
Karena cuaca tidak mendukungnya membawa motor, Mas Nano memilih untuk mengendarai mobil. Jalanan tampak lenggang, tak banyak kendaraan berlalu lalang, mungkin cuaca buruk yang jadi alasan.
Chiiiiiitttssss
"Astaghfirullahaladzim," rem mobil Mas Nano berdencit, hampir saja terjadi tabrakan. Seorang wanita tiba-tiba menyebrang sembaranga.
Tak jelas, wanita itu tampak terburu-buru. Topi merah dengan rambut menutupi sebagian wajah. Mas Nano menunduk, dengan tangan sibuk melepas sabuk pengaman. Tiga detik kemudian saat mendongak hendak membuka pintu wanita itu tidak ada di tempatnya.
Mas Nano turun, melihat kanan kiri tidak ada orang, hanya sesekali ada kendaraan yang melewatinya. Dirasa sudah aman Mas Nano masuk kembali kedalam mobil. Melajukannya dengan perlahan.
Agar cepat sampai tujuan Mas Nano melajukan mobilnya menuju gerbang tol, memilih alternatif bebas hambatan. Perjalan yang memakan waktu tiga jam bisa ditemput dengan kurun waktu satu setengah jam. Selain cepat, juga lebih menghemat tenaga.
Untuk mengurai kesunyian berkendara sendiri, Mas Nano memutar siaran radio.
Tak terasa, mobil expander hitam Mas Nano kini sudah sampai di tempat kelahirannya.
Saat memasuki halaman terlihat Rindu sedang duduk diatas ayunan, ada Nan juga. Lin qiunan sesekali berdiri diatas pangkuan Rindu. Melonjak-lonjak dengan riang.
"Bububu," celoteh Nan. Rambut keriting Nan turut melambung saat Nan dengan aktifnya melonjak.
"Nan apa kau mau ikut Aunty?" Tanya Rindu.
Digendongnya balita itu dalam pelukanya. Sesekali tangan mungil itu mengusap bibir Rindu. Menoel-noel mata juga hidungnya. Kadang juga menarik rambut pajang Rindu yang tergerai indah.
"Hentikan Nan sakit," ucap Rindu dengan menangkupkan tangan Nan pada pipinya. Sesekali Rindu menggigit gemas jemari mungil itu. Nan kecil tertawa renyah.
Linda terlihat keluar dari rumah, langkahnya terhenti saat akan menghampiri sang putera. Menoleh ke asal suara mobil yang baru datang.
Ya, suaminya datang. Linda melangkah mendekati mobil, mencium punggung tangan suaminya. Membantu menurunkan beberapa barang.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam. Berangkat jam berapa Mas? Kenapa tidak mengabari dulu," tanya Linda. Saat berjalan beriringan dengan Mas Nano.
"Jam lima. Aku sudah merindukan kalian. Makanya aku buru-buru pulang," alasan yang selalu datang dalam hubungan jarak jauh, "Dan lagi sore ini aku ingin mengajak kalian jalan-jalan." imbuh Mas Nano.
"Nan pasti suka Mas," ucap Linda dengan menautkan tangan pada lengan Mas Nano.
Seperti biasa tiap akhir pekan Mas Nano menyempatkan pulang, untuk sekedar mengajak keluarga kecilnya jalan-jalan. Kadang Rindu merengek untuk ikut. Dengan alasan mumpung libur.
Pukul empat sore sinar mentari terlihat mulai meredup, menampakkan matahari yang siap terbenam.
"Sudah Siap semua?" Tanya Mas Nano.
__ADS_1
Linda mengangguk, "Sudah. Yuk Rin. Kemarikan biar aku yang gendong baby Nan."
Rindu semakin mengeratkan gendongannya, "Biar aku Kak Lin."
"Ya sudah terserah padamu saja," putus Linda.
Setelah berpamitan, mobil merah jambu yang membawa keempat manusia itu melesat menuju sebuah taman. Taman yang tampak asri, ada sebuah danau kecil disana. Seperti taman-taman pada umumnya terdapat ayunan, prosotan, jungkat-jungkit dan masih banyak lagi.
Selain wahana bermain gratis, disana juga ada odong-odong, kereta-keretaan yang bisa dinaiki ibu dan anak. Tarifnya tidak terlalu mahal hanya 10.000 dalam sekali putaran mengelilingi taman.
Disebelah kanan tempat parkir ada banyak penjual jajanan seperti sosis bakar, jasuke, cilok, dan masih banyak lagi.
Banyak orang-orang mengahabiskan waktu bersama keluarga. Tempat yang cukup nyaman dan tidak perlu menghabiskan banyak uang bila sekedar bersantai melepas penat.
Disebuah kursi besi berukuran sedang untuk dua orang Rindu terduduk. Menatap langit yang mulai menjingga. Saat ini Mas Nano dan keluarga kecilnya sedang mencoba berbagai macam wahana. Apa lagi Lin Qiunan sudah bisa berjalan. Keingin tahuannya cukup besar.
Ya Allah jika engkau ijinkan, sisakan aku satu pria sebaik, sebijak Pakde Ari atau Mas Nano. hiks hiks, diusia segini masih saja aku tak laku-laku. Malangnya nasib. Batin Rindu.
Ditengah lamunan tak terasa cilok ditangannya ludes, Rindu menatap sekeliling. Banyak anak kecil berlarian, ada yang main kejar-kejaran dengan si ibu entah apa yang mereka lakukan. Jika dilihat ibu itu membawa tempat makan kecil. Mungkin si anak susah disuruh makan.
"Mas, udah yuk. Kasian Rindu sendirian." Linda menyudahi kegiatannya. Nan terlihat keren dengan sepatu kest putih. Senada dengan baju putih polos yang ia pakai, berbalut kemeja kotak-kotak yang sengaja tak dikancingkan.
Keluarga kecil Linda tampak kompak dengan baju couple, sesekali Nan terjatuh mengimbangi langkah awalnya. Bayi berusia satu tahun itu melangkah dengan semangatnya walau beberapa kali terjatuh.
"Cabe, sebelum pulang fotoin dulu ya?" pinta Linda.
"Ayo kemarikan kameranya." Rindu berjalan mendekati ketiganya.
"Yuk Mas, kita foto dikursi dulu," ajak Linda dengan duduk dikursi yang sempat Rindu tadi duduki.
"Hemm," kemudian Mas Nano turut duduk, menurunkan Nan diatara dia dan Linda.
"Oke, sudah siap ya?" ucap Rindu mengambil ancang-ancang seolah sudah profesional.
"Satu, dua, tiga, senyum," ucap
Rindu sang photographer dadakan.
Kemudian menunjukkan hasil jepretannya kepada Linda dan Mas Nano. Hasilnya lumayan. Rindu cukup ahli dalam bidang ini. Diakan hobby sekali berfoto selfi, cukup mudah mengambil angle yang bagus.
"Lagi, lagi. Satu, dua, money,"
__ADS_1
Ucap Rindu, "Ayo katakan Money," ulang Rindu saat tak mendapat respon dari Kakak sepupu dan Kakak iparnya. Rindu semakin menghayati perannya.
"Dasar mata duitan, apa coba? Yang ada tu bilang ciiiissss," umpat Mas Nano.
"Laahhh lebih bagus tau! Ayo, ayo cepat katakan Money, pasti senyumnya terlihat lebih natural," masih kuekeh dengan kemaunnya. Kemudian Rindu memberi contoh dengan berkali-kali bilang money. Menunjukkan jajaran gigi putih saat senyum mengembang ketika bilang money.
Linda dan Nano memutar bola matanya jengah, menurut saja sama si photographer, "Moneyyy,"
Mau tak mau mereka menurut, Baby Nan tampak lucu dengan gaya naturalnya. Gemas, gemasnya. Banyak sekali foto yang diambil. Ada juga beberapa foto candid.
"Nah tuh lihat hasilnya, baguskan 'kan? Apa ku bilang. Hanya dengan bilang money rasanya hidup lebih natural hahahaha," ucap Rindu diakhiri tawa yang memekakkan telinga.
"Ya, ya terserah padamu saja!" Ucap Linda dengan melihat hasil jepretan Photographer abal-abal.
Langit mulai menjingga, teduh menenangkan jiwa. Taman juga semakin ramai pengunjung, suara tawa riang para balita saling bersahutan.
Karena haus dan ingin makan camilan Nano dan Linda memutuskan untuk membeli kudapan. Nan juga tampak anteng didalam stroller.
"Rin, titip Nan ya. Jaga baik-baik. Haus mau beli minum sekalian beli cemilan," ucap Linda.
"Kau mau titip apa?" tanya Mas Nano.
Rindu menggeleng, sudah habis makan cilok 10.000 rasanya perut terisi penuh, "Enggak deh, tadi sudah beli cilok."
"Emm ya sudah," kemudian Mas Nano beranjak meninggalkan Rindu dengan Nan.
"Nan keliling yuk?" gumamnya pada Nan. Nan hanya menatap sambil tersenyum.
Rindu mengajak baby Nan berkeliling. Terlihat penjual arum manis diseberang jalan. Makanan yang sudah jarang Rindu makan. Ternyata sudah ada Mas Nano dan Linda diseberang sana, terlihat tangan Linda memegang satu buah arum manis, melambai kearah Rindu.
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
,,,,
Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan meluangkan waktu membaca novel pertama saya.
Tak kurang juga rasa terima kasih untuk para author yang sudah memberikan kirsar.
__ADS_1
arigatou gozaimasu.