AKU RINDU

AKU RINDU
MISI PENYELAMATAN


__ADS_3

"Tunggu sebentar, sepertinya ada di mobil," Rindu beranjak dari duduknya. Sesaat kembali dengan laptop dipelukan, takut terkena hujan.


"Ni Mas,"


"Hemm, ayo kita lihat didalam saja," Karno melangkah terlebih dulu, kemudian menyalakan laptop dan memasang flashdisk.


Video rekaman CCTV tama diputar pada menit sebelum dan setelah kejadian. Rindu memalingkan muka tak ingin mengingat memori luka lama.


Karno melihat reaksi Rindu memalingkan muka saat video hitam putih tanpa suara berlangsung. Tragedi naas yang menimpa Nano.


"Rin perhatikan. Jangan membuang muka," pinta Karno.


"Gak Mas, Rindu takut," tanpa diminta buliran bening pada sudut matanya merembes. Akhirnya Rindu mau tak mau memberanikan diri untuk melihat.


Awalanya ada seorang wanita bertopi merah yang menabrak Rindu, sama persis dengan waktu kejadian. Lalu dari seberang Mas Nano berlari berusaha meraih stroller. Hingga mobil melintas. Mata Rindu memejam, tubuhnya sedikit bergetar. Bagaimana tidak. kejadian yang ingin dilupakan harus kembali ia saksikan.


"Tunggu, Rin putar ulang saat mobil melintas," pinta Mas Karno.


Mas Karno sepertinya mulai mengingat sesuatu. Mobil yang sama, rasanya tak asing dengan kendaran beroda empat yang menabrak sahabatnya.


"Sial!!" umpat Mas Karno dengan memukul tembok disampingnya. Jika benar orang itu pelakunya. Karno akan menghabisi orang tersebut. Bukan kematian yang mudah. Harus ada teriakan putus asa karena sudah bermain-main dengan Karno.


Rindu terheran, "Ada apa Mas?"


"Kamu pulanglah Rin, aku yang urus semuanya," perintah Mas Karno.


Rindu menurut tanpa membantah. Mempercayakan semua pada pemuda yang ada disampingnya. Setelah berpamitan Rindu meninggakan lokasi pembangunan Mas Karno.


Seluruh keberanian Rindu coba kumpulkan. Menepis keragu-raguan dihati.


Mobil dark blue mengarah pada jalan menuju kediaman Pakde Ari.


"*Assalamualaiku*m!" Rindu mengucap salam saat berdiri tepat didepan pintu. Menunggu pintu dibukakan.


Handle pintu bergerak, "Waalaikumsalam."


Rindu mencium punggung tangan Bude Winy. Kemudian masuk kerumah, menuju ruang keluarga. Mata cokelatnya menyapu seluruh ruangan.


Linda terduduk disofa, menatap tajam TV didepannya. Jika saja orang tau, saat ini Linda sedang menatap kosong. Terlihat jelas saat tubuhnya sedikit berjingkat ketika merespon tepukan ringan dibahunya.


"Kak Lin, kemarilah aku ingin berbicara," pinta Rindu.


Tanpa penolakan Linda melangkah mengikuti Rindu kedalam kamar. Didalam keduanya duduk berhadap-hadapan. Rindu memegang kuat kedua tangan Linda. Matanya memerah bulir bening menyeruak.


Sedikit terisak Rindu membuka suara, "Maafkan aku Kak Lin, semua ini salah ku, hiks hiks."


Linda menyambar tubuh Rindu yang berguncang dalam pelukan, "Kenapa kau menyalahkan dirimu! Ini bukan salah mu Rin. Kembalilah kerumah."

__ADS_1


"Tidak Kak, ini semua salah ku. Salah ku yang tidak bisa menjaga Nan dengan benar," dengan sesenggukkan Rindu berucap.


Linda menatap lekat Rindu, menangkup wajah Rindu dengan kedua tangan, "Berjanjilah setelah ini jangan pernah tinggalkan Nan. Jaga dia saat aku tidak ada untuknya."


"Kak Lin bicara apa? Tidak akan ada yang meninggalkan dan ditinggalkan lagi. Setelah ini, semua akan berjalan normal kembali." Rindu berucap, tidak ingin apa-apa selain kehidupan yang bahagia.


Keduanya saling menguatkan, memeluk erat tubuh bergucang karena tangis sesenggukan. Ponsel Linda yang berada diatas meja berdering, panggilan telpon dari nomor tidak dikenal. Segera Linda mengangkat dan meletakkan pada daun telinganya.


"Hallo, ya aku sudah menutup kasusnya. Sekarang dimana aku bisa menjemput putera ku?" tanya Linda.


"Oke kirim lokasinya." Linda mengangguk ringan.


Rindu bertanya-tanya, seusai Linda mematika ponsel. Segera saja Rindu bertanya, kemudian menjelaskan rencananya kepada Linda.


Rindu segera menghubungi Mas Karno. Setelah mengetahui keberadaan Lin Qiunan.


Linda memutuskan akan menjemput puteranya. Tidak memasrahkan sepenuhnya kepada sahabat mendiang suaminya. Selangkah melewati pintu ponsel Linda kembali berdering. Nomor ponsel salah satu pegawainya tertera.


Ketika menjawab telpon raut wajah Linda mendadak pias, hanya anggukan gamang dan hemm yang jadi jawaban.


Linda menatap Rindu disampingnya, "Rin, butik kebakaran." Lemas Linda menjelaskan.


Mata Rindu melebar karena kaget. Apa lagi ini. Berita apa lagi. Sulit dipercaya, musibah datang tanpa diduga.


Rindu menggenggam kuat tangan Linda.


"Rin tolong jemput Nan. Biar aku yang pergi kekota untuk melihat butik," pinta Linda. Mempercayakan puteranya kepada Rindu.


Mobil Linda melesat meninggalkan kampung halaman, malam yang gelap tak menyurutkan keyakinan.


Rindu pun dengan keberanian penuh menuju lokasi keberadaan keponakannya. Tentu tidak sendiri. Mas Karno sudah membuntuti.


Beberapa saat setelah melewati jalan yang minim penerangan, dengan kanan kiri ditumbuhi ilalang tinggi menjulang. Tepat diujung jalan ada sebuah rumah yang terlihat tua, cat putih yang mulai memudar ditumbuhi lumut.


Lampu sorot mobil Rindu meredup, tak munafik. Kini debaran jantung Rindu berpacu cepat. Suasana sunyi gelap. Hanya ada satu lampu kuning temaram diteras rumah.


Tangis Nan terdengar. Menguatkan Rindu yang sempat gamang. Berbekal lampu senter diponsel sebagai penerang saat melangkah maju.


"Tunggu!!!" suara seorang laki-laki menghentikan langkah Rindu.


"Apa anda datang sendiri?!" Laki-laki itu berseru.


Rindu mengangguk. Sebenarnya Karno ada didalam mobilnya. Ketika dijalan tadi sempat berhenti saat Karno mengikuti. Karena akan bahaya kalau membawa dua kendaran. Disuasana sesunyi ini pasti akan terdengar jika yang datang dua orang.


Akhirnya Rindu kembali melangkah, membuka pintu didepannya secara perlahan. Gelap tak begitu jelas. Nan menangis, merontan meminta untuk diturunkan.


"Jangan sakiti keponakan ku!!" Rindu berucap.

__ADS_1


Tiba-tiba,


Bruuukkk,,


Laki-laki yang sedari tadi memangku Nan terjatuh dari duduknya. Nan yang terlepas berlari menghampiri Rindu.


Pertarungan kedua pemuda, Karno dan si penculik terjadi. Aneh, bukan meraung kesakitan Si Penculik malah tertawa lebar.


Mas Karno berhasil melumpuhkan Si penculik, kemudian mengikatnya. Membawanya kedalam mobil Rindu.


Wajah Mas Karno sedikit lebam, darah keluar dari sudut bibirnya. Segera Rindu mengusap dengan kapas. Membersihkan lukanya.


Mas Karno sedikit menyipitkan mata, merasakan nyeri saat luka terusap, "Sakit ya Mas?"


"Ya jelas!" ucap Mas Karno.


"Terima kasih," ucap Rindu.


"Mas mengenal siapa dia?" lirik Rindu pada orang yang tengah meringkuk dijok belakang dengan tangan dan kaki terikat tambang.


"Tidak, aku pikir orang yang sama," ucap Karno.


"Orang yang sama?" Rindu terheran. Apa yang dimaksud Mas Karno dengan orang yang sama.


Karno sekilas melihat Rindu disisi kirinya, "Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Yang terpenting kita harus segera membawa sialan ini kekantor polisi."


Mobil dark blue milik Rindu melaju cepat, membelah jalanan yang gelap. Menyusuri jalan beraspal menuju kantor kepolisian.


Akhirnya selesai sudah misi penyelamatan Baby Nan. Penculik sudah masuk bui. Semoga setelah semua yang terjadi beberapa waktu belakanga ini berhenti sampai disini. Semoga hari-hari berikutnya berjalan tanpa masalah yang berujung kehilangan. Harapan Rindu besar untuk kebahagian orang-orang yang tersayang.


Karno melajukan mobil menuju kediaman Pakde Ari. Mengapa tidak ada lampu didalam rumah yang menyala. Sunyi tanpa suara. Karno dan Rindu saling bertatap. Tanda tanya menghinggapi masing-masing.


"Kok sepi Rin?" Karno bertanya.


thanks you for reading. Pada beberapa bab yang akan segera end.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Sekali lagi saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan meluangkan waktu membaca novel pertama saya.

__ADS_1


Tak kurang juga rasa terima kasih untuk para author yang sudah memberikan kirsar.


arigatou gozaimasu.


__ADS_2