AKU RINDU

AKU RINDU
PERPISAHAN


__ADS_3

Dipagi hari yang cerah tepatnya hari minggu terlihat mas Nano, Setya, dan Hari sudah rapi lengkap dengan tas ransel di punggung masing-masing.


"Sudah siap bro." Penuh semangat Hari menyapa rekan-rekannya.


Hari adalah salah satu dari teman mas Nano. Dengan setelan jeans dan kaos serba hitam lengkap dengan topi putih jika dilihat dari jauh penampilanya persis kotoran cicak.


Mereka bertiga pun berangkat bersama dengan menggunakan kereta api menuju kota.


Tempat tujuan mereka untuk merantau, mencari pengahasilan demi mencari rizki yang halal.


Pagi itu sebelum berangkat mas Nano menemui Rindu untuk ucapan perpisahan.


"Ri, aku titip ini ya?" Mas Nano menitipkan sesuatu yang biasa menemani dikala berkumpul bersama...


Kenapa di titipin ke aku.


Rindu bertanya dalam hati.


"Apa gak papa ni si bujang lapuk aku yang bawa, heemm?" Setelah si bujang Rindu peluk dengan hati-hati.


"Kalo mas Karno nyariin gimana?" imbuhnya.


"Tenang aja dia gak mungkin nyariin, lagian kamu lebih butuh itu untuk berlatih. Bukankah kamu ingin jadi penyanyi yang terkenal? ha ha ha ha," Goda mas Nano pada Rindu.


Malu-malu Rindu mengangguk, pertemuan singkat pagi itu membuat Rindu dan mas Nano sebagai pertemuan yang terakhir dan entah kapan bisa bertemu lagi.


Dengan hati-hati Rindu meletakkan si bujang lapuk, bujang lapuk adalah gitar milik Nano.


Rindu cukup senang bisa kenal mas Nano, yang notabene cowok perhatian dan penyabar. Dari sini pula Rindu mulai mengelan melodi yang dihasilkan petikan gitar. Dengan tekun Rindu belajar, kuku-kuku indahnya rusak karena itu. Bahkan ujung jarinya rela kapalan.


flashback on

__ADS_1


"Mas Nano!!" seorang gadis memanggil di balik ramenya sorak sorai penonton. Diaula sekolah Rindu turun dari bangku penonton dengan membawa pengeras suara.


Yang merasa seseorang memanggilnya pun menoleh.


"Apa mas Nano mau jadi kekasih ku?"


Tanpa malu-malu Rindu menyatakan perasaannya, tapi yang namanya di sebut malah pergi meninggalkan Rindu.


Tak sampai disitu Rindu berlari kearah mas Nano yang meninggalkan aula sekolah.


"Mas Nano tunggu...tidakkah mas Nano mau menjawab pertanyaan ku?" Tambah Rindu dengan berlari.


flashback off


"Hm hm hm bisa bisanya aku setidak tahu malu itu? mengungkapkan perasaan di depan orang banyak."


Rindu ngedumel mengingat kenangan waktu itu. Dimana dia dengan pedenya menyatakan perasaan kepada seseorang, yang jelas-jelas Rindu tau orang itu tak mungkin membalas perasaannya.


Linda adalah kakak sepupu Rindu, Linda anak dari Pade. Yang saat ini Rindu menumpang tempat tinggal, selagi ayah dan ibunya pergi bekerja di kota.


...Setahun sudah berlalu......


"Ri, kamu ada kabar tidak dari mas Nano?" Linda menanyakan ragu-ragu kepada adik sepupunya.


"Enggak. Kenapa, kangen ya...?" Sontak saja jawaban Rindu membuat Linda tersenyum dan menunduk malu.


"Kalau kangen ngomong ajha kali gak usa di pendem gitu," Rindu menambahi, kemudian menyerahkan deretan nomor diatas kertas. " Nih tanya sendiri kabarnya".


Rindu selama satu tahun kepergian Mas Nano memang hanya bisa saling tegur sapa lewat smartphone miliknya.


Memang harus ya aku dulu yang bertanya kabar, kenapa setelah waktu itu sepertinya Mas Nano tidak pernah menanyakan jawaban ku atas pertanyaannya. Dengan serius Linda menatap barisan nomor yang di berikan Rindu.

__ADS_1


"Sudah tidak usah mikir macam-macam, kalo penasaran kabarnya sok atuh langsung di WA," tanpa menoleh dari bukunya Rindu seakan tau apa yang sedang di pikirkan saudaranya tersebut.


"Baiklah setelah ini aku akan menghubunginya," dengan mantap Linda menjawab.


Malam makin larut dua saudara yang sedang fokus belajar itu tak menyadari jika waktu sudah menunjukkan tengah malam, hingga mereka di kagetkan dengan suara benda jatuh dari arah dapur.


Sontak mereka berdua saling menoleh seakan sedang berbicara dalam hati.


Bluukkk...pyaaaarrrr...


"Nah lo suara apa coba kak?" Dengan merapatkan tubuhnya kedekat Linda, Rindu sedikit berbisik menanyakan.


Linda mengankat bahunya, tanda bahwa dia sendiri tidak tau apa yang membuat kegaduhan di dapur.


"Mau ikut tidak?" Linda berdiri hendak melihat apa yang sedang terjadi di dapur.


"He'em," Rindu mengikuti langkah Linda dari belakang. Karna memang Rindu ini penakut sekali.


Setelah sampai depan pintu dapur segera Linda mencari saklar yang memang letaknya jauh dari pintu dapur.


Didalam dapur yang gelap terlihat ada sedikit bayangan putih yang tertangkap mata Rindu dan Linda.


Ragu-ragu mereka berdua melangkah, terasa bulu halus di tengkuknya yang mulai berdiri tanda ada sinyal-sinyal ketakutan.


Meeeooouunggg🐈🐈🐈


Putih-putih yang sedari tadi membuat mereka takut melompat.


"Astagah griss! duh bikin spot jantung aja deh," dengus Linda dan Rindu bersamaan.


Mereka berdua pun kembali kekamar dimana mereka selalu tidur berdua , kamar dimana Rindu menemukan fakta tentang mas Nano.

__ADS_1


__ADS_2