AKU RINDU

AKU RINDU
LELAKI CADANGAN


__ADS_3

"Entah, tadi Kak Lin ke kota untuk melihat butiknya yang terbakar. Harusnya dirumah ada Pakde dan Bude." Rindu menjawab dengan tatapan sendu dan suara lirih.


"Apa?! butik terbakar?" Mas Karno tersentak, kaget mendengar penuturan Rindu.


Rindu mengangguk membenarkan. Kemudian keduanya menuruni mobil, dengan Nan berada dalam gendongan Rindu. Karno mengikuti dari belakang sambil membawa tas jinjing milik Rindu.


"Bagaimana bisa? Linda dapat kabar darimana?" Karno masih tidak menyangka. Benang merah yang terurai kembali kusut.


"Mas tolong ambilkan ponsel ku," pinta Rindu.


"Aku tidak tau, mungkin pegawainya yang memberi kabar," imbuh Rindu.


Karno menurut, mengambil benda kecil yang ada didalam tas kemudian mengeluarkanya. "Astagah!!" Karno melempar benda berbalut plastik putih dengan corak pink ditangannya.


Nan menggeliat mendengar terikan Karno, "Sstttt, jangan berisik. Apa sih teriak-teriak." Rindu menegur seraya melihat benda yang Karno lemparkan.


"Ya ampun, itu pembalut. Tidak usah drama deh," ucap Rindu tanpa malu.


Karno tak menyahuti, masih sibuk mencari ponsel didalam tas jinjing, setelah berhasil menemukan segera menyodorkan pada Rindu, "Nih."


Rindu duduk diayunan, meletakkan Nan yang masih tertidur pulas pada bangku spon kosong didepannya. Kemudian menerima uluran Mas Karno.


Ada apa gerangan, sebelum Rindu pergi tidak ada pembahasan lain yang membuat rumah sepi tak berpenghuni. Angin malam berhembus menusuk pori-pori. sebelum menyalakan ponsel Rindu tampak menggosokan telapak tangan mencari kehangata. Meniupkan udara masuk diantara telapak tangan yang saling menyatu.


Kini jemari lentik Rindu menekan layar ponsel, "Astagah mati lagi."


Rindu mengembungkan pipinya, kenapa disaat seperti ini ponselnya harus mati. Kenapa tidak mau menunggu barang sebentar saja.


Karno yang terduduk di ubin teras menoleh, sengaja duduk berjauhan karena sedang menyesap rokok.


"Kau tak punya kunci cadangan?" Karno bertanya.


"Gak, aku adanya lelaki cadangan," jawab Rindu asal. Kekasih saja tidak pernah punya, apa lagi lelaki cadangan. Yang benar saja. Cintanya sudah terkubur bersama, ah sudahlah.


Kembali Karno menatap kedepan mendengar celotehan tak jelas wanita yang sedang bersamanya.


Rindu gelisah, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa dirumah tidak ada orang. Akhirnya Rindu memutuskan pulang ke kontrakan yang ia sewa selama kurang lebih dua bulan belakangan ini.


"Mas antar aku ke kontrakan ya?" Rindu beranjak mendekati Karno dengan menggendong Nan.


Karno mematikan putung rokok, kemudian melangkah mengikuti Rindu menuju mobil. Kontrakan Rindu tidak terlalu jauh dari Krajan. Tidak sampai sepuluh menit perjalanan.


Sebelumnya mereka berdua mampir ke alfamart untuk membeli susu formula dan dot untuk Nan.

__ADS_1


"Mas ke alfa dulu ya, aku harus beli beberapa kebutuhan Nan," pinta Rindu pada Karno yang fokus mengemudi.


"Heemm," hanya itu jawaban Karno. Menuruti perintah dari teman sepermaiannya. Keduanya tak seumuran, Karno sudah anggap Rindu seperti adik sendiri. Jadi tidak heran jika Rindu ada kesulitan selain meminta bantuan pada mendiang Nano juga padanya.


Mobil yang mereka kendarai masuk pelataran parkir alfamart. Sengaja Rindu menitipkan Nan yang masih tertidur ada Karno. Lagipula Rindu hanya akan belanja sebentar.


Didalam mobil Karno mengamati lekat-lekat batita yang ada dalam gendongannya, aku akan menjaga putramu dengan segenap jiwa dan raga ku No. Aku berjanji.


Benar saja Rindu sudah masuk kembali kedalam mobil, segera Karno melajukan mobil meninggalkan parkiran menuju kontrakan.


Kini mereka sudah tiba didepan tempat Rindu tinggal, tak besar hanya rumah minimalis dengan teras yang cukup untuk mobilnya terparkir.


Setelah membantu Rindu menurunkan beberapa kebutuhan Nan. Karno berpamitan.


"Ya sudah aku balik dulu ya, hati-hati. Kalau ada apa-apa kabari. Cepet di cas ponselnya." Karno memberi wejangan panjang lebar.


"Iya cerewet sekali. Pagi-pagi antar mobilku kesini." Rindu menyahuti.


"Hemm, Assalamualaiku," pamit karno.


"Waalaikumsalam." Rindu menjawab sebelum menutup pintu rapat-rapat.


Deru mobil semakin menjauh. Tanda jika Karno sudah meninggalkan kontrakan. Malam yang melelahkan. Rindu menidurkan tubuh lelahnya disampin Nan, setelah membuatkan susu. Menggemaskan sekali bayi disebelahnya. Bibir mungil Nan bergerak, menghabiskan susu dalam botol hanya sekejap.


***


Puluhan panggilan tak terjawab dan pesan tak terbaca berjajar. Ternyata sejak semalam Pakde dan Bude mencoba menghubungi. Tanpa menunggu nanti, Rindu menelphone balik nomor Pakde. Nada sambung tertangkap indera pendengaran Rindu.


"Assalamuallaikum." Rindu mengucapkan salam. Yang dibalas dari seberang.


"Apa!!, bagaimana bisa ,,, Aku akan kesana Bude ,,, aku akan minta tolong Mas Karno ,,, iya ,,,, " sambunga telephone terputus.


Buru-buru Rindu menghubungi Karno. Menceritakan semua apa yang Bude Winy katakan. Rindu menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Memandikan Nan, wangi sabun dan bau khas bayi menyeruak. Beberapa menit kemudian sudah terdengar bunyi mobil memasuki halaman.


Dirasa sudah siap semua, segera Rindu keluar dari kontrakan. Memasuki mobil yang dikemudikan oleh Karno. Sedari tadi mata Rindu sudah memerah karena tangis. Rupanya takdir belum puas mengajaknya bermain-main.


Kehidupan terus berjalan. Untuk itukah Tuhan memberi berbagai macam cobaan. Banyak orang bilang. Cobaan itu datang agar setiap insan kuat dan senantiasa bersabar. Menguji sebarapa besar keimanan.


Sesekali Karno menatap Rindu. Melihat sikapnya yang seperti ini layaknya orang lain bagi Karno. Tidak seperti Rindu yang dulu. Bawel, justru sifat bawel inilah yang bisa menghidupkan suasana.


"Rin, sudah makan?" Karno bertanya pada Rindu yang sedari tadi terdiam membisu.


"Heemm," jawab Rindu dengan telapak tangan mengusap airmata yang meleleh membasahi pipi, kemudian mengangguk ringan.

__ADS_1


Karno kembali fokus menatap jalan. Masuk gerbang tol agar cepat sampai tujuan. Sepanjang jalan tidak ada percakapan hanya sesekali Nan berceloteh, kadang merengek minta susu.


"Sayang, tenanglah sebentar lagi sampai." Rindu mencoba menengankan Nan yang sedikit rewel.


"Rin mungkin Nan lapar," ucap Karno.


Rindu mengangguk. Karena sedang berada dijalan tol dan dimobil, biskuit milna jadi pilihan. Lahap Nan menikmati. Merebut biskuit dari tangan Rindu. Untuk di masukkan kedalam mulut kecilnya sendiri.


Rindu mengambil tissu basah kemudian membersihkan sisa-sisa makanan pada mulut dan tangan Nan yang belepotan.


Setelah menempuh perjalan kurang lebih satu setengah jam mobil milik Rindu menyusuri jalanan kota yang sedikit macet dijam kerja. Beberapa kali Rindu berdecak kesal. Tak sabar agar segera sampai tujuan.


"Sabar Rin, sebentar lagi juga sampai. Jangan terlalu cemas," ucapan Karno menarik perhatian Rindu.


"Bagaimana bisa aku tidak cemas Mas, coba jelaskan bagaimana caranya? Hiks,hiks," ucap Rindu setengah terisak. Airmata membanjiri kedua pipi merahnya.


Karno terlihat menghela nafas, mungkin Karno bisa bicara mudah tanpa memikirkan perasaan Rindu.


"Ya, ya sudahlah. Setidaknya jangan hanya diam katakan sesuatu agar aku tidak ikut cemas sepertimu," tanya Mas Karno.


Rindu hanya menggeleng, tidak ada keinginan lain selain ingin cepat sampai tujuan. Setelah beberapa menit dan belokan mobil dark blue milik Rindu sudah masuk di area parkir.


Gedung bertingkat lantai tiga. Cat hijau tua dan muda mendominasi, banyak orang berjalan kaki silih berganti dikoridor. Kembali kenangan beberapa tahun silam terlintas, saat Rindu datang bersama Linda.


"Kak Lin, nanti kalau Mas Nano sudah sembuh langsung saja lamaran," goda Rindu pada Linda.


Linda tersenyum tak menyahuti omongan adik sepupunya. Sepanjang koridor Rindu terus saja menggoda Linda. Membuat pipi Linda semakin memerah karena malu.


Semua kini hanya kenangan semu, Rindu tersadar dari lamunan. Senyum yang mengembang seketika menghilang. Berganti cemas dan kepanikan. Mata lebar Rindu mengamati setiap jengkal koridor.


Thanks you for reading. Pada beberapa bab yang akan segera end.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Sekali lagi saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan meluangkan waktu membaca novel pertama saya.

__ADS_1


Tak kurang juga rasa terima kasih untuk para author yang sudah memberikan kirsar.


arigatou gozaimasu.


__ADS_2