AKU RINDU

AKU RINDU
RAGA TANPA JIWA


__ADS_3

Rindu tertegun, atmosfer di cafe semakin menipis mungkin itu yang kini Rindu rasakan.


Apa? apa?...aku harus jawab apa?...bagaimana ini. Gumam Rindu dalam hati.


Tepat di hadapan Rindu hari terduduk dengan amat sangat santai seolah tidak ada apa-apa. Rindu tak menyadari itu, sampai kemudian lambaian tangan Hari membuyarkan lamunannya.


"Rindu, rindu, hey." ucap Hari dengan melambaikan tangan didepan Rindu.


"Aahhh yah yah, ada apa mas Hari?" Jawab Rindu gusar, merasa tak nyaman.


"Tak perlu di pikirkan, santai saja." ucap Hari dengan menikmati makannya.


Rindu hanya tersenyum canggung, ingin tenggelam saja rasanya. Yang tadinya semangat makan jadi tak berselera.


Diam


diam...


Waktu tiba-tiba saja membeku, seolah tatapan Hari menghentikan waktu. Hingga tanpa sadar suasana di sekitar hening tanpa suara.


Hingga kemudian bunyi lonceng cafe menyadarkan mereka berdua.


Krcciiinnng...


Tak terasa waktu kini sudah menunjukkan pukul 20:00


Waktu berjalan cepat meninggalakan siapa saja yang tengah terdiam merenung.


Tak ada percakapan yang serius diantara keduanya, akhirnya mereka berdua mengakhiri acaranya hari ini. Mengingat Nano besok sudah boleh kembali beraktivitas seperti biasa, yang artinya Linda dan Rindu juga harus segera kembali pulang.


********


08999090393.


Rindu menggenggam erat deretan nomor yang Hari berikan sebelum ia pergi, bisikan Hari masih terdengar jelas di telinganya.


Sampai saat melewati lorong rumah sakit yang sepi tak membuat Rindu goyah karena takut. Bahkan Rindu kini seperti raga tanpa jiwa, melamun di sepanjang lorong menuju ruang inap Nano.


Ckleeekkk...


Pintu terbuka, kok gelap mungkin itu batin Rindu saat ini. Tanpa sadar Rindu mengikuti arus kakinya entah kemana.


Hening sunyi....


Alamak aku dimana. Gumam Rindu sedikit merinding.


Diruangan yang saat ini Rindu masuki memiliki banyak kasur dengan kain putih menutupi sesuatu.


Tengkuknya terasa berat, kaki serasa menancap kedalam ubin, hanya mata lebarnya yang masih berfungsi dengan baik. Lirik kanan lirik kiri.


Siiaaallll okey tenang ... tenang ... tarik nafas...jangan panik... gumam Rindu dalam hati.


Perlahan Rindu memejamkan kedua matanya, bibirnya nampak sedikit bergerak namun samar. Sepertinya Rindu sedang berdo'a kali ini, perlahan-lahan kaki Rindu bergerak selangkah demi selangkah ke belakang.


KAMAR JENAZAH.


Mata Rindu membulat setelah keluar dari ruangan itu dan membaca plat yang tertulus di sana. Tidak berfikir dua kali Rindu berlari secepat kilat, panik jelas! Keringat sudah nampak sejak masuk disana.


Brrraaakkkk.


Kuat-kuat Rindu membuka pintu.


Nafasnya terlihat naik turun tak beraturan, peluh keringat didahinya masih setia di wajahnya.


Nano mengernyikan alisnya. "Sssttttt" dengan jari telunjuk menempel pada bibirnya. "Bisa pelan tidak, lihatlah kakakmu sedang tertidur." ucap Nano kemudian.


"Sorry sorry." ucap Rindu pelan sambil menjewer telinganya sendiri.


Mungkin karena terlalu lelah Linda tidak bergerak sedikit pun dengan aksi Rindu yang sedikit ugal-ugalan.


"Mas besok sudah boleh pulang ya?" Tanya Rindu saat sudah duduk di sebelah Nano, dengan tangan mengusap dahi yang basah karena keringat dengan tissu.


"Iya, kenapa kau tadi berlari seperti itu?" Tanya mas Nano penasaran.


"Tidak ada apa-apa hanya saja aku tadi salah masuk ruang jenazah." merinding seketika saat Rindu mengingat kejadian tadi.


"Bbhhhffff bhhaahhaahhaaa." pecah tawa mas Nano seketika.


Mengerucut lima centi bibir Rindu mendengar tawa mas Nano, dengan tangan bersedekap di dada.


Diusap lembut pucuk kepala Rindu. "Bagaimana bisa dirimu sampai di ruangan seperti itu hah?" Tanya Nano kemudian. "Pikiranmu lari kemana?" Imbuhnya.


Terlihat Rindu gusar, dimainkannya ujung kuku jemari tangannya. Mengatur kalimat yang pas untuk bertanya pada mas Nano mengenai seseorang yang sudah membuatnya nyasar.


Rindu sedikit bersandar dikursi. "Mas Nano, ummm menurut mas nano, mas hari seperti apa?" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


Lagi lagi Nano mengernyitkan alisnya, mencoba mencerna apa yang menjadi alasan Rindu menanyakan perihal temannya. Memandang Rindu penuh selidik dengan tangan mengusap-usap dagunya, melihat Rindu yang mulai gelisah salah tingkah.


"Tidak mau menjawab tidak masalah! jangan menatapku seperti itu!" seru Rindu ketus sambil membuang muka.


Jemari Rindu terbuka merasai ada sesuatu yang sedari tadi ia genggam, yah nomor ponsel Hari. Sedikit pudar terkena keringan dingin tangan Rindu.


Dimasukannya nomor itu kedalam kontak ponselnya.


Jika kamu sudah siap menjawab hubungi nomor ini, jika tidak tak masalah jika nomor ini kau buang. Oesan Hari seolah menggema di telingan Rindu.


Rindu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Kalimat demi kalimat Rindu ucapkan, tidak ada satu kejadian pun terlewatkan. Setiap kejadian Rindu ceritakan tanpa menambahi atau pun mengurangi. Nano mendengarkan dengan seksama tanpa menyela perkataan yang keluar dari bibir Rindu, mengangguk-angguk ringan dan sesekali tersenyum menanggapi.


"Nah begitulah kejadiannya." ucap Rindu setelah mengakhiri curhatannya.


"Lalu apa yang kau rasakan saat ini, apa ada perasaan yang sama?" ucap mas Nano menanggapi.


"Tidak ada. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya." ucap polos Rindu.


"Terserah pada mu saja Ri." ucap mas Nano, seraya meletakkan ponsel diatas meja kecil sebelah tilamnya. "Istirahatlah besok kau harus kembali pulang." perintah mas Nano pada Rindu.


Ketiganya tertidur dalam mimpi masing-masing, waktu bergulir malam berganti pagi seorang suster membangunkan salah satu dari mereka. Linda mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya terang, menggerakkan sedikit ototnya yang terasa kaku.


"Selamat pagi nona." sapa seorang suster.


"Selamat pagi." jawab Linda. "Jam berapa dokter akan memeriksa keadaan teman saya sebelum keluar dari rumah sakit." imbuh Linda kemudian.


"Pukul satu siang nona." jawab suster sambil tangannya dengan lincah membuka infus di tangan Nano.


Nano pun terbangun merasakan ada seseorang yang menyentuhnya, mata Nano menyipit mencoba menyesuaikan netranya dengan cahaya.


"Selamat pagi pak." suster menyapa Nano saat sudah terbangun dan menyandarkan dirinya di dinding atas tilamnya.


"Selamat pagi sus." jawab Nano


Setelah selesai dari tugasnya suster meninggalkan ruangan, Rindu nampak tertidur sambil bersandar seolah begitu nyaman hingga sedikit kegaduhan tak membangunkannya.


Linda menggoyang bahu Rindu. "Ri...bangun sudah pagi." ucap Linda pelan.


"Eemm hoooammmm." Rindu menutupkan telapak tangannya pada mulut yang menguap. "Ya kakak sudah pagi ya? badan ku pegal sekali." ucapnya sambil merenggangkan otot-ototnya.


Rindu melangkah hendak ke kamar mandi di ruangan itu, seketika langkahnya terhenti saat tangan Linda berhasil meraih pergelangan Rindu. "Hey pemalas kau mau kemana? Mas Nano masih di dalam." ucap Linda memberitahu.


"Eeemmm." dengan malas-malas Rindu merebahkan tubuhnya di atas sofa, sedikit jiwa yang sudah kembali dari berkelana membuat Rindu malas terbangun.


Linda yang melihat kebiasaan Rindu hanya menggelengkan kelapa dengan tersenyum. "Mas sudah selesai." ucap Linda saat pintu kamar mandi sudah terbuka.


"Lin nanti kamu langsung pulang saja tidak enak sama om Ari dan tante Winy." ucap mas Nano memerintah karena sejak Linda disini untuk merawatnya tante Winy terus menelfon menanyakan kabar. Wajar karena tante Winy mencemaskan anak kesayangan anak semata wayangnya.


"Iya setelah aku mengantarkan mu kembali ke mess." jawab Linda tegas.


"Sudah selesai ya." sahut Rindu yang sudah bangun dari tidur. Berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk mengusir kantuk, air dingin membuat mata Rindu terbuka sempurna, segar rasanya.


"Anak itu kapan pengumuman kelulusan?" tanya mas Nano kepo.


"Rindu bilang dua minggu lagi." jawab Linda


Mas Nano mendudukan dirinya di pinggir tilam sambil merapikan rambutnya dengan jemari.


Linda yang hendak menghampiri mas Nano tak sengaja tergelincir, dengan sigap mas Nano menangkapnya. Tatapan mereka bertemu terkunci satu sama lain, wajah mereka begitu dekat hingga nafas hangat mas Nano menerpa Linda lembut.


Ckleekkk


Pintu kamar mandi terbuka.


"Puuppsttt sorry sorry aku tak melihatnya." ucap Rindu sambil menutup wajahnya dengan dua pelapak tangan.


Seketika mereka berdua salah tingkah, Linda mencoba merapikan bajunya yang tidak berantakan untuk mengusir canggung.


Begitu juga mas Nano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Eheemm mas mau sarapan?" tawar Linda sambil melangkah mendekati baki berisi makanan yang sudah suster sediakan.


"Aahh ya tentu." jawab mas Nano gugup.


"Ri nanti kita beli makan di luar sambil jalan ya?" Ucap Linda pada Rindu yang sudah duduk di sofa sambil memainkan ponsel. "Makanlah ini dulu." imbuh Linda dengan menyerahkan roti isi pada adik sepupunya itu.


"Terima kasih kakak." ucap Rindu seraya tersenyum manis.


Tok tok tok


Kompak ketiganya menoleh ke arah pintu, seorang laki-laki dengan tubuh dan tinggi badan yang porposional bak atlit basket.


Diikuti dua orang pemuda yang mereka kenal, Setya dan Hari menyunggingkan senyum.


"Selamat pagi pak Wibi." ucap mas Nano menjabat tangan HRD pabriknya yang datang berkunjung.

__ADS_1


"Selamat pagi, bagaimana keadaan mu saat ini apa sudah lebih baik?" ucap pak Wibi ramah. Pak Wibi datang berkunjung sekalian dengan menyelesaikan administrasi perawatan Nano tiga hari ini.


Karena di tempat mas Nano dan kawan kawan bekerja keamanan dan keselamatan tenaga kerja menjadi prioritas utama.


Mata coklat Hari mencuri-curi pandang pada Rindu yang masih santai di atas sofa lengkap dengan tangan memegang roti isi.


Rindu merasa sedikit terganggu dengan tatapan itu, terlihat Rindu ingin mencari alasan untuk keluar dari sana.


"Silahkan pak." ucap Rindu beranjak mempersilahkan pak Wibi untuk duduk.


Di letakkannya biskut dan juga minuman dingin diatas meja.


Rindu memelotot kearah Hari yang sedari tadi melihatnya tanpa mau mengalihkan pandangan, Rindu mengangkat alisnya seolah mengisyaratkan kenapa lihat-lihat.


"Permisi." pamit Rindu segera pergi dari ruangan.


Hari mengikuti langkah santai Rindu.


"Mengapa kau mengikutiku?" sergah Rindu.


"Aku takut kau tersesat." ucap Hari dengan senyum meledek.


Astagah apakah dia tau jika aku semalam tersesat karenanya? apa dia seorang peramal?. Gumam Rindu dalam hati.


"Tidak aku sudah cukup tau tempat ini bagaimana aku bisa tersesat." ucap Rindu mengelak.


"Yaahh, mungkin saja. Karena terlalu memikirkan ku dirimu jadi tersesat?" jawab Hari santai.


Hey hey hey mas nano, apakah kau memberi tau teman mu yang menyebalkan ini jika semalam aku tersesat karna memikirkan ucapannya? . Rindu masih membatin karena tidak mungkin berkata jujur.


"Untuk apa memikirkan mu? bahkan nomor mu sudah aku buang." ucap ketus Rindu.


"Benarkah?" Ucap hari sambil menyenggol singkat bahu Rindu.


"Dasar menyebalkan." ucap Rindu lirih hampir tak terdengar.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Hari yang sayup-sayup mendengar Rindu berbicara.


"Tidak ada." ucap Rindu cepat.


Hari terlihat mangut-mangut percaya elakkan Rindu, yang mungkin saja benar bahwa ia tak mengatakan apa pun.


"Ya sudah jika tidak ada yang ingin kau bicarakan...aku akan masuk kedalam." ucap Hari dengan tangan mengacak-acar pucuk kepala rambut Rindu.


"Iissshhh...singkirkan tangan mu!" Seru Rindu ketus, mengibaskan tangan Hari dari pucuk kepalanya.


Hari hanya senyum-senyum meninggalkan Rindu yang cemberut.


Terlihat pak Wibi sudah keluar dari ruangan Nano, setelah memastikan kondisi pegawainya.


Hari dan Setya pun mengantar pak Wibi kembali ke pabrik.


Setelah melakukan pemeriksaan mas Nano di izinkan pulang, Rindu dan Linda mengantarkan mas Nano di mes tempatnya tinggal selama dikota.


Mobil Linda menyusuri jalanan ibu kota, Rindu menatap keluar jendela mobil melihat pepohonan menjauh.


"Ri mikirin apa?" Tanya Linda saat menyadari Rindu melamun.


"Tidak ada." jawab Rindu gamang.


Linda mengangguk, kembali fokus mengemudi jalanan siang ini cukup lenggang. Hanya sesekali berhenti di lampu merah.


Setelah beberapa saat sampailah Linda di mes Nano, karena hari masih siang jadi tidaklah terlalu rame para penghuni tempat itu lebih tepatnya tampak sepi.


Mata Rindu mengamati setiap sudut tempat itu. "Seperti kos-kosan ya mas Nano" ucapnya kemudian.


"Ya seperti inilah Ri silahkan masuk." jawab Nano menpersilahkan linda dan rindu masuk.


Kamar masing-masing pegawai di lengkapi dengan kamar mandi dan dapur, walau tidak besar tapi cukup nyaman untuk di tempati.


"Pria wanita juga tinggal disini?" Tanya Linda tiba-tiba, kecemasan terlihat dari matanya yang mengkilat.


"Iya hanya saja para wanita menempati kamar di lantai atas." terang mas Nano.


"Ooww." jawab Linda singkat tak ingin terlalu berfikir yang tidak-tidak.


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,


,,,,

__ADS_1


Saya ucapakan banyak banyak terima kasih jika ada yang berkenan untuk meluangkan waktu untuk membaca novel pertama saya. arigatou gozaimasu


__ADS_2