AKU RINDU

AKU RINDU
PULANG KAMPUNG


__ADS_3

" No...! Gue ikut pulang sama lo." ucapan Setya mengagetkan Nano yang sedang memanaskan mesin motornya.


Setelah bekerja Nano sengaja membeli sebuah motor agar bisa ia gunakan untuk pulang.


" Kenapa tiba-tiba mau ikut pulang?" Tungkas Nano heran melihat rekannya yang tiba-tiba mau ikut dia pulang kampung.


Tanpa basa-basi Setya ikut memanasi mesinnya, " ya aku sumpek ajha di sini, butuh udara segar," Setya segera memacu sepedah motornya.


" Nunggu apaan, ayo segera berangkat keburu siang."


Dengan perasan curiga Nano mengikuti Setya membelah jalanan kota yang masih sepi kendaran berlalu-lalang.


Sepajang perjalanan mereka tidak menghabiskan waktu hanya untuk beristirahat.


Setelah beberapa jam mereka telah sampai ke tempat tujuan, tempat dimana mereka bertumbuh.


" Mari pak..." sesekali Nano dan Setya menyapa warga yang mereka lewati, karna mereka sudah memasuki kampung halaman mereka.


" Gue langsung pulang ya No?" Setya berpamitan pada rekannya setelah hampir melewati depan rumah Nano.


" Iya istirahatlah, nanti malam ikut aku ya?" dengan nada penuh harap Nano bertanya pada rekannya itu.


" Gampang lihat nanti," jawab Setya singkat sambil melaju menuju rumah yang tidak jauh dari kediaman Nano.


Sore menjelang malam menampakkan warna jingga yang teduh di pandang mata, nampak seorang gadis tengah duduk di daun jendela dengan smartphone di tangannya.


" Hi Linda, nanti malam jadikan pergi? kamu ajak Rindu ya," pesan singkat dari Nano segera di baca oleh Linda.


"Iya mas Nano, tapi nanti Rindu sama sapa?" balasan dari Linda terhubung pada ponsel Nano.


" Gampang nanti mas ajak Setya buat boncengin Rindu, " dengan cepat Nano membalas pesan dari Linda.


*****


" Aku udah di depan, papa mu adakan?Sekalian aku mau pamitin kalian berdua," Tiba-tiba Nano sudah ada di halaman rumah Linda.


Belum sempat linda menjawab pesan mas Nano, eehh yang bersangkutan udah menampakkan diri di depan pintu rumahnya.


Tok tok tok


" Assalamu'alaikum," terlihat Nano sedikit cemas takut kalau kalau tidak di ijinkan, untuk membawa dua gadis manis dan cantik penghuni rumah ini.


Terdengar suara lembut mama Linda dari dalam rumah, " wa'allaikimsalam."


Sembari mempersilahkan masuk pemuda yang tengah bertamu kerumahnya.


" Eeh nak Nano, ada apa ya? mari silahkan masuk, sebentar ibu panggilkan Linda."


Saat tengah berjalan menuju dimana kamar anaknya, papa Linda keluar.

__ADS_1


" Siapa ma?" tanya pada sang istri.


" Itu lo pah nak Nano..."jawab Winy ( mama Linda )


Papa Linda pun mendekati Nano yang sedang duduk di atas sofa, lebih pastinya ruang tamu kediaman keluarga Linda.


" Ehhmm, ada perlu apa ya Nano datang kemari?" tanpa basa basi Papa Linda bertanya pada pemuda yang tengah duduk di depannya.


Dengan pasti Nano mengutarakan tujuannya bertamu kerumah Linda, " Begini om saya bermaksud untuk mengajak Linda dan Rindu jalan-jalan sebentar, apakah boleh om?"


Sedikit menatap dengan penuh selidik Papa Linda memperhatikan Nano, hingga memutuskan untuk mengijinkan anak dan keponakannya pergi bersama Nano.


Yang Nano terkenal sebagai pemuda yang santun di banding teman-temannya.


" Baiklah om ijinkan, tapi jangan pulang terlalu malam," Papa Linda berdiri dari duduknya dan menghampiri sang istri, " ma panggilkan anak-anak, bilang pada mereka jangan pulang larut malam."


Di depan pagar rumah ada Setya yang sudah menunggu mereka, sesekali Setya melihat ponselnya dengan tatapan kekesalan di matanya.


Perempuan yang dekat dengannya beberapa bulan belakangan ini yang menguasai hati dan pikirannya, yang di lihatnya waktu itu tengah diam saja di peluk oleh laki-laki lain.


Sungguh menjengkelkan.batin Setya


" Lama ya nunggunya?" teguran Nano mengagetkan Setya dari pikirannya yang kacau.


" Lumayan," jawab Setya singkat dan sedikit senyum yang jelas terlihat.


Mereka berempatpun pergi beriringan yang sesekali saling berkejar-kejaran.


Cara bersepedah Nano dan Setya, memang jauh dari kata kalem lebih tepatnya ngebut.


Gak salah apa ni si Rindu gak pake jaket.


Dasar cerobah kalo kena angin trus jatuh sakit gimna. Dalam benak Setya.


Dasar cowok menyebalkan bawa motor bukannya pelan-pelan, eehh malah kebut-kebutan. Ungkap Rindu dalam hati.


Setibanya di tempat tujuan mereka kaget melihat Karno dan hari sudah ada disna.


Lebih tepatnya Linda, Rindu, dan Nano yang kaget dengan wajah kompak menatap penuh tanda tanya pada Setya.


" Biasa aja kali liatnya, mereka berdua gue yang ngajak, karna gue gak mau berdua aja sama ni anak cengeng," dengan santainya Setya menjawab tatapan ketiga temannya yang sedang menunggu penjelasan.


Rindu berlalu meninggalkan ketiga temannya itu yang masih setia di pintu masuk taman. Tanpa menggubris perkataan Setya.


" Hay Mas Hari, hay Mas Karno," Sapa rindu ceria seperti biasanya.


" Hay Rindu," Dengan jahilnya Hari mengacak-acak rambut Rindu.


Tangannya...tangannya tolong ya di kondisikan. Rindu membatin.

__ADS_1


Setelah paham dengan penuturan Setya, Nano mengajak menjauh Linda sebentar dari teman-temannya.


" Eemm Linda gimna?" Tanpa basa basi Nano memulai percakapan setelah di rasa tempatnya cukup jauh untuk membuat teman-temannya tak mendengar percakapan yang bisa di katakan serius pada Linda.


Flashback on


" Kertas paan nih?" Ragu-ragu Rindu mengambil kertas kecil yang tidak sengaja jatuh saat dia tengan membersihkan kamarnya.


Linda...


Saat matahari terbit...


Saat matahari terbenam dan digantikan oleh malam...


Saat hari berganti minggu...


Saat minggu berganti bulan...


Saat bulan berganti tahun...


Tahukan kamu bahwa perasaan ku pada mu tidak bisa di gantikan oleh siapapun...


Saat sekian lama aku menunggu waktu dimana dirimu sudah lulus dari status pelajar...


Rasa yang kumiliki ini tidak pernah berubah...


Masih sama seperti pertama kali kita bertemu waktu itu...


Baru sekarang aku berani mengungkapan perasaan ku pada mu....


Mau kah kamu menjadi kekasih ku...?


~ Nano ~


" Lagi ngapain Ri?" Dari balik pintu Linda datang setelah rasa penat seharian sibuk menjahit, yang menjadikan kamarnya menjadi tempat ia beristirahat dengan nyaman.


" Kak ini dari mas Nano ya? " penuh selidik Rindu menatap Linda, memasang ancang-ancang dengan berbagai pertanyaan yang sudah di siapkan untuk Linda.


" Iya itu dari Mas Nano, jangan tanya kenapa dan bagaimana! " Linda mempertegas pada kalimat terakhir.


" Kamu tau kan Ri gimana tegasnya Pade kamu itu," sedikit tersenyum Linda mengimbuhi penjelasannya.


Flashback off


Pade Ari memang termasuk orang yang tak banyak bicara, dia adalah sosok papa yang tegas bagi Linda.


Sosok yang membuat Linda bangga karna sudah terlahir menjadi anak semata wayang yang penuh cinta kasih.


*****

__ADS_1


__ADS_2