
Angin dengan lembut berhembus menerpa tubuh Rindu yang melaju denga papan kayu berroda miliknya.
Nampak Rindu sesekali melakukan kickflip terbang ke udara saat papan skateboardnya berputar.
Dari jauh terlihat Dian turun dari motor sport yang setia menemaninya.
"Hay Dian mau kemana," Rindu menghampiri dian.
"Kerumah mu, bolehkan?" ucap Dian.
"Ayo," Rindu segera membawa papan kayu berroda miliknya.
Mata Rindu tampak melirik kantong plastik warna hitam yang di bawa Dian.
"Apaan tu di?" tanya Rindu sambil nunjuk yang tergantung di motor.
"Ini ... anu ... ini," jawab Dian kikuk.
"Pa'an jawab gitu aja blebet banget," tungkas Rindu seraya berjalan mendahului Dian yang masih sibuk memarkir motornya.
"Ini bunga buatmu," ucap Dian dengan wajah serius.
Rindu yang sudah lebih dulu duduk di ayunan depan terasnya segera menerima kantong plastik yang dian sodorkan.
"Bunga apa, kok pake katong plastik gini," jawab Rindu dengan wajah kepo dan sedikit heran.
Whaaattttt.....
Segera Rindu melepar kantok plastik yang katanya berisi bunga itu, benar saja seketika bunga yang ada didalamnya berhamburan, dengan membulatkan dua matanya Rindu menatap teman di depannya saat ini.
"Iiiisshhh Diiaaaannn!!!!!!" Pekik Rindu seraya berdiri mengejar teman reseknya yang sudah ancang-ancang menghindar dari segala kemungkinan.
"Yeeessss, senyumkan lo akhirnya," Teriak Dian di sela sela menghindari tangan Rindu yang hendak menangkapnya.
Huuuffffttsss....
Adegan kejar-kejaran telah selesai terlihat keduanya tengah duduk dengan nafas ngos-ngosan..
"Emang aku udah mati apa kamu kasih bunga sekar buat ditabur di pusaran kuburan, resek emang lo ya!" ucap Rindu dengan menyenggol bahu Dian dengan bahunya, senyum masih terbingkai indah di wajah Rindu.
Dian mengankat dua jarinya "Peace,
justkidding Ri." sahut Dian dengan senyum pula.
Dengan melihat mu tersenyum seperti ini sudah cukup membuat aku lega Rindu, Rinduku. Dian membati saat melihat Rindu masih tersenyum.
"Ri, mau ada yang ku tanyakan padamu?" ucap Dian sedikit serius.
"Apa? Eehh tunggu bentar ya kuambilin minum," Ucap Rindu seraya berdiri untuk mengambil minum.
__ADS_1
Dian pun mengangguk.
"Siapa Ri yang bertamu kok gak di suruh masuk?" tanya Bude Winy. Yang saat itu ada di dapur.
"Dian De, ga papa bi diluar lebih adem," ucap Rindu sambil berlalu membawa baki yang sudah lengkap dengan satu teko es jeruk, dua gelas kosong dan kue kering.
Di teras terlihat Dian sibuk memainkan ponselnya.
"Ni diminum dulu," ucap Rindu dengan meletakkan baki di dekat dian dan menuangkan es jeruk ke dalam gelas.
"Waahhh segeerr ni ( gleeeggg )," Dian segera meminumnya tanpa basa-basi karena tenggorokanya sudah gersang setelah berlarian, "Terima kasih," sambungnya kemudian.
"Mau tanya apa tadi?" ucap Rindu sambil menatap Dian sekilas kemudian memandang ke depan kembali.
"Waktu itu siapa yang sedang berboncengan dengan mu?" tanya Dian tanpa basa-basi.
"Kapan?" ucap Rindu
"Udah lupain deh gak penting," terang Dian.
"Mulai deh, kapan sih Di?" ucap Rindu sedikit memaksa agar Dian mengingatknnya.
"Cowok dengan motor Nmax waktu kita ketemu di persimpangan," ucap Dian menjelaskan.
"Ooo ahmed, dia teman di kelompok ku," dengan santai Rindu menjawab.
"Kenapa emang waktu itu kamu mau kemana?" Rindu balik bertanya.
"Heeyy kenapa melamun," ucap Rindu sambil melambai kan tangan didepan dian yang sedikit melalun, " Emang waktu itu kamu mau kemana?" Rindu bertanya kembali
"Padahal waktu itu aku mau ke rumah mu," ucap Dian.
"He he he sorry aku kan gak tau Di, waktu itu aku lagi sibuk banget siapin untuk acara bazar. eehh iya gimana kelas mu sudah siap semua?" ucap Rindu balik tanya Dian.
"Udah, setelah lulus nanti kamu masih akan melanjutkan kuliah disini atau iku ayah bunda mu ke kota?" ucap Dian.
"Aku mau langsung kerja aja Dian takut nyusahin bunda sama ayah," jawab Rindu tegas.
Rindu beda banget sama di sekolah, disekolah dia nampak lemah. Dian membatin
Tingkah resek dan konyol Dian membuat suasana siang menjelang sore itu membuat
Rindu lupa waktu, tawa di sela sela obrolan mereka berdua pecah. Keduanya tanpa canggung dan jaim saat sedang bersama.
"Assalamualaikum," seru Pade Ari yang terlihat sudah pulang dari berkerja
"Waalaikumsalam," sahut Rindu seraya berdiri hendak mencium punggung tangan Pade Ari.
"Kenapa disini, kok gak di suruh masuk Ri? " ucap Pade Ri.
__ADS_1
"Ini udah mau pulang kok Pade," Dian menyahuti sambil ikut serta mencium punggung tangan Pade Ari.
Saat itu memang sudah pukul 16:30
"Dian permisi pulang ya paman, assalamualaikum," ucap Dian sambil berpamitan. Diikuti Rindu yang mengantar Dian sampai ke dekat motornya.
Dian menyodorkan tangan pada Rindu.
"Apa ???!!! " seru Rindu. Dengan bola mata memutar jengah.
"Ya sini cium tangan aku kan mau pulang." ucap Dian sambil cengengesan.
"Ihhhh kamu tu ya sudah sana pulang." sungut Rindu sambil bersedekap.
Senyum meledek nampak di bibir Dian, " Ya sudah sana masuk kedalam rumah assalamualaikum," ucap Dian berpamitan.
"Waalaikumsalam," balas Rindu.
********
Di tempat lain yang bisa dibilang tempat berkumpunya anak muda melakukan pesta...nampak ada konser kecil disana musik yang menggema memecah keheningan. Terlihat mas Karno sedang memperhatikan seseorang.
Ekspresi datar menghiasi raut wajahnya.
Liatlah orang yang telah menyakiti Rindu kita. Mas Karno membatin, Rindu di dalam anggota kartar memang sudah seperti adik bagi semua anggota.
Mas Karno beranjak dari duduknya kemudian melangkah di kerumunan yang sedang asik berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan musik.
Dapat. Gumam mas Karno saat tangannya bisa membawa seseorang bersamanya.
"Lepasin. Siapa kau beraninya menarik ku seperti satpol pp." Tanya serta tatapan sinis pria yang sudah Mas Karno bawa mencoba meronta.
"Diam! dan lihat ini." Mas Karno melemparkan ponsel yang menyala itu padanya.
"Apa urusannya dengan mu? ciiihh bahkan aku menganalmu saja tidak." Dengan sinis mengelak.
"Banci jangan beraninya dengan perempuan sini satu lawan satu adil kan!!!!??? " Ucap Mas Karno.
Senyum miring meremehksan jelas pada lawan mas Karno, adu jotos pun tak bisa terelakkan. Mas Karno tak luput dari serangan lawan " Jangan berani lagi ganggu Rindu ku." ucap Mas Karno di sela-sela perkelehaiannya.
"Okey cukup, lepaskan, aku mengerti." ucapnya dengan menahan sakit atas serangan Mas Karno.
"PINTAR!!!!!!!!! " sambil melempar lawannya Karno beranjak pergi.
.
__ADS_1
Kala itu Rindu bingun minta tolong pada siapa karna mas Nano yang biasa Rindu andalkan sudah balik ke kota.