
Setelah mendapat restu Rindu mengambil ponsel dikamarnya, mengabari Linda soal ini. Siapa lagi yang paling mengerti Rindu jika bukan kakak sepupunya. Kegembiraan Rindu meletup-letup, tergambar jelas saat melakukan obrolan jarak jauh dengan Linda.
Rindu menggulingkan dirinya diatas tilam, memikirkan kapan akan segera menemui pemilik brand yang akan menjadi mitranya. Mungkin bukan pemiliknya langsung mungkin manager atau semacamnya. Sudahlah tak penting, sekarang yang paling penting adalah menghubungi orang tersebut.
Ditemani Pade Ari, Rindu mendatangi kantor cabang brand ternama di indonesia. Menyelesaikan syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku.
Kantornya tak besar, hanya gedung berlantai satu. Pade dan Rindu menunggu di lobby kantor cabang Surya Sakti Grup.
Seorang wanita cantik menghampiri mereka berdua, berbicara begitu sopan. Tangannya sibuk mengarahkan kemana ketiganya melangkah.
Tok tok tok
Wanita itu mengetuk pintu sebelum masuk, kemudian membukanya untuk mempersilahkan Pade Ari dan Rindu masuk.
"Silahkan pak," ucapnya ramah.
Pade dan Rindu hanya mengangguk. Melangkah masuk, terlihat seorang pria gagah menatap keluar jendela.
Mata Rindu seperti tak asing dengan orang dihadapannya.
Pria itu pun menoleh, seolah mendapat kejutan. Wanita menyebalkan yang diam-diam ia rindukan ada didepan mata. Tanpa canggung Bahtiyar mempersilahkan Pade dan Rindu duduk, "Mari silahkan duduk."
"Likta tolong ambilkan berkasnya!" Perintah Bahtiyar pada sekertarisnya.
Rindu sejenak membuang muka, kenapa bisa ia bertemu dengan pemuda ini lagi. Apa bumi tak lagi luas? Apa bumi sekarang hanya seluas daun kelor?.
Nampak Rindu mengatur nafas dan posisi duduknya tuk mengusir canggung. Bahtiyar sesekali melihat Rindu sambil menerangkan isi berkas kepada Pade Ari.
Konsentrasi Rindu buyar, semangatnya tak lagi menggebu saat tau harus berurusan dengan siapa.
"Rin apa kau mangerti?" Tanya Pade Ari kemudian.
"Ya Pade," ucap Rindu sedikit gamang.
"Coba baca dulu sebelum tanda tangan kontrak!" Ucap Pade.
Mata lebar Rindu mengamati setiap kata yang tertulis dalam berkas itu, bulu matanya yang lentik seolah menari mengikuti kerjaban kelopaknya.
Ya allah manis sekali, lihat bulu mata itu indahnya. Batin Bahtiyar saat mengamati setiap gerakan mata Rindu.
"Tenang saja sesuai kontrak yang tertulis disana. Untuk hasil pihak kedua yang mengelola. Pihak pertama yang akan menyediakan karyawan dan masalah gaji menjadi urusan pihak pertama sampai batas waktu kontrak yang disepakati. Setelah kontrak habis anda bisa memakai resep dari kami dengan memakai brand atau nama yang akan anda gunakan selanjutnya," dengan tegas Bahtiyar menjelaskan. Berbeda jauh cara bicaranya beberapa waktu yang lalu.
"Sorry untuk outlet bagaimana?" Tanya Rindu. Iseng mungkin saja disediakan juga. Hehehe.
"Untuk itu biasanya kita tidak sediakan, tapi kalau anda mau kita baru saja buka outlet baru disini. Tempatnya cukup strategis anda bisa gunakan itu," Bahtiyar menerangkan.
Biasanya Bahtiyar tak banyak bicara, karena ada Likta yang menjelaskan. Tapi melihat Rindu yang datang. Ingin sekali mengajaknya berbicara.
Rindu mengangguk-angguk kemudian menoleh kearah Pade seolah meminta pendapat. Namun Pade hanya mengedikkan bahu.
"Eemm begini boleh kami meminta waktu untuk memikirkan ini?" Putus Rindu takut salah langkah.
"Tentu saja, silahkan," jawab Bahtiyar.
__ADS_1
Mengapa tak kau iyakan saja Rin. Batin Bahtiyar.
"Okey terima kasih atas waktunya," pamit Pade, menjabat tangan Bahtiyar mantap.
Bahtiyar seolah memikirkan sesuatu. Bagaimana cara agar bisa berjumpa lagi dengan Rindu.
"Tunggu! Boleh saya meminta nomor ponsel anda?" Tanya Bahtiyar kemudian.
"Pade?" Ucap Rindu dengan tangan memegang lengan Pade yang hendak melangkah.
"Berikan nomor mu Rin, kau kan yang akan memulai bisnis ini," tutur Pade Ari.
Rindu sedikit sebal, malas sekali membagi nomor pada orang asing, "Baiklah, silahkan anda catat."
Yes! . Seru Bahtiyar dalam hati.
Pertemua siang itu begitu menyebalkan bagi Rindu, sudah terhitung keempat kalinya bertemu dengan si pemuda gila. Ahh ya Bahtiyar bukan pemuda gila lagi. Dipertemuan ketiga dan keempatnya ini sikapnya berbeda sekali.
Lain orang lain pemikiran. Siang ini terasa menyenangkan bagi Bahtiyar, pertemuan manis yang menjadi langkah awal kedekatannya. Bahkan dengan mudah mendapatkan nomor ponselnya.
"Kuberi nama apa ya di ponsel ku?" Bahtiyar bergumam sendiri.
"Pak anda berbicara dengan saya?" Tanya Likta yang ternyata masih ada diruangan.
"Eh masih disini? Kupikir kau sudah keluar?" Ucap Bahtiyar.
"Iya pak memang saya masih disini,"
Awal yang bagus membuat mood seseorang menjadi lebih baik. Oleh karena itu usahakan sebelum memulai semuanya berdoa dan tersenyum.
Didalam mobil Rindu masih merajuk, cemberut tergambar jelas sekali diwajahnya.
"Pade kenapa harus nomor ponselku?" Tanya Rindu.
"Bisnis ini kau yang akan mulai jadi semua keputusan ada di tangan mu Rin," ucap Pade.
Rindu menghembuskan nafas kasar, kepalanya seperti berdenyut. Kenapa di langkah awalnya yang bahkan belum terjadi sudah ada batu sandungan.
***
Setelah banyak pertimbangan putusan Rindu sudah bulat. Apa pun yang terjadi nanti ia sudah siap. Ini bisnis. Urusan pribadi jelas menjadi nomor kesekian.
Pelan tapi pasti Rindu belajar pada Pade dan Kakaknya. Sesekali juga menghubungi Bahtiyar hanya untuk bertanya masalah pekerjaan.
Waktu bergulir jika dihitung ini sudah bulan kedelapan. Yang artinya empat bulan lagi Mas Nano dan Linda melangsungkan pernikahan.
Mengejutkan sekali saat Nano menikmati makan siang bersama Linda indera pengelihatannya menemukan sosok yang ingin ia temui.
Langkah panjangnya menghampiri wanita itu. Tak salah lagi itu Sita.
Orang yang pernah Setya dan dirinya bahas. Sudah lama sekali Mas Nano mencarinya.
"Sita!!" Seru Mas Nano.
__ADS_1
Sita menoleh pada sumber suara, matanya membeliak. Kenapa ia harus bertemu diwaktu yang salah. Rupanya Sita tidak datang sendiri. Ada james juga.
Beruntung james mendapat panggilan telephone sehingga membiarkan Sita sendiri.
"Bagaimana kabarmu Sita?" Tanya Mas Nano persis didepan Sita.
"A-aku baik," terbata Sita menjawab.
"Bisa kita bicara sebentar?" Pinta Mas Nano.
Sita mengangguk, mengikuti langkah panjang Mas Nano. Kini ia berada di lantai atas. Mas Nano masih bingun harus memulai dari mana.
"Begini, mungkin pertanyaanku ini sedikit pribadi," terang Mas Nano berhati-hati.
Sita tampak bingung, sebenarnya apa yang hendak Nano tanyakan. Apa yang ia maksud pribadi.
"Apa kau sudah menikah?" Tanya Mas Nano.
Pertanyaan macam apa ini, menikah? Ah ya Sita hampir lupa jika terakhir bertemu dengan kawan-kawan kabar pertunangannya sudah tersebar. Mungkin ini yang mendasari pertanyaan teman didepannya.
"Eenn...belum," gamang Sita menjawab.
"Oke," Mas Nano tampak mengatur sebuah pertanyaan kembali, "Bagaimana pertunanganmu? Eemm maksudku apa semua sudah dibatalkan?"
Lagi-lagi Sita dibuat bingung, pertanyaan apa lagi ini? Dibatalkan?. Ragu-ragu Sita mulai mengerti arah pembicaraan Mas Nano.
Belum sempat Sita menjawab Mas Nano sudah berbicara kembali? "Setya sudah menceritakan semuanya pada ku."
Wajah Sita tampak pias, semua? Apa yang dia maksud dengan semua. Sebisa mungkin Sita menyembunyikan rasa kagetnya.
"Benarkah?" Jawab Sita.
"Bukankah Setya menjadi yang pertama bagimu?" Pertanyaan Mas Nano lagi-lagi membuat Sita membeku.
Astagah Setya apa saja yang kau ceritakan pada Nano. Sita membatin.
"Apa tak ada keinginan untuk kalian bisa bersama?" Satu pertanyaan belum terjawab Mas Nano sudah mencercanya dengan pertanyaan.
Andai bisa no, penolakan sepihakku tidak membuahkan hasil. Yang ada aku makin terjerat dalam ikatan pertunangan ini. Jawab Sita dalam hati.
Bagaimana mungkin aku tidak ingin bersama Setya setelah ini semua terjadi. Sita lebih banyak menjawab dalam hatinya.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.
__ADS_1