
Krrrrriiiingggg
Krriiiingggg
Krriiiinggggg
Hampir satu jam ponsel Rindu berdering, entah kemana si pemiliknya. Suara ponsel Rindu memang tak begitu nyaring, jadi tidak terdengar dari luar kamarnya.
" Heemmmssss segar." Ucap Rindu, sambil berjalan mendekati kamar.
Rambut Rindu yang basah masih tertutup rapi dengan handuk, khas wajah segar setelah mandi terlihat menyejukkan.
Cukup lama Rindu memoles wajahnya dengan bedak dingin, warna putih merata di wajahnya persis pisang yang di beri tepung lalu siap goreng.
Hari ini Rindu sengaja memanjakan dirinya karna lelah menjalari seluruh tubuh Rindu, setelah menyelesaikan acara bazar di sekolahnya.
" Kak, kak Linda..!!! " Rindu berseru mencari dimana keberadaan Linda.
Celingukan kesana kemari...
Laaaappphhh...
Lampu padam...yuuppss tepat !!! di desa tempat tinggal Rindu jika hujan memang sering kali lampu mati.
Yaahh kan lampu mati, sial kak Kinda mana sih. Batin Rindu.
Diuang tamu tampak cahaya senter memberi penerangan, segera Rindu menghampiri cahaya itu.
" Eehhh copot...copot...copot..." Pekik Linda kaget melihat wajah putih yang tertangkap cahaya senter. Secara tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya.
" Heelllooo ini aku kak, Rindu ... R-I-N-D-U " Jawab Rindu santai.
" Siaall, aku kira hantu tadi. Kenapa malam-malam menggunakan bedak dingin?mengagetkan saja." Serga Linda
" Biar seger aja kak." Ucap Rindu seraya menuju sofa ruang tamu secara merayap agar tidak tersandung.
Bibi Winy datang dengan membawa lampu emergency, kemudian meletakkan di atas meja ruang tamu.
" Sudah sudah jangan ribut ribut gak enak di dengar tetangga." ucap bibi Winy
" Ma...papa mana?" Linda bertanya pada mama Winy, saat melihat hanya mamanya yang berada disini.
" Belum pulang, masih banyak yang harus papa kerjakan." jawab mama Winy yang sudah dapat kabar dari papa ari kalau akan pulang terlambat.
" Kak pinjam senternya aku mau ke kamar saja untuk beristirahat." ucap Rindu saat dirasa tubuhnya lelah.
" Heemmm." kemudian Linda memberikan senter pada Rindu.
Rindu pun berjalan dengan hati hati.
Krriiinnng
Lagi lagi ponselnya menyala, dengan segera Rindu mengambil ponsel miliknya.
" *Heeeyyyy bocaahh susah sekali menghubungimu, macam perdana mentri saja*." suara mas Nano terdengar dari sebrang.
" He he he...lah mana aku tau ada yang telfon." jawab Rindu.
__ADS_1
" Dimana Linda,kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi ?" Suara mas Nano terdengar cemas.
" Ada di depan sama bibi." Ucap Rindu, kemudian nampak Rindu celingukan dengan mengarahkan seternya ke segala penjuru kamar.
" Eemmm tunggu, ini ponselnya ada di kamar baterainya lowbet pula." Imbuhnya.
" Oo, mangkanya tidak bisa di hubungi. Boleh minta tolong panggilkan sebentar aku ingin berbicara dengannya." Nada memelas Mas Nano terdengar jelas.
" Okey bentar aku tidak bisa buru-buru karna di sini lampu mati." Terang Rindu agar tidak di buru-buru.
" Ya, awas Ri di belakang mu." Dengan jahil Mas Nano menakut-nakuti Rindu.
" Eehhh dasar rese' ya!!!! udah mau di tolong malah menakut-nakuti ku." Seru Rindu.
Sampailah Rindu di ruang tamu.
" Nih kak Mas Nano ingin bicara." Kemudian Rindu memberikan ponselnya pada Linda.
Linda menatap heran Rindu sebelum menerima. " Kenapa tidak menghubungi ponsel ku saja." Ucap Linda kemudian.
" Ponsel kakak lowbet." Dengan wajah cemberut Rindu menjelaskan karna merasa di curigai.
" Ya ampun iya aku tadi lupa mengecasnya." terang Linda seraya menerima ponsel rindu. " Terima kasih." imbuhnya. Kemudian berlalu pergi dari mama Winy dan Rindu, merasa canggung bila pembicaraannya di dengar orang lain.
Setelah berbicara kurang lebih 15 menit Linda mengembalikan ponsel Rindu.
" Niiihhh be terima kasih ya." ucap Linda sambil menyodorkan ponsel Rindu.
" Be...be...be...be... dasar duo rese' emang ya." sungut Rindu tak terima di katin cabe.
Cemberut di raut muka Rindu terpampang nyata, dengan kaki di hentakkan kuat-kuat Rindu melangkah menuju kamar.
" Jam berapa ya lampunya akan menyala!! Sekarang sudah pukul 21:05...
"Hoooaaammm" tak butuh waktu lama Rindu sudah touring ke alam mimpi.
*****
Di tempat lain mas Nano terlihat begitu sengan sudah bisa menyalurkan rasa rindunya kepada Linda.
" Kenapa No, wajah mu kayak kembang habis di siram air micin? seger bener." tanya Hari.
" Tidak papa lega aja udah dengar suara pujaan hati." ucap mas Nano.
" Ya, ya. Yang habis jadian lagi seneng-senengnya makanya Har buruan cari gandengan!!!" ledek Setya pada Hari yang memang belum memiliki kekasih.
" Aku udah ada incaran tapi masih belum barani ungkapi. " Tegas Hari nampak serius.
Tanda tanya jelas terlihat pada raut wajah mas Nano dan Setya, karna Hari memang belum pernah dekat dengan seorang gadis.
" Apa...????" tungkas Hari lalu berlalu meninggalkan kedua temannya yang nampak melihat dengan expresi tanda tanya.
Hening sejenak setelah Hari meninggakan kedua orang ini, dengan ditemani segelas kopi dan pisang goreng. Yang terdengar hanya suara jangkrik, tidak ada yang hendak memulai percakapan.
" Setya boleh aku bertanya sesuatu?" tanya mas Nano, memecah keheningan malam.
" Tanya aja." jawab Setya lugas.
__ADS_1
" Siapa orang yang waktu itu memukul mu?" ucap mas Nano.
" Orang tak penting." jawab Setya gamang.
" Lalu kenapa tiba-tiba dia memukul mu?" Mas Nano tidak menyerah sampai disini.
" Sudahlah tidak perlu dibahas selama dia tidak datang kembali untuk mencari keributan." tegas Setya karena merasa dia juga tidak begitu tahu siapa sebenarnya orang yang tiba-tiba datang mencari gara-gara.
" Sudah malam sebaiknya kita beristirahat." ucap Setya sambil menepuk pundak mas Nano.
.......
.....
....
...
..
.
Sebuah kamar yang nampak hening sayup sayup terdengar suara tangisan seorang wanita.
Kamar kosong paling sudut diantara kamar kamar para karyawan, hening malam sedikit mencekam.
Heemmm eemmm hick hiickk...
Toloongg...toloonggg...aku...
Suara samar yang tak begitu jelas.
Seperti suara seseorang tengah berbisik ringan tapi membuat yang mendengar ngilu.
Sita yang hendak masuk kedalam kamar seperti tersentak saat suara sumbang masuk ke indra pendengarannya.
Tak begitu jelas namun sudah membuat bulu kuduknya berdiri.
Deg...
Degup jantung Sita serasa terpompa cepat.
Suara siapa itu ya. Sita membatin
Toooloooonggg...tolong akuuuu...
Suara itu semakin lama semakin tak begitu terdengar.
" Siapa disana?" Sita memberanikan diri untuk bertanya.
" Siapa? siapa disana?" Sita mengulangi.
Sepertinya aku salah dengar. Gumam Sita dalam hati.
Dirasa tengkuk Sita terasa dingin, debaran jantungnya kian menguat tak kala bulu-bulu halus di tangangnya bergidig.
Sita akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan misinya untuk mencari tau sumber suara. Sita pun berbalik, mulutnya terasa kaku lemas seketika menjalari tubuhnya.
__ADS_1
Brrruuukk
Sita terkulai lemas tak sadarkan diri.