AKU RINDU

AKU RINDU
HANYA TINGGAL NAMA


__ADS_3

Rindu gelagapan berusaha meraih sesuatu dari jangkauannya.


Beruntung seseorang menariknya ketepi.


"Hey mau mati ya!!" Bentak Setya.


Rindu masih terdiam sambil batuk-batuk mengeluarkan air yang sempat tertelan.


"Sudah tau tidak bisa berenang. Kenapa masih saja ceroboh!." Cercah Setya dengan sedikit berteriak.


Hari yang melihat dari kejauhan segera menghampiri keduanya.


"Hey ada apa?" Tanya Hari.


"Urus bocah ini!" Umpat Setya seraya meninggalkan Hari dengan Rindu.


Hari meraih dagu Rindu. Mata lebar Rindu memerah karena air mata dan air laut yang sempat membuatnnya pedih waktu bermain.


"Hey ada apa sahabat?." Tanya Hari dengan intonasi lembut.


"Aku tadi sedikit bermain-main dengan ombak. Kupikir jika bermain dipinggir tidak masalah. Ternyata ombaknya besar sekali dan lagi kakiku terperosot karang yang cukup dalam hingga aku tidak dapat menapakinnya." Tutur Rindu panjang lebar. "Kau tadi kemana saja kenapa membiarkan aku sendirian." Imbuh Rindu sambil mencebikkan bibirnya.


Astagah Rindu gemasnya. Gumam Hari dalam hati melihat Rindu mencebik.


"Aku tadi membeli ini untuk kenang-kengan." Ucap Hari dengan menunjukkan dua buah gelang dengan bandul kerang.



"Emm." Ucap Rindu sekilas melirik tangan Hari.


"Ini pakelah, satu untuk mu satu lagi untuk ku." Ucap Hari sambil memasang gelang tersebut pada pergelangan tangan Rindu.


"Kenapa seenaknya kau memanggilku sahabat?." Tanya Rindu. Melihat Hari yang berada disebelahnya.


"Ya kerena kau tak menjawab pertannyaanku waktu itu. Kupikir kenapa tidak, jika kita jadi sahabat saja." Ucap Hari sambil menaik turunkan alisnnya.


"Kau ini." Ucap Rindu sambil tersenyum dan kembali melihat hamparan laut yang luas.


"Ayo kita cari bakso agar sedikit lebih hangat?." Ajak Hari sambil meraih jemari Rindu agar segera berdiri.


"Har dimana kak Lin dan mas Nano?." Tanya Rindu disela-sela ia menapaki pasir-pasir putih.


"Paling juga mojok." Ucap asal Hari.


"Hey hey hey jaga bicaramu kak Lin dan mas Nano tidak mungkin seperti itu. Cih yang benar saja." Umpat Rindu.


"Hahahaha. Ayolah aku hanya bercanda." Terang Hari.


Dari jauh sudah ada Linda melambai-lambaikan tangan.


Rindu pun bergegas menghampiri hingga tanpa sadar kakinya tersandung buah kelapa yang bersembunyi dibalik pasir.


Sigap Hari menangkap Rindu, tangan kanan Hari menopang tubuh Rindu yang hampir terjatuh berbalik menghadapnya. Setelah beberapa detik tatapat keduannya bertemu.


Rindu tersadar dari lamunan.


"Terima kasih." Ucap Rindu canggung sambil merapikan sedikit rambut.


Hari hanya membalas dengan senyuman termanisnya.


"Be ayo pesanlah." Tawar Linda yang sudah ada disini lebih dulu.

__ADS_1


Rindu mengangguk. Berjalan menuju kang bakso.


"Dimana Setya?." Tanya Nano tak melihat Setya dengan Hari.


"Entahlah tadi setelah menolong Rindu yang hampir tenggelam pergi begitu saja." Jelas Hari.


"Apa! Rindu tenggelam?." Linda tersentak mendengar penjelasan Hari.


Hari mengangguk.


"Ya mana aku tau jika Rindumu tidak bisa berenang jadi kutinggal sebentar." Ucap Hari kemudian.


Linda menatap sebentar kearah Rindu yang masih sibuk memesan bakso.


"Tau gitu takku biarkan Rindu pergi bersama kalian." Tungkas mas Nano.


Nano beranjak menghampiri Rindu yang melangkah dengan membawa semangkuk bakso ditangannya.


Dipegangnya pundak Rindu.


"Ri tadi Hari bilang kau baru saja tenggelam?." Tanya mas Nano dengan mimik wajah serius terlihat ada kecemasan pada kedua manik matanya.


"Heehhee. Iya mas Nano. Tapi sudah tidak apa-apakan. Jangan cemas." Tutur Rindu sambil cengengesan.


Cletaackkk.


Satu sentilan mendarat indah dikening Rindu.


"Dasar ceroboh! Apa yang harus ku jelaskan pada pamanmu jika kau pulang hanya tinggal nama hah!!." Geram mas Nano melihat Rindu yang hampir mati masih bisa cengengesan.


Rindu mengerucutkan bibirnya. Merasakan sakit dikening tapi tangan tak bisa berbuat lebih karena bertanggung jawab pada semangkuk bakso.


Keduanya kini sudah sampai meja dimana ada Hari dan Linda. Rindu meletakkan semangkuk bakso dimeja kemudian mengusap-usap keningnya.


"Tidak apa-apa kak Lin." Ucap Rindu dengan meraih jemari tangan Linda. Seolah mengisyaratkan jangan cemas.


Linda tersenyum. Kini matahari sudah menyengat kulit. Tergantung persis ditengah-tengah langit biru.


"Hari tidak makan?." Tanya Rindu yang sudah siap memasukan sesuap kuah hangat.


"Kenapa tak kau pesankan sekalian?." Ucap Hari dengan nada merajuk.


Rindu memutar bola matanya jengah.


Hari beranjak hendak memesan bakso juga.


"Ri mau minum apa?." Tawar Hari yang melihat tadi Rindu tidak membawa minum.


"Terserah apa saja boleh." Ucap Rindu masih fokus pada mangkuknya.


Hari pun melenggang menuju kang bakso. Memesan semangkuk bakso dan dua es kelapa, kemudian membawanya dengan nampan persih seperti waiters.


"Terima kasih." Ucap Rindu dengan senyum tersungging. Sedikit meminum es yang diberikan Hari.


Tiba-tiba Setya datang. Tak bertanya langsung meminum habis es kelapa Rindu.


Keempatnya menoleh serempak kearah Setya. Rindu membulatkan bola matannya.


Apa-apaan orang ini datang-datang main srobot saja. Apa itu tadi, itukan minum bekasku. Gerutu rindu dalam hati.


Plaaakkkk.

__ADS_1


Tangan Hari secara ringan memukul kepala Setya.


"Heh sembarangan itu minuman milik Rindu." Ucapnya kemudian.


Isshh sial apa itu tadi sudah diminum Rindu. Gumam Setya dalam hati sambil mengusap bibirnya.


"Hahahaha. Kau tau itu sama artinya kalian berdua berciuman secara tidak langsung." Celetuk Linda.


Sontak saja wajah Hari muram. Nano yang menyadari perubahan raut wajah Hari menepuk ringan lengan Linda agar tidak membahas ini.


Linda ngerutkan kening. Mencari jawab atas isyarat kekasihnya. Nano kemudian menarik tangan Linda menjauh dari sana. Tak enak bila menjelaskan didepan Setya.


Melangkahkan kaki bersama menyisir jalan setapak dipinggiran pantai. Angin bertiup cukup kencang beruntung bumi memiliki gaya gravitasi hingga tak membuat Linda serta Nano terbang.


"Ada apa mas?." Tanya Linda kemudian.


"Apa Rindu belum cerita apa-apa padamu?." Tanya balik Mas Nano.


"Cerita apa. Dia tidak bercerita apa pun padaku." Terang Linda tak mengerti maksud kekasihnya.


"Begini sewaktu kau dan Rindu kekota mengunjungiku dulu. Hari mengutarakan perasaannya pada Rindu." Tutur Nano.


"Yang benar? Lalu bagaimana apa mereka berdua sudah jadian? Lalu kenapa Hari memanggil Rindu sahabat?." Linda membrondong pertanyaan pada Nano.


"Ya mungkin saja adikmu itu tidak menjawab ungkapan Hari, atau mungkin belum memikirkan itu. May be?." Terang Nano.


"Eemm mas tadi kita kesini mengapa tidak mengajak Neno dan Nani?." Tanya Linda mencari pembahasan lain.


"Mereka sedang berlibur ketempat kakak dikalimantan." Jelas Nano.


Linda mengangguk.


Ombak disebelah sini tidak terlalu besar, mas Nano dan Linda duduk dibawah pohon kelapa. Menikmati indahnya ciptaan sang gusti maha agung allah SWT. Gemricik gelombang kecil menerpa pesisir, merdu kicauan burung camar menambah suasana kian romantis.


Mas Nano menggenggam erat jari jemari Linda saling bertautan dengan jari jemari miliknya. Ciuman lembut mendarat pada punggung tangan Linda. Rona merah menyembur dikedua pipinya, Linda seketika mengalihkan pandangan pada hamparan laut yang luas.


Jantungku ayolah jangan berdegup terlalu kencang. Batin Linda.


"Lin kapan kau akan louncing butik barumu yang ada dikota?." Tanya Nano.


"Mungkin kamis depan mas." Ucap Linda mantap. "Bantu aku ya mas?" Imbuhnya.


"Tentu saja. Aku dan yang lain akan membantumu." Ucap Nano sampil mengusap lembut pucuk kepala Linda. Membetulkan anak rambut yang terhempas ringan angin laut.


Sedikit canggung Linda membetulkan anak rambut disisi yang lain.


Terlihat mas Nano meraih tengkuk Linda. Sedikit memajukan wajahnya.


Ehh ada apa ini. Kenapa mas Nano semakin mendekat. Apa aku harus tutup mata atau bagaimana. Batin Linda.


"Lin, " ucap mas Nano.


"Ya" ucap Linda. Gugup deg deg gan.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,

__ADS_1


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu


__ADS_2