AKU RINDU

AKU RINDU
CILOK TERKUTUK


__ADS_3

Di dalam IGD dokter memeriksa Nano dengan seksama, diarahkannya senter di kedua mata Nano.


Sekilas Linda menatap tangan yang telah tertaut dengan tangan milik Nano, diusapnya lembut punggung tangan Nano. Kemudian kembali menatap pak dokter yang sedang memeriksa kondisi Nano.


"Bagaimana dokter?" ucap Linda.


Dokter bernafas lega " apa yang dialami saudara Nano bisa disebut juga dengan mati suri, mari akan saya jelaskan." ucap dokter kemudian.


Saat Linda akan pergi mengikuti dokter, tangan Linda seakan tertahan. Genggaman tangan Nano menguat, mata sipit Linda mengarah pada tangan yang terpaut pada gegaman Nano.


Dokter menyadari apa yang terjadi disituasi ini. "Tak masalah, tetaplah di sini nona. Biar saya jelaskan pada keluarga atau kerabat pasien yang ada di luar." ucap dokter.


Pintu IGD terbuka, seketika tiga pasang mata menatap tajam, Setya yang hendak melangkah pergi tertahan. Segera ketiganya menghampir dokter yang baru saja keluar dari balik pintu IGD.


"Bagaimana dok?" ucap Silla buru-buru menghampiri dokter karna disini dia yang paling terlihat cemas.


"Mari ikut saya, akan saya jelaskan di ruangan." jawab pak dokter.


Mereka bertiga berjalan beriringan mengikuti dokter menuju ruang kerjanya.


Terlihat Setya dan Silla duduk di depan meja sambil menunggu penjelasan dari pak dokter.


"Saudara Nano sepertinya mengalami mati suri. Dalam keadaan mati suri, seseorang masih memiliki aktivitas di tingkat sel meski sangat minimal dan tidak terdeteksi secara kasat mata. Paling tidak, bagian paling keramat dalam tubuh manusia yakni batang otak masih aktif dalam kondisi ini.


Aktivitas batang otak dalam kondisi mati suri bisa diamati dengan Electroencephalography (EEG). Meski denyut jantung tidak teraba dan nafasnya sudah berhenti, seseorang baru dikatakan benar-benar mati kalau grafik EEG sudah flat atau datar yang artinya tidak ada aktivitas lagi di batang otak.


Tapi sungguh ajaib pada kasus saudara Nano, tiba-tiba kondisi jantung dan batang otaknya kembali bekerja dengan baik, ini sungguh diluar kemampuan medis." tutur dokter panjang lebar.


Mata sendu Silla seketika berbinar, nampak jelas di kedua tatapan matanya yang menampilkan kelegaan. Kedua temannya Setya dan Sita pun tampak tersenyum penuh kelegaan.


Syukurlah No kondisimu baik-baik saja. Batin Setya.


"Terima kasih dok." ucap Setya dengan menjabat tangan pak dokter.


Wajah yang tadinya mendung telah menampakan sinarnya, mereka berjalan bersama untuk menemui Nano.


Setelah mendapat info dari Linda jika Nano sudah di pindahkan diruang rawat pasien, mungkin butuh waktu tiga hari untuk pemulihan.


"Silla sebaiknya kita beli sesuatu, dari tadi siang perut mu belum terisi apa pun." Setya mencoba untuk mengajak Silla untuk makan, kuwatir jika temannya ini ikut sakit.


"Baiklah." jawab Silla.


Saat selesai dari toilet Rindu dan Hari berpapasan dengan ketiga temannya, mereka nampak berbincang sambil berjalan beriringan.


Setya dan Hari berjalan selangkah di depan para perempuan yang belum saling mengenal, Rindu terlihat canggung saat berjalan bersama dengan kedua teman Setya dan Hari. Tidak ada obrolan lagi setelah Setya menjelaskan kondisi Nano yang sudah membaik dan kini sudah pindah di ruang rawat inap.


"Rindu apa kamu mau ikut atau titip sesuatu?" ucap Hari menawari Rindu dengan senyum yang mengembang.


"Eemmm ... aku titip roti saja." jawab Rindu.


"Hanya itu?" kembali Hari bertanya.


"Ya ... hanya itu." jawab Rindu.


Akhirnya di persimpangan lorong rumah sakit mereka berpisah, Rindu berjalan sendiri menuju ruangan yang sudah Setya tunjukkan. Sedangkan Hari, Sita, Silla, dan Setya berjalan menuju food court, yang ada di sisi luar rumah sakit harapan.


Linda terkesiap saat pintu kamar terbuka, terlihat Rindu menghampirinya dengan seulas senyum manis terukir.


"Kakak sudah makan?" Tanya Rindu setelah mendekat.


"Ini aku sedang makan cilok." ucap Linda dengan mulut penuh. yang tadi sempat Setya berikan padanya.


"Isshhh ... cilok terkutuk." ucap Rindu seraya mendudukan dirinya di sofa yang ada di ruangan VIP itu.


Tatapan tajam Linda menunggu penjelasa, kenapa cilok seenak ini dibilang terkutuk oleh si Rindu yang biasanya paling suka cilok.


"Kak, apa mas Nano tadi sudah sempat membuka mata?" tanya Rindu sambil memainkan ponselnya.


"Sudah tapi cuma sebentar." jawab Linda sambil melangkah mendekati tempat sampah.


"Sejak kapan cilok menjadi makanan yang terkutuk." tanya Linda sambil memasuki kamar mandi di ruangan itu.


Enggan rasanya Rindu menjelaskan, jangankan menjelaskan mengingat-ingat saja Rindu malas sekali. Sungguh pengalaman yang memalukan, tidak hanya di sekolah bahkan di rumah sakit ini Rindu menjadi sorotan karna di caci maki orang.


"Yeeehhh, ditanya kenapa diam saja?" ucap Linda setelah keluar dari kamar mandi.


Dari pada harus menjelaskan sesuatu yang tidak menyenangkan Rindu lebih memilih menelphone bibi Winy.


"Hallo, assalamuallaikum bibi." ucap Rindu memberi salam pada bibi Winy untuk memberi kabar.

__ADS_1


"Waallaikumsalam Sayang, kenapa tiba-tiba sekali kak linda mengajakmu pergi kekota." tanya bibi Winy.


"Iya bi." jawab Rindu dengan sorot mata menatap Linda, isyarat bahwa Rindu akan menjelaskan kepergiannya kekota.


Linda mengangguk tanda bahwa iya mengijinkan Rindu untuk menceritakan semua.


Rindu pun melanjutkan pembicaraannya dengan bibi Winy lewat telphone, kurang lebih tiga puluh menit Rindu bercengkrama. Paman ari juga ikut dalam percakapan, karna paman Ari ingin mengabari Nani dan Neno jika mas Nano baik-baik saja.


"Sudah ya bibi, Rindu akan beristirahat assalamuallaikum." pamit Rindu.


"Waallailumsalam." ucap bibi Winy.


Setelah mengakhiri telfonnya Rindu berjalan memasuki kamar mandi untuk menyegarkan diri.


Diatas tilam nampak Nano begitu gelisah walau mata masih terpejam, peluh keringat membasahi keningnya. Entah apa yang telah ia mimpikan, kerutan panik tampak di keningnya yang semakin terlihat.


Linda yang menyadari itu mengusap lembut kening Nano, tak selang lama keempat teman yang membawa Nano ke rumah sakit pun datang siapa lagi kalo bukan Setya, Hari, Silla, dan Sita.


"Ada apa Lin?" Tanya Setya pada Linda yang terlihat cemas saat mengusap kening Nano.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja Nano tampak gelisa." jawab Linda.


"Dimana Rindu." ucap Hari saat netranya tak menemukan sosok Rindu.


Belum sempat Linda menjawab, yang di tanya sudah menampakkan diri dari balik pintu kamar mandi.


"Maaf permisi, yang berjaga diharapkan hanya dua orang saja." ucap salah satu suster yang tiba-tiba masuk.


"Baik sus terima kasih." ucap Linda.


"Biar aku yang menemani kak Linda." ucap Rindu kemudian.


Silla yang sedari tadi diam menelan kekecewaan, karena berharap ia bisa ikut untuk menemani Nano.


"Kita bisa bergantian untuk menjaganya besok." ucap Setya.


"Mari Silla kita pulang." ucap Sita untuk mengajak temannya pulang.


"Terima kasih banyak semua." ucap Linda pada semua teman Nano yang sudah banyak membantu.


"Kami permisi pulang, kalau membutuhkan sesuatu jangan sungkan menelphone." tutur Hari.


"Oiya lupa ini Ri roti titipan mu." ucap Hari kemudian sambil mengulurkan tangan.


"Terima kasih mas Hari." jawab Rindu dengan senyum mengembang.


Sepanjang perjalanan melewati lorong yang sepi hanya terdengar suara langkah kaki keempat sekawan itu.


Sita melihat punggung tegap Setya, sedang berfikir untuk membuka percakapan.


"Uumm...Setya." ucap lirih Sita memecah keheningan.


"Heemm." hanya itu yang keluar dari bibir Setya.


"Boleh tidak aku menumpang untuk kembali ke mes." ucap Sita kemudian.


"Pulanglah dengan Hari atau ojol." tolak Setya, karena masih butuh waktu untuk sendiri.


"Sita kita naik gobil saja." sahut Silla karena tidak ingin perdebatan terjadi.


"Setya antar dulu Sita, kasihan malam-malam kalau cewek naik ojol." sambung Hari ikut menyahuti.


Pandangan Setya masih lurus kedepan, sedikit mencerna maksud dari ucapan Hari. Mengingat ada benarnya juga, hal pribadi harus ia singkirkan kali ini.


"Baiklah aku pulang dengan Silla dan, bawalah Sita bersama mu." ucap Setya dengan mata melirik hari di sebelahnya.


"Kenapa bisa begitu." tungkas Hari. "Aku tadi kemari dengan Silla kenapa sekarang aku pulangnya dengan Sita?" Imbuhnya.


"Sudahlah ini sudah malam jangan berdebat okey aku dengan Setya dan kau dengan Sita." putus Silla saat dirasa ini keputusan yang tepat. Dari pada harus berdebat masalah sepele.


Mereka berempat pun telah keluar dari rumah sakit menuju mes menggunakan motor sesuai kesepakatan Silla dengan Setya dan Hari dengan Sita.


*****


Sinar mentari mulai menampakkan sinarnya, merasai ada yang membelai lembut pucuk kepalanya Linda pun mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Mas Nano sudah bangun." ucap Linda.


"Ya seperti yang kau lihat." jawab Nano.

__ADS_1


Sesaat mata Nano melirik seseorang yang masih tertidur dengan wajah lelahnya.


"Kenapa kesini bawa si cabe." tanyanya dengan sedikit senyum.


"Hey jaga bicara mu, dia juga mencemaskan keadaanmu." ucap Linda.


"Permisi sarapannya nona." seorang suster masuk dengan membawakan sarapan.


"Terima kasih." ucap Linda.


"Mau kemana mas." tanya Linda saat mas Nano hendak bangun dari tidurnya.


"Ingin menyegarkan diri." jawab Nano santai, karena apa yang ia alami bagai tidur panjang.


"Apa kondisimu sudah lebih baik." tanya Linda mencoba untuk memapah mas Nano.


"Tentu aku baik-baik saja tidak perlu cemas, duduklah pasti kau juga lelah." ucap Nano sambil berlalu menuju kamar mandi dengan membawa infus di tangannya.


Mendengar desas desus di pagi hari Rindu terbangun, terlihat ia mulai menetralkan matanya yang silau akan sinar mentari di pagi hari.


Sedikit merenggangkan otot yang terasa kaku akibat tertidur diatas sofa.


Enggan rasanya untuk terbangun, mengingat ini adalah hari minggu.


"Kakak apakah kita akan pulang kampung hari ini." tanya Rindu sambil menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.



"Kurasa kita akan kembali sepulang mas Nano dari rumah sakit Ri." jawab Linda dengan mantap. "Apa hari senin besok kau harus bersekolah." imbuhnya.


"Ummm ... tidak." ucap Rindu sambil melihat sekeliling saat tidak mendapati mas Nano di atas tilam. "Kak Lin...dimana mas Nano?" Tanya Rindu lagi.


"Tuh disana." ucap Linda dengan tangan menunjuk kamar mandi yang tertutup rapat, dengan suara khas orang mandi.


Linda berdiri menatap keluar jendela, di tengoknya suasana diluar begitu ramai dari atas gedung rumah sakit.


Saat mendengar pintu kamar mandi Linda segera berbalik menatap arah sumber suara, kini Linda bersandar pada dinding ruangan itu.



Di kondisi seperti apapun Linda selalu tampil modis, mengingat bahwa Linda adalah seorang desainer yang kini sudah mulai memasuki ke tenaran.


Mas Nano nampak sudah segar dengan rambutnya yang masih basah dengan tetesan-tetesan air disana. Dicipratkannya air yang masih sedikit tersisa di tangan mas Nano tepat mengenai wajah rindu.


Astagah mas Nano...cool sekali . gumam Rindu melihat mas Nano tanpa berkedip.


"Cepat sana mandi air liur mu sudah kemana-mana." ledek mas Nano.


"Isshh, menyebalkan." ucap Rindu sambil mengusap kasar wajahnya yang sedikit terciprat air. Dengan mencebik kesal Rindu berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Mau sampai kapan berdiri disitu?" tanya mas Nano saat sudah berada di atas tilam sambil menyandarkan tubuhnya.


"Mau langsung sarapan mas?" Tanya Linda sedikit gugup.


"Boleh." jawab Nano.


Segera Linda membawa makanan yang telah suster sediakan. Lima belas menit kemudian Rindu sudah keluar dengan wajah segar, ya Rindu memang tergolong cewek tercepat dalam sejarah permandian kaum hawa.


"Cepet banget? Mandi atau hanya sekedar mencuci wajah mu saja?" Ucap mas Nano heran. Di lengkapai dengan senyum meledek.


"Dia sudah biasa, justru ini mandi yang terlama untuknya." sahut Linda penuh dengan senyum meledek pula.


"Dasar duo rese'." tungkas Rindu sedikit jengah dengan memutar bola matanya yang lebar. "Kak aku akan pergi membeli sesuatu apa kakak mau memberiku sedikit uang." imbuhnya sambil menadahkan tangan.


"Isshh tidak sopan habis berucap buruk masih saja tidak tahu malu meminta uang." umpat linda sambil menyodorkan black card miliknya.


"Terima kasih kakak." ucapnya sambil memeluk erat Linda.


Rindu berjalan santai melewati lorong rumah sakit yang ramai orang berlalu lalang. Siulan ringan lolos dari bibirnya mengiringi langkah kaki Rindu menuju food court.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,

__ADS_1


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu


__ADS_2