AKU RINDU

AKU RINDU
IKATAN HALAL


__ADS_3

Bayangang itu muncul, saat Setya menjadi yang pertama baginya. Saat tembok pembatas runtuh di terjang Nafsu.


Tatapan Sita tampak kosong, pandangannya jauh menembus dimensi waktu.


FLASHBACK ON


Tok tok tok.


"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Sita pada seseorang didalam.


Sita berada tepat didepan pintu kamar mandi. Sedikit menghindar saat orang yang ada didalamnya melangkah keluar.


Memperhatikan Setya mengambil potongan-potongan baju yang teronggok dilantai. Kini Setya hanya melingkarkan handuk dari pinggang sebatas lutut. Menampakkan perut datar bak roti sobek.


Tuhan apakah tubuh itu. Tubuh yang membuatku bertekuk lutut. Ataukah minuman laknat yang telah meracuniku. Batin Sita.


Setya masuk kembali kedalam kamar mandi sesaat kemudian keluar dengan baju lengkap menempel dibadan.


"Maaf, maafkan aku Sita." Ucap Setya penuh penyesalan. "Aku,"


Belum sempat Setya melanjutkan kalimatnya, Sita mengecup ringan bibir Setya.


"Jangan salahkan dirimu sendiri. Ini juga salahku. Tidak seharusnya aku memintamu untuk menemuiku semalam, dengan kondisi yang tidak waras," tutur Sita.


Sita berdiri.


Melangkah masuk pada bilik kecil dikamar itu. Menggunakan bathrobe putih untuk membungkus tubuh polosnya.


Setya menyunggar kasar rambutnya. Apa yang akan terjadi setelah ini. Sepuluh menit bergelut dengan fikirannya. Pandanganya teralih pada suara pintu yang terbuka.


"Jangan memikirkan ini. Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi Setya," Ucap Sita.


"Aku harus kembali. Aku berharap bisa melupakanmu setelah ini," Ucap Sita parau. Air mata menyeruak pada kedua bola matanya.


Merapikan kembali bajunya. Menyisir rambut secara perlahan. Menghapus air mata penyesalan. Apa yang terjadi semalam hanya mereka berdua yang tau. Apa yang keduanya lakukan sudah sejauh mana.


Noda merah terlihat mengotori badcover putih yang tergeletak diatas tilam.


Setya kembali tersadar dari lamunannya. Perkataan Sita pagi ini sungguh tidak masuk akal. Bagimana semudah itu.


"Apa yang kau pikirkan?" Ucapan Sita tampak tenang. Tak ada gurat ketakutan.


FLAHSBACK OFF

__ADS_1


Mengingat itu membuat Sita berurai air mata, menyesal pun percuma. Semua sudah terjadi. Bahkan sampai saat ini rasa yang tak biasa itu makin menjeratnya.


"Sita!" Suara Mas Nano membuyarakan lamunannya, "Apa kau baik-baik saja?".


Sita tersenyum, namun senyum itu terasa hambar bagi Nano. Senyum yang dipaksakan. Ada kekawatiran disana. Sita bukan Setya yang bisa ia tanya secara detail.


"Baiklah aku harap kau bisa mempertimbangkan perkataanku. Jangan sampai menyesal dikemudian hari," ucap Mas Nano. Kemudian berlalu meninggalkan Sita.


Air mata mengalir deras dikedua pipinya. Dosa yang harus ia hindari malah menjadi candu yang selalu saja menghampiri. Cinta buta membuat ia melakukan apapun tanpa pikir akibatnya.


Dengan langkah gontai Sita menuruni tangga. Disana sudah ada james yang menampakkan wajah penuh tanya.


Hingga ia disambut karyawan yang menawarkan berbagai gaun yang tampak anggun.


Sita mengedarkan pandangan, mungkin ia mencari sosok Nano. Rasanya sedikit lega tidak ada keributan tercipta.


Lain hal Sita masih tak menyangka bisa bertemu kawan lama ditempat ini. Sita tidak tau jika pemilik butik ini adalah kekasih Nano.


Untuk benar-benar terhindar dari cinta butanya Sita memutuskan segera melangsungkan pernikahan dengan Doni. Mencoba menerimanya dengan hati.


Namun pertemuan siang itu membuat gundah dihati Sita yang mulai mantap goyah, bisakah Doni menerimanya yang sudah ternoda.


****


Bude menyisir lembut rambut sang putri, "Lin, setelah ini pasti Mama akan merindukanmu."


Linda tersenyum, kemudian berbalik dan menggenggam kuat tangan Mama, "Mama semua tidak akan berubah. Kita masih bisa bertemu."


Belum apa-apa sudah berderai air mata. Bagaimana nanti jika sudah hari-H. Pasti makin mengharu biru. Penuh suka cita.


Berbagai macam kudapan telah siap, seminggu menjelang hari-H, kediaman Pade Ari sudah mulai ramai orang mempersiapkan. Bagaimana tidak ini adalah hari penting putri tercinta.


Melodi penuh cinta menggema mengiringi. Tenda sudah berdiri didepan rumah. Dua buah batang pisang menjadi pilar sambutan pada kedua sisi pintu masuk para undangan.


Penjor dari bambu yang dihias dengan janur sebagai penanda lokasi hajatan atau acara. Diletakkan sebagai dekorasi di ujung jalan sebagai pertanda menuju tempat acara.


Mayang Sari lumrah ditemui pada momen acara pernikahan masyarakat setempat. Seni merangkai janur yang satu ini biasanya ditempatkan di samping kanan dan kiri kursi pelaminan. Mayang sari tingginya kira-kira 180 cm, jumlahnya 2 buah, bentuknya boleh sama atau berbeda tergantung selera. Bagian-bagiannya sendiri terdiri dari mahkota (kipas, buah-buahan dan bunga), badan bagian atas, badan bagian bawah dan tatakan. Pada bagian ujung atasnya dihias dengan buah-buahan atau bunga hidup.


Pada acara adat pernikahan Jawa sepasang hiasan kombinasi janur, buah-buahan, serta bunga-bungaan dipajang di tepi pelaminan pada upacara perkawinan, yang disebut kembar mayang "mayang sepasang" sebagai simbol penyatuan dua individu dalam wadah rumah tangga.


Hari yang sudah lama ditunggu-tunggu tiba, kedua mempelai disandingkan didepan penghulu.


Mas Nano tampak rapi dan gagah dengan kemeja putih dan jas hitam.

__ADS_1


Wajahnya terlihat tegang. Mungkin ia sedang gugup. Dengan satu tarikan nafas ijab qobul yang berujung kata sah menggema diseluruh ruangan.


Kebaya berwarna putih membalut tubuh ramping Linda. Wajahnya tampak bersemu merah tertunduk dalam mencoba untuk menyembunyikan.


Rindu turut menyaksikan duduk tak jauh dengan Kakak sepupunya. Menggunakan kebaya dusty yang pas ditubuh. Rambut panjang yang dibiarkan tergerai menutupi leher jenjangnya.


Mata Bude Winy berkaca-kaca, sedih bercampur bahagia. Sedih karena harus merelakan putri yang sudah ia besarkan akan menjadi milik orang. Bahagia menyertai karena kini Linda sudah menemukan sosok yang akan menjadi imam dalam hidupnya selain Pade Ari. Sosok yang bisa mencintainya sepenuh hati.


Acara digelar mewah, banyak kolega-kolega Pade Ari. Disana juga ada Bahtiyar, Dian, dan kedua teman Nano Hari juga Setya.


Dengan isengnya Dian menenpelkan tissu pada kening Rindu. Rindu hanya berdiam dengan mencebik kesal. Ada saja kelakuan temannya yang satu ini hobby sekali mengganggunya.


Hari tak lagi memanas karena sudah berlapang dada jika Rindu bukan jodahnya. Kini dia datang dengan wanita yang bisa dilihat dari kedekatan mereka layaknya sepasang kekasih.


Seperti biasa Setya menikmati acara dengan caranya. Berdiam dan sesekali mengobrol singkat untuk sekedar menyambut para undangan yang datang silih berganti.


Pade Ari terlihat menghapiri Bahtiyar yang tampak canggung. Mempersilahkan patner kerja keponakannya agar tak merasa asing ditempatnya kini, Pade mencoba mencairkan suasana, "Bagaimana? Apa keponakan saya merepotkan anda Tuan?"


"Tidak. Tentu saja tidak. Rin cukup cepat dalam mempelajari sesuatu," tutur Bahtiyar.


Pade Ari mengangguk, kemudian berpamitan untuk menyambut tamu yang lain, "Mari, mari silahkan nikmati acaranya. Saya tinggal dulu."


"Silahkan Tuan Ari," jawab Bahtiyar.


Mata biru Bahtiyar terlihat mencari-cari sesuatu hingga terarah pada orang yang belum lama menjalin kerja dengannya. Sorot mata tajam Bahtiyar tak lepas dari sosok didepannya.


Astagah childish sekali. Dasar bocah. Batinnya saat melihat Rindu tengah bersenda gurau dengan Dian.


Semakin larut semakin banyak para tamu silih berganti berdatangan. Berfoto bersama dengan mempelai serta mengucapkan selamat. Kebahagia terasa disepanjang acara, bahkan sebelum acara dimulai.


Dua keluarga yang berbaur menjadi satu dalam jalinan pernikahan, tak ada canggung mengingat mereka bertetangga hanya berjarak beberapa rumah saja.


Sunggu malam membahagiakan sebuah hubungan dalam ikatan halal. Tidak ada jarak yang memisahkan. Bergandengan tangan atau semacamnya tidak lagi jadi gunjingan. Semoga hubungan yang sudah terjalin ini tidak ada yang bisa memisahkan.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,

__ADS_1


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.


__ADS_2