AKU RINDU

AKU RINDU
TUGAS DARI BU WAHYU


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukuk tujuh tepat untuk memulai semua, siswa siswi SMK 01 melakukan kegiatan belajar mengajar.


Tanpa terasa waktu pembelajaran berakhir dengan tenang karena di sekolah Rindu menuntut ilum, tergolong sekolah yang cukup disiplin.


" Anak-anak minggu depan kita akan mengadakan bazar di sekolah sebagai ajang untuk melihat seberapa siap dan bisa mempraktekkan apa yang sudah kalian pelajari di sekolahan ini," tutur bu Wahyu selaku wali kelas Rindu sebelum waktu pembelajaran benar-benar usai dan murid-murid meninggalkan kelas.


" Dan untuk temanya bisa kalian atur sesuai dengan kelompok masing," Bu Wahyu menambahi.


Kemudian di anggukki oleh murid-murid kelas tersebut.


Tahun ini memang paling menyibukkan bagi Rindu, karena saat ini Rindu sudah memasuki tahun dimana dia menyelesaikan sekolah jenjang SMK.


*****


Sesampainya di rumah Rindu sibuk menyiapkan apa yang harus ia bawa untuk acara bazarnya, kemudian Rindu memutuskan menelfon salah satu teman di kelompoknya.


Saat di tengah perjalan Rindu tak sengaja berpapasan dengan Dian teman yang cukup akrab dengan Rindu.


" Rindu!!" seru Dian saat berpapasan dengannya


Rindu akhirnya menoleh ke arah sumber suara, " Eehhh iya Dian," Rindu tak sempat untuk berhenti sebentar, Rindu hanya membalas sapaan Dian sambil berlalu pergi. Jelas saja karena Rindu pergi tidak sendiri melainkan pergi bersama teman pria yang satu kelompok dengannya.


Rasa kecewa nampak jelas dari raut wajah Dian mendapati Rindu pergi dengan seseorang. Dian menatap Rindu hingga tak terlihat dari jangkauan matanya.


Kekecewaan yang tak bisa Rindu lihat dari wajah slengek'an seperti Dian.


Sampai di tempat tujuan Rindu bersama teman teman satu kelompoknya sibuk menyelesaikan tugas masing-masing.


Ada yang terlihat sedang mencatat apa-apa saja yang mereka butuhkan, ada juga yang sibuk melihat desain mana yang cocok untuk background stand mereka.


Hingga tak terasa waktu sudah sore, yang sudah menampakkan warna jingga pada langit yang membentang di luar kelas.


" Huuuhhh capeknya," Rindu bergumam sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, karena seharian sibuk menyiapakan ini itu.


" Capek Ri? Ini belum seberapa dibandingkan nanti waktu hari-H," tungkas Dewi ketua kelompok Rindu, yang mengikuti gerakan Rindu karena mereka sama-sama bekerja keras untuk hari ini.


" He he he. Iya aku tau tapi, ini sungguh melelahkan," sambil cengar cengir Rindu menjawab ungkapan Dewi.


Senyum nampak terlihat di sudut bibir Dewi yang membenarkan ucapan Rindu, " Okey teman teman kita bisa sambung besok sepulang sekolah," Dewi membuka suara untuk mengakhiri kegiatan menjelang bazar.


Akhirnya Rindu dan teman-temannya membubarkan diri untuk pulang kerumah masing-masing.


Hingga sampailah Rindu dirumah, saking lelahnya Rindu memilih untuk langsung membersihkan diri kemudian merebahkan tubuhnya di atas tilam yang bisa membawanya traveling dalam mimpi.


Tak terasa sudah waktunya makan malam dimana seluruh anggota keluarga berkumpul untuk memulai ritual makan bersama disana sudah terlihat Pade Ari dan Bude Winy juga Linda. Tunggu? formasi sepertinya kurang lengkap, benar saja Rindu tak terlihat ada disana.


" Sayang Rindu dimana?" dengan nada lembut mama Winy bertanya pada buah cintanya yaitu Linda anak semata wayangnya.


" sepertinya ada di kamar ma. Sebentar Linda panggilkan?" bukannya beranjak pergi Linda malah mengambil telphone genggamnya. Terlihat Linda tengah menekan warna hijau pada ponselnya setelah memilih nomor kontak yang ia maksud.


" Loohh sayang katanya mau panggil Rindu, kok malah telfon'an?" tanya Mama Winy heran dengan tingkah anaknya.


" Ya ini mah lagi panggil Rindu," jawabnya polos sambil memperlihatkan ponsel yang tertulis nama cabe ( Rindu maksudnya )


Mama Winy yang melihat kelakuan anaknya ini geleng-geleng kepala atas apa yang dia lihat. Padahal jarak meja makan dari kamar mereka berdua dekat sekali bahakan gk sampae 1/2 menit.


Dengan ponsel menempel di daun telinganya Linda melihat Mama dan Papa, " gak diangkat ma pa?" dengan polosnya Linda menyampaikan apa yang dia dengar.


Plettakkkk...


Sendok tepat mendarat dengan indah di kepala Linda, Linda meringis seolah-olah apa yang dia alami itu menyakitkan. Padahal mah gak sama sekali karena Papa Ari tidak memukulnya dengan kekuatan penuh.


Sambil mengusap-usap kepalanya Linda beranjak pergi untuk memanggil Rindu agar makan bersama.


" Naahhh begitu, itu baru anak Papa. Anak gadis gak boleh malas-malas," puji Papa Ari pada anaknya yang memang sedikit malas dengan menahan tawa karena tingkah anaknya.


Linda terlihat masih setia dengak expresi pura-pura sakitnya dengan bibir sedikit cemberut karena merasa di tertawakan Papa Ari.


" Hey pemalas ayo bangun !!" Linda menggoyang-goyangkan tubuh Rindu untuk membangunkannya.


" Heemmm iya kak," Rindu mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau lampu yang sudah dinyalakan oleh Linda.


Setelah nyawa terkumpul menjadi satu Rindu segera bangun menyusul Linda untuk makan malam bersama. Sebelumnya Rindu pergi ke kamar mandi, mencuci mukanya agar lebih segar.


Sesekali di sela-sela makan tampak di selingi dengan obrolan santai, seputar kegiatan atau hal-hal kecil yang terjadi hari ini.


" Ri...kamu terlihat lelah? Apa tugas sekolahmu banyak sekali," dengan suara begitu lembut dan tatapan hangat seorang ibu yang sedang memberikan perhatian lebih kepada anaknya, mama Winy bertanya pada Rindu.


" Lumaya De, karena dalam waktu dekat ini sekolah Rindu akan mengadakan bazar," jawab Rindu sambil menatap Budenya.


" Sabar ya Ri, bentar lagi kamu tidak akan pernah merasakan momen seperti ini. Momen dimana kamu bisa menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanmu, nikmatilah selagi masih masanya," tutur Mama Winy pada sang keponakan.


Rindu mengaguk mantap, " Tentu saja De, Rindu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," dengan mulut dan pipi terlihat mengembung di penuhi makanan Rindu menjawab penuturan Bude.

__ADS_1


" Kalau mau berbicara makanan di mulut di habiskan dulu Ri," teguran Pade Ari pada Rindu tanpa meninggalkan sikap tegasnya.


Akhirnya makan malam pun berlanjut dengan hikmat dan tenang, sengaja Rindu menyenggol kaki Linda.


Sontak Linda melihat kearah Rindu dengan raut muka bertanya seolah memcari tahu apa yang membuat adiknya ini bertanya dengan bahasa isyarat seperti itu.


Apa ?...kurang lebih seperti itu yang nampak pada raut muka Linda.


Rindu berdiri dan menyudahi makannya sambil membawa piring kotor yang ia gunakan menuju dapur. Linda yang masih belum mendapat jawaban atas apa yang di lakukan adiknya pun memutuskan untuk mengikuti Rindu kearah dapur.


" Ada apa Ri?" tanya Linda kemudian.


Tanpa menoleh Rindu yang tengah mencuci piring menjawab pertanyaan kakak sepupunya ini " Mau ikut aku nggak?"


" Kemana?" tanya Linda yang bergantian mencuci piring di wastafel.


" Biasa di pos. Mumpung mas Nano lagi disni," jawab Rindu sambil bersandar di tembok dekat kakak sepupunya mencuci piring.


" He'em aku ikut? Ehh tunggu bukannya kamu tadi bilang lagi capek ya?" heran melihat adik sepupunya yang satu ini cepet banget berubah moodnya.


Kayak uang seratus ribuan hanya dalam hituangan jam dari warna merah menjadi abu-abu, bahkan seketika tak terlihat.


" Ya ayuk kalo mau ikut," Rindu segera menuju kamar untuk mengambil sibujang ikut serta bersamanya.


" Pade, Bude, aku dan kak Linda ke luar bentar ya? Kumpul-kumupul dengan anak kartar," Rindu dan Linda berpamitan kepada kedua orang tua di rumah itu.


Pade Ari yang terlihat serius membaca koran hanya menjawab sekenannya, " ya pergilah, jangan nunggu di panggil dulu baru mau pulang."


" Baik paman siap 86," jawab Rindu dengan tangan di letakkan di samping kepalanya persis polwan yang siap melaksanakan perintah dari komandannya.


****


Dari jauh sudah nampak Mas Nano dan anak-anak muda yang berkumpul dimana terlihat jelas keakraban terjalin atar satu dan yang lainnya.


" Eehh bujang lapuk ku datang," tanpa menghiraukan si pembawa Nano mengambil gitar tua miliknya, tentunya sikap ini dibuat khusus untuk mengerjai Rindu.


" Jadi cuma menunggu si bujang nih?" seloyor Rindu yang akan memberi ancang-ancang membuat expresi orang yang sedang marah, tapi sebelum itu terwujud Mas Nano segera menambahi kalimatnya, " Ya enggaklah aku juga nunggu si penerima mandat," di selingi tawa Mas Nano mengakhir kalimatnya.


" Ngeles aja kayak angkot," balas Rindu ngasal.


Si bujang pun di petik oleh Mas Nano,


Rindu yang sudah tau nada yang di mainkan Mas Nano mengarah kemana segera menyambar begitu saja.


**Gigi - 11 Januari


    Em                   F


Sebelas Januari bertemu


    Em                    F


Menjalani kisah cinta ini


     Em                 F


Naluri berkata engkaulah


Dm   G


Milikku


   Em                      F


Bahagia selalu dimiliki


   Em                               F


Bertahun menjalani bersamamu


   Em                           F


Kunyatakan bahwa engkaulah


Dm G


Jiwaku


Am            F


Akulah penjagamu


Am           F

__ADS_1


Akulah pelindungmu


Am         D/F#


Akulah pendampingmu


G


Di setiap langkah-langkahmu


  Em                             F


Pernahku menyakiti hatimu


   Em                                 F


Pernah kau melupakan janji ini


     Em                 F


Semua karena kita ini


Dm G


Manusia


Reff:


C                     G


Kau bawa diriku


Dm     Am            G


Ke dalam hidupmu


C                   G


Kau basuh diriku


F                       G


Dengan rasa sayang


C                            G


Senyummu juga sedihmu


Dm Am           G


Adalah hidupku


C                   G


Kau sentuh cintaku


F


dengan lembut


G


Dengan sejuta warna


Outro: Am F Em Am F Em Dm G**


Sudah menjadi kebiasaan Rindu dan mas Nano kalau lagi ngumpul bersama dengan di selingi nyanyian-nyayian ala kadarnya ciri khas suara Rindu yang pas-pasan.


Semakin malam yang berkumpul semakin banyak, sekarang sudah memasuki waktu 20:53 itu artinya Rindu dan Linda harus segera pulang.


Karena kalau sampai lewat tengah malam kekuat magig akan melayang, ini bukan dongen cinderella yang kehilang sepatu kaca melainkan sandal bangkiak Pade yang melayang.


Rindu dan Linda segera bangkit dari duduknya.


" Mas anterin ya?" bisik Nano pada telinga Linda, jarak yang cukup dekat dan hembusan nafas yang lolos dari bibir Mas Nano saat berbicar di dekatnya membuat seakan ada sengatan listrik mengena tepat di jantungnya dag dig dug.


Mas Nano dengar tidak ya suara jantung ku yang berpacu. Batin Linda.


Dengan rona merah di pipi cubby-nya yang tidak terlihat karena lampu remang-remang Linda mengangguk mengiyakan.


" Hey kalian berdua mau sampai kapan di situ, nunggu Pade Ari memanggil ya?"


Teriak Rindu yang sudah berjalan 10 langkah di depan.

__ADS_1


Mereka bertiga akhirnya berjalan bersama dengan formasi Rindu berada di depan persis seperti tukang bajaj yang sedang mengantarkan dua sejoli yang lagi mabuk cinta.


Kenapa aku seperti tukang bajaj ya dengan formasi seperti ini. Gumam Rindu dalam hati.


__ADS_2