AKU RINDU

AKU RINDU
PERFECT


__ADS_3

Sang surya kini terlihat enggan menampakkan diri. Awan kelabu memenuhi ruang langit-langit krajan.


Ayam pun seperti tersihir dinginnya pagi.


Hingga tak ada adu vocal yang menjadi alram penduduk bumi.


"Hoooaaammmm."


Terlihat Rindu menggeliat dibawah selimut.


Satu tangan nampak bergerak menyapu meja disebelah tilamnya.


"OMG!!!"


Rindu belari tergesa-gesa menuju kamar mandi. Tak perduli bibi Winy memanggil


"Sayang, kenapa adikmu terburu-buru seperti itu?" Tanya bibi Winy.


"Sudahlah ma. Lihat saja nanti yang terjadi." Jawab Linda cengengesan.


Bibi Winy hanya menggeleng ringan.


Belum lima menit Rindu sudah keluar dari kamar mandi.


Masih dengan mode yang sama.


Rindu kini sudah berada didepan kaca oval setinggi tubuhnya. Perfect.


Mata Rindu membulat tak percaya.


Melihat pantulan cermin menampakkan beberapa lembar kertas yang menggantung pada dindin kamarnya.


Melangkah keluar dengan gontai. Ia terlihat sudah mengganti pakaian yang lebih santai.


Mengambil snack dalam lemari ice.


"Kakak kenapa tak mengingatkanku jika hari ini hari minggu.!" Gerutu Rindu. Sambil memasukan makanan ringan kedalam mulutnya.



"Hey hey jangan mengerutu. Mama tadi sudah memanggilmu tapi kau tidak dengar." Ucap Linda dengan senyum mengejek.


"Kenapa? Menyesal sudah bangun pagi!" Celetuk Bibi Winy mengerti arti senyuman Linda saat melihat Rindu terburu-buru tadi.


"Ya sudah aku bersihkan halaman saja." Ucap Rindu sambil berlalu pergi.


"Nah taukan ma." Ucap Linda. "Kalau dia tau sekarang hari minggu pasti akan bangun siang hari. Apalagi cuacanya sangat mendukung sekali" imbuhnya.


Bibi Winy hanya tersenyum simpul.


Dihalaman rumah Rindu membersihkan daun-daun kering yang jatuh berguguran ditiup angin.


Terlihat dari kejauhan Setya berlari santai.


Apa itu Setya? Emm jika iya berarti benar kata Hari semalam. Apa mas Nano juga ikut pulang. Biasanya sih iya. Gumam lirih Rindu.


Karena terik mentari mulai tampak Rindu mengakhiri aktifitasnnya.


Mencuci tangan lalu duduk manis dimeja makan.


Disitu sudah ada paman Ari dan anggota keluarga lain. Menikmati sarapan dengan diselingi percakapan-percakapan ringan. Sesekali tersenyum ringan melihat kedua gadis muda dirumah ini sedang bertikai karena hal-hal kecil.


****


Waktu sudah menunjukkan 09:00.


"Assalamualaikum." Salam terdengar dari luar.


"Waalaikumsalam." Sahut Rindu.

__ADS_1


Perlahan membuka pintu, melihat siapa yang tengah bertamu sepagi ini.


"Mas Nano." Ucap Rindu. Masih dengan pintu terbuka separuh.


"Bukan." Asal Nano.


"Masuk mas."


"Bagaimana kabarmu Ri? Om tante sehat?" Tanya mas Nano sambil mendaratkan dirinya dikursi.


"Sehat. Sebentar ya kupanggilkan Kak Lin." Ucap Rindu kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu.


Dari luar tampak paman Ari masuk dengan membawa beberapa katalog.


Paman Ari memiliki usaha yang lumayan maju. Tak jarang ia membingkai gambar beberapa hasil kerajinannya.


"No. Sudah lama?." Sapa paman Ari yang baru saja tiba.


"Tidak om. Baru saja." Terang Mas Nano. "Saya ingin mengajak Linda dan Rindu untuk pergi jalan-jalan." Imbuhnya.


"Kemana?." Tanya paman Ari.


"Dipantai dekat-dekat sini saja om." Jawab mas Nano.


Linda yang hendak menghampiri Nano berdiri diambang gorden pembatas ruang tamu dan ruang keluarga.


"Ada apa?" Tanya Rindu yang berada dibelakang Linda.


"Sudah ada papa." Jawab Linda.


Akhirnya mereka berdua menguping pembicaraan Mas Nano dan pria paling ganteng dirumah ini. Jelas paling ganteng karena hanya paman Ari yang laki-laki.


"Loh kalian mengapa masih ada disini?" Tanya Bibi Winy dengan suara sedikit keras hingga dua pria diruang tamu


menoleh.


Karena ketahuan keduanya melangkah atas dorongan bibi Winy.


Senyum mengembang pada bibir Nano dengan sedikit memperlihatkan gigi gingsulnya.


Bibi Winy ikut duduk bersama diruang tamu. Saat kedua anak gadisnya masuk kedalam untuk bersiap-siap.


"Bagaimana kabarmu? Maaf om dan tante tidak bisa menengokmu disana." Ucap Bibi Winy sedikit menyesali waktu itu tidak sempat menjenguk.


"Tidak apa-apa tante. Tidak ada yang serius." Jawab Nano.


"Kamu sudah lama dikota. Apa tidak sebaiknya mencoba membuka usaha disini saja?" Ucap paman Ari.


Bagaimana sih om Ari ini. Linda sebentar lagi akan kekota. Bagaimana mungkin aku akan kembali kesini. Siapa nanti yang akan menjagannya. Bantin mas Nano.


"Em jika usaha Nano sudah ada rencana kesana om. Tinggal menunggu waktu yang tepat." Tutur Nano.


"Kamu ada rencana buka usaha apa?." Tanya paman Ari lagi.


"Expedisi om jasa pengiriman barang." Tegas Nano.


"Itu perlu modal besar No" ucap paman Ari mendengar penuturan Nano. Sedikit menautkan alisnnya.


"Saya sudah ada teman dikota yang akan menjadi investor." Ucap Nano.


Setelah pembicaraan berjalan selama beberapa menit akhirnnya Rindu dan Linda sudah siap berangkat.


Ketigannya pun berpamitan mencium punggung tangan kedua orang tua secara bergantian.


"Mas Nano kenapa tidak memberi kabar jika akan pulang?" Rajuk Linda.


"Sorry ini mendadak sekali. Dan lagi aku ingin memberi kejutan kepadamu." Terang mas Nano dengan senyum mengembang.


"Sukses." Sahut Rindu yang berada dibelakang keduanya.

__ADS_1


Udara pagi ini tidak terlalu menyengat kulit. Angin sepoi-sepoi menerpa sulur anak rambut yang sedikit menggelitik pipi halus Linda. Nano yang melihat itu merasa gemas, perlahan tangannya meraih rambut itu dan meletakkan dibelak telinga.


Cih! Apa-apaan mereka ini. Bermesrahan didepanku. Batin Rindu sambil membuang muka.


Mereka bertiga kini berjalan menuju kendaran yang akan mereka gunakan. Disana sudah ada Hari dan Setya.


"Cuma kalian, dimana Karno?" Tanya Nano saat sudah tiba.


"Karno ada pekerjaan jadi tidak bisa turut serta." Jawab Hari.


"Hay sahabat." Ucap Hari dengan pengacak-acak rambut Rindu.


"Singkirkan tanganmu!" Sentak Rindu dongkol kemudian.


Kini rindu melangkah menuju mobil jeep wrangler unlimited warna putih.


Sedikit angin kencang menerpa. Membuat rambut rindu yang tergerak menari-nari. Dan lagi dengan isengnya Hari memotret Rindu.



Setya nampak sudah ada dibelakan setir mobil siap untuk mengemudi.


"Woy cepat!!." Sedikit memberi jeda. "Mau menunggu sampai matahari tenggelam." Imbuhnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Hari nampak duduk disebelah Setya, dikursi belakang ada Rindu, Linda, dan Nano.


Sesekali Hari melemparkan candaan-candaan yang mengundang gelak tawa.


Setelah satu jam perjalan mereka sudah sampai ditempat tujuan.



Terlihat Linda merenggangkan ototnya yang kaku setelah satu jam perjalanan.


Rindu yang sudah lama tidak kepantai segera berganti baju dan menceburkan dirinya. Sengaja menantang ombak yang datang. Pun sama dengan Setya dan Hari segera mengarah dimana Rindu berada.


Suasana pantai cukup ramai pengunjung, deburan ombak menerpa dinding karang.


Nampak dari kejauhan beberapa orang saling berpegangan tangan. Menguatkan satu sama lain. Tangan seseorang menarik rindu untuk ikut bermain menantang ombak yang datang.


"Yuk ikut." Ucap orang itu.


Rindu meragu, sebab walau suka pantai tapi Rindu tidak mahir berenang.


"Ayo tidak papa ini seru! Kita hanya main dipinggir saja." Imbuh orang itu.


Benar saja ombak menerpa orang-orang yang sedang main disana. Menyapu hingga kebibir pantai.


Rindu gelagapan terhuyung ombak. Namun senyumnya mengebang. Rindu fikir ini seru juga.


Beberapa kali Rindu dan yang lain mengulangi permainan yang sama.


Diluar dugaan kali ini ombak cukup besar. Rindu salah langkah kakinya terjebak diantara karang yang cukup dalam.


Byuurrrr.


Rindu terhuyung terseret ombak nafasnya tercekat.


Astagah ya allah apa aku akan mati hari ini. Batin Rindu panik.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,

__ADS_1


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.


__ADS_2