
RUMAH SAKIT HARAPAN
Tepat di depan IGD Silla mundar-mandir dengan wajah penuh kecemasan, bahkan dari tadi siang dia belum memakan sesuatu.
"Sil gimana kondisi Nano." tanya Sita yang baru tau kabar Nano segera bergegas ke rumah sakit.
Silla hanya menggelengkan kepalanya pelan, tanda ia juga belum tau pasti kabarnya bagaimana.
Nampak Hari dan Setya duduk di kursi tunggu, Setya segera berdiri hendak membeli sesuatu yang bisa ia dan teman-temannya makan. Ya itu mungkin hanya alibi untuk menghindari Sita.
Segitu bencinyakah dirimu pada ku Setya. Gumam Sita dalam hati.
Sengaja Sita tak bertanya atau sekedar menyapa Setya, karna Sita tau watak keras kepala Setya. Dan lagi ini rumah sakit yang di haruskan untuk bersikap tenan disini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19:00
~*Setya kamu di rumah sakit mana?~ Linda
~rumah sakit harapan (shareloc)~Setya mengirim lokasinya berada pada Linda*.
Di perjalan Linda sudah menceritakan keadaan mas Nano pada Rindu, Linda juga sudah bertanya langsung pada setya untuk memastikan keberadaannya sekarang ada dimana.
Tak butuh waktu lama Linda sudah sampai dimana Nano di rawat, setelah menemukan tempat parkir Linda segera turun dari mobilnya.
Tergesa-gesa Linda berjalan, tak sadar jika Rindu saat ini ada bersamanya.
"Yaampun kak linda kenapa tidak menungguku." gumam Rindu.
Sampai di depan pintu utama menuju IGD Linda tertegun, apa yang dokter sampaikan membuatnya seakan tak bernyawa.
"Maaf...keluarga pasien saudara Nano." ucap dokter.
Seketika hari terkesiap "saya dok...bagaimana keadaan teman saya" sahut Hari.
"Maaf kami sudah melakukan sebaik mungkin" lanjut dokter nampak dengan sorot mata berduka.
"Mas Nano..." ucap Linda lirih, buliran air mata membasahi pipi merahnya.
Segera Linda melangkahkan kakinya dengan gontai, pandangannya kabur tertutupi cairan bening yang menerobos sudut matanya.
Begitu pun dengan Hari, Sita, dan Silla segera memasuki ruang IGD, tidak menghiraukan Linda yang baru saja datang.
Sesaat kemudian Linda masuk lalu memeluk dan mengguncang tubuh Nano, di panggilnya nano dengan lirih. "Mas Nano...bangunlah." tangisan pilu Linda memenuhi ruangan.
Silla tersadar saat tau siapa yang tengah memeluk seseorang yang pernah mengisi hatinya ini, seketika Silla terpundur meninggalkan ruangan. Ia tampak menangis tak bersuara hanya air mata yang mengisyaratkan perasaannya saat ini.
Hari segera menarik pelan tangan Sita agar mengikutinya, Sita nampak bingun dengan kedatangan Linda yang secara tiba-tiba.
Setelah sampai ambang pintu dan mendudukan dirinya di dekat Silla barulah hari bicara.
"Itu Linda kekasih Nano di kampung." ucap Hari kemudian.
Sita nampak mangut-mangut tanda bahwa ia mengerti, secara perlahan Sita meraih jemari Silla. Menguatkannya, karna Sita tau bahwa Silla juga teramat sangat mencintai Nano dan mungkin sama dengan Linda teramat sangat kehilangan Nano.
Diluar gedung rumah sakit Rindu nampak celingukan mencari sesuatu, dari sebelum tidur sampai sekarang Rindu belum makan sama sekali. Bahkan Linda tak berhenti hanya untuk sekedar membeli roti.
"Ah itu dia ada kang cilok...lumayan untuk mengganjal perut." gumam Rindu lirih.
__ADS_1
"Kang ciloknya sepuluh ribu jadi dua ya, es jeruknya juga dua." ucap Rindu saat sudah berada di depan kang cilok.
"Iya neng." ucap si akang. Terlihat kang cilok dengan lihai membungkus.
"Silahkan neng." ucapnya kemudian.
Kemudian Rindu terlihat mencari sesuatu di dalam saku celananya, terlihat uang 5.000 keluar. Panik seketika, ketika hanya menemukan uang lima ribu perak, ia pun mencari di dalam tas ranselnya.
Astagah. Gumam Rindu dalam hati
"Mas cilok ya sepuluh ribu." suara pembeli yang baru datang.
"Semuanya dua puluh ribu neng." ucap si akang.
Mendengar suara kang cilok Rindu bagai di sambar petir, terlihat Rindu nyengir kuda.
"Sebentar ya kang Rindu akan mengambil uangnya di dalam." ucap Rindu gugup dan malu. Saking gugupnya Rindu tak sengaja menumpahkan es jeruknya di baju pembeli ya baru datang saat akan melangkah menemui Linda.
Spontan si pembeli baru berdecak sinis "Astagah untuk membeli makanan semurah ini saja tidak ada uang." ucapnya dengan suara lantang. Orang yang tak sengajak lewat sampai berhenti mendengar umpatannya.
Belum sempat Rindu meminta maaf, mendengar ucapan itu mata Rindu mulai berkaca-kaca. Air bening lolos dari pelupuk matanya yang lebar.
Dari kejauah nampak Setya memperhatikan, mungkin dalam benaknya pernah melihat wanita yang tengah berdiri mematung di depan penjual cilok. "Bukannya itu si Rindu." ucap setya sambil berjalan menghampiri Rindu.
Rindu menunduk dalam, ia tak kuasa menahan malu dan tangisnnya.
Si pembeli tadi masih setia dengan omelannya terlihat ia mengibas baju yang basah dengan tangannya, sayup-sayup Setya nampak mendengar apa yang sedang terjadi.
"Nih pak sekalian bayar punya bocah ini." ucap si pembeli setelah puas memaki.
Setya menarik pergelangan tangan Rindu agar berpindah di belakannya. "Tidak usah kang biar saya saja sekalian dengan punya mas ini." ucap Setya sambil menyerahkan uang 100.000. "Kembaliannya berikan padanya saja." imbuhnya dengan senyum meremehkan Setya menatap si pembeli itu.
"Woey...kenapa masih disitu." imbuhnya sambil melambaikan tangan.
"Maaf." kata yang terucap dari bibir Rindu kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.
Sial !!!!...awas saja kalo aku masih bertemu dengan kalian. Gumam si pembeli dalam hati. Masih dengan tatapan marah dan tidak terima.
Selera makan Rindu seketika menghilang, cilok yang sejak tadi ia pegang sama sekali tidak menggugah selera. Bahkan Rindu merasa mual melihatnya, saat tangan Rindu hampir saja membuangnya seketikat di cegat Setya.
"Jangan di buang...ini cilok mahal." ucap Setya dengan tangan menyahut cilok dari Rindu.
"Iya aku tau." ucap Rindu masih sesenggukan.
"Sudah tidak usah menangis...tambah jelek kalau kau menangis" ucap Setya meledek. "Nih tissu, usap air mata mu."
"Terima kasih." ucap singkat Rindu.
Tiba di depan pintu masuk IGD Setya bingung melihat ketiga temannya tertunduk lemas, apa lagi Sita matanya terlihat semakin sembab.
Rindu buru-buru menghampiri Hari, mendudukan diri di kursi kosong sebelahnya.
"Mas Hari...dimana mas Nano?" ucapnya kemudian.
Hari tak menjawab hanya ekor matanya yang memberi isyarat agar Rindu masuk dan mencari tau sendiri.
Segera Rindu berdiri dan melangkahkan kaki menuju ruang IGD, tepat di depan matanya Rindu melihat kakak sepupunya menangis.
Menyadari Rindu datang segera Linda berhambur memeluk erat tubuh Rindu, Tangis pilu mengiringi. Linda menangis tersedu-sedu. "Ri..." serasa suara tercekat di tenggorokan, Linda tak mampu untuk mengucapakan kata-kata itu. "Mas Nano meninggalkan kita." ucapnya disela-sela tangis.
__ADS_1
Seketika Rindu terduduk lemas di atas lantai yang dingin, air matanya seakan tak bisa menetes. Hatinya bagai di sambar petir, kabar buruk apa yang lebih buruk dari ini.
Setya memperhatikan diambang pintu, ia terkesiap saat melihat Rindu terduduk diatas lantai. Di bantunya Rindu berdiri, kini Rindu tengah duduk persis di sebelah brangkar mas Nano.
Pelan tangan Rindu merambah jemari tangan mas Nano yang dingin, terlintas memori di masa lalu. "Jangan secepat ini...bahkan aku belum berjuang semampuku untuk merebut mu dari kakak ku yang menyebalkan ini." ucap Rindu getir.
Beberapa detik kemudian tangan Rindu merasai pergerakan kecil, hampir Rindu tak percaya. Digenggamnya kuat-kuat tangan mas nano, lagi-lagi Rindu merasakan pergerakan tapi ini lebih kuat dari sebelumnya.
"Kak ... kakak ... tolong panggil dokter." seru Rindu pada Linda yang ada di dekatanya.
"Tolong kak panggil dokter." Rindu mengulangi ucapannya.
Seketika Setya berlari meninggalkan ruang IGD untuk menemui dokter, ketiga temannya yang ada di luar nampak terkesiap. Mungkin mereka bertanya-tanya ada apa gerangan, sehingga membuat Setya berlari keluar.
Rindu berdiri dari duduknya, air matanya yang tadi tercekat kini mulai mengalir hangat. "Kak Linda duduklah." pinta Rindu pada Linda.
Rindu menautkan jemari tangan Linda pada Nano, agar tangan Nano semakin menghangat.
"Genggamlah kak, tangan mas Nano mulai menghangat." ucap Rindu kemudian.
Senyum menawan Linda mengembang, semoga apa yang Rindu rasakan bukan ilusi semata.
Sesaat kemudian Setya datang bersama dokter yang sejak tadi menangani Nano.
"Permisi kalian mohon tunggu sebentar di luar." ucap dokter kemudian.
Segera Setya dan Rindu beranjak, terlihat linda pun ingin melangkah. "Kakak tunggulah disini, biarlah kak Linda yang di lihat mas Nano untuk pertama kali." ucap Rindu.
Setya dan Rindu memilih duduk lebih jauh dari ketiga temannya yang sedari tadi menunggu diluar.
Segera Silla menghampiri Setya "Ada apa Setya." tanya Silla dengan wajah sendu.
"Do'akan saja semoga apa yang kita harapkan terkabul." jawab Setya kemudian.
Duh aku kebelet buang air kecil lagi. Batin Rindu.
Rindu menarik ujung kemeja Setya.
"Mas antar Rindu ke toilet." pinta Rindu dengan wajah melas.
Setya berdecak kesal "Merepotkan, pergi saja sendiri." ucap Setya.
Iiihhh menyebalkan...sudah ku duga...dasar. umpat Rindu dalam hati.
"Ayo Ri, Mas Hari antar." ucap Hari sembari senyum. Dengan sigap tangan Hari menarik paksa Rindu.
Rindu pun pasrah, dari pada tidak ada yang menemaninya.
Terlihat Silla hanya mengamati Nano dari jendela kaca, entah apa yang sudah menghantap hatinya. Terasa sakit menyiksa, sesak sekali seperti tidak ada udara yang tersisa kala melihat tangan linda dengan erat menggenggam jemari Nano.
Sita mengamati sekitar nampak sedikit sepi, ia memparhatikan Setya dari jauh. Ada rasa galau menggelayuti hatinya, antar maju atau mundur.
Sedikit tarikan nafas Sita mencoba menenakan hatinya, ia melangkah menghampiri Setya. Menyadari langkah Sita, Setya hendak melangkah pergi.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu