
Linda terlihat mengatur sebuah kalimat yang pas. Jari lentiknya bergerak ringan pada dagu runcingnya. Mata sipitnya sebentar melirik kekanan sebentar melirik kekiri.
Hembusan nafas terlihat dari bibirnya yang membulat mengeluarkan CO2.
nampaknya dia bingung harus memulai kalimatnya darimana, tapi kalau dipikir-pikir paman Ari tidak pernah berkeberatan jika membiarkan Linda pergi dengan Mas Nano selama ini. Satu detik, dua detik dan___.
"Ma, Pa Linda besok pamit ya? Mas Nano besok akan menjemput Linda untuk melihat sebentar butik yang akan Linda tempati." Pamit Linda lengkap dengan tujuannya.
Paman Ari sedikit meninggikan sebelah alisnya. Mencerna kalimat yang terlontar pada bibir buah hatinya. "Besok? Kenapa tidak menunggu sampai hari minggu, atau sabtu depan?" Tanya balik Paman Ari.
"Eemm kelamaan Pa jika harus menunggu sampai minggu atau sabtu. Lagi pula Linda akan Langsung Balik kok Pa." Terang Linda dengan sedikit rengekan kecil. Tak lupa tangannya menguncang sedikit lengan sang Papa.
"Jangan langsung balik. Kasihan Nano. Bukankah besok masih hari kerja?" Sahut Bibi Winy. "Bukankah disana ada Pakpuh." Imbuhnya.
"Ah iya kenapa Linda sampai tak terpikirkan ada Pakpuh disana ya. Hahaha." Ucap Linda. Dengan tawa diakhir kalimatnya
"Ya sudah biar Papa hubungi Pakpuh Teguh dulu." Paman Ari melangkah menuju telfon merah yang berada tidak jauh dari ruangan itu.
"Hallo assalamualaikum. Mas Teguh, begini Linda besok akan kekota. Titip Linda sehari ya? Biar dia menginap dirumah Mas." Ucap Paman Ari pada seseorang disebrang sana.
"Baiklah. Terima kasih Mas. Assalamualaikum." Sambunga telephone pun terputus.
Terlihat Linda berhambur memeluk pria yang menjadi cinta pertamannya itu. Pria yang sudah membesarkanya dengan penuh rasa cinta kasih yang tak terhingga.
Rindu sedikit menunduk, sedikit ada getaran lain dihatinya. Iri. Bukan iri itu sangkal Rindu selama ini. Cinta dari kedua orang tua dirumah ini sama besar kepadanya. Bukan cemburu karena kurang kasih sayang. Tapi Rindu cemburu karena selama ini tidak pernah bertemu keluarga yang sesungguhnya. Keluarga utuh seperti ini.
Rindu menyeka air mata yang sedikit menyeruak paksa disudut matanya.
Tanpa ia sadari seseorang memperhatikannya. Melihatnya dengan teduh terlihat sorot mata sayu. Mengerti arti dari butiran bening yang merembes pada kedua sudut mata keponakannya.
"Rindu sayang kemarilah?" Pinta Bibi Winy. "Apa kau merindukan ibumu?" Imbuhnya.
"Bibi..." Rindu berhambur memeluk erat Bibinya. Air mata yang keluar sedikit lebih deras. Isak tangis terdengar.
Tangan lembut mengusap punggung Rindu yang bergetar.
Orang tua memang wajib memberikan materi yang cukup untuk anak mereka. Tetapi tidak serta merta meninggalkan anak tanpa peduli bagaimana dan seperti apa keadaannya. Uang, memang semua butuh uang. Tapi uang tidak bisa mengembalikan masa-masa bahagia bersama anak dan keluarga.
"Jangan kerasa kepala Rindu. Jika kau merindukan ibumu. Hubungi dia." Terang Bibi Winy. Kini Paman Ari sedikit terduduk mendekat kearah keponakannya. Pun sama dengan Linda.
"Ibu tidak sayang padaku Bi. Ibu tidak ingin sekali pun melihatku. Hanya uang yang ibu kirimkan," Ucap lirih Rindu disela tangis yang mereda.
__ADS_1
"Siapa bilang? Ibumu adalah adik Bibi. Tentu ibumu juga sangat-sangat menyayangimu. Seperti halnya Bibi." Tutur Bibi Winy.
Seolah mengerti apa yang Rindu rasa Linda pun meneteskan butiran bening pada sudut matanya. Memang seingat Linda dari bangku sekolah dasar Rindu sudah ditinggal kedua orang tuanya. Bahkan hanya foto yang tersimpan rapi menjadi pengobat jika Rindu tengah merindukan sosok ibunya.
"Ri apa kau mau iku bersama ku kekota besok? Nanti kita temui ibumu disana? Anggap saja yang lebih muda menghormati yang lebih tua dengan terlebih dulu mengunjungi." Terang Linda berharap agar Rindu bersedia mengikuti sarannya.
"Ikutlah bersama Kakakmu Ri." Paman Ari menimpali.
Rindu tak menjawab hanya anggukan ringan yang tercipta. Bukan tak menghormati saran orang tua. Namun Rindu masih ragu dengan hatinya. Antara ingin bertemu dan tak siap untuk bertemu.
Setelah berbincang untuk membicarakan kegundahan hati malam itu terlewat sedikit lebih serius dari biasanya. Lebih melow melow gimana gitu. Sedihnya hati mengalahkan gundah saat putus cinta.
***
Di tempat berbeda.
Dua wanita tengah berjalan santai setelah cukup puas melepas penat. Obrolan-obrolan ringan mengiringi langkah keduanya. Seolah tidak ada jarak sama sekali. Sesekali Sita mendaratkan pukulan ringan pada bahu Sahiddah.
Hingga suara seorang laki-laki menghentikan kesenangan yang tercipta.
"Sita berhenti!" Terdengar suara yang keduanya kenal. Siapa lagi jika bukan Doni sang pemilik istana.
"Ya Mas." Langkah Sita seketika itu berhenti. Pun sama dengan tawanya. Pudar seketika.
Sahiddah mengangguk. " Permisi." Pamitnya kemudian. Berlalu meninggalkan kedua majikannya.
Doni melangkah mendekati Sita. Dilingkarkannya tangan kekar itu pada pinggang ramping sita. Sedikit mendorong ringan agar menaiki tangga bersama.
"Apa hari ini kau senang?" Tanya Doni dengan suara yang lembut seperti biasa. Tangannya berpindah melingkar pada bahu Sita merangkulnya mesra.
"Tentu. Terima kasih Mas sudah mengijinkan ku untuk keluar sekedar berjalan-jalan santai." Ucap Sita.
"Apa kita bisa melanjutkan acara kita yang sempat tertunda?" Tanya Doni. Karena sejak menghilangnya Sita waktu itu Doni lebih hati-hati, tidak lagi memaksakan apa pun pada Sita. Pernikahannya ditunda.
"Eenn itu ya?" Sita sedikit bingung untuk menjawab.
Ragu masih tersimpan rapi dihatinya.
Terlebih sejak kejadian waktu itu. Ada rasa bersalah yang teramat sangat mendalam. Tidak bisa membalas kebaikan seseorang yang sekarang berada disampingnya.
"Apa kau masih ingin menundanya lagi?" Tanya Doni. Yang tak ingin Sita kabur karena belum siap dengan pernikahan atas dasar perjodohan kedua orang tuanya. Memberi waktu agar Sita bisa menerimanya.
__ADS_1
"Eenn gimana ya Mas apakah sudah terlambat jika aku___" Belum sempat Sita melanjutkan kalimatnya. Bib*r Doni menyambar bi*ir ranum Sita. Sedikit menciptakan rasa yang tak biasa diantara keduanya. Berbeda, rasa yang berbeda Sita rasakan. Sita sedikit mendorong tubuh besar didepannya. Namun tak membuahkah hasil kini tubuh itu makin membuatnya terbentur dinding. Kuc*pan lama yang membuat satu diantaranya bergemuruh dihati. Ke*upan yang awalnya ringan menjadi kecu*an panas penuh hasrat. STOP.
Seolah terkode. Doni mengakhiri aksinya. Tak ingin sesuatu yang lebih terjadi. Doni cukup bisa menahan apa yang pria lain tidak bisa menahannya. Bukan tak normal. Tapi Doni merasa perlu untuk membatasi diri dalam melakukan apa yang seharusnya tidak ia lakukan.
Sita mengatur nafanya yang tersegal. Ritme dihatinya seolah berlombat dengan detik jarum jam besar diruangan itu. Bahkan lebih cepat dari seharusnya.
Sedikit merapikan baju yang sudah rapi untuk menghilangkan canggung.
"Ekhemm, sebaiknya kau segera beristirahat." Ucap Doni. Dengan mengusap lembut pucuk kepala Sita.
Sita mengangguk, melangkah untuk membuka pintu yang sudah ada persis disampingnya. Membukanya dengan perlahan. Menutup pintu itu pun dengan perlahan.
Duggg
Terlihat tangan Doni memukul dinding didepannya. Keras, cukup keras pukulan itu ia layangkan. Terlihat sedikit darah keluar dari buku-buku jemari tangannya yang terkepal.
Biar bagaimanapun aku tidak akan melepaskanmu. Sita. Batin Doni.
Langkah panjang itu menuruni tangga dengan cepat. Melangkah tergesa keluar dari kediamannya. Kini langkah itu berjalan mendekati mobil yang masih terparkir tidak jauh. Mobil Audi a3. Sepasang mata Sita mengamati dari balik jendela saat melihat sorot lampu yang menyala dari mobil yang akan keluar.
Mobil Audi a3 itu menuju sebuah basement apartment. Siapa lagi yang akan ia temui jika bukan Frans.
Doni melangkah memasuki lift. Menekan nomor yang akan mengantarkan pada tujuannya datang pada gedung bertingkat yang ia pijak saat ini.
Setelah keluar dari ruangan kecil bergerak itu Doni melangkahkan kaki panjangnya pada salah satu pintu disana. 101 yang tertulis jelas pada pintu.
Mudah bagi Doni untuk masuk kesana. Mengingat Frans adalah saudara angkatnya.
Sebab kode akses keluar masuk ruangan itu Doni tahu.
Doni mendudukkan dirinya diatas sofa setelah mengambil minuman dingin didalam showcase kecil diruangan itu.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.