
Teriakan Doni menggema disetiap sudut rumah mewah kediamannya. Mencari sosok yang pergi tanpa seijinnya semalam. Padahal besok adalah hari pernikahannya. Bukan Doni namanya jika tidak bisa menemukan apa yang ia cari.
Wanita cantik nan anggun berjalan santai. Menyapa satu persatu ART dan pengawal rumah itu.
"Maaf Non Sita. Den Doni menunggu anda sarapan pagi tadi." Ucap mbak Sahiddah.
"Doni sekarang ada dimana mbak?"
"Ada diruang kerjanya Non." Terang mbak Sahiddah.
Mbak Sahiddah adalah kepala ART dirumah ini. Umurnya memang bisa dibilang masih tergolong muda sekitar yah 37tahun.
Suara langkah cepat Sita menggema menuju ruang kerja Doni. Diketuknya pintu besar itu secara perlahan.
"Mas apa Sita boleh masuk." Ucap Sita begitu lembut.
"Masuklah." Ucap Doni datar.
Sita berjalan teratur kearah dimana Doni kini berdiri. Penampilannya tampak begitu segar dengan rambut dibiarkan tergerai begitu saja.
"Kemarilah cepat."
Ragu Sita mendekat kearah Doni tanpa jarak. Lama menunggu Sita mendekat Doni meraih pegelangan tangannya. Mendekatkan keningnnya pada kening Sita.
"Apa ini? Kenapa bau alkohol begitu mendominasi?" Tanya Doni dengan mata terpejam.
"A-aku. Aku," terbata-bata Sita menjawab.
Dibaliknya tubuh Sita. Kini Doni memeluknya dari belakang. Meletakkan dagunya pada pundak Sita. Gemuru nafas Doni terdengar jelas oleh indera pendengaran Sita.
"Apa kau membawakan oleh-oleh untukku?" Tanya Doni sedikit melemah seolah menahan sesuatu.
"Oleh-oleh?" Tanya Sita bingung.
Doni mendorong Sita hingga terduduk diatas sofa. Perlahan Doni mendekatkan tubuhnya. Menindih tubuh Sita dengan dada bidangnya. Dua benda sakral milik Sita beradu dengan dada doni. Panik.
Sita semakin panik.
Doni menarik tubuhnya menjauh dari Sita. Membuang muka menatap sisi lain ruangan itu.
"Ya oleh-oleh. Apa kau membawakannya untukku."
Sita merapikan bujunya yang sedikit berantakan. "Oleh-oleh apa yang kau maksud Mas?" Tanya Sita ragu sambil menggigit bibir bawahnya.
Pyaaarrrrrr.
Vasbunga melayang. Memecah keheningan sesaat.
Sita terperanjat.
"Disini." Tunjuk Doni pada perut rata Sita. "Apa kau sudah membawakanku buah. Buah hati dari hasil hubunganmu dengan mantan sialanmu itu!!!" Intonasi bicara Doni meninggi.
"A-aku tidak tau apa maksud Mas Doni." Kelit Sita.
Tanpa mendebat lagi Doni meniggalkan Sita sendiri diruangan itu.
Siaal kenapa bau minuman laknat ini masih juga tertinggal. Batin Sita.
Memejamkan mata sejenak tuk menghalau air matanya menetes.
Sekelebat ingatan pagi tadi terlintas.
Doni seoalah tak percaya bagaimana penjagaan ketatnya jebol. Kenapa pengawal-pengawal terbaik Doni bisa dikelabuhi orang paling berharga dirumahnya.
__ADS_1
Doni baru mengetahui ketidak hadiran Sita saat akan memulai sarapan pagi ini.
Flashback on.
"Frans cari keberadaan Sita." Ucap Doni melalui panggilan telephone.
Bukan masalah besar bagi Frans untuk menemukan apa yang diinginkan Doni.
Pasalnya Frans sudah menempelkan alat pelacak pada benda yang tak mungkin lepas dari tangannya, dari tangan gadis pujaan Doni.
"Dasar wanita keras kepala. Apa kurangnya Doni bagimu. Sungguh merepotkan aku saja." Umpat Frans dalam mobil yang bergerak meninggalkan apartement miliknya.
Terlihat Frans menekan ponselnya sengaja ia memantau alat pelacak itu dengan ponsel.
"Dapat." Pekik Frans.
Ia mengikuti titik merah yang bergerak pada layar ponselnya.
Kini Frans sudah memarkir mobilnya sedikit lebih jauh dari rumah yang menjadi lokasi yang tertera pada ponselnya.
Seorang wanita keluar dari dalam bangunan yang tengah Frans awasi.
"Itu dia." Belum sempat Frans turun dari mobil wanita itu sudah menaiki sebuah mobil yang sepertinya sudah ia pesan secara online.
"Siall!" Ucap Frans dengan memukul setir bundar didepannya.
Frans bermaksud mengikuti arah kemana Sita pergi. Sesaat ia mengalihkan pandangannya. Seorang pria terlihat keluar dari pintu yang sama. Saat Sita keluar tadi.
Karena takut kehilangan jejak, Frans berlalu mengikuti mobil yang ditumpangi Sita.
"Siapa pria tadi. Siaalll." Umpat Frans yang tidak tau Wajah pria itu karena tertutup masker dengan kepala tertutup topi hoodienya. Karena takut akan amukan Doni jika ia kehilangan jejak wanitanya. Frans memilih berlalu mengejar Sita.
Frans sedikit lega melihat mobil itu menuju kediaman Doni.
Kemudian dengan detail Frans menceritakan semuanya kepada Doni. Berharap pintu hatinya terbuka, bahwa Sita tidak pantas menerima seluruh cinta dari Doni.
Flasback on.
Punggung lebar Doni menghilang dibalik pintu.
Sita menangis sejadi-jadinya.
Mungkinkah.
Mungkinkah setelah ini bisa berjalan baik-baik saja .
Mendengar tangisan pilu Sita, Sahiddah memberanikan diri mendekati Sita.
"Mbak Sahiddah... " Sita menangis sejadi-jadinya dipelukan Sahiddah.
Sahiddah tak memiliki cukup keberanian hanya untuk sekedar bertanya ada apa?
Hanya pelukan yang mampu bisa ia berikan sebagai sandaran.
Derai air mata menganak sungai. Suara tangis sesenggukan memenuhi ruangan. "Mbak Sahiddah... " berulang kali hanya itu yang mampu keluar dari bibir Sita.
Malu.
Mungkin malu yang membuatnya membisu. Sungguh yang sudah terjadi tidak seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya.
"Tenanglah Non Sita. Tenanglah." Ucap Sahiddah dengan mengusap lembut punggung Sita.
Dirasa Sita sedikit lebih tenang Sahiddah pun keluar meninggalkan ruangan kerja Doni.
__ADS_1
Dikediaman Doni.
Sita memang merasa nyaman bisa mengenal Sahiddah. Setidaknya selama dirumah ini Sita tidak merasa sendiri.
***
Diruangan berbeda.
Doni menukul samsak secara brutal. Tanpa mengunakan pelindung atau semacamnya.
"SIIAALLLL!!!" Umpatnya berkali-kali.
Tangannya terlihat memar kebiru-biruan nyaris sedikit memerah mengeluarkan darah.
Frans yang melihat itu merasa tak tega. Harusnya Frans menyimpan kelakuan Sita untuknya sendiri. Alih-alih membuat Doni sadar, tapi nyatanya Doni makin menggila.
"Hentikan."
"HENTIKAN AKU BILANG!!" Teriak Frans kemudian. Sambil meraih tangan Doni yang masih mengepal yang hendak menjatuhkan pukulannya kembali.
"Aku harus apa Frans katakan? Aku harus apa haahh!!" Teriak Doni frustasi. Kini dia terduduk dilantai. "Aku gagal. Aku sudah gagal." Gumam Doni lirih nyaris tak terdengar.
Kedua orang tua Sita mempercayakan Sita kepada Doni. Itu yang membuat Doni frustasi.
"Kau bisa tinggalkan dia." Tungkas James yang terlihat memasuki ruang fitness itu.
Doni seketika menoleh dengan sorot mata tajam yang sudah memerah menahan tangis dan amarah.
Frans menggeleng. Mendengar ucapan James tanpa filter.
"Jaga bicaramu!" Ucap Doni penuh penekanan. Sambil mengakat kerah baju James penuh amarah.
"Ayolah. Jangan bodoh Doni." Sedikit jeda. "Kau harus bisa memilih." Ucap James kemudian.
"Maksudmu apa Jams?" Tanya Doni. Melepaskan kedua tangannya dari kerah baju James.
James merapikan sedikit kerah bajunya. "Tenanglah biarku jelaskan," ucapan James menggantung. James berjalan menuju lemari ice diruangan itu. Mengambil minuman dingin bersoda.
"Pergi darinya(Sita)." Ucap James dengan melempar minuman itu kearah Frans. " atau hapuskan sialan itu." Imbuh James dengan meminum habis minuman bersoda itu dan melempar tepat ketempat yang seharusnya.
"Dan kau bisa memiliki dia(Sita) sepenuhnya." Ucap James sambil melempar satu lagi minuman yang masih ia gengam.
"Tunggu. Apa kau yakin Frans tidak melihat laki-laki itu?" Tanya James. Menoleh pada salah satu temannya.
"Aku yakin itu adalah mantan sialan Sita." Tungkas Doni.
Frans hanya mengangkat bahunya.
Tidak berminat mendebat Doni dalam kondisi yang tak baik.
Otak ketigannya memang sudah lama terhubung, sangat mudah untuk mengartikan perkataan James. Arti dari memilih.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.
__ADS_1