AKU RINDU

AKU RINDU
TERIMA KASIH GURU


__ADS_3

Di hari itu, hari dimana Rindu harus hadir ditengah-tengah momen paling di tunggu-tunggu para pelajar. Hari menegangkan dimana seluruh siswa-siswi antusias ingin mengetahui hasil ujian akhir sekolah.


Ya, sejak menyelesaikan ujian terakhir Rindu tak pernah datang kesekolah. Ia memilih berdiam diri dirumah, kadang-kadang sibuk menanyakan ini itu kepada kakak sepupunya mengenai dunia desainer.


Drrrrttt drrtttt drrtttt


Sengaja Rindu membuat mode getar agar tidak ada yang mengganggunya saat ini.


"Ri, coba lihatlah siapa yang menelphone mu" ucap Linda mengingatkan dengan tangan masih memasang paiyet pada gaun rancangannya.


Segera Rindu melihat ponsel diatas meja, siapa lagi yang menelfon jika bukan teman baiknya Dian.


Ditekannya tanda hijau pada layar ponsel.


"Ya Dian ada ap--" belum selesai Rindu berbicara.


"RINDU KITA LULUS,SEKOLAH KITA MASUK DALAM URUTAN NILAI TERBAIK TAHUN INI!!!". Teriak Dian antusias.


Sedikit Rindu menjauhkan ponsel dari daun telinga, sejenak memutar dua bola matanya yang lebar.


"Hey, GILA YA!!!." Pekik Rindu setelah mendekatkan bagian bawah ponselnya.


Yang disebrang hanya cekikikan mendengar Rindu memekik, seolah puas sudah mengerjai temannya.


"Jangan tertawa!" ucap Rindu ketus.


"Tenanglah, aku hanya ingin mengabarimu saja." jawab Dian yang masih menyisahkan sedikit tawa.


"Ya syukurlah jika kita semua bisa melewati ini dengan sempurna." Jawab Rindu dengan nada yang sedikit santai.


"Aku akan menjemputmu, bersiap-siaplah, malam ini teman-teman akan mengadakan pesta perpisahan." Ucap Dian panjang lebar


"Untuk apa aku ikut?" Jawab Rindu malas-malasan.


"Ayolah ini hanya sekali, tega sekali kau tidak menghargai teman yang mengajakmu ini" rengek dian dari sebrang.


"Aku tidak janji ya,okey." ucap Rindu seraya mematikan ponsel.


"Siapa Ri? Si Dian?" tanya Linda.


"Ya, siapa lagi." ucap Rindu.


Senyum manis terukir cantik pada sudut bibir Linda, entah apa yang telah membuat hatinya berbunga. Tangnnya yang sudah tidak disibukan dengan jarum kini beralih pada benda pipi nan canggih.


"Ya, waalaikumsalam." ucap Linda saat ponsel tertempel tepat di indra pendengarannya.


"Sudah, tentu saja." balas Linda penuh senyum. Apa pun yang kini tengah Linda bicarakan tak terbaca Rindu di sebelahnya.


"Iya ada, apa mas ingin berbicara?" Ucap Linda seraya sudut mata sedikit melirik makhluk tuhan disebelahnya.


"Mama, sehat! Apa mas juga sehat?" Terdengar Linda balik bertanya.


Rindu memutar jengah bola matanya


Apa enaknya dengan hubungan LDR, yang benar saja. Gumam Rindu dalam hati dengan langkah kaki terhentak di ubin ruang tamu.


"Iihh kenapa si Rindu." ucap spontan Linda.


"Tidak, tidak ada apa-apa! Hanya saja Rindu sedikit aneh." ucap Linda menerangkan pada seseorang dari sebrang sana.


Tak terasa waktu cepat berlalu, entah berapa lama benda pipih itu menempel pada daun telinga Linda. Hantaran panas benda itu tak serta merta membuat Linda bosan dan ingin mengakhiri telphonnya.


Ya allah kak Lin sudah dua jam lebih ia menghabiskan waktu untuk telphone-telphonean, tidak panas apa memangnya. Batin Rindu saat tau Linda masih tak ingin berhenti berbiara dengan seseorang yang sedang menelponnya.


Karena sudah sore Rindu menyibukkan diri untuk membersihkan rumah. Kini bibi Winy yang sibuk mondar-mandir memasak didapur untuk makan malam.


"Sudah ya mas, segeralah beristirahat jaga kesehatan! Iya...aku juga merindukanmu." ucap Linda tersipu malu.


Rindu yang mendengar dan melihat Linda hanya membatin geli astagah mas Nano saja tidak bisa melihat kak Lin disini kenapa pipinya bisa semerah itu.


"Apa Ri lihat-lihat." ucap Linda saat mengetahui Rindu tengah memperhatikannya.


"Iihhh...siapa yang lihat-lihat." Rindu mengelak seraya meninggalkan ruang tamu.


Makan malam dikediaman Linda nampak sepi kali ini tidak ada celotehan Rindu. Entahlah, mungkin karena tak banyak Rindu habiskan diluar rumah jadi tidak ada yang akan ia ceritakan.


Diruang keluarga ada bibi dan paman, Rindu sudah akan meminta ijin kepada orang tua penggantinya.


"Emm, paman bibi. Rindu mohon ijin untuk mengikuti acara disekolah, apa boleh?" Pamit Rindu pada paman dan bibi.


"Tentu boleh sayang pergilah" ucap bibi Winy


"Kau akan pergi dengan siapa? Apa dengan Dian?" Introgasi paman ari.

__ADS_1


"Ya, paman. Rindu pergi dengan Dian" terang Rindu.


Selang beberapa menit.


tok tok tok


"Assalamualaikum." suara Dian terdengar dibalik pintu.


"Waalaikumsalam." jawab serempak ketiga orang yang ada diruang keluarga.


"Dian masuk." Pinta paman dan bibi.


"Paman bibi Rindu pamit." Rindu dan Dian memcium punggung tangan kedua orang tua tersebut.


"Yuk Dian." Ajak Rindu.



"Cantik sekali." Ucap Dian spontan hampir tak terdengar.


"Dian, ngomong sesuatu?" Tanya Rindu.


"Enggak!"


"Udah ah yuk tar keburu selesai acaranya" Dian sedikit menarik tangan Rindu agar mengikutinya.


Walau menggunakan dres panjang tak menyurutkan Rindu untuk duduk santai di jok belakang Dian.


"Pegangan Ri. Awas jatuh!" Goda Dian.


"Ya aku tau."


Rindu sedikit tersentak manakala tangan Dian mengaitkan pegangan Rindu pada pinggang Dian.


Dag dig dug, hey ada apa dengan jantungku. Gumam Rindu.


Tak banyak sesi tanya jawab dalam perjalanan. Hingga sampailah Rindu didepan gerbang sekolah. Banyak pasang mata mengamati Rindu datang berdua dengan Dian.


"Hy di hy Ri." sapa teman-teman


"Gabung yuk, kamu tadi siang kenapa tidak datang Ri?" Tanya Dewi.


"Sorry Dew. Aku tadi pergi dengan kak Lin." Jawab Rindu dengan tangan menggaruk rambutnya sedikit kikuk.


Acara sambutan ibu bapak guru dimulai. Tepuk tangan murid-murid terdengar dari setiap penjuru aula sekolah.


Beberapa murid mengisi acara, menyanyikan lagu ucapan terima kasih pada dewan guru.


Beberapa bagian lirik sedikit diubah oleh mereka yang membawakan lagu. Khusus untuk dewan guru terhormat.


Karena Cinta(guru)


BY JOY TOBING


Hari ini... Adalah lembaran baru bagiku


Ku disini... Karna kau yang memilihku


Tak pernah kuragu akan cintamu


Inilah diriku dengan melodi untukmu


Reff :


Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini


Bukan karna kuat dan hebatku


Semua karena guru, semua karena guru...


Tak mampu diriku dapat berdiri tegar, terima kasih guru


Inilah diriku dengan melodi untukmu


Kembali ke Reff


Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini


Bukan karna kuat dan hebatku


Semua karena guru, semua karena guru...


Tak mampu diriku dapat berdiri tegar, terima kasih guru

__ADS_1


Terima kasih guru...


Gemuruh tepuk tangan semakin kesini semakin ramai seiring bertambahnya murid-murid yang hadir diacara.


Siulan keras terdengar nyaring


Fiiiuuuiiittt wooowwww


Sontak semua yang mendengar menoleh pada sipembuat suara.


"Rindu, ih kampungan." ucap salah satu teman yang memang tak begitu menyukai Rindu.


Dian yang berada disebelah Rindu hanya tersenyum. Ya, Dian mah memang sudah tau katakter Rindu luar dalam. Jadi tak heran jika Dian bersikap santai dengan kekonyolan-kekonyolan yang dibuat Rindu.


"Makan yuk dian lapar." Rengek Rindu minta untuk ditemani.


Dian tak pernah menolak ajakan Rindu. Digandeng lembut jemari tangan Rindu saling bertautan dengan jemari Dian yang besar.


"Mereka pacaran ya?" Tanya seorang yang tengah melihat Rindu dan Dian berjalan didepannya.


"Isshh kayak gak tau saja kelakuan dua orang tu, merekakan memang deket banget. Yah, walaupun beda kelas." Tutur teman yang lain.


"Dasar, mu**han"


"Ssttt, jaga bicaramu. Jangan sampai dian dengar." Ucap salah seorang dengan jari telunjuk menempel pada bibir.


Kini waktu sudah menujukkan pukul 19:30.


"Udah kenyang Ri?" Tanya Dian yang melihat Rindu duduk bersandar dikursi.


Rindu mengangguk. Dengan mata lebar serta bulu lentik dikedua kelopak matanya berayun manja.


Ya tuhan manis sekali. Gumam dalam hati Dian.


"Kita pulang setengah jam lagi ya?" Pinta Dian agar Rindu mau menghabiskan waktu terakhir dengannya.


Sebab Dian akan melanjutkan kuliah diluar negeri. Yang belum bisa dipastikan kapan akan kembali ke indonesia.


"Di, kamu jadi kuliah diluar?" Tanya Rindu tiba-tiba.


"Yaa." jawab Dian singkat karena sebenarnya dian tak ingin kuliah jauh-jauh disana.


Rindu mengangguk singkat. Tahu karena Sian harus meneruskan usaha papanya suatu hari nanti.


Obrolan singkat itu sungguh berkesan bagi Dian. Tawa Rindu sikap Rindu tatapan Rindu yang akan selalu dinantikan suatu hari nanti.


Terlihat salah satu pembawa acara menaiki podium. Salam penutup acara malam ini diutarakan begitu apik.


Satu lagu kembali siswa-siswi suguhkan termasuk Dian, Rindu, Dewi, dan seluruh jajaran.


Terima Kasih Guru


Terima Kasihku Ku Ucapkan


Pada Guruku Yang Tulus


Ilmu Yang Berguna 


Slalu Di Limpahkan


Untuk Bekalku Nanti


Setiap Hariku Di Bimbingnya


Agar Tumbuhlah Bakatku


Kan Ku Ingat Slalu Nasihat Guruku


Trima Kasihku Guruku


Hingga lagu selesai tak jarang para murid menitihkan air mata. Satu persatu dari mereka mencium punggung tangan para dewan guru yang ada. Acara pun berjalan dengan lancar.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu

__ADS_1


__ADS_2