AKU RINDU

AKU RINDU
BUKAN NYAWA DIBAYAR NYAWA


__ADS_3

Dibantu aparat kepolisian dan pengacara, Linda mencoba menguak kebenaran. Memeriksa CCTV taman. Hingga menanyakan pada saksi mata disekitar sana. Setelah mengantongi plat nomor fortuner itu Linda sedikit lega.


Himpitan rasa kehilanga terasa berkurang, mendengar kabar dari pihak kepolisian mengenai identitas pelaku tabrak lari Mas Nano dua bulan yang lalu.


Terburu-buru Linda menuju kantor polisi. Menggunakan mobil merah jambu miliknya. Wajah yang selalu terlihat muram kini sedikit berseri. Berharap pelaku mendapat hukuman yang setimpal. Bukan, bukan dendam yang Linda rasakan, namun keadilan karena telah menghilangkan nyawa seseorang. Bukan nyawa dibayar nyawa, setidaknya ada hukuman yang pantas bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


Langkah Linda terdengar mana kala high heel bersentuhan dengan lantai, membuka perlahan pintu kayu setengah badan, " Selamat siang Pak?"


"Selamat siang Nyonya, silahkan duduk," sambut Pak polisi yang menangani kasus kematian Mas Nano. Dengan pengacara keluarga Linda.


Dikantor kepolisian sudah ada Abhi selaku pengacara keluarga yang sudah dipercaya oleh keluarga Linda selama ini.


Abhi menunduk hormat, dan sedikit menarik kursi disebelahnya agar Linda bisa menempati.


"Jadi bagaimana? apa orangnya sudah berhasil ditemukan?" Tak sabar Linda menunggu penjelasan.


"Kami sudah melakukan pengintaian sejauh ini, salah satu bawahan saya sedang menuju kemari dengan orang tersebut," jelas Pak Polisi.


Ponsel Linda berbunyi, memutus paksa obrolan ketiganya. Linda mengeluarkan benda pipih itu dari tas jinjingnya. Melihat siapa yang berani mengganggunya disaat genting.


Cabe,


Linda melangkah keluar ruangan, "Waalaikumsalam Rin ada apa, kenapa kau terdengar panik?"


"Apa!! Baiklah aku akan pulang tenang ya," Linda kembali masuk kedalam ruangan untuk berpamitan mempercayakan semua kepada pengacara dan Pak Polisi.


"Abhi aku harus pulang, dirumah ada masalah," Linda pamit hendak meninggakan kantor polisi.


"Ada apa Lin?" Abhi bertanya apa yang sedang terjadi.


"Jika aku membutuhkanmu, aku akan menghubungimu nanti. Tolong lanjutkan kasus yang ini. Terima kasih," akhir-akhir ini Linda selalu tergesa. Hingga tak memperdulikan kondisi tubuhnya. Wajah lelah sangat mendominasi, kantung hitam dibawah mata menjadi saksi bisu pedihnya ditinggalkan.


Dengan cepat Linda melajukan mobil merah jambu miliknya, meninggalkan parkiran kepolisian.


Tak butuh waktu lama, Linda sudah sampai didepan rumah. Kaget bercampur marah, ada apa ini. Kaca rumahnya pecah ada bekas api yang membakar gorden.


Rindu yang baru tiba pun sama kagetnya. Ini yang menjadi alasan kenapa Bude Winy menangis ketakutan saat menelfonnya. Rindu segera berlari. Memeriksa keadaan didalam rumah.


"Assalamualaikum, Mam, Mama, ini aku dan Rindu yang datang!" Linda sedikit berseru. Karena tidak menemukan Mama Winy.


Tak lama gorden pembatas ruang tamu dan ruang keluarga terbuka, menampilkan wajah ketakutan, dengan luka dikeningnya, "Lin! Tiba-tiba ada orang yang melempar jendela dengan itu," dengan tangan menunjuk botol yang sudah pecah, bau bahan bakar menyengat menenuhi ruangan.

__ADS_1


"Nan, Lin Qiunan dimana Ma?" Panik Linda bertanya dengan menggoyang ringan pundak Mamanya.


"Nan, Nan, dibawa orang-orang itu Lin, maafkan Mama. Maafkan Mama telah lalai Lin," ucap Mama Winy kepada Linda dengan tubuh terhuyung hendak bersimpuh.


Bagai guntur ditengah hujan, suara tangis dan kabar buruk tentang putranya menjadi badai didalam dada. Seketika Linda terkulai lemas, Rindu terlihat menutup mulutnya dengan telapak tangan, syok tergambar seiring dengan matanya yang melebar.


"Aaagghhhhh,,, Naannn,,," teriak Linda ditengah tangisan.


Tiba tiba telphone rumah berdering, buru-buru Rindu menganggakatnya. Meletakkan gagang telephone itu pada daun telingan.


"Ya Hallo," Mata Rindu membeliak, kaget terlihat jelas.


Kemudian menyalakan mode pengeras suara agar dapat di dengar semua yang ada diruang tamu. Sesaat setelah mendengar tangis keponakannya.


"Hallo cepat katakan anda ada dimana!!!" Sentak Rindu, " Berani sekali membawa kebanggaan keluarga kami!!" Dengan intonasi yang sama.


"Uussstt uusstttt kecilkan suaramu sayang," dengan nada bicara yang pelan namun menyebalkan si penculik berucap.


"Jangan banyak bicara!!! Cepat kembalikan putra kuuu!! Hiikks hikksss," Linda menyahuti dengan sesenggukan.


"Usstt Usstt tenanglah, anakmu aman jika kasus ini tidak diperpanjang," ucap santai pria di sebrang sana, " Apa anda mengerti, saya rasa anda cukup bijaksana dalam mengambil keputusa."


Telephone terputus. Panik, kepanikan tercipta setelah panggilan telephone terputus. Tangan Linda gemetar. Hingga mencari benda pipih didalam tasnya pun rasanya susah.


"Mama ayolah Ma telphone Papa Ma, aaarrrggghhhhh hiks hiks," suara Linda bergetar, isak tangis menggema.


Kenapa disaat seperti ini seolah otak tidak bisa berpikir dengan jernih. Rindu memeluk tubuh Kakaknya yang berguncang karena tangis yang membuncah. Memcoba memberi ketenangan.


"Ponsel Papa tertinggal sayang," putus asa Mama Winy menjelaskan kepada putrinya.


"Oohh Astagah, ya Allah bagaimana bisa," sesal Rindu. Kemudian bangkit dan mengambil ponsel di dalam tasnya.


Rindu menggigit-gigit kuku jemari, matanya masih tampak memerah. Air mata menetes tak terhenti walau beberapa kali mendongakkan kepala tuk menahan agar tak terjatuh. Mondar mandir menunggu panggilan tersambung. Hingga satu panggilan telephone terangkat, "Hallo Mas, ada dimana? Tolong aku. Kirim lokasimu, aku akan kesana."


Kemudian Rindu memapah Kak Linda agar terduduk diatas sofa, jemarinya mengusap lembut pipi yang basah karena air mata. Tangan Linda menggenggam kuat pergelangan Rindu.


Dengan senyum dipaksakan Rindu mencoba menjelaskan, "Kakak tenanglah disini dengan Bude. Rin akan menemui Pade."


Kemudian Rindu sedikit berlari, mengusap butiran bening di pelupuk mata. Dengan mengendarai mobil dark blue miliknya. Rindu melesat dengan kecepatan tinggi, arah yang ia tuju bukan ketempat Pade Ari berada. Apa yang ia pikirkan saat ini. Siapa yang hendak ia temui?


"Hallo Mas, tolong suruh siapa saja menjemput Pade Ari," pinta Rindu pada orang diseberang telephone.

__ADS_1


"Hemm, ya aku kesana," telfon dimatikan.


Saat hampir dekat pada lokasi yang terlihat pada layar ponselnya, Rindu kini mengemudi lebih hati-hati. Sesekali melihat kearah luar kaca mobil untuk memastikan tempat yang ia tuju sudah benar.


Tinggal satu tikungan lagi. Batin Rindu.


Rindu pun sampai. Di depan bangunan yang baru sebagian berdiri, sepertinya masih dalam proses pembangunan. Terlihat dari tembok yang belum di plamir.


"Assalamualaikum!" Seru Rindu.


Seorang pemuda terlihat keluar, mengamati Rindu mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Dimana orang yang Rindu cari. Mengapa orang lain yang keluar.


Akhirnya orang yang sangat Rindu butuhkan datang. Buru-buru Rindu menerobos menghampiri. Mata serta hidung yang memerah karena tangis masih terlihat jelas.


"Waalaikumsalam, masuklah,"


"Mas, Mas Karno harus bantu aku," ucap Rindu setelah terduduk di salah satu kursi panjang di tempat itu.


Asap rokok mengepul, sebelum menjawab ucapan Rindu. Mas Karno menyesap rokok yang ada diantara sela sela jemarinya, "Ada apa?"


Rindu terlihat menghela nafas sebelum berucap kembali, "Nan diculik Mas."


coba bandingin kalo gini


Dengan cepat, Mas Karno yang tadi tertunduk menoleh kaget. setelah mendengar maksud kedatangan Rindu, "Bagaimana bisa itu terjadi?" Mas Karno menyahuti.


thanks you for reading. Pada beberapa bab yang akan segera end.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Sekali lagi saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan meluangkan waktu membaca novel pertama saya.


Tak kurang juga rasa terima kasih untuk para author yang sudah memberikan kirsar.

__ADS_1


arigatou gozaimasu.


__ADS_2