AKU RINDU

AKU RINDU
KOPI PENUH FILOSOFI


__ADS_3

"Hallo Setya."


"Ya hallo."


"____."


"Tunggulah disana aku akan datang." Ucapnya sebelum mematikan ponsel.


Rasa lelah seakan menghilang. Demi untuk datang memenuhi permintaan sang penelfon. Entah apa yang kini merasuki logika, mengalahkan hati yang masih mendamba.


Wanita cantik dengan mata sembabnya berdiri menunggu.


Alkohol.


Menyeruak seiring dengan nafasnya yang berhembus.


"Kau kenapa?" Ucap Setya dengan menggoncang bahu wanita itu.


Tangis, hanya isak tangis yang terdengar.


Berjalan sempoyongan. Sigap Setya membantunya menjaga keseimbangan.


"Aku ingin berkeliling sebentar bersamamu." Pintannya lirih.


Putar-putar kota berdua, keluar malam pada poros yang sama. Diparkirnya motor Setya begitu saja. Lewati kayuh tangan, langkah gontai tak menyurutkan sang empunya.


Bangunan kecil dikelilingi banyak pohon cemara. Entah dimana kini ia berada. Udara dingin yang merambah tubuh seakan menusuk tulang.


Tanpa terasa kini Setya terhanyut dalam pelukan yang menghatkan badan. Meraih leher jenjang seorang gadis. Ciuman bau minuman seakan menjadi candu saat ini.


Terpundur bersama dengan bibir masih saling terpaut. Tangan kekar itu seakan enggan terlepas dari pinggang ramping wanita yang kini semakin mempererat glayutannya ditengkuk Setya.


Hampir pagi.


Setya tersadar, kini waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Wanita yang sempat mengisi ruang kosong dihatinya telah meringkuk pulas dibawah selimut.


"Apa yang telah ku lakukan. Sial!" Umpat Setya, mengusap wajahnya kasar.


Berjalan menuju kamar mandi kecil dikamar itu. Guyuran air dingin tak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.


Mengingat kejadian semalam.


FLASHBACK ON


"Kau akan menikah. Apa yang kita lakukan saat ini salah." Ucap Setya.


Pengaruh alkohol membuatnya tak bergeming dengan penuturan Setya.


Keduanya kini sudah terjerambah jatuh diatas tilam. Diraihnya tengkuk Setya, dikecup begitu mesrah berujung pada kecupan penuh gairah. Seakan gejolak dalam diri Setya terpancing, nafsu yang tersegel seakan tebuka.


Pergumulan singkat penuh sensasi.


FLASHBACK OFF


Setya memejamkan mata. Merasai air yang mengalir teratur membasahi diri yang penuh dosa.


Lama.


Cukup lama Setya berada dibawah guyuran air.


Sejenak indera pendengarannya menangkap suara yang memangil diluar pintu kamar mandi.


Tok tok tok.


"Setya apa kau tidak apa-apa?"


Tersadara dari lamunannya Setya membuka pintu itu. Mandapati seorang gadis telah berada didepan matanya.


Handuk melilit sebagian tubuh Setya dari pinggang sebatas lutud, tubuh atletis bak roti sobek terpampang nyata.


Berjalan begitu saja.


Mengambil potongan-potongan baju yang berserakan tak beraturan.


****


Pagi itu terlihat matahari tertidur ditepi jalan. Menampakan semburat warna jingga diufuk timur kampung Krajan.


Terlihat Nano menyesap segelas kopi hitam. Kopi penuh filosofi kehidupan. Ada manis dan pahit didalamnya. Mengingatkan bahwa hidup tak selamanya pahit. Tak jarang kisah manis turut meramaikan.

__ADS_1


"Hallo Nani. Bagaimana kabarmu?" Sapa Nano pada adik kesayanganya diseberang sana.


"Baik mas. Mas Nano gak nyusul kesini?"


"Nanti kalau Mas ada libur panjang pasti menyusulmu kesana."


"Mas Nano sekarang ada dikrajan ya?"


"Iya. Pulang sekalian bersih-bersih rumah. Oiya salam ya untuk keluarga disana." Ucap Mas Nano. Mengakhiri telphonenya.


Pagi-pagi sekali Karno menemui Nano.


"No sorry kemarin tidak bisa ikut denganmu dan yang lain." Ucap Karno.


"Tak masalah."


"Ngomong-ngomong Setya langsung balik kota ya?" Tanya Karno Setelah meniupkan asap rokok keudara.


Nano mengernyitkan alisnya.


"Kapan?"


"Semalam aku lihat dia berangkat." Tutur Karno.


"Tak biasanya dia pergi tanpa memberi kabar." Mas Nano mengernyikan alisnya.


"Dia terlihat terburu-buru semalam." Terang Karno.


"Ya mungkin dia ada keperluan. Ngomong-ngomong Kau tidak bekerja hari ini?" Tanya Nano.


"Job sepi No."


Nano hanya ber-oh-ria.


Karno sesekali menyesap batang rokok ditangannya. Bercengkrama ringan seringan kapas. Hmhmhm.


Kini waktu menunjukkan pukul 05:30


Hari terlihat mengendarai motor lengkap dengan ransel menempel dipunggung.


"No kita jadi balik hari inikan?" Tanya Hari sambil melepas helm setelah selesai memarkir motor.


"Setya belum kelihatan." Gumam Hari.


"Setya sudah berangkat semalam." Terang Nano.


"Buru-buru sekali."


"Ya mana ku tau." Sahut Karno.


"Biarkan sajalah. Paling nanti akan bertemu dipabrik." Ucap Hari kemudian.


"Em Nano apa kau akan kerumah Linda?" Tanya Hari tiba-tiba.


"Untuk apa?" Jawab Nano cengengesan. Tahu maksut Hari mengajaknya kesana.


"Ayolah masak pacarmu tidak kau pamiti." Ucap Hari tak terima.


"Lindakan pacarku kenapa jadi kau yang menggebu ingin menemuinya." Sergah Nano.


"Hey bos tenang. Tenang. Aku bukan ingin menemui Linda. Tapi aku ingin menemui Rindu." Ucapnya dengan senyum mengembang. Menatap langit.


"Dasar." Umpat Karno.


"Kenapa?" Balas Hari.


"Akukan hanya ingin berpamitan dengan sahabatku." Ucap Hari sambil tertawa.


"Bbffftttthahahah, sejak kapan Rindu mau jadi sahabat mu." Ledek Karno diawali tawa.


Hari tak menggubris hanya melirik dengan mulut komat kamit.


"Nanti bareng ya kalau kau ingin berpamitan dengan Linda." Imbuh Hari.


"Hemmm."


Benar saja setelah perdebatan panjang pagi itu Nano dan Hari bertandang kerumah Linda. Sekedar berpamitan.


"Assalamualaikum." Ucap keduanya secara bersamaan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Sahut bibi Winy.


"Masuklah tunggu sebentar kupanggilkan Linda." Imbuhnya.


"Terima kasih tante Winy."


"Silahkan duduk dulu."


Bibi Winy berjalan kedalam.


Meninggalkan kedua pemuda tampan yang tengah bertamu pagi-pagi.


Terlihat Linda keluar dari balik gorden ruang keluarga.


"Mas Nano. Silahkan." Ucap Linda dengan meletakkan jamuan diatas meja.


"Mas Nano akan berangkat hari ini?" Imbuh Linda.


"Iya." Sedikit memberi jeda. " Nanti kalau butikmu sudah siap aku akan menghubungimu." Sambung Nano.


"Terima kasih." Ucap Linda.


Hari tampak celingukan mencari-cari sesuata yang tidak ia lihat.


"Yuk nanti kita terlambat." Ucap Nano mengagetkan Hari.


"Sebentar No." Ucap Hari.


Sekilas Linda menoleh kebelakang.


"Kau mencari siapa Har?" Tanya Linda kemudian.


"Rindu. Dimana dia?" Ucap hari.


"Mencari Rindu jam segini. Dia belum bangun." Jelas Linda.


"Mauku panggilkan." Tanya Linda.


"Tidak usah. Mungkin dia lelah." Jawab Hari sedikit kecewa.


Keduanya memilih segera berangkat. Mengingat setelah ini langsung bekerja.


Setelah berpamita kepada pemilik rumah mereka memacu motornya menuju tempat tujuannya.


Kisah hidup yang sulit kadang kala bisa menjadi motivasi tersendiri bagi sesiapa yang menerimanya dengan ikhlas dan lapang.


Pelajaran hidup tak selamanya berliku. Seperti jalanan ibu kota sudah banyak dibuka alternatif jalan tol.


Dimana ada kemauan pasti ada jalan.


Secepat apapun mereka berkendara tetap saja nembuatnya terlambat.


"Sial." Umpat Hari sambil memarkir motornya.


"Ayo cepatlah. Kita harus sowan dulu kepada Pak Wibi." Tutur Mas Nano.


Dengan tergesa-gesa keduanya menemui HRD.


Terlambat 15 menit membuatnya harus menandatangai surat peringatan pertama.


"Padahal hanya 15menit." Gerutu Hari.


"Sudahlah jangan menggerutu." Ucap Nano.


"Iya aku tau. Tapi kita tidak pernah terlambat selama bekerja disini." Masih dengan intonasi yang sama.


Perbincangan mereka sejenak mengalihkan dimana keberadaan setya saat ini.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.

__ADS_1


__ADS_2