
Setelah kepergian Rindu dari food court si pemuda gila melangkah dengan angkuhnya menghampiri kasir untuk melakukan pembayaran.
"Berapa mbak." tanya pemuda gila.
"Tagihan anda sudah ada yang membayar mas." ucap kasir dengan ramah.
Pemuda gila nampak bingun siapa yang telah membayarnya. "Oh ya...yang mana orangnya?" ucapnya menunggu jawaban dengan jemari mengusap-usap dagunya.
"Maaf mas orangnya sudah pergi." ucap kasir.
Saat hendak meninggalkan kasir dengan bertanya-tanya siapa yang sudah lancang membayar tagihannya, si kasir menanggil karna mengingat sesuatu "Tunggu mas, mbaknya menitipkan ini pada saya." ucap kasir kemudian.
Pemuda gila mengangkat sebelah alisnya kemudian berjalan menuju meja kasir.
"Ini mas." ucap kasir dengan menyerahkan secarik kertas.
"Orang itu tadi duduk disebelah mana?" ucapnya kemudian karena masih penasaran.
Kasir pun menunjuk tempat yang Rindu duduki saat menikmati sarapan paginya.
Seketika mata pemuda gila membelalak, amarah merasuki hatinya. Sekilas ia membaca pesan yang Rindu tuangkan kedalamnya.
Saya memang bukan orang kaya
Tapi saya tau...
Bagaimana saya menikmati apa yang saya miliki...
Jemari pemuda gila mengepal kemudian meremas secarik kertas yang ia terima. Kemarahan pun terlihat jelas pada raut wajahnya merah padam pada kedua bola matanya, karena sudah ke dua kalinya ia mendapat penghinaan seperti ini. Bahkan dengan orang yang sama.
Aaagggrrrrhhh siiiaalll...beraninya kau main-main dengan ku bocah tengil. Pemuda gila mengumpat dalam hati
********
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16:00
Hari melewati lorong rumah sakit bersama Rindu, sedikit canggung menginggat Rindu tidak pernah sama sekali pergi berdua saja dengan Hari. Biasanya selalu bersama-sama dengan mas Karno atau mas Nano.
Hening sesaat hanya terdengar irama langkah kaki bersentuah dendan ubin rumah sakit.
"Ri jika nanti sudah tamat sekolah kamu akan langsung bekerja atau masih mau melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi?" Tanya Hari memanaskan suasana yang beku tanpa suara.
"Entah, sepertinya aku akan langsung bekerja mas." jawab Rindu.
"Kenapa tidak coba kuliah sama kerja." tutur Hari memberi masukan.
"Di mana aku bisa kuliah sambil bekerja." tanya Rindu.
"Kamukan bisa bekerja dengan Linda dulu selama kuliah." jawab Hari masuk akal.
"Astagah kenapa aku tidak berfikir sampai sejauh itu ya " ucap Rindu seraya menepuk keningnya ringan.
"Memang otak mu dangkal." sahut Setya yang tiba-tiba ada di belakang mereka berdua.
Rindu tak menyahuti, malasnya berdebat dengan seorang Setya.
Sudah hafal tingkah pola dan cara bicara Setya, itu yang membuat Rindu enggan berkomentar.
"Kenapa mengikuti kami?" Tungkas Hari
"Siapa yang mengikutimu, aku tidak ingin jadi obat nyamuk diruangan Nano. Lagi pula aku ingin beristirahat karna besok harus bekerja." ucap Setya tanpa menoleh.
Setibanya di tempat parkir mereka berpisah, Setya lebih dulu meninggalkan Hari dan Rindu.
Kini motor Hari sudah memasuki padatnya jalanan ibu kota, bisingnya suara klakson saling bersautan. Tanda bahwa semua orang disini sedang terburu-buru.
Sudah hampir satu jam Rindu dan Hari terjebak macet, memang hari ini hari minggu tapi kemacetan tetap saja terjadi.
"Macet gini mas Hari" ucap Rindu sedikit berteriak karena suaranya kalah keras dengan kendaran yang ada di kanan kirinya.
"Ya sudah kita tidak jadi keliling kota ya? Bagaimana jika ke cafe saja." tawar Hari pada Rindu.
"Terserah mas Hari saja." putus Rindu dari pada harus terjebak macet.
Hari terlihat menengok kanan kirinya melihat apakah ada cafe disana.
Benar saja tepat seberang tempat hari berhenti ada sebuah cafe .
Hari pun menutar balik motornya menuju cafe yang lumayan rame. Motor Hari ikut berbaris rapi diantara motor para pengunjung cafe yang ada disana.
Mereka berdua kini sudah ada didalam cafe, alunan lagu yang di bawakan oleh penyanyi di cafe itu menambah syadu saat ini.
Rindu mendudukkan dirinya lebih dulu, terlihat hari celingukan mencari waiters.
"Mbak!" seru Hari setelah melihat seorang waiters dengan melambaikan tangannya memberi kode agar waiters mendekat.
"Ya, mas mau pesan apa?" tanya waiters kemudian.
Setelah melakukan pemesanan Hari bercengkrama ringan dengan Rindu, sesekali Hari melontarkan candaan.
Senyum Rindu mengembang tanpa suara, takut jika terlalu keras tertawa jadi bahan tontonan pengunjung cafe.
Tak lama waiters datang membawa pesanan diletakkannya diatas meja, terlihat pesanan Hari berukuran jumbo.
"Astagah mas Hari makanan sebanyak ini siapa yang akan menghabiskan?" tanya Rindu tak habis pikir dengan makanan segini banyaknya siapa yang akan menghabiskan.
"Tentu kita berdua." jawab Hari santai.
"Tunggu sebentar Ri aku akan kesana sebentar." pamit Hari pada Rindu
Rindu mengangguk ringan.
__ADS_1
Hari pun berjalan mendekati penyanyi cafe yang sedang berada diatas panggung kecil di tempat itu.
Hari terlihat berbicara dengan serius, sesekali ia melihat ke arah rindu yang sedang duduk menikmati makanan di depannya. Lambaian tangan, Rindu tunjukkan pada Hari, senyum menyertai di sudut bibirnya.
"Perhatian semuanya." ucap Hari sebelum memulai show dadakannya.
"Lagu ini saya persembahkan untuk wanita cantik disebelah sana."
Seru Hari diatas panggung.
Mata Rindu membulat tak percaya apa yang sedang Hari lakukan, Rindu menyunggar lembut rambutnya dengan tangan.
Hari mulai mengalunkan lagu, sejenak matanya terpejam mengikuti irama musik.
"***Pemuja Rahasia" dari Sheila On 7.
G D
Kuawali hariku dengan mendoakanmu
Em D
Agar kau selalu sehat dan bahagia di sana
C Bm
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Am D
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh
G D
Ku tak pernah berharap kau 'kan merindukan
Em D
Keberadaanku yang menyedihkan ini
C Bm
Ku hanya ingin bila kau melihatku kapan pun
Am D
Di mana pun hatimu 'kan berkata seperti ini
G D
Pria inilah yang jatuh hati padamu
Em D
C Bm
Aha, yeah, aha, yeah
Am
Begitu para rapper coba menghiburku
G D Em D C Bm Am D
G D
Akulah orang yang selalu menaruh bunga
Em D
Dan menuliskan cinta di atas meja kerjamu
C Bm
Akulah orang yang 'kan selalu mengawasimu
Am D
Menikmati indahmu dari sisi gelapku
G D
Dan biarkan aku jadi pemujamu
Em D
Jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
C Bm
Tenanglah, tenang pujaan hatiku sayang
Am D
Aku tak 'kan sampai hati bila menyentuhmu
G D
Mungkin kau tak 'kan pernah tahu
Em D C Bm Am D
Betapa mudahnya kau untuk dikagumi
__ADS_1
G D
Mungkin kau tak 'kan pernah sadar
Em D C Bm Am D
Betapa mudahnya kau untuk dicintai
G D Em D C Bm Am D G D Em D C Bm Am D
G D Em D
Akulah orang yang akan selalu memujamu
C Bm Am D
Akulah orang yang akan selalu mengintaimu
G D Em D
Akulah orang yang akan selalu memujamu
C Bm Am D
Akulah orang yang akan selalu mengintaimu
G D
Mungkin kau tak 'kan pernah tahu
Em D C Bm Am D
Betapa mudahnya kau untuk dikagumi
G D
Mungkin kau tak 'kan pernah sadar
Em D C Bm Am D
Betapa mudahnya kau untuk dicintai
G D Em
Karena hanya dengan perasaan rinduku yang dalam padamu
D C Bm
Kupertahankan hidup maka hanya dengan jejak-jejak hatimu
Am D
Ada artiku telesuri hidup ini
G D
Selamanya hanyaku bisa memujamu
Em D
Selamanya hanyaku bisa merindukanmu
C Bm Am D G
Huuu...huuuu...huuuu....huuu...huuu***
Sorak sorai dan tepuk tangan pengunjung mengema di setiap sudut cafe setelah Hari mengakhiri aksinya di atas panggung.
Sebelum Hari benar-benar meninggalkan panggu ia mengarahkan microphone kearah bibirnya.
"Rindu, Rindu ku sudah lama aku menaruh perasaan pada mu. Sejak pertama aku melihat mu sampai detik ini. Saat ini aku utarakan apa yang aku rasakan padamu MAUKAH KAU MENJADI KEKASIH KU?" ucap Hari tanpa canggung, bahkan matanya mengisyaratkan ungkapan hati yang mendalam.
Astagah mas Hari apa yang kau katakan...apa kau sedang sakit, lihatlah semua mata kini mengarah pada ku, tuhan aku ingin menghilang saja. Batin Rindu menggerutu.
Disela-sela itu seru pengunjung terdengar memenuhi cafe.
Trima trima trima...!!!
Trima saja mbak so sweet tau...!!!
Trima dong trima keren lo...!!!
Dan masih banyak lagi kalimat yang keluar dari sorak sorai pengunjung cafe.
Jangan di tanya kini pipi cubby Rindu sudah merah kuning hijau menahan malu bak lampu lalu lintas, senyum Rindu sedikit canggung, bingung harus menjawab apa.
Hari menghampiri Rindu dengan wajah terangkat ada senyum penuh harap disana, apa yang ia simpan kini sudah tersalurkan.
Diterima atau tidak Hari tak memikirkan itu.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu
__ADS_1