AKU RINDU

AKU RINDU
KESAYANGAN


__ADS_3

Dua setengah bulan berlalu setelah hari pengikraran itu, sebenarnya terlalu cepat untuk mengatakan jika Linda hamil diusia pernikahan yang baru seumur jagung. Mau bagaimana lagi. Jika Tuhan sudah berkehendak.


"Hooeekkk,,,hoooeeekkk,,," sudah keempat kalinya Linda bolak-balik kamar mandi. Mengeluarkan semua isi dalam perutnya tanpa sisa.


Dengan sabar Mas Nano memijit tengkuk istrinya, "Apa sesakit itu sayang?"


Linda menggeleng pelan, matanya yang memerah mengeluarkan buliran air disetiap sudutnya. Wajahnya memucat, "Tidak apa Mas, aku baca hal semacam ini sudah biasa."


Mengusap pucuk kepala Linda, kemudian mendekap dalam pelukannya, seraya berkata, "Mas akan mengantarkan mu kedokter. Bersiap-siaplah."


Linda mengangguk mantap, tak memakan waktu lama keduanya sudah berada didalam mobil, sesekali Mas Nano menatap istrinya. Linda tersenyum simpul rona bahagia tergambar jelas.


Dipersimpangan jalan mobil Mas Nano berhenti. Menunggu lampu merah menjadi hijau. Sejenak Mas Nano menatap luar jendela. Raut wajahnya berubah ada keterkejutan disana. Sebenarnya apa yang tengah ia lihat.


"Mas ada apa?" Tanya Linda.


"Tidak ada mungkin aku tadi salah lihat," wajah keragu-raguan terbingkai dalam penuturannya.


Linda menggenggam jemari Mas Nano. Mencoba untuk bisa masuk dalam setiap kegundahan pada hati suaminya.


Lampu lalu lintas sudah berganti hijau. Mobil merah jambu itu melesat pada tujuannya. Padat merayap ditengah-tengah jalanan kota yang selalu macet dijam-jam segini.


Tibalah keduanya di pelataran parkir rumah sakit. Karena sudah mendaftar secara online Linda hanya menunggu sebentar untuk panggilan. Dengan hati berdegub keduanya menunggu. Sesekali Mas Nano mencium punggung tangan istrinya.


"Nyonya Linda!!!!" Seru seorang perawat.


Linda tersenyum kemudian melangkah menuju ruangan. Seorang dokter wanita sudah menyambut dengan ramah. Mempersilahkan, "Silahkan nyonya."


Setelah keduanya sudah duduk berhadapan, dokter mulai menanyakan beberapa hal pada Linda, "kapan hari pertama haid terakhir?"


"Sekitar seminggu yang lalu emm tanggal tiga puluh," jawab Linda.


"Oke, kemari sus," seorang suster membawakan wadah kecil berbentuk silinder dengan alat test kehamilan sebesar jari telunjuk. Dokter specialis kandungan menerangkan apa yang harus Linda lakukan, "Silahkan nyonya, kamar kecilnya ada disebelah sana," ucapnya dengan menunjuk pintu yang ada diruangan itu.


Linda mengangguk, seraya menerima alat yang diberikan kepadanya. Melangkah perlahan mendekati pintu. Tak lama Linda keluar dari sana, senyum mengembang. Apa yang sudah ia ketahui sebelum berangkat kerumah sakit ternyata benar adanya.


Kemudian Linda menyerahkan alat tersebut kepada suster, suster pun memasukkannya kepada plastik clip.


"Mari nyonya," ucap suster menunjuk alat penimbang badan, "39 Dok?" Memberi tahu berat badan Linda saat ini kepada Dokter.


Kemudian suster menuntun Linda untuk berbaring diatas brankar, "Silahkan nyonya."


Dokter menghampiri Linda, kemudian duduk pada kursi. Disisi brankar terdapat alat pemeriksaan ultrasonography dengan monitor yang akan memperlihatkan dengan jelas pergerakan janin didalam perut.

__ADS_1


Suster memberikan gel pada perut Linda. Dokter mengusapnya dengan alat yang memiliki kabel sebagai penghubung.


Kemudian Dokter berkata, "Lihat lah Tuan. Ini baru kantungnya yang terlihat. Karena usia kandungan masih sangat muda."


Mas Nano mengangguk dengan sebelah tangan menggenggam erat jemari Linda.


Suster mencoba membersihkan gel yang masih melekat.


"Biar, biar saya saja sus. Terima kasih," ucap Linda kemudian membersihkannya lalu mengikuti kembali dimana Dokter berada.


"Oke Nyonya. Anda bisa kembali satu bulan lagi. Jangan lupa minum vitaminnya. Jangan beraktifitas berat dulu," pesan Dokter sebelum Linda beranjak dari tempatnya.


Linda tersenyum seraya berkata, "Terima kasih Dok. Permisi."


Bahagia terlihat jelas diwajah keduanya. Bagaimana tidak. Cepat sekali Allah memberikan momongan kepadanya. Ucap syukur mengalun didalam hati nikmat tuhan mana yang engkau dustakan.


"Mas kita harus mengabari Mama dan Papa," ucap Linda dengan menggoyang ringan lengan suaminya.


Mas Nano menepuk ringan punggung tangan Linda, "Tentu saja, lusa kita pulang ya."


Linda mengangguk mantap. Papa dan Mama pasti senang mendengar kabar ini. Hanya perlu bersabar selama sembilan bulan suara tawa, tangis bayi terdengar ditengah-tengah keluarga.


Langit biru bersemu jingga terbentang diangkasa, menandakan waktu sore tiba. Cerah sekali, tidak ada tanda akan turun hujan. Malam pun tiba sorot lampu kendaran bagai kunang-kunang yang berlalu lalang.


Tiba saatnya menuju kampung halaman. Segalanya sudah dipersiapkan. Keputusan sudah dibuat, selama masa kehamilan Linda harus menetap bersama Bude/Mama Winy.


...Sembilan bulan kemudian....


"Ma, aduh perutku sakit sekali," ucap Linda dengan dahi sedikit berkerut merasakan sakit pada perutnya.


"Ayo kita harus kerumah sakit sekarang. Sepertinya sudah waktunya," tutur Mama Winy.


"Tapi aku masih ingin makan punggung ayam ma," rengeknya masih menahan sakit.


"Rin apa Mas mu sudah datang?" Tanya Bude Winy.


"Belum Bude mungkin sebentar lagi," jawab Rindu dengan ponsel menempel pada daun telinganya.


"Panggil Mang Udin Rin! Biar dia yang antar kita,"


"Baiklah Bude. Tunggu sebentar," Rindu berjalan cepat, mencari keberadaan Mang Udin. Karena Pade Ari belum pulang kerja. Sedangkan Mas Nano? Jangan tanya dia lagi nyari pesanan istrinya yang suka ngidam aneh-aneh, bahkan saat menjelang hari kelahiran masih saja ngidam ayam penyet tapi yang bagian punggungnya.


Astagah seolah wajib bagi wanita hamil menginginkan yang aneh-aneh. Harus diturut jika tidak anak yang akan lahir nantinya suka ngecess (ileran).

__ADS_1


Setelah mendapat kabar, Mas Nano langsung menyusul kerumah sakit. Menemani Linda. Sesekali memberikan semangat. Lama cukup lama proses kelahiran berlangsung.


"Sakit Mas, sakit sekali," lirih Linda bersuara, keringat mengalir pada keningnya.


"Kuat kamu pasti kuat sayang, apa yang hanya mampu kita lihat sebentar lagi bisa kita sentuh," ucapnya dengan mencium punggung tangan yang saling mengait dengan satu sama lain. Tanpa terasa buliran hangat merembes pada kedua sudut mata Mas Nano.


Tidak hanya Mas Nano. Di luar terlihat wajah harap-harap cemas menantikan cucu serta keponakan. Cucu kesayangan keluarga Ari rahmantika. Serta keponakan yang comel bagi Rindu. Iihh Gemas.


Ooeekkkk oooeeekkk


Tangis bayi memekakan telinga. Nyaring sekali. Apa bayinya perempuan? Tidak ada yang tahu sebelum Dokter dan Mas Nano keluar.


Mengingat selama USG sengaja Mas Nano dan Linda menyembunyikan atau meminta agar Dokter merahasiakannya sebagai kejutan.


Handle pintu bergerak, seorang suster keluar dengan menggendong bayi lucu ditangannya, "Selamat, bayinya laki-laki."


Bude Winy menggenggam erat jemari Rindu, tangis bahagia meleleh pada sudut mata keduanya. Pade nampaknya bernafas lega ada gurat kebahagian diwajahnya.


Didalam Mas Nano tiada henti mencium kening istrinya. Mengusap lembut air mata yang menyeruak penuh bahagia pada sudut mata sipit Linda.


"Mas aku lelah sekali," lemah Linda berbicara.


Kemudian Mas Nano memberikan teh hangat yang sedari tadi ia bawa dengan ayam pesanan Linda sebelum proses persalinan.


"Ayo Pak anaknya di Adzani dulu," ucap suster.


Mas Nano mengangguk, mengusap pucuk kepala Linda kemudian mengecup singkat keningnya. Baru beranjak menuju dimana buah hatinya berada.


Karena proses persalinan Linda dilakukan secara normal tidak menunggu waktu lama untuk segera kembali kerumah.


Ternyata menjadi suami siaga rasanya susah bagi seorang Nano yang bukan siapa-siapa. Keinginan menjadi seorang pengusaha tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selalu ada campur tangan Allah yang dapat membuat segalanya menjadi lebih mudah.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu membaca novel pertama saya.

__ADS_1


Tak kurang juga rasa terima kasih untuk para author yang sudah memberikan kirsar.


arigatou gozaimasu.


__ADS_2