
"Hiks hiks hm hm hm," Rindu meringkuk di bawah pohon dengan memeluk erat lutut hingga menyentuh dada.
Spontan Oma beserta keluarga berlari menuju sumber suara. Mendapati gadis manis yang tengah ia cari-cari, segera Oma menghampiri Rindu. Menggendongnya menjauh dari tempat itu. Memeluknya, mencium Rindu bertubi-tubi. Tubuh Rindu masih gemetar. Wajahnya pucat pasi.
FLASHBACK OFF
Tanpa terasa air mata merembes melewati mata senja wanita yang masih enggan melepaskan pelukannya pada sang cucu. Mencium pucuk kepala Rindu berulang-ulang.
Kedatangan Pade Ari selain untuk memberi kabar mengenai acara lamaran putri semata wayangnya juga untuk datang berkunjung.
Tak bisa berlama-lama disana, keempatnya harus kembali. Begitu hari lamaran tiba Opa dan Oma akan dijemput untuk mengikuti acara.
Hanya dua hari menghabiskan waktu bersama keluarga, karena esok harus melakukan kegiatan masing-masing.
Dalam perjalanan kembali pulang suasana jalanan tampak sepi, penerang jalan tidak begitu terang. Terlebih lagi kabut menyelimuti wilayah itu. Jalan yang tidak datar mengharuskan Pade Ari mengemudikan mobil perlahan.
"Paaa awaasss!!!" teriak Winy pada suaminya.
"Ada apa?" Tanya Linda dan Rindu kompak.
"Tadi ada kucing," terang Winy.
"Sebentar biar Papa lihat," Ari turun membawa senter. Melihat kolong mobil.
Sungguh diluar nalar. Ia melihat ada orang berdiri dibagian belakang. Padahal jelas saat turun Ari tak melihat siapa pun. Bahkan saat ini jalanan sepi. Hawa dingin membuat penduduk sekitar memilih berdiam diri dirumah. Sontak bayangan itu membuatnya bergidik ngeri.
Wanita itu terlihat mengenakan baju putih kusam seolah melangkah kearahnya. Susah payah Ari menelan salivanya. Mendongakkan kepala untuk memastikan apa yang ia lihat benar.
"Mas!" Seru seorang pria bermotor.
"Mas Ari ya?"
"Eehh i - iya Ndri," gugup kemudian Ari menoleh kembali pada arah belakang mobilnya. Tak menemukan sosok yang tadi berdiri dibelakang mobilnya. seperti menghilang ditelan malam.
"Kenapa mobilnya Mas?" Tanya Andri.
Andri tetangga Ari diwilayah itu.
"Tidak apa-apa."
"Oo ya sudah, tapi jangan lama-lama berhenti disini," ucap andri. Seolah lokasi berhenti saat ini tidak aman.
Ari mengernyitkan alisnya, memang didaerah Ari tinggal termasuk tempat yang, bisa dibilang sedikit misterius.
"Baiklah. Mari Ndri. Kamu juga hati-hati," ucap Ari. Kemudian keduanya berlalu meninggalkan lokasi tersebut.
Jika sedang berpergian Bude Winy tidak membiarkan suaminya mengemudi tanpa teman berbincang. Terkadang Bude Winy menyuapi kudapan kecil agar Pade agar tidak mengantuk.
__ADS_1
Sekilas mata Bude memperhatikan kedua putri tidur dijok belakang. Nyenyak sekali.
Senyum mengembang, ada rasa bangga sekaligus sedih. Tak terasa kedua putrinya sudah bertumbuh dewasa. Rasanya baru beberapa hari. Kenapa waktu begitu cepat berlalu.
Perjalanan panjang pun berakhir, keempatnya telah tiba dirumah. Terlihat bulan tersenyum dibalik awan. Menandakan cuaca cukup cerah dengan adanya bintang di setiap sisinya.
*****
Hari yang ditunggu tiba, pertunangan Mas Nano dan Linda berjalan lancar, seluruh kerabat turut hadir menyaksikan. Suasana nampak harmonis, canda tawa memeriahkan suasana.
Senyum melengkung pada masing-masing orang yang datang, seolah turut hanyut dalam setiap moment yang tercipta dengan indah dan penuh cinta.
Acara memangan digelar sesederhana mungkin, melihat tak banyak orang luar yang hadir.
"Rin!" Dian menyenggol bahu Rindu.
"Heemmm," menyahuti sambil melempar kacang keudara kemudian mendongak dengan mulut siap menangkap.
"Kapan ya kita bisa menyusul?" ucap Dian spontan, sontak membuat Rindu terbatuk-batuk tersedak biji kacang.
"Uuhhuuukk uuhhukk," menepuk-nepuk dadanya, kemudian menyambar air mineral yang tergeletak didekat sana.
"Heeyy kau ini kenapa?" Tanya Dian kemudian.
"Kau tadi bicara apa?" Tanya balik Rindu.
"Tidak ada," tak merasa telah mengatakan sesuatu.
Belum sempat Dian menjawab, Bude Winy menghampiri keduanya. Mengajak untuk bergabung bersama yang lain. Dengan berat hati dan diselimuti tanda tanya Rindu mengikuti langkah Dian dan juga Budenya.
Sengaja acara pertunangan Linda diadakan dikebun depan rumah, jadi terlihat lebih santai. Kebun dihias sedemikian rupa, kerlap-kerlip lampu bagai bintang jatuh yang dirangkai indah. Meja panjang, serta alat pemanggan disisinya. kursi berjajar rapi disetiap sisi.
"Gimana perasaanmu?" Tanya Nano setengah berbisik.
Linda menoleh sekilas. "Perasaan apa?".
"Buka mulut mu," pinta Nano.
Linda pun menurut membuka mulut lalu menerima sesuap meatball bakar. "Apa kau bahagia?" Tanya Mas Nano.
"Tidak!" Dengan pipi mengembung penuh makanan.
"Astagah padahal aku sudah berusaha melayanimu mulai sekarang," dengan mimik wajah seolah-olah sedih Mas nano menyupi Linda lagi.
Mata sipit Linda membulat, seolah ada yang tersangkut ditenggorokannya. Tangannya bergerak tak tentu arah, berusaha meraih sesuatu.
"Hey ada apa? Apa kau tersedak? Minum, minumlah ini," pinta Mas Nano dengan panik.
__ADS_1
Linda meminum habis segelas air mineral, "Apa Mas ingin membunuh ku? Bahkan aku belum menjadi istrimu!".
Mas Nano terlihat menggaruk-garuk tengkuknya. "Hm hm hm aku hanya ingin jadi calsu yang baik." Ungkapnya kemudian.
Tawa tertahan Linda pecah, "Hahaha aku hanya bercanda. Mangkanya jangan suka jahil sama orang! Aku bisa makan sendiri. Apa kau ingin aku terlihat gendut hah?" Ujarnya panjang lebar.
Mas Nano mengacak-acak rambut Linda, kini senyum menghiasi wajah keduanya. Apa yang Mas Nano banyangkan mustahil bisa tercapai kini hanya menunggu selangkah lagi. Rasa ingin memiliki Linda seutuhnya bukan lagi mimpi.
Teruslah bermimpi, sejatinya mimpi akan membawamu menemukan apa yang menjadi keinginan terpendammu. Bangun dan raih mimpi selagi raga masih bernyawa.
Satu persatu sanak keluarga pamit pulang. Mengingat masih ada hal lain menuntut untuk dikerjakan. Ucapan selamat serta terima kasih melengkapi.
Tunggu, ternyata ada satu sorot mata memerah menahan marah. Siapa kah dia?
Apa dia tidak turut bahagia atas pertunangan Mas Nano. Mengapa sepertinya cemburu membakar hatinya saat ini.
Terlihat dari sorot mata yang tak pernah berpaling dari setiap gerakan dua anak manusia yang sedang sibuk bercanda tanpa celah.
Mas Nano berjalan mendekat pada kedua teman akrabnya, heran melihat salah satu dari keduanya bermuram durja. Sebenarnya Mas Nano tau betul apa akar dari ketidak nyamanan Hari.
"Har," Mas Nano menpuk ringan pundak Hari. Seolah memberi energi positif kepadanya, "Jangan emosi, dia yang bersama Rindu hanya berteman tidak lebih." Nano menjelaskan apa yang ia ketahui dari cerita Rindu.
"Tetap saja aku tidak menyukainya," ujar Hari datar.
"Apa bagusnya wanita seperti Rindu? Lihatlah tidak ada anggun-anggunnya sama sekali," ledek Setya.
Mas Nano menatap tajam kearah Setya, seolah tidak terima atas penilaiannya baru saja. Pun sama dengan Hari yang sedang dirundung emosi semakin memanas.
"Jaga bicaramu!!" Kompak keduanya menanggapi penilaian Setya dengan intonasi tegas.
"Eeettsss ampun bang jago," Setya menghindar perlahan, dari pada menanggung amukan fans fanatik Rindu.
Senyum meledek menghiasi sudut bibir Setya.
Tawa pun mengurai ketegangan ketiganya, yang sempat tercipta diantara kehangatan suasana pesta. Bukan pesta ding, tapi pertemuan antara dua keluarga.
Setiap apa yang terjadi saat ini bukan karena kebetulan, semua sudah digariskan tinggal bagaimana cara kita meneruskan apa yang sudah lama tercatat dengan tetap berada dalam jalan kebenaran.
Alhamdulillah serangkaian acara berjalan dengan lancar tak ada celah menjadi sandungan. Terlihat Nano beserta keluarga berpamitan dengan mengantongi tanggal resepsi pernikahan.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.