
Terik matahari menyengat kulit makhluk dibumi. Bisingnya jalanan menambah isi kepala orang-orang semakin meradang.
"Sial aku terlambat." Tergopoh-gopoh Setya melewati koridor pabrik.
Ruang HRD.
Jelas terbaca pada lempegan hitam yang terpasang didepan pintu.
Tok tok tok.
"Selamat siang Pak." Setya memberi salam.
"Selamat siang. Masuklah saudara Setya." Pak Wibi menjawab salam sekaligus memberi titah agar Setya masuk.
"Duduklah."
Segera Setya duduk berhadap-hadapan dengan pak Wibi. Ruang itu terasa sejuk dari alat pendingin, sedikit menghilangkan rasa gerah dibadan.
"Maaf Pak saya terlambat." Ucap Setya penuh penyesalan.
"Ini peringatan pertamamu." Tegas Pak Wibi.
"Ni Luh Kemarilah, buat surat peringatan untuknya." Tutur Pak Wibi pada sekertarisnya.
"Baik Pak." Ucap Ni Luh
"Setya kembali ketempatmu. Setelah ini temui Ni Luh untuk menandatangai surat peringatan pertamamu." Perintah Pak Wibi.
"Baik Pak terima kasih. Permisi." Ucap Setya sambil berpamitan.
Berjalan gontai menuju devisinya.
Dua pasang mata melihatnya dari balik kaca. Siapa lagi jika bukan Hari dan Mas Nano.
Pikiran Setya masih terpecah kemana-mana. Konsentrasinya berantakan. Banyak bengong kayak ayam sayur. Terasa waktu berjalan begitu lambat bagi Setya.
Hingga bell tanda waktu berakhirnya kesibukan hari ini pun berbunyi. Setya dan yang lain segera berkemas-kemas membereskan pekerjaannya.
Terlihat Hari dan Nano berdiri diambang pintu gerbang. Menunggu kedatangan temannya.
"Nah itu dia orangnya No." Tunjuk Hari yang berhasil melihat Setya.
Perlahan tapi pasti Setya sampai didepan kedua temannya.
"Apa ini No." Tunjuk Hari pada leher Setya yang meninggalkan bekas kissmark disana. Senyum meledek tersungging pada sudut bibir Hari.
Canggung, Setya sekilas menutupi lehernya dengan telapak tangan. "Bukan apa-apa?" Sanggah Setya. Dengan berjalan sedikit lebih cepat.
Tidak sampai disitu langkah panjang Hari berhasil mensejajari Setya. Nano yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
Terlihat Hari masih berbicara pada Setya. Sebentar berada dikanan sebentar melangkah kekiri. Sesekali menyenggol bahu Setya. Tak ketinggalan tangannya ikut bergerak mengikuti irama pertanyaan yang keluar.
Kau darimana Setya. Batin Mas Nano.
Melihat kelakuan Hari, Mas Nano mengejarnya dengan sedikit berlari kecil.
"Sudahlah Har. Jangan kau cercah Setya dengan pertanyaan tak masuk akalmu itu." Tutur Mas Nano.
Sepuluh menit berjalan kini ketiganya sudah sampai diarea mess. Berjalan santai menuju kamar masing-masing.
__ADS_1
Setya menjatuhkan dirinya diatas tilam. Perlahan-lahan matanya terpejam.
"Aku harus kembali. Aku berharap bisa melupakanmu setelah ini." Ucap paruh seorang wanita. Air mata menyeruak pada kedua bola matanya.
Sontak saja mata Setya yang terpejam terbuka lebar. Mimpi yang begitu nyata. Kejadian diluar dugaan. Kejadian diluar kontrolnya itu masuk kedalam mimpi Setya.
"Apa yang kau katakan. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu. Setelah apa yang sudah kita lakukan. Terlebih lagi kau adalah yang pertama bagiku. Sebaliknya aku pun menjadi yang pertama bagimu." Gumam lirih Setya setelah terbangun dari mimpi indah sekaligus pahit baginya.
Kini terlihat Setya mendudukkan dirinya di pinggiran tilam. Mengusap wajahnya kasar, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Artinya ia sudah tidur selama satu setengah jam.
Langkah gontainya membawa ia masuk kedalam bilik kecil dikamar itu.
Guyuran air terdengar dari sana.
Tak selang lama kini Setya sudah keluar dengan baju lengkap, kaos polo berwarna merah dan celana selutut, ia tampak santai. Berjalan keluar kamar, tak lupa menguncinya juga.
"Setya! Mau kemana?" Suara lembut memanggil dari arah belakang.
Seketika Setya mencari sumber suara.
"Silla," bergumam sejenak. "beli sesuatu untuk cacing-cacing dalam perut. Mau ikut?"
"Boleh."
Mereka berdua pun pergi bersama melewati halaman mess yang sunyi sepi padahal hari masih belum terlalu malam.
Hanya sesekali terdengar deru kendaran bermotor. Sorot lampu kendaraan yang lewat bagai bintang yang berada di titik terendah. Terkadang menyorot tepat kearah keduanya.
"Sil, kau tau dimana Sita sekarang tinggal?" Tanya Setya disela-sela kegiatan makannya. Setelah sampai disalah satu tenda kuning penjual makanan.
"Uhhukk." Silla tersedak mendengar pertanyaan Setya.
"Kau kenapa? Ini minumlah." Tawar Setya.
"Sita. Apa kau tau?" Setya mengulangi.
Silla tertunduk dalam sambil menggeleng.
Tak mungkin Silla memberitahukan keberadaan Sita pada Setya.
Setya pun mengangguk mengerti.
Tak ada pertanyaan lagi setelah pertanyan Setya yang membuatnya tersedak.
Hingga terdengar dering telfon genggam milik Silla.
Drrttt drrtt
"Sorry aku tinggal bentar ya Setya." Pamit Silla.
Sekali lagi Setya mengangguk.
Melihat Silla dari jauh yang berbicara pada seseorang diseberang sana yang kadang Silla sedikit menoleh kearah Setya.
"Iya aku sedang bersamanya." Ucap Silla pada telfon genggam yang masih menyala.
"Untuk apa. Dia nanti akan curiga." Ucapnya lagi.
"Maksudku bukan begitu." Ucap Silla lagi.
__ADS_1
"Tentu saja. Jika ada waktu yang tepat aku akan mengabari anda segera." Jeda sejenak. "Ya. Tentu saja." Kemudian Silla mematikan ponselnya dan menghampiri Setya kembali.
Sepertinya ada yang serius. Tapi tak mungkin seorang cowok harus kepo dengan urusan wanita. Jadi tidak penting bagi Setya menanyakan hal semacam itu. Terlebih lagi Silla bukan siapa-siapa baginya.
"Sudah selesai ya. Maaf aku jadi membuatmu menunggu." Ucap Silla sambil sedikit terburu-buru memasukkan makan kedalam mulutnya.
"Jangan terburu-buru tidak apa-apa santai saja. Aku akan menunggu." Ucap Setya dengan menyesap minuman diatas meja.
Silla mengulas senyum dengan mulut masih penuh dengan makanan. Suasana masih dibilang cukup ramai karena memang betul-betul masih belum terlalu malam.
*****
Dibelahan tempat berbeda.
"Rindu!!!" Seru Linda dari ruang keluarga.
"Cepatlah."
"Tunggu kakak ku yang cerewet, aku datang." Rindu datang dengan membawa banyak potongan kain brokat berwarna salem.
"Kemarikan cepat. Ini harus selesai secepatnya." Tutur Linda sambil menerima kain dari Rindu.
"Kak Lin kain sebagus ini harganya berapa?" Tanya Rindu dengan tangan sibuk menanam kancing pada kebaya yang tinggal pasang kancingnya saja.
"Murah kok Ri satu meter hanya enam ratus lima puluh ribu saja." Jawab Linda enteng.
"Astagah kak Lin ini itu mahal. Awas ya kalau salah potong nanti ganti rugi lo." Ucap Rindu tanpa mengalihkan matanya dari kebaya yang ia pegang.
"Hey hey hey kau pikir aku seceroboh dirimu. Dasar. Banyak-banyaklah belajar" Linda mengomel.
"Hahahaha. Ya ya aku tau kau yang terbaik tidak mungkin salah. PUAS." Ucap Rindu dengan penekanan diakhir kalimat.
Sebelum memiliki toko atau butik resmi Linda memasarkan hasil karyanya melalui media sosial. Lewat akun-akun bisnis resmi. Selain karya Linda beda dari yang lain garapannya juga rapi dan cantik. Seperti orangnya itu kata yang menjadi pelanggan setia Linda.
Kalau sudah berkutat dengan jarum, benang, kain, kertas, dan pena kadang kala membuat Linda lupa waktu. Jika bukan mama lalu siapa lagi yang akan mengingatkannya.
"Sayang yuk makan malam sudah siap, jangan membuat yang lebih tua menunggu. Tidak baik." Ajakan lembut Bibi Winy mengakhiri kegiatan petang ini.
Ketiganya melangkah bersama menuju ruang makan. Paman Ari masih belum terlihat. Mungkin masih membersikan badan karna baru pulang setengah jam yang lalu.
Ketiganya terlihat berbincang santai, menikmati buah yang tersedia diatas meja. Anggur ada anggur kesukaan rindu. Ia lempar anggur itu keudara kemudian mendongak untuk menangkapnya dengan mulut terbuka. Namun tanpa sadar.
"Rindu jaga cara makan mu." Ucap Paman Ari sambil menepuk ringan bahu Rindu.
"Uhhkuuhh uhhukk Paman astagah." Ucap Rindu terbatuk-batuk sambil nepuk-nepuk dadanya karna tersedak.
"Bbbbfffffbbbhhhhaahahah rasakan." Ledek Linda dengan merentangkan tangan dan ujung jempol menempel pada hidung.
"Sudah sudah jangan bercanda ayo kita makan." Tutur Bibi Winy.
Acara makan petang menjelang malam itu diwarnai dengan kehangat yang sangat manis untuk dikenang. Terlebih setelah kedua gadis dirumah ini yang nantinya, entah kapan akan membina keluarga masing-masing.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
__ADS_1
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu