
Disebuah rumah yang tampak mewah, dapat dilihat dari pilar-pilar besar menjulang pada setiap sisi rumah itu. Halaman yang begitu luas dengan rumput hijau sebagai karpetnya.
Begitu elegan dengan cat berwarna natural.
Sita mengamati hujan dari balik jendela kaca, segelas air hangat untuk menghangatkan tubuhnya. Entah apa yang tengah ia lamunkan.
Suara langkah kaki berat tak mengusiknya dari lamunan.
Dari belakang tangan kekar seseorang berhasil melingkar dipinggang Sita. Diletakkanya dagu disisi bahunya. Deru nafas menerpa.
"Sayang, apa yang sedang kau lamunkan?" Suara serak dari belakang membuatnya menoleh.
"Tidak ada mas Doni." Menoleh sesaat kemudian kembali pada posisi semula.
Kenapa kau masih saja bertanya, jika kau sendiri tau apa jawabannya. Sita membatin. Dasar! Egois!.
Hangat menjalari tubuh keduanya. Walau pun, yah Sita tidak merasakan getaran dalam hatinya. Tangan kekar Doni kian mengerat seolah meminta lebih. Hingga--
Drrttt drrttt
Huuufffsss, selamat. Gumam Sita dalam hati.
"Mas sepertinya ponselmu bergetar, coba lihatlah siapa yang menghubungimu?" Ucap Sita buru-buru melepaskan tangan doni.
Doni berdecak kesal.
"Ck, siapa yang menggangguku!" Mau tak mau Doni pun melihat ponsel pada saku celananya.
Wajahnya sedikit mengernyit.
"Awas saja jika tidak begitu penting." Gumam lirih Doni.
Sita masih mengawasi gerak gerik Doni dalam diam.
"Ya, hallo" jawab Doni pada seseorang disebrang sana.
"Kapan?" Ucapnya lagi.
"Dimana?" Masih bertanya.
"Oke selebihnya aku yang akan kerjakan" ucapnya sebelum menutup telponnya.
Tak lama setelah itu. Ia terlihat menekan layar ponselnya, layaknya orang yang sedang mengirim pesan.
"Sayang aku pergi sebentar. Jadilah calon istri yang penurut!" Diusapnya lembut pucuk kepala Sita sebelum mendaratkan ciuman pada kening calon istrinya.
Cukup lama hingga nafas hangat mas Doni menerpa pori-pori wajah Sita.
Sita tak menjawab hanya mengangguk saja.
Menatap kembali keluar jendela. Hujan terlihat begitu deras.
Ia mengamati gerakan mas Doni dari atas, sampai saat mas Doni tak terlihat dari jangkauan matanya.
__ADS_1
"Harusnya mas Doni tak mengurungku seperti ini. Bukan cinta buta yang ku mau. Aku hanya mau cinta tulus, cinta tanpa tekanan. Setidaknya ajari aku untuk melupakannya agar aku mulai belajar mencintaimu mas" unek-unek Sita panjang lebar. "Semakin mas Doni menekanku semakin membuatku tak bisa menerimamu" imbuh Sita diiringi tetesan beberapa air mata yang buru-buru ia sekah.
****
"Jams." Didalam mobil mas Doni tampak menelphone seseorang.
"Sudah kau dapatkan tikus-tikus kampung itu?" Ucapnya lagi.
"Bo**h!! Bagaimana bisa!! Dasar tidak berguna!!" Mas Doni melempar ponselnya sembarangan. Sopirnya melirik dari arah kaca depan kemudi.
"Kau lihat apa Frans?! Hah! Menyebalkan" ucap mas Doni pada seseorang dibelakang kemudi, masih dengan mengumpat kesal. Kemudian membungan muka menatap luar jendela mobil.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Tanya Frans sisopir, sekaligus saudara angkatnya.
"Kita temui Jams." Ucap Doni kemudia.
Karena cuaca sedang hujan jalanan nampak sepi. Tak banyak kendaraan melintas.
Sampailah mas Doni ditempat Jams berada. Jams adalah salah satu dari orang suruhannya, wajahnya sangar tinggi besar dengan kulit kecoklatan.
Frans keluar terlebih dahulu, memakai panyung hitam untuk menghalau agar air hujan tak membasahinya. Membukakan pintu untuk Doni. Mereka menggunakan payung masing-masing.
Ketika sampai disalah satu ruangan digedung itu tanpa basa-basi. Dihunuskannya pistol yang ia bawa.
Jams tampak santai. Hingga---
Satu detik dua detik.
Ckleeekkk
Mereka bertiga kini duduk disebuah sofa merah dengan sandaran yang cukup tinggi seperti kursi-kursi kekaisaran.hahaha
"Ck. Dasar tidak berguna!" Ucap Doni sarkas sambil menendang ringan orang didepannya.
"Kau kira menangkap seekor tikus itu mudah. Jika kau bisa lakukan sendiri!" Ucap Jams kemudian.
"Ayolah, itu hanya tikus kampung. Hah! yang benar saja kau kalah dengan mereka." Ucap Doni dengan wajah kesal. Terkesan menyepelekan.
Frans hanya memainkan pistol kosong yang tadi dibawa oleh doni. Membongkarnya, kemudian merakitnya kembali.
Flashback on
"Sepertinya itu mereka!" Seru Jams pada seseorang yang tengah mengemudi didepannya.
Terlihat mobil Jams mengejar pengendara bermotor didepannya.
"Ayolah lebih cepat!" Jams masih berseru.
Menyadari ada yang tengah mengikuti pemotor itu segera mencari celah, berbelok begitu saja masuk kedalam gang yang hanya bisa dilewati kendaraan beroda dua.
"Shiiittt, sial!!" Umpat kekesalan Jams saat kehilangan buruannya.
Jams mengusap kasar wajahnya.
"Halo Don." Ragu-ragu James menelphon.
__ADS_1
"Hampir saja aku menangkapnya, tapi--" belum sempat James membela diri. Yang diseberangan mengumpatkan kekesalannya.
"Huh dasar. Seenaknya saja memerintah. Kalau bisa lakukan sendiri sana!" Umpat James pada ponsel yang sudah dimatikan secara sepihak.
"Menuju tempat biasa ya." Perintah James pada sopirnya.
Flashback off
Cuaca begitu buruk, hampir saja mas Nano dan kedua temannya ingin membatalkan untuk mengantar Karno kembali. Terlihat awan hitam menggumpal, hanya tinggal menunggu air menetes membasahi bumi.
"Apa kau yakin No kita akan pulang sekarang?". Tanya Setya pada temannya.
"Sangat yakin!". Tungkas Hari.
Mas Nano hanya mengakat bahunya, dengan kedua tangan terangkat mensejajarinya.
"Ayo cepatlah, tunggu apalagi?". Ajak Hari kemudian.
Ketiganya memacu motor masing-masing hendak menuju tempat penginapan Karno.
Benar saja sebelum mereka sampai tujuan hujan menguyur permukaan bumi. Sedikit demi sedikit rintikan air turun tercipta gerimis semakin deras menjadi hujan. Mereka berteduh sebentar untuk mengenakan jas hujan.
"Yuk!"
Tak lama ketiganya sampai penginapan Karno. Karno terlihat sudah lebih dari siap untuk kembali bisa dilihat dari tas yang berada dibelakang punggungnya.
"Karno ikutlah dengan Setya." Ucap Nano.
Karno hanya menurut saja.
Perjalanan kembali dilanjutkan, keempatnya sudah berada dijalan raya. Hingga sesuata memancing kecurigaan Karno. Mobil toyota sport Dark Grey Metallic mengikuti sejak mereka keluar dari gang penginapan Karno.
"Setya kita bertukar posisi, biar aku yang kemudikan." Ucap Karno tiba-tiba padahal kini mereka masih melaju walau dengan kecepatan sedang.
Mereka kini bertukar posisi tanpa berhenti, karena postur tubuh Karno memang sedikit lebih tinggi dari Setya. Setya menunduk masih dengan tangan memegang setang motor. Karno melangkahkan salah satu kakinya melewati atas kepala Setya. Persis opera ditonggila, yang biasanya ada dipasar malam dadakan. Kini Karno yang mengambil alih penuh kemudi.
"Ada sesuatu yang terjadi!" Seru mas Nano. Jempolnya menunjuk kebelakang. Diikuti gerakan kepala Hari yang melihat mobil mewah mengikutinya.
"Yuk gas!!" Seru balik Hari yang mengikuti Karno masuk gang sempit yang hanya bisa digunakan kendaraan roda dua.
Tanpa kode keras mereka sudah bisa menangkap maksud dari teman yang satu dan lainnya.
Hujan sedikit mereda hanya tinggal beberapa yang masih lolos dari genggaman awan hitam.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.
__ADS_1