AKU RINDU

AKU RINDU
HAK SETELAH MENIKAH


__ADS_3

Setelah sedikit mereda dengan melampiaskan amarahnya pada benda-benda yang menjadi saksi sakit hatinya. Serta adanya teman rasa saudaranya, sesak itu seakan menguap.


"Oke. Sekarang aku akan pulang." Pamit James pada kedua temannya.


"Ya pulanglah." Ucap Frans.


James melenggang santai keluar dari ruangan fitness milik Doni. Matanya terkunci pada sosok wanita ayu didepannya.


Sahiddah. Batin James.


Berusaha cool, james berlalu menuruni tangga. Sedikit besenandung lirih.


Diruangan itu Doni masih enggan untuk banyak bicara. Frans sibuk dengan telfon genggamnya.


Pyaaarrrrr


Kaca besar diruangan itu pecah.


Frans berjingkat kaget.


"Don jangan seperti ini. Gunakan otakmu jangan ototmu."jeda sejenak. "Apa perlu kita hapuskan secepatnya." Imbuh Frans.


Frans adalah sosok pria misterius yang tidak banyak bicara. Sebelumnya apa yang ada disekitar Doni berjalan baik karenanya. Lebih tepatnya sebelum Sita menjadi seorang pembangkang.


"Aku mau kau lakukan sekarang! Jika kau tak sanggup aku bisa sewa orang bayaran." Ucap Doni dingin.


"Simpan uangmu." Ujar Frans.


"Cih. LA-KU-KAN SEKARANG!!!" kini nada bicara Doni meninggi.


"Tenanglah. Aku yang akan urus segalanya." Frans menenangkan.


Dengan langkah panjang Frans meninggalkan Doni. Mengatur segalanya sendiri. Kali ini dia tidak akan bersikap gegabah seperti sebelum-sebelumnya. Tidak ada orang yang bisa ia andalkan, sekalipun orang itu adalah James.


****


Air mata yang terurai kadang kala membuat hati yang sesak mereda. Terlihat mata indah sita masih memerah, matanya pun kian menyipit karena tangisnya.


"Kebodohan macam apa ini. Besok sudah hari pernikahanku mengapa aku masih belum bisa menerimanya. Sepajang perjalan hidupku Mas Doni begitu pengertian. Apa aku terlalu egois hingga tak bisa memahaminya." Celoteh Sita lirih.


"Aaarrrggghhhh."


Berteriaklah sekencang-kencangnya. Lepaskan beban seakan menghimpit hati. Sita berjalan gontai menuju kamar mandi ditanggalkannya satu persatu baju yang melekat dibadan.


Mengguyur tubuhnya dibawa air dingin, mencoba menggugurkan rasa yang menyiksa. Jalan yang salah, jalan yang menghancurkannya, jalan yang ia tapaki dengan tidak sadar. Dalam semalam nikmat sesaat yang membuatnya terluka seumur hidup. Air matanya kembali menetes tersapu air yang mengenai wajah manisnya.


Cukup lama Sita berada didalam sana.


Tidak tau seseorang sudah berada didalam kamarnya. Menatap kosong kearah jendela.


Ckleeekkk


Sita keluar dengan menggunakan bathrobe sebatas paha. Terlihat kaki jenjang itu tersingkap seiring langkahnya menuju lemari baju diruangan itu.


Derap langkah kaki terdengar pada pendengaran Sita. Tangan kokoh itu memutar tubuh sita agar menghadap kearahnya.


"Bagian-bagian mana? Katakan padaku?" Ucap Doni lirih. Jaraknya kini hanya terhitung centi. Tangannya memegang kuat bahu Sita.


Sita hanya tertunduk dengan menggigit bibir bawahnya. Memainkan ibu jari kakinya.


Dipeluknya erat tubuh Sita. Deru nafas Mas Doni semakin tidak beraturan.


Apa Mas Doni menangis. Batin Sita.


Apa yang Sita lihat dari seorang Setya.


Jika Doni mau, mungkin Doni sudah memaksakan keinginannya. Merenggut apa yang sudah menjadi haknya setelah menikah.


Ditakupnya kedua pipi Sita dengan lembut.


"Sayang. Mengapa dari awal perjodohan ini kamu tidak menolaknya. Mengapa setelah aku terlanjur teramat sangat mencintaimu kau malah menduakanku?" Keluh Doni.


Sita masih bergeming namun saat mata itu melihat dekat kearah yang sama, Sita melihat ketulusan disana.


Ketulusan cinta yang tak pernah mengharap apa-apa.


"Maafkan aku Mas."

__ADS_1


Air bening menetes tanpa aba-aba dari pemiliknya.


Rasa bersalahnya semakin membesar setelah ia melihat langsung dari sorot mata teduh Doni.


"Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman." Ucap Doni dengan mengusap lembut pucuk kepala Sita. "Beristirahatlah." Sambil berlalu dari kamar Sita. Menutup pintu perlahan.


Doni melangkah gontai menuruni tangga.


Tak menghiraukan langkah kaki kecil mengikutinya. Bahkan suara wanita itu tak didengar hingga berjarak sangat dekat baru Doni terkoneksi. Sinyal kali koneksi.


"Den, Den!"


Doni menoleh kearah sumber suara.


"Ya Sahiddah ada apa?" Tanya Doni.


"Maaf makan malam sudah siap." Tutur Sahiddah.


"Aku akan makan diluar." Sejenak memberi jeda. "Sahiddah, ingatkan Sita agar segera makan." Ucap Doni sambil berlalu meninggalkan kediamannya.


Ucapan Doni dirumah ini adalah perintah yang harus dipatuhi. Sahiddah segera mencari dimana keberadaan Sita. Menyampaikan apa yang telah tuannya mandatkan.


Menuruni tangga berdua menuju meja makan yang cukup besar dengan berbagai macam hidangan.


"Mbak Sahiddah temani saya makan." Pinta Sita.


"Maaf Non. Saya harus tetap menjaga batasan." Tegas Sahiddah.


"Ayolah. Aku sudah menganggapmu seperti keluargaku sendiri. Apa mbak sahiddah tidak mengasihaniku?" Rayu Sita dengan mimik wajah dibuat seolah sedih.


Merasa tak enak hati Sahiddah pun menuruti kemauan Sita.


Tak ada percakapan. Hening.


Bahkan tak terdengar sendok garpu beradu dengan piring. Detak jarum jam besar disudut ruangan itu yang seolah memberi instrumen tersendiri. Untuk memecah keheningan yang tercipta.


Terlihat Sita sedikit melirik Sahiddah yang sedang makan dengan hikmat. Menikmati sesuap demi sesuap. Mengecapkan perlahan tanpa menimbulkan sidikit pun suara. Mimik wajah Sita tampak gelisa terlihat ada sesuatu yang ingin ia sampaikan namun tertahan.


*****


Tok tok tok


"Kenapa Setya tidak menjawab ya No." Ucap Hari.


"Gimana apa kita tinggal saja?" Tanya Nano.


"Ya sudah kita tinggal saja. Lagi pula kita hanya akan pergi sebentar untuk melihat butik Lindakan." Ucap Hari.


"Ya sudahlah."


Mereka pergi berboncengan membelah jalan yang rame dan bising. Suara klakson saling bersautan, bahkan lampu lalu lintas menunjukkan warna merah tak menyurutkan sang empunya kendaraan.


"Astagah, apa mereka tak melihat jika lampu masih berwarna merah." Umpat Hari yang berada dibelakang pengemudi.


"Kurasa mereka buta warna Har. Hahahah." Sahut Nano.


"Hah kau ini."


Jarak bakal butik Linda dengan tempat kerja Nano lumayan jauh kira-kira memakan waktu tiga puluh menit. Itu kalau tidak ada macet dan sejenisnya.


Kini keduanya sudah ada dipelataran parkir motor depan butik Linda. Terlihat bangunan yang sudah berdiri kokoh.


"Selamat malam Mas Nano." Sapa pengawas disana.


"Malam Pak. Sepertinya ini sudah siap beroprasi ya Pak." Tanya Nano. Sambil menepuk-nepuk sisi bangunan itu.


"Tentu Mas. Tadinya saya akan menghubungi Mbak Linda. Untuk memberikan kabar jika butiknya sudah siap untuk beroprasi." Terang pengawas.


"Jangan Pak. Biar kita saja yang memberinya kabar." Tungkas Hari.


Seketika Nano menatap Hari dengan alis saling bertautan. Tidak mengerti apa maksud teman konyolnya yang satu ini.


"Baik Pak kami permisi. Silahkan anda lanjutkan kembali pekerjaan ada. Mari pak." Ucap Hari sambil mendorong paksa Nano agar pergi dari pelataran butik.


"No aku yang bonceng. Aku lapar kita harus mengisi bahan bakar." Terang Hari.


Nano hanya menurut saja. Membiarkan sejenak temannya ini melakukan apa yang dia mau.

__ADS_1


Sampailah di sebuah warung pinggir jalan yang bertuliskan SPECIAL PECEL LELE. Ya, warung beraneka penyetan dengan cita rasa sambal pedas yang digandrungi warga indonesia.


"Buk dua porsi pecel lele dua es jeruk." Hari memesan tanpa bertanya.


"Sudah?" Tanya Nano setelah berdiam diri cukup lama.


"Hehehehe. Sudah No." Ucap Hari kemudian sambil menggaruk kepalannya yang tidak gatal.


"Aku cuma akan mengajukan dua pertanyaan padamu." Ucap tegas Nano.


"Oke silahkan".


"Pertama. Maksud mu apa dengan melarang pengawas tadi memberitahukan langsung kepada Linda?" Pertanyaan pertama Nano.


"Itu. Ya maksud ku kita akan memberi kejutan untuk Linda. Kita akan bawa linda kemari." Jawaban masuk akal Hari yang kedengarannya menarik. "Lanjut pertanyaan kedua." Imbuh Hari.


"Oke. Pertanyaan kedua. KENAPA KAU MEMESAN TANPA BERTANYA DULU!!". Teriak Nano pada indra pendengaran Hari.


"Astagah No. Kenapa berteriak. Aku tidak tuli." Ucap Hari dengan meniup genggaman tangan yang sedikit renggang lalu menempelkannya pada daun telinga berulang kali.


"Kau tau aku tidak suka lele penyet. Dasar seuumbarangan!" Sentak Nano.


Berlalu meninggalkan Hari yang masih shock terlihat saat tangannya mengusap-usap dada bidangnya.


Terlihat Nano berbicara dengan ibu yang sibuk berkutat dengan alat penggorengan.


Setelah selesai mengutarakan maksudnya Nano pun kembali duduk ketempat semula.


"Gimana No bisa di cancelkan?" Tanya Hari.


"Cancel gundulmu. Mana bisa pesanannya sudah matang." Terang Nano.


"Lalu?" Masih kuekeh bertanya.


"Diam atau mau ku suruh ibu itu menggorengmu hah!" Sentak Nano.


"Lo resek kalau lagi lapar." Sindir Hari.


"Tidak usah iklan."


"Silahkan Mas." Ucap penjualnya dengan meletakkan minuman dan dua porsi makanan diatas meja dengan satu porsi yang sudah terbungkus rapi.


"Terima kasih Pak." Ucap Nano.


Keduanya makan dengan hikmat. Suasan disekitar cukup ramai pengunjung terlihat keluar masuk warung. Tak banyak yang berhenti untuk makan ditempat. Mereka cenderung membungkusnya untuk makan bersama keluarga tercinta dirumah.


"Berapa semua Pak." Tanya Nano pada penjualnya.


"Tujuh puluh ribu Mas." Ucap penjual.


Setelah melakukan pembayaran mereka memutuskan untuk kembali kemess.


Waktu semakin larut namun tak menyurutkan ramainnya kota.


Setibanya diarea parkir keduanya berjalan santai membelah pelataran mess yang sunyi sepi. Di jam yang sedikit larut pelataran mess memang cenderung sepi. Mungkin sesekali saja ada yang lewat.


Sial...bau melati dari mana nih. Gumam Nano dalam hati. Tanya Hari gaya. Tapi dia kok nyantai bener. Masih ngomong sama diri sendiri.


Hari terlihat bersiul santai dengan menenteng sebungkus nasi salah pesan tadi. Matanya menatap lurus kedepan.


Bo*o amat percepat aja jalan. Tar juga Hari ngikuti. Batin Mas Nano.


"Issh No. Kenapa jalanmu jadi cepat begitu?" Tanya Hari dengan mengikuti langkah panjang Nano.


Hingga ditikungan koridor pertama tertangkap dua sosok yang sangat Nano hafal.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu

__ADS_1


__ADS_2