AKU RINDU

AKU RINDU
PEMUDA GILA LAGI!


__ADS_3

Ditengah perjalan mereka berdua tak banyak berbincang, rasa kantuk menerjang Linda mana kala tak biasa perjalan jauh menggunakan motor. Angin yang berhembus seolah membiusnya agar terbuai dalam tidur. Pelindung yang membungkus rapat kepalanya saling terantuk dengan si pembonceng.


"Lin ngantuk ya?" Tanya Nano.


"Sedikit. He he he." Jawabnya diakhiri tawa.


"Apa ingin berhenti dulu di alfamart." Tawar Nano.


"Boleh." Ujarnya.


Saat melihat ada alfamart di kanan jalan segera Nano mengarahkan motornya kesana. Beristirahat sebentar tuk usir kantuk. Membeli coffee dan roti, keduanya kini duduk dikursi yang tersedia. Singkat, tak ingin malam semakin larut.


"Yuk Mas, nanti tambah kemalaman?" Linda beranjak dan mengajak Nano agar segera melanjutkan perjalanan.


"Ya ini memang udah malam sayang," ucap Nano dengan beranjak mengikuti Linda.


"Mas liat butiknya besok saja ya? Kita ke rumah Pakpuh dulu, udah malam jugakan." Ucap Linda sambil mengenakan helm.


"Iya, rumah Pakpuh?" Ada arti pada guratan dahi Nano. Bukan perasaan sesal karena tidak bisa bermalam dengan kekasih. Namun ketidak tauannya tentang siapa itu Pakpuh yang terdengar asing di indera pendengarannya.


"Iya kakaknya papa. Eemm iya aku belum cerita ya padamu?" Ucap Linda sejenak memberi jeda. "Nanti aku ceritakan sambil jalan." Imbuhnya.


"Oke. Yuk."


Nano sudah bersiap tancap gas. Diikuti Linda yang sudah duduk manis dibelakang Nano. Senyum terukir pada sudut bibir Linda. Ternyata seru ya naik motor saat perjalanan jauh.


Ditengah perjalanan sesuai kata Linda. Ia menceritakan banyak hal tentang Pakpuh kakak dari ayahnya. Menunjukkan jalan yang benar menuju rumah saudara laki-laki Paman Ari.


Sesampainya dikediaman Pakpuh, Mas Nano hanya berkenalan sebentar lalu berpamitan untuk segera pulang. Karena ini sudah bukan waktunya untuk bertamu.


****


Diujung timur mentari menyusup membiaskan cahaya, menggugah mahkluk yang masih tertidur pulas menikmati mimpi indahnya.


Pagi ini Rindu bangun lebih awal, membantu Bibi Winy menyiapkan sarapan. Yah, walau pun hanya sekedar mengupas bawang dan sayur mayur.


Selepas melalukan rutinitas pagi terlihat Mang Udin sudah siap mengantar Rindu untuk berangkat menuntut ilmu.


Ya, walau sudah dewasa Rindu masih tak dibiarkan kemana-mana sendiri. Dengan alasan masih belum tega. Tapi sesekali Bibi Winy membiarkan Rindu pergi dengan teman satu fakultasnya.


Matahari yang mulanya ditipe jalan berangsur meninggi. Menggantung tepat dipusaran langit. Terlihat Rindu mengamati kala dosen menerangkan didepan kelas. Tak terasa waktu cepat berlalu. Selesai sudah kegiatan pembelajaran.


"Rin, ikut yuk?" Ajak Dewi karena jadwal terakhir ada yang kosong, dosen berhalangan hadir.


"Kemana?" Tanya Rindu sedikit malas.


"Ngokrong bentar, buru ayookk!" Ucap Dewi sambil menarik Rindu agar mengikutinya.


Tentu saja mereka tidak pergi berdua. Ada dua teman lagi yang ikut serta tapi nampaknya mereka berangkat terpisah. Rindu lebih dulu pergi bersama Dewi mengendarai motor Scoppy milik Dewi. Karena kebetulan didekat kampus mereka ada sebuah gerai kopi yang biasa digunakan anak-anak kampus disana menghabiskan waktu setelah berjibaku dengan buku setebal kamus.


Kini sampailah Rindu dan Dewi, sengaja mereka memilih outdoor untuk bersantai.

__ADS_1


Sambil menunggu kedua temannya yang


lain, Dewi memasuki gerai untuk memesan kopi atau sejenisnya. Karena sedari tadi Rindu malas untuk pergi ia memilih menunggu Dewi.


Nampak tangan Rindu memangku dagu, dengan kaca mata bertengger manis dihidung. Sering kali memang Rindu suka membiarkan rambutnya tergerai begitu saja.



Ditengah lamunannya dari arah belakang tak sengaja seseorang menabar kursi yang tengah ia duduki.


Seketika itu Rindu beranjak dan menoleh.


"Kau!!!" Keduanya kompak menunjuk satu sama lain.


"Siapa yar?" Tanya rekan orang yang mungkin Rindu kenal. Tunggu, bukan Rindu kenal. Lebih tepatnya orang yang tak ingin ia kenang. Si pemuda gila.


Rindu sengaja ingin pergi. Lebih tepatnya menghindar. Namun sayang tangannya lebih dulu tercekat oleh si pemuda gila.


"Lepas atau aku teriak!!" Sentak Rindu.


Sambil berusaha terlepas dari genggaman pemuda tersebut.


"Rin ada apa?" Tanya Dewi yang baru keluar dari gerai.


Hanya tatapan sengit yang terlihat dari sorot mata bermanik coklat milik Rindu. Seolah berbicara melalui pikiran.


"Bahtiyar ada apa? Apa kau mengenalnya?" Cerca teman si pemuda.


"Untuk apa?" Rindu memutar bola matanya jengah.


"Untuk ini." Bahtiyar menunjukkan secarik kertas yang sudah terlihat usang.


Mata Rindu membulat seolah tak percaya. Kenapa memo itu masih ada ditangannya.


"Hah! Tidak perlu dibahas!" Rindu menghentakkan tangannya yang seketika terlepas.


Dewi dan teman Bahtiyar hanya saling tatap bingung tak mengerti. Ya, memang mereka berdua tak tau apa apa soal ini.


"Bisa bicara sebentar?" Mengulangi kalimatnya sedikit lebih rendah.


Dasar! Maunya apa. Kenapa masih harus membahas masalah yang sudah-sudah. Batin Rindu.


Bahtiyar mengedikkan mata pada temannya yang segera diangguki. Kemudian membawa paksa Dewi agar sedikit lebih jauh dari tempat itu.


"Duduk." Lagi-lagi Rindu hanya mengikuti kemauan Bahtiyar yang terkesan sedikit memaksa. Menekan ringan bahu Rindu.


"Cepatlah! Apa yang ingin kau tanyakan? Ingin memakiku lagi! Silahkan!" Serkah Rindu.


Dengan menyimpan dan membaca sepenggal kalimat Rindu pada secarik kertas itu berulang kali awalnya Bahtiyar marah, namun seiring berjalannya waktu marah itu terkikis. Sifat angkuh, galak, sombong, arogan, atau apalah itu namanya, hilang dari dirinya.


"Maaf," ucapan Bahtiyar terputus.

__ADS_1


Rindu nampak menoleh kearahnya, menelisik mimik wajah Bahtiyar adakah kebohongan atau keisengan disana. Sayangnya tidak, yang terlihat hanya pemuda yang tertunduk menatap secarik kertas usang.


Nafas berat berhembus, Bahtiyar melanjutkan kalimatnya. "Tak seharusnya aku bersikap seperti itu. Padamu dulu." Kalimat penyesalan keluar mulus begitu saja.


Rindu masih berdiam. Menunggu pemuda didepannya selesai berbicara. Hingga saat kedua teman yang baru datang memecah kebisuan yang sempat tercipta.


"Rindu!!" Teriak salah satu temannya dengan melambaikan tangan. "Siapa?" Imbuhnya.


Seketika Rindu menoleh kearah sumber suara. "Bukan siapa-siapa." Tegas Rindu.


"Oo, dimana Dewi?" Setelah bertanya dengan mengedarkan pandangan ia menemukan posisi Dewi yang berada didalam gerai dengan seorang pria pula. "Hey hey hey kalian ini. Kitakan sedang ingin nongkrong bersama kenapa jadi bawa pasangan masing masing?" Sloyor teman Rindu kemudian.


Lagi-lagi Rindu membeliakkan mata lebarnya. "Aku tidak kenal dia." Ucap Rindu dengan menatap Bahtiyar sinis.


Bahtiyar berajak sambil mengulurkan tangan. "Bahtiyar." Kemudian disambut kedua teman Rindu satu persatu. "Mila, Jamila." Bahtiyar mengangguk kemudian menjabat ramah teman Rindu yang lain. "Palupi." Ucapnya, lama menjabat tangan Bahtiyar. Hingga Mila menariknya.


Tanpa basa basi keduanya duduk satu meja dengan Rindu dan Bahtiyar. Melihat dari kejauhan Dewi tanpak menghampiri ketiganya. Diikuti teman Bahtiyar yang mengekori.


"Adnan." Menjabat ketiga wanita yang ada disana satu persatu.


Canggung, sedikit ada kecanggungan disana mengingat pertemuan Rindu yang tak baik dengan Bahtiyar dulu.


Kini mereka berenam saling bertukar tanya. Membahas sesuatu yang Ringan. Sesekali Bahtiyar melirik Rindu yang sibuk menikmati kentang goreng.


Menyadari ada yang memperhatikan Rindu semakin canggung. Beberapa kali berdehem dan menyesap minumnya.


"Pulang yuk?" Ucap Rindu tiba-tiba yang mendapat sorotan dari ketiga temannya ditambah dengan kedua orang yang beberapa saat lalu sudah berkenalan dengan baik.


Dewi melihat pergelangan tangannya. Jam yang melingkar menunjukkan waktu sudah tak lagi siang. "Yuk." Ucapnya.


"Sorry ya Bahtiyar, Adnan kita pulang dulu. Next time jika ada kesempatan bertemu lagi." Pamit Dewi. Rindu masih saja tak ingin berbicara untuk sekedar basa-basi.


"Eemm Dewi boleh bagi Nomor?" Ucap Bahtiyar. Terlihat dahi Adnan berkerut heran, tak biasa melihat temannya bertanya nomor ponsel terlebih dulu kepada seseorang apa lagi wanita.


"Untuk?" Ucap Dewi.


"Ya mungkin jika dilain hari aku membutuhkan mu disini." Ucap jujur Bahtiyar.


Dewi mengernyitkan dahi pasalnya dewi mengira orang yang baru iya kenal asli orang sini. Nyatanya bukan.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.

__ADS_1


__ADS_2