
Lain tempat lain cerita. Setelah kepergian pria itu Silla segera beranjak dari duduknya. Mengusapan lembut wajahnya untuk menghapus air mata yang mulai surut. Kadang tangis bisa membuat hati sedikit lega. Beban rasanya bekurang.
Terlihat silla menoleh, mencari taksi yang lewat. Sedikit menyingkap lengan kemejanya. Ia lihat jam menunjukkan 20:30 itu artinya ia sudah satu jam berada disini sendiri.
Terlihat kendaraan beroda empat warna merah dari kejauhan. Segera Silla melambaikan tangan tanda ia tengah butuh kendaraan untuk segera pulang.
Tatapan kosong terlempar kearah jendela. Pantulan pohon yang kian menjauh seakan terlihat dari sorot matanya yang mulai berkaca-kaca.
Mengingatnya membuat semakin merasa bersalah saja.
Flashback on
"Fay!" Seru Silla dengan sedikit mengguncang kedua sisi bahu adiknya.
Sedikit membungkuk Fay meluk kakaknya. Belum ada sepatah katapun terlontar dari Fay.
Silla melepaskan paksa pelukan adiknya. "Bagaimana bisa ini terjadi Fay?." Tanya Silla kemudian.
"Tenanglah kak! Masalah ini tidak akan sampai kerana hukum kak!" Jawab pasti Fay mencoba menenangkan kakaknya.
Silla mendongak menatap adiknya dengan mata masih memerah karena tangis.
Belum sempat Silla mengatakan sesuatu seseorang menyahuti dari belakang. "Masalah ini tidak perlu diperpanjang!."
Seketika Silla menoleh kearah sumber suara. Bukankah Silla pernah bertemu dengan pria ini.
Sedikit Silla memicingkan matanya, mencoba mengingat sesuatu.
Aahh ya. Gumam lirih silla.
"Anda?" Silla sedikit memberi jeda. "Bukankah anda mas Doni? Mas doninya Sita." Sambung silla kemudian.
Doni mengangguk ringan, sedikit melangkah mendekati kakak beradik itu.
Pun Silla kini melangkah mendekati Doni. Mengulurkan tangan hendak berterima kasih. Namun urung ketika Doni mengatakan sesuatu yang sedikit membuat ia berfikir.
"Ini tidak gratis!" Ucap Doni datar.
Flashback off.
Dirasa sudah sampai tempat yang diingikan Silla, supir taksi membuyarkan lamunannya.
"Mbak sudah sampai!." Ucap sisupir.
"Emm, ya." Jawab silla dengan melirik nominal pada argo didepan. "Terima kasih pak". Ucap Silla. Dengan tangan terulur kedepan.
"Terima kasih mbak." balas sisupir.
Silla tersenyum sambil membuka pintu taksi. Ditutupnya pintu mobil berwarna merah itu.
Silla melangkah gontai menuju mess.
Oh ya tuhan sepi sekali. Gumam Silla dalam hati saat melewati lorong-lorong mes.
"Silla! Baru pulang?" Ucap mas Nano dengan menepuk ringan pundak Silla.
Silla berjingkat kaget. Tak ada suara tiba-tiba Nano muncul dan menepuknya. "Astagah!! Iya No, mengagetkan saja!" Ucap Silla sambil mengusap dadanya.
__ADS_1
"Maaf, maaf aku mengagetkanmu." Ucap mas Nano kemudian.
Silla tersenyum canggung. Sebelum melangkah kembali Silla ragu-ragu bertanya pada Nano. "Eemm, No kau dari mana tadi kenapa bisa berada disana?" Ucap Silla mengingat tadi sempat bertemu dengannya.
"Aku tadi pergi untuk melihat lokasi pembangunnan butik kekasihku." Jawab Nano.
Silla mangut-mangut mengerti.
"Tunggu!!!" Seru Silla lagi menghentikan langkah Nano.
"Ya?" Jawab singkat Nano menunggu Silla hendak menanyakan apa lagi padanya.
"Bagaimana dengan kondisi Setya? Apa kondisinya parah setelah kejadian didanau itu?" Tanya Silla. Namun Silla menggigit bibir dalamnya gugup karena baru saja salah bicara.
Masnano sedikit menautkan kedua alisnya. Mungkin kini mas Nano perfikir bagaimana bisa Silla tau masalah didanau.
Namun mas Nano segara menepisnya.
Ahh mungkin saja hari yang memberitahukannya kepada Silla. Gumam pasti dalam hati mas Nano.
"Sudah lebih baik." Ucap mas Nano singkat.
"Emm syukurlah, jika seperti itu." Ungkap kelegaan Silla yang begitu tulus.
"Beristrahatlah! Sudah malam." Ucap mas Nano sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Silla mengangguk, berlalu masuk kedalam kamarnya.
******
Sejak kejadian beberapa hari ini hubungan pertemanan Silla, Hari, Nano, dan Setya sedikit berjarak. Terlebih setelah Sita sudah tidak bekerja ditempat yang sama dengan mereka.
Tidak aneh jika Setya masih sedikit memikirkan Sita. Mengingat terakhir keduanya bertemu adalah hari bermulanya perselisihan antara dua pemuda, yang tidak saling mengenal kini bahkan bisa dikatakan bermusuhan.
"Apa kau masih memikirkan Sita?." Tanya Hari saat melihat Setya melamun.
"Cih! Kenapa aku harus memikirkannya!" Sangkal Setya.
"Benarkah?" Ucap hari tak percaya.
"Urus saja urusanmu sendiri!! Jangan ganggu aku!!!" Seru Setya penuh intonasi. Berusaha meraih Hari yang sedikit menjauh darinya.
"Hahahaha, kenapa nada bicaramu seperti itu, jika kau sudah melupakannya?" Ledek Hari lagi. Kini ia sudah lebih menjauh dari Setya.
"Sini kau!! Minta dihajar ya?" Ucap Setya dengan mengepal-gepalkan tangan.
Kini hari benar-benar menjauh, takut penyakit temannya kumat hahaha asal kalian tau Setya ini orangnya keras sekali.
Hari melangkah menuju kamar Nano.
"No kapan kita mengantarkan Karno kembali kekampung? rasanya aku sudah merindukan kampung halaman." Ucap hari saat sudah berada disebelah Nano.
Mas Nano menautkan kedua alisnya. Meragukan apa yang telah dikatakan oleh temannya. Sudah pernah dibahaskan? Jika hari paling jarang pulang diantara mereka bertiga. Jaaadi, tumben sekali jika hari ingin pulang dengan dalih mengantarkan Karno.
"Apa aku tidak salah mendengar?" Hanya itu yang Nano loloskan dari bibirnya.
Hari hanya menangguk.
__ADS_1
Sebetulnya aku ingin bertemu Rindu. Hari membatin.
"Jika maumu begitu. Kita bisa pulang hari ini, bukankah besok hari minggu?" Ungkap Nano sekaligus bertanya apa ucapannya benar jika besok hari minggu.
"Kau benar besok sudah hari minggu. Kita bisa berkemas sekarang dan pulang" ucap Hari penuh semangat dan segera beranjak meninggalkan mas Nano.
"Dasar." Decak mas Nano kemudian.
Terlihat mas Nano mengutak-atik ponselnya.
"Halo! Karno, kita kembali hari ini!" Tuturnya pada seseorang disebrang ponselnya.
"Tenang saja. Aku rasa mereka tidak akan berani mengganggu lagi!" Ucap Nano tegas.
"Tentu saja. Melihat caramu waktu itu mungkinkah mereka akan berani menemui kita lagi? Hahahaha." Ucap mas Nano diakhiri tawa lepas.
"Ya, oke." Sambungan telphon pun terputus.
Mas Nano masih berkutat dengan ponselnya. Terlihat menimbang-nimbang memikirkan sesuatu.
Sudahlah biarkan saja, aku akan memberi kejutan padanya. Gumam mas Nano dalam hati.
Kini mas Nano melangkah meninggalkan kamarnya. Mencari keberadaan Setya dimana.
Setya masih tak bergeming dari tempatnya. Hanya sesekali mendongak keatas menyipitkan mata, menatap langit yang mulai menyengat karena mentari semakin meninggi.
"Nah, itu dia!" Gumam lirih mas Nano hanya ia yang bisa mendengar jika tidak ada orang disana.
Sambil bersenandung ringan Nano menghampiri Setya, sekilas menoleh kebelakang. Serasa kini ada yang tengah mengikutinya.
Aahhh mungkin hanya perasaanku saja. Gumam mas Nano dalam hati.
Terlihat setya berbalik hendak melangkah dari tempat duduknya. Mengernyikkan dahinya menatap Nano yang melangkah kearahnya.
"Setya, hari mengajak kita pulang sekarang!" Ucap mas Nano kemudian.
"Tumben sekali? Ada apa sampai dia mengajak kita pulang?" Ucap Setya sama anehnya dengan Nano tadi. Tidak biasanya hari mengajaknya pulang.
"Ah mungkin otaknya sudah mulai tersambung, hahahaha." Ucap mas Nano sambil tertawa, pun sama dengan Setya tertawa lepas.
Mereka berdua kini berjalan beriringan.
"your only live once!" Ucap mas Nano sambil rangkul pundak setya sedikit menekan. "So, jangan menyia-nyiakan hidupmu." Imbuh mas nano.
Setya hanya tersenyum paham maksud Nano. Tidak perlu memikirkan berlarut-larut apa yang sudah pergi. Sesungguhnya jodoh rejeki maut hanya allah s.w.t yang berhak mengaturnya.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.
__ADS_1