AKU RINDU

AKU RINDU
SEABAD LEBIH SEMENIT


__ADS_3

"Setya aku akan keluar sebentar. Pinjam hoodiemu ya!" Ucap Nano yang malas untuk kembali kekamarnya.


"Ya pakelah. Ada dibelakang pintu!" Sahut Setya yang masih berada didalam kamar mandi.


Nano bersiul ringan saat meninggalkan mess, stylenya cukup terlihat santai bahkan kelewat santai dengan hoodie menutupi kepala, celana cream selutut dan sandal gunung hitam menghiasi kaki.


Berkeliling mengitari kota, gemerlap lampu jalan dan gedung-gedung yang menjulang tinggi menghunus langit. Menjadi pemandangan tersendiri bagi siapa saja yang melewatinya. Tak jarang masih terlihat beberapa orang berjalan kaki. Taman kota yang terlihat masih rame, banyak anak-anak bermain, bersenda gurau. Muda mudi memenuhi kursi taman bercengkrama ringan diselingi tawa tanpa beban.


Nano terlihat memegang sebotol minuman isoplus warna biru. Entah apa yang membuatnya berdiam sendiri.


Tangan besar itu terlihat mengutak-atik smartphone miliknya.


Menenggerkan benda kecil pada indra pendengarannya.


"Hallo sedang apa Lin?" Tanyanya pada seseorang diseberang sana.


"Assalamualikum, biasakan ucap salam dulu Mas" sahut Linda.


"Waalaikumsalam, hm hm hm ya ya sedang apa lin?" Ucap Nano diselingi sedikit tawa ringan


"Bersantai dengan papa,mama. Mas Nano sedang berada dimana? Ramai sekali?" Tanya Linda. Merasa Mas Nano tidak sedang berada dikamar yang biasa sepi saat menelphonenya.


"Aku sedang ditaman. Bosan dimess terus." Terang Nano.


"Mas Nano sedang tidak ada masalahkan?" Selidik Linda karena merasa Nano tidak seperti biasanya. Dirasa ada yang aneh, bosan? Dari mana kalimat semacam itu terlontar begitu saja.


"Ya sayang aku tidak sedang ada masalah apa-apa, sudahlah jangan berfikir yang macam-macam. Apa kamu sudah makan?" Tanya Nano merasa jika Linda tahu saja apa yang sedang ia pikirkan.


"Sudah Mas. Baru saja selesai. Mas Nano sudah? Oiya Mas gimana butiknya sudah selesaikah?" Tanya Linda.


"Besok aku akan menjemputmu. Kamu lihat saja dulu? Menurut Pak Alex sudah siap." Terang Nano.


"Benarkah? Tunggu, bukankah besok Mas masih harus bekerja?" Ucap Linda.


"Pulang kerja aku akan menjemputmu. Nanti langsung kuantar kembali." Terang Nano.


Saat sedang asik bercengkrama dengan Linda lewat sambungan telephone, manik hitam Nano menangkap seseorang yang ia kenal.


Apa itu benar dia. Batin Nano.


Cukup lama Nano berdiam memperhatikan sosok didepan matanya. Hingga ia tersadar dengan suara yang memanggil-manggilnya.


"Mas, Mas Nano hallo." Suara Linda terdengar sedikit nyaring.


"Ya hallo maaf ya." Ucap Nano.


"Mas Nano kenapa? Kalau capek Mas Nano istirahatlah." Ucap Linda sedikit dengan nada penuh kekesalan merasa dicueki.

__ADS_1


"Hahaha maaf sayang. Apa kamu marah? Ayolah aku tadi seperti melihat seorang teman." Terang Nano.


"Teman? Apa Mas sekarang bersama seseorang?" Rajuk Linda.


"Tidak. Hanya saja tadi aku seperti melihat teman lama, ingin menyapa tapi takut salah orang." Ucap Nano jujur.


Waktu tak terasa sudah semakin larut. Lambat laun beberapa orang sudah beranjak meninggalkan taman. Hanya terlihat beberapa orang berlalu lalang.


Nano terlihat mulai beranjak meninggalkan bangku yang ia duduki. Melangkah menuju tempat motornya terparkir. Ngenes, beberapa yang berpapasan terlihat datang bersama teman atau kekasih. Lah ini Nano berjalan sendiri menyusuri jalan setapak menuju tempat parkir.


"Berapa Mas" tanya Nano pada penjaga parkir.


"Lima ribu Mas." Setelah menjawab dan menerima satu lembar uang berwarna coklat itu penjaga parkir pergi.


Headset masih terpasang pada indra pendengarannya. Enggan untuk mengakhiri telephonenya. Padahal baru beberapa hari tidak bertemu rasanya sudah seabad lama lebih semenit.


"Hallo Mas masih dijalan ya?" Tanya Linda dari seberang.


"Ya ini masih dijalan bentar lagi sampai."


"Sudah ya Mas, kumatikan telfonnya. Gak boleh berkendara sambil telfonan." Terang Linda. Karena berbahaya jika berkendara sambil telephone.


"Sebentar lagi ya. Bentar juga sampai."


"Mas! Nantikan bisa disambung lagi. Jan kayak ABG deh." Ucap Linda. Merasa Nano sedikit kekanak-kanakan jika dengannya.


"Hemm assalamualaikum. Hati-hati dijalan ya Mas bey." Pamit Linda.


"Waalaikumsalam." Sambungan telephone pun terputus menyisakan nada tut tut tut di pendengaran. Terlihat Nano menepikan motornya. Hingga tanpa diduga dari arah belakangnya ada motor yang nyaris menyerepetnya. Beruntung ada seseorang yang sedikit menariknya lebih menepi hingga berada diatas trotoar.


"Hati hati bro. Lain kali kalo berhenti jangan tanggung." Ucap orang itu.


"Terima kasih." Ucap Nano.


"Ya." Ucap orang itu kemudian melangkah pergi.


"Tunggu siapa namamu?!" Teriak Nano.


"Ferly. Ferly munandar!!!" Jawab orang itu sambil berteriak karena jarak keduanya sudah semakin jauh.


Terlihat Nano memeriksa motornya yang terserempet hingga terjatuh sedikit kebadan jalan. Tidak begitu buruk. Hanya goresan kecil disana. Aneh kenapa tiba-tiba ada yang mencoba mencelakainya. Pikiranya tidak lari kemana-mana. Pasti orang yang sama. Orang yang sedikit ada konflik dengannya saat ini.


Malam mulai sedikit sepi tapi tetap saja ada kendaraan yang melintas begitu mulus tanpa kendala. Nano melanjutkan perjalan pulang. Sedikit dengan tergesa-gesa. Kecepatan yang cukup membuatnya melesat dengan cepat.


Bremmm breeeemmm


Dari arah belakang sebuah motor terlihat mengikutinya. Seketika itu juga Nano menambah kecepatan laju motornya.

__ADS_1


Sial siapa kedua orang itu. Umpat Nano.


Didepannya sudah terlihat tikungan menuju pelataran messnya. Tanpa mengurangi kecepatan Nano membelokkan motornya begitu saja. Sontak membuat kendaraan yang mengikutinya salah langkah.


"Aneh siapa mereka. Apa masih ingin dilanjutkan masalah yang sudah-sudah." Gumam lirih Nano.


Pelataran mess terlihat sepi tak berpenghuni. Hanya ada dua satpam yang berjaga disana. Harusnya ada tiga satpam. Mungkin yang satu lagi sedang berkeliling melihat keadaan sekitar.


"Malam pak slamet." Sapa Nano pada satpam yang baru saja berpapasan dengannya.


"Malam Mas. Tumben keluar sendiri?" Tanya satpam.


"Iya pak yang lain tadi sudah pada tidur." Terang Nano. "Mari pak." Imbuhnya.


"Mari mari Mas." Pak Slamet melangkah menuju pos scurity.


Nano terlihat masih memikirkan kejadian-kejadian yang baru saja ia alami. Sebetulnya ia bisa menebak siapa yang sudah bermain-main dengannya. Selama dikota ini hanya ada satu orang yang menarik perhatiannya.


Rasanya tidak aman juga jika harus keluar sendiri dikota yang ia tinggali sekarang, mengingat dia disini hanya bertiga dengan Setya dan Hari.


****


Ditempat lain Linda merasa aneh dengan Nano yang tidak seperti biasanya. Tiga sekawan itu yang tak pernah terlepas.


"Sedang memikirkan apa Kak Lin?" Tanya Rindu saat tau perubahan mimik wajah Linda.


"Eemm tidak ada." Ucap Linda.


"Iya kah? Biasanya kalau sudah bertukar kabar dengan Mas Nano wajahnya merekah bak bunga mawar yang baru ngembang." Ledek Rindu.


"Iisshh kau ini. Sudahlah aku akan tidur capek." Ucap Linda sambil berlalu meninggalkan ruang keluarga.


Belum sempat kakinya melangkah pergi melewati gorden pembatas, Linda teringat sesuatu. Rencananya besok untuk kekota melihat pembangunan butiknya.


Linda mendudukan kembali dirinya diatas sofa empuk ruangan itu.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu.

__ADS_1


__ADS_2