
Petir terdengar menggelegar, awan hitam masih setia meneteskan air ke seluruh permukaan bumi.
Seluruh karyawan nampak berhamburan menuju masing - masing tujuan.
Jas hujan dan panyung nampak ikut serta dalam menghalau dinginnya air membasahi diri.
Ditengah guyuran hujan nampak segerombolan orang dengan mimik wajah ketegangan. Ada apa gerangan?
siapakah yang menjadi pusat perhatian.
Terlihat Silla menyusup diantara kerumunan, merasa ada sesuatu yang terjadi.
"Oh my god NANO!!!!!!" pekik Silla begitu kerasa. " Apa yang terjadi? tolong bantu tolong bantu angkat Nano." imbuhnya dengan panik.
Cepat-cepat mereka membawa tubuh Nano di klinik pabrik, wajahnya pucat. Bibirnya membiru dingin menjalari seluruh tubuhnya.
Suster nampak mengolesi minyak kayu putih di telapak kaki dan tangan Nano.
Tangan Silla pun masih setia menggosok-gosok telapak tangan Nano. Berharap agar tubuh Nano segera menghangat.
Derap langkah seseorang terdengar mendekat, sepertinya lebih dari satu orang. Cemas nampak terlihat di kedua wajah teman Nano, siapa lagi kalo bukan setya dan hari yang menghampiri.
Kepanikan tampak jelas di wajah keduanya "Apa yang terjadi?" tanya Hari.
Lelehan air mata mengiringi suara paruh Silla " Aku juga tidak tau, aku sudah melihatnya terjatuh tak berdaya."
Setya perlahan mendekati brangkar dilihatnya lamat-lamat wajah Nano yang masih pucat. Entah apa yang setya fikirkan, nampak kecemasan dan kebingungan terlihat di wajah tampannya.
Apa yang akan kujelaskan pada keluargamu nanti No. Setya membatin
Wajah suster tampak panik, saat tangannya memegang pergelangan tangan Nano merasai denyut nadi disana.
"Apa yang terjadi Sus." dengan panik Silla bertanya.
"Kita harus membawa Sano kerumah sakit Sil." jawab suster natasya.
Hari terkesiap mendengar penuturan suster "Rumah sakit? Ada apa dengan teman saya Sus? Apa keadaannya memburuk." Tanya Hari bertubi-tubi.
Suster tidak menyahuti, berlalu meninggalkan tiga orang yang masih setia menunggui Nano. Selang beberapa menit suster kembali mengintruksikan agar Nano segera dilarikan kerumah sakit menggunakan mobil pabrik.
"Aku akan menghubungi keluarganya di kampung." ucap Setya sambil menepuk ringan pundak hari yang berdiri di sampingnya.
"Hari ayo kita segera mengikuti Nano kerumah sakit." pinta Silla dengan suara paruh
Tak buang waktu Silla mengikuti mobil Nano bersama dengan Hari. Air mata Silla masih enggan berhenti menetes, nampak jelas mata Silla semakin menyipit karna membengkak.
*******
Ditempat lain nampak ada kecemasan yang sama, Nani bingun setelah mendapatkan kabar kesehatan mas Nano.
Nani kini tinggal hanya berdua dengan kakaknya yang ke empat, Neno. Buru-buru nani mencari Neno ketempat yang biasa ia gunakan untuk mengisi waktu luang, membantu paman Ari, untuk mencari tambahan jajan.
__ADS_1
Sepeda gunung Nani kayuh sekuat mungkin agar cepat sampai tujuan, sesekali telapak tangannya mengusap air yang merebes dari sudut matanya.
"Mas...mas...mas Neno!!!!" seru Nani dengan dada naik turun untuk mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, air mata tampak masih mengalir.
"Ada apa Nan?" Tanya paman Ari menghampiri nani, ikut cemas melihat keadaan Nani.
"I...itu pak...mas Neno dimana." terlihat mata bulat nani mencari-cari sosok Neno.
"Ada digudang belakang..." ucap paman Ari. "Sebenarnya ada apa? Tenanglah dulu?" Imbuh paman air sambil memberikan satu gelas air.
Tak lama yang dicari menampakkan batang hidungnya "Ada apa dek? Tumben kemari?" Ucap Neno santai saat belum menyadari ada kepanikan di wajah Nani.
"Hey...kenapa kau menangis." seketika Neno terkesiap melihat adik bungsunya menangis.
Tangisnya semakin menjadi seraya berhambur memeluk tubuh Neno, seakan Nani tak bisa menyampaikan kedatangannya.
Neno mengusap lembut pucuk kepala Nani "Tenanglah? Cerita pelan-pelan." ucapnya kemudian.
"Mas Nano ... mas Nano tidak sadarkan diri mas di pabrik, sekarang di bawa ke rumah sakit." ucap Nani sesenggukan.
Dari ambang pintu Linda mendengar percakapan Neno dan Nani, Linda seketika pergi meninggalkan tempat bekerja papanya.
Entah apa yang akan di lakukan Linda, akankah Linda akan pergi kekota untuk melihat sendiri keadaan Nano?.
"Giana ini Mas? Apa kita kekota saja untuk melihat kondisi mas Nano." ucap Nani paruh.
"Tunggulah kabar selanjutnya, jangan gegabah berdo'alah agar Nano tidak apa-apa." sahut paman Ari, yang masih memerhatikan kakak beradik ini.
Lagi-lagi nani menangis bahkan lebih keras dari sebelumnya, kekawatiran pada keadaan kakak kesayangannya membuat nani cemas berlebihan.
Nani memang lebih dekat dengan mas Nano, karna usia yang terpaut lumayan jauh.
"Mas Neno tidak mencemaskan mas Nano sama sekali ya." ucap Neno saat dirasa sudah lebih baik.
Dipegannya kedua pundak Nani "Bukannya mas neno tidak cemas dek, dari pada kita kalut berlebih sebaiknya kita berdo'a semoga mas nano tidak apa-apa dek." ucap Neno menguatkan. "Siapa tau ini hanya pingsan biasa." imbuhnya.
"Sebaiknya kalian berdua pulang saja jangan panik, kalo ada-apa jangan sungkan menghubungi bapak." ucap paman Ari menawarkan bantuan.
"Terima kasih pak." sahut Neno.
Kemudian Neno dan nani mohon diri untuk pulang, mereka bersepeda beriringan.
Neno dan Nani lebih suka bersepeda dari pada harus bermotor. Karna tempatnya bekerja dari rumah tidaklah terlalu jauh, masih mudah di jangkau.
Paman air nampak memikirkan sesuatu, mendengar kejadian tadi membuatnya ikut cemas. Karna paman air tau kedekatannya dengan putri semata wayangnya, ya walaupun masih sebatas kekasih dan belum ada ikatan resmi.
"Apa aku harus memberi tahukan kabar ini pada Linda." paman Ari bergumam sendiri. "Kurasa tidak perlu aku takut Linda cemas" imbuhnya kemudian.
Akhirnya paman Ari memilih berkemas dan meninggalkan pekerjaannya.
Dikediaman keluarga Linda, Rindu masih setia di bawah selimut yang membungkus dirinya dengan rapi.
__ADS_1
Hari ini adalah hari sabtu yang menyenangkan bagi siapa saja yang akan melewati malam dengan pasangan masing-masing.
Tingtong...tingtong....
Alaram yang Rindu pasang berbunyi, nampak tangan putih Rindu hendak meraih benda yang mengganggu hibernasinya.
"Sudah pukul 16:00 rupanya." ucap Rindu sambil merenggangkan ototnya yang kaku. Segera iya bangkit dan menyambar handuk di gantungan.
"Tunggu-tunggu, foto bangun tidur check." ucap Rindu seraya mengarahkan ponsel pada dirinya.
Brrraaakkkk...
Pintu kamar Rindu terbuka dengan sangat keras, sampai membuat tubuhnya berjingkat kaget.
"Duh kaget tau, menyebalkan sekali!!" umpat Rindu.
Pelukan Linda membuat Rindu terkesiap, heran dengan kelakuan kakak sepupunya yang baru datang tiba-tiba memeluknya.
"Kak, kak Linda." tanya Rindu dengan suara pelan.
Yang terdengar hanya suara isakan tangis Linda, selang beberapa menit kemudian Linda melepaskan pelukannya. Lelehan air mata ia sekah dengan telapak tangannya yang lentik.
"Ada apa kak?" Rindu mengulangi kalimatnya.
"Bisa ikut aku Ri?" Tanya Linda kemudian.
"Ya kemana?" Tanya balik Rindu.
"Antar aku kekota." ucap Linda paruh.
"Penting sekali, sampai harus mengajakku." tanya Rindu lagi, mengingat jika Linda ke kota untuk membeli bahan desain baju tak pernah linda mengajaknya.
"Nanti ku ceritakan di jalan, cepatlah." terang Linda, Linda pun bergegas pergi untuk mencuci wajahnya yang sembab.
Rindu dan Linda kemudian bersiap-siap, bibi Winy yang sedang ada arisan hanya di tinggali memo kecil di depan pintu lemari ice.
Mama aku mengajak Rindu pergi kekota mungkin untuk dua hari ini, mama tidak perlu cemas.~luv u Linda.
Linda sengaja meninggalkan memo singkat agar mamanya tidak kuwatir, karena biasanya Linda tidak pernah pergi lebih dari sehari jika untuk membeli keperluan desain barunya.
,,,,,
,,,,,
,,,,,
,,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu
__ADS_1