudian.
"Hutang apa." ucap Rindu pura pura lupa.
"Pertanyaanku di cafe." ucap Hari mengingatkan Rindu.
"Akukan sudah menjawabnya, aku sudah membuang nomor punselmu." ucap Rindu gugup, karena kenyataannya Rindu menyimpan nomor ponsel Hari.
"Aahh ya waktu itu ya." ucap Hari dengan wajah kecewa. "Baiklah aku tidak akan menghubungimu setelah ini." imbuh Hari.
"Ya...ya...itu bagus." ucap Rindu kemudian.
Cabe...cabe...
Teriakan Linda sukses membuat dua orang yang hening sesaat didepan ponsel masing-masing gelagapan, tepatnya Rindu yang gelagapan.
"Eemm mas hari, maaf Rindu matikan ya. Kak Linda memanggil." ucap Rindu sedikit melunak.
__ADS_1
"Ya silahkan." ucap Hari kemudian
"Dah ... assalamualaikum." pamit Rindu
"Waalaikumsalam." ucap Hari dengan nada penuh kekecewaan. Tapi setidaknya Hari lega sudah mengutarakan isi hatinya walau tak berbalas.
Setelah ponsel ia letakkan di atas meja, Rindu segera menghampiri Linda.
Kini Linda tengah dengan serius mengerjakan proyeknya sampai tak menyadari yang di panggil sudah di depan meja kerjanya.
"Ada apa kak Linda?" Suara Rindu membuat Linda berjingkat kaget.
"Astagah kenapa mengagetkan." ucap Linda sambih mengusap dadanya. "Tunggu sebentar." imbuh Linda.
Terlihat Linda berdiri dengan tangan sibuk menyibak baju-baju rancangan miliknya, tak bisa dihitung berapa banyak rancangan yang berhasil Linda wujudkan.
"Naah...ini cobalah." ucap Linda setelah mencari apa yang ia inginkan. Sudah ada gaun rancangan lengkap dengan aksesoris yang cocok dengan gaun itu.
"Okey, apa harus dengan aksesoris ini?" ucap Rindu dengan tangan mengangkat keudara.
"Yaahhh, karena aku ingin tau apa sudah sesuai dengan gaunnya, ayolah." ucap Linda sambil mendorong ringan pinggang Rindu agar segera mencobanya.
Segera Rindu menuruti perintah sang kakak sepupu yang sudah seperti saudara kandung.
Tak lama Rindu keluar dengan gaun yang sudah melekat di tubuhnya.
"Sipp, tunggu rambut mu harus di gerai sedikit di sebelah sini." tangan Linda lincah mengacak-acak rambut Rindu yang biasa Rindu ikat menggulung. "Nah perfect." imbuh Linda melihat hasil karyanya.
"Sudah ya kak." rengek Rindu.
"Tunggu-tunggu." tangan Linda kembali mengaplikasikan lipstik pada bibir Rindu.
Nahkan benar dugaan ku...bakal jadi model dadakan lagi. Gerutu Rindu dalam hati. Karena tak jarang linda menjadikan Rindu sebagai model karyanya untuk di pasang di sosial media miliknya.
Ckreekk cekreekk ckreeekkk...
Beberapa kali linda mengambil gambar Rindu, untuk dipilih-pilih mana yang cocok untuk di pasang.
"Udah ya kak." ulang Rindu merengek.
"Sudah sayang." ucap Linda sambil memegang lembut pipi cubby Rindu, jika sudah didapat apa yang ia mau.
Dasar kakak gak ada akhlak... kalo ada maunya selalu baik-baik. Gerutu Rindu dalam hati
Walau kadang mereka saling mengumpat kesal tapi sebenarnya dari lubuk hati yang dalam mereka saling menyayangi.
Terlebih bibi Winy tidak pernah membandingkan keduanya.
Malam tak menyurutkan semangat Linda, karena jika Linda sudah mulai mengaplikasikan pensil diatas kertas selalu membuatnya lupa waktu.
Kini sudah pukul 23:57, Rindu yang terbangun melihat tilam linda kosong segera beranjak dari tidurnya.
"Kak Lin, belum tidur ya?" Tanya Rindu dengan membawa segelas teh hangat. "Jangan terlalu keras dalam bekerja nanti kau bisa sakit." imbuhnya dengan memberikan teh hangat untuk Linda.
"Terima kasih." ucap Linda kemudian sedikit menyesap teh buatan Rindu.
"Kakak ada proyek besar, setelah ini kakak akan buka butik di kota dan artinya kakak harus mempersembahkan maha karya luar biasa untuk promosi." ucap Linda penuh semangat.
"Benarkah...?" Ucap Rindu riang seakan tak percaya cita-cita kakak sepupunya segera terwujud.
"Of course, bahkan aku sudah mengantongi ijin dari papa mama." ucapnya Linda mantap.
"Syukurlah, akhirnya kakak sudah bisa mewujudkan cita-cita kakak." ucap Rindu seraya memeluk linda. "Do'akan aku juga ya kak...agar bisa sukses seperti kakak." imbuh Rindu.
"Tentu Ri." ucap Linda dengan tangan memegang kedua pundak Rindu, seolah memberi semangat.
"Lihatlah kak, sekarang sudah pukul dua belas lebih tujuh menit mari istirahat." ajak Rindu mengingatkan Linda.
"Heemmmsss okey." Linda menghembuskan nafas berat untuk meninggalkan pekerjaannya.
Kini keduanya sudah tertidur begitu pulas diatas tilam masing-masing, mungkin saja sudah berada di dimensi lain saat ini.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu