AKU RINDU

AKU RINDU
TRAGEDI


__ADS_3

Sorot cahaya surya menerobos masuk melewati celah gorden yang sedikit terbuka. Ayam jago berkokok dengan menutup mata. Burung berkicau dengan merdunya.


Setelah melangsungkan pertunangan dua minggu lalu Linda bertolak kekota untuk menjalankan bisnis. Tak banyak kendala. Semua berjalan dengan semestinya. Bahkan modal yang Linda tanam berangsur kembali.


Rindu mulai belajar membantu Bude Winy didapur. Berhubung anggota keluarga berkurang satu Mang Udin dipekerjakan sebagai tukang kebun selain menjadi antar jemput Rindu.


...ENAM BULAN KEMUDIAN...


Linda dan Nano memutuskan akan melangsungkan pernikahan satu tahun berikutnya setelah acara lamaran. Mengingat Linda baru memulai bisnis.


Meski baru beberapa bulan butik Linda begitu ramai pengunjung, karena sebelum ini memiliki pelanggan dari akun jual beli seperti sophee.



Linda sibuk menulis pembukuan butiknya. Merekap apa-apa saja barang yang datang dan barang yang siap untuk dikirim.


Setelah berjalan sekitar kurang lebih lima bulan dua belas hari Rindu belum sempet melihat butik kakak sepupunya. Karena harus melakukan magang paling tidak selama tiga bulan. Bukannya tidak bisa meluangkan waktu. Tapi keadaan yang membuatnya harus bersabar.


Hingga waktu yang ditunggu tiba. Kini Rindu berada didalam Linda's beautique.


Styelnya cukup berani hotpen sebatas paha, dengan sepatu kets warna putih, kemeja berwarna cerah, dan rambut diikat ekor kuda Rindu berfoto selfi. Ya, foto selfi adalah hobby Rindu. Karena terbiasa dijadikan sebagai model untuk rancangan Linda dulu.


Dirasa banyak peluang Linda kini tak hanya menjual gaun saja. Ia juga menjual baju-baju santai yang cocok untuk hangout.



Setelah puas berfoto, terlihat Rindu menghampiri Linda. Siulan keluar dari bibirnya yang membulat.


"Kak Lin sudah siang, beristirahatlah dulu," Pinta Rindu mengingatkan karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang.


Jarak yang tak lagi jadi pemisah membuat Mas Nano dan Linda sering bertemu, makan siang tidak pernah terlewat sedirian. Memang mereka tidak menghabisan waktu di luar. Mas Nano lah yang datang menghampiri.


Bak seorang dewi Linda mendapat perlakuan khusus dari Nano. Di akhir pekan keduanya menyempatkan waktu sebentar untuk berbincang. Kadang pergi ke taman hiburan, atau sekedar makan di warung pinggir jalan.


Mas Nano yang tau jika Rindu juga ada. Membawa lebih banyak kudapan dari biasanya. Melewatkan makan siang bertiga sepertinya akan menyenangkan. Sudah lama tidak battle dengan Rindu.


Tergesa-gesa Mas Nano memasuki beautique, kemeja yang ia kenakan sedikit basah oleh keringat.


Linda yang menyadari kedatangan kekasihnya pun menghentikan aktifitas.


Menghampiri Mas Nano yang tengah duduk menghadap pendingin udara ruangan itu.


"Mas, macet ya tadi?" Tanya Linda dengan tangan menyiapkan makanan.

__ADS_1


"Banget. Panas pula phuufftt," ujar Mas Nano diakhiri nafas lelah.


"Ganti kemejamu," ucap Linda dengan menyodorkan sebuah kemeja.


"Heemm," kemudian Nano pergi menuju kamar mandi yang tersedia.


Tak lama Mas Nano keluar, "Rindu dimana?" Tanya Mas Nano.


Linda hanya mengedikkan bahu, tadi Rindu ada di sini mengingatkannya untuk makan siang. Tiba-tiba menghilang tanpa jejak.


Pintu ruangan Linda terbuka, yang dicari menampakkan wujudnya. Tanpa beban ia menyesap habis minuman dingin bersoda di atas meja.


"Kau tidak apa-apa Rin?" Ucap Mas Nano kemudian dengan menempelkan punggung tangan pada kening Rindu.


"Di luar beautique panas sekali," terang Rindu.


Mas Nano menggeleng, ternyata bukan itu yang ia maksud, "Lin coba terangkan pada bocah satu ini," pinta Mas Nano kemudian.


Astagah aku lupa. Mas Nano tidak suka wanita berpakaian mini. Batin Linda.


Tanpa basa-basi Linda menarik paksa Rindu keluar dari ruang kerjanya. Memilihkan beberapa baju yang sedikit tertutup.


"Ada apa kak?" Tanya Rindu masih tak mengerti.


Rindu memutar bola matanya jengah, yang benar saja harus menggunakan baju ini di siang hari, celaja jeans panjang dan baju rajut dengan lengan panjang pula.


Linda kembali ke dalam ruangannya. Menyesap sedikit air dingin di meja dan menyantap kentang goreng.


"Apa hari ini kau sangat lelah?" tanya Nano sambil mengusap lembut pucuk kepala Linda.


"Tidak, banyak karyawan yang membantu," Linda menjelaskan.


Pintu terbuka lebar. Menampilkan wajah Rindu yang masam. Bibirnya mencebik kesal.


"Nah, gitu. Baru begini," ucap Mas Nano sambil mengacungkan dua jari jempol.


Linda hanya tersenyum menanggapi. Berbeda jauh dengan Rindu, mencibir tanpa bersuara.


"Rin Bettle yuk," tantang Mas Nano sambil menaik turunkan alisnya.


Richcheese level lima sudah tertata rapi di atas meja jika dihitung ada lebih dari enam potong. Keduanya kerap kali adu makan pedas.


"Ayo!" Ucap Rindu mantap dengan menyingsingkan lengan bajunya.

__ADS_1


Linda melangkah pergi mendekati lemari ice yang berada di sudut ruangan. Mengambil dua bearbrand pada masing-masing tangannya. Tau saja apa yang harus ia lakukan.


"Nih minum dulu biar tak sakit perut!" Ucap Linda dengan memberikan kepada keduanya.


Pertandingan dimulai dengan sengit, tak ada satu kalimat pun terlontar. Hanya tangan dan mulut yang sibuk bergerak. Sesekali menyesap susu diatas meja yang masih ada tuk usir pedas.


Linda yang menyaksika itu menikmati makanannya dengan santai. Memberi semangat keduanya. Tanpa sadar saus melewati lengkung bibirnya.


Memang mata tajam Nano tak lepas dari ayam didepannya, menurut Linda. Tapi entah kenapa tau saja moment yang pas. Tangan Nano mengambil selembar tissu kemudian menghapus noda saus pada bibir Linda.


Pipi Linda merona. Senyum mengembang sempurna. Pun sama dengan Nano melihat sekilas kearah Linda lalu tersenyum.


"Aku nyerah sudah!" Rindu mengangkat kedua tangan tanda menyerah, tidak seperti biasanya.


"Bikin iri saja," imbuhnya sambil tersenyum. Kemudian ke luar meninggakan dua sejoli yang sedang dimabuk asmarah. Menyambar satu kaleng bearbrand yang masih ada.


Linda dan Nano saling tatap. Hingga tawa keduanya menggelegar memenuhi ruangan. Menikmati makan siang dengan hikmat.


Waktu sudah menunjukkan jam istirahat telah usai, artinya Mas Nano harus kembali bekerja. Ditemani Linda, tanpa sengaja melihat Rindu duduk ditangga dengan tangan memegan piring berisi kue.



"Tadi bilang nyerah taunya di sini lanjut," ujar Mas Nano.


"He he pedes Mas, mayan dapat kue dari mbaknya jadi kumakan saja," sanggah Rindu. "Mas Nano mau berangkat? Hati-hati ya," imbuh Rindu.


"Ya, ingat kalau masih waras gunakan baju yang benar!" Pesan Mas Nano pada Rindu.


Rindu tersenyum menanggapi pesan Mas Nano. Menghabiskan kue diatas piring.


Siang berlalu berganti sore, seakan pekerjaan tak ada habisnya. Yang ada malah bertambah. Lelah menjalari masing-masing insan.


Sejak targedi saus yang sukses menggugurkan semangat Rindu terhitung hingga hari ini genap sudah tiga hari berlalu. Rindu harus kembali. Masa liburan telah usai, terbayar tuntas dengan hal baru yang terlewatkan begitu seru.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,

__ADS_1


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.


__ADS_2