
Sita kaget mendapati dirinya sudah ada di kamarnya. Sita terlihat memegang kepalannya yang sedikit pusing, ia juga mengerjap-ngerjapkan matanya.
" Sila kok bisa aku sudah ada di sini." ucap Sita.
" Kau tertidur di depan pintu kamar Hari, dan Hari yang membawa mu kemari." jelas Silla.
" Astagah iya baru saja aku melihat hantu perempun tepat di depan ku Sil." Ucap Sita setelah mengingat kejadian tadi, rasa takut masih menghantui Sita, lagi-lagi ia merinding saat ingatan kala itu terlintas.
" Yang bener?" ucap Silla setengah tidak percaya atas tuturan Sita. Mendengar penuturan Sita seketika bulu halus di tanganya berdiri.
" Ya ampun gk percaya!! di datengin baru tau rasa kau." Terang Sita sedikit penekanan karena merasa tidak di percaya.
" Okey okey aku percaya sekarang lanjukan istirahat mu. Karena besok kita harus kerja." ucap Silla agar temannya beristirahat.
Waktu masih menujukkan 23:00 suasana sepi, mengharuskan Silla tetap menemani Sita di kamar. Takut apa yang di lihat oleh temannya di alam pula olehnya.
" Hiiiihhhh ngeri juga ya." gumam Silla sambil membenamkan tubuhnya di balik selimut karena takut. Malam pun berjalan dengan damai.
Sayup sayup terdengar suara adzan subuh, pelan pelan seluruh karyawan terlihat sedikit demi sedikit terbangun untuk melakukan kegiata seperti biasanya.
Silla dan Sita pun sama seperti yang lain nampak bersiap-siap menuju pabrik.
" Silla aku duluannya." ucap Sita saat matanya menangkap sosok yang belakangan ini menjauhinya.
Silla hanya mengangguk tanda bahwa ia tak keberatan.
" Setya.!!! " seru Sita
" Hey Setya tunggu!!!!" Sita mengulangi sekali lagi.
Sedikit berlari Sita mengejar Setya yang tak merespon panggilannya. Lokasi tempatnya saat ini memang masih jauh dari area divisinya.
" Tunggulah sebentar." Saat tangan Sita berhasil menggapai jemari Setya.
Setya hanya menoleh singkat, entah apa yang ia rasakan kecemburuan masih menghinggapi hatinya saat melihat kenangan di club...
" Hey apa salah ku." Ucap Sita dengan nada memelas.
Mau tak mau Setya menoleh ke arahnya, tatapan dingin dan penuh tanda tanya terlihat jelas.
" Coba jelaskan pada ku siapa yang sedang bersama mu saat di club?" Tanya Setya karna sejak malam itu dia memilih menghindari Sita sampai dekit ini.
" Ak ... aku." jawab Sita gugup.
Flashback on
Setelah kepergian hari dan Setya, Silla menghampiri Sita yang terlihat sedang bersama seseorang.
" Oohh jadi ini yang membawa mu datang ketempat ini? Siapa dia kekasih mu ya Sit?" deretan pertanyaan silla lontarkan.
" Eem...emmm... i...iya." Jawab Sita gelagapan.
" Hallo aku Silla teman Sita." Ucap Silla sembari mengulurkan tangannya.
" Hallo aku doni tunangan Sita." jawab Doni tegas.
__ADS_1
Sita terlihat bingung dan salah tingkah karna memang dia tidak pernah menceritakan kisah hidupnya pada seseorang termasuk Silla.
" Oohh sudah tunangan." Ucap Silla " O iya Sit tadi aku bertemu dengan Hari dan Setya lo di depan pintu." imbuh Silla.
Seketika Sita membulatkan matanya karna apa yang ia takutkan terjadi.
" Astagah benarkah." dengan suara panik Sita terkesiap atas perkataan Silla.
Doni yang merasa janggal dengan ucapan dan reaksi Sila, segera bertanya secara terang-terangan " kenapa sayang apa ada sesuatu yang membuat mu tak nyaman?" dengan tangan memegang bahu Sita sedikit tekanan.
" Tidak apa-apa kok Mas" ucap Sita mencoba bersikap normal.
Sebenarnya Doni sudah tau kedekatan Sita dengan Setya selama ini, karna teman Doni ada yang bekerja di tempat Sita bekerja sekarang.
Jadi jelas Doni tau semua yg telah Sita lakukan mulai dari kegiatannya sehari-hari sampai kedekatanya dengan siapa saja.
Tapi Doni tidak mau buat keributan di depan Sita, karna Doni takut tidak bisa mendapatkan hati Sita sepenuhnya.
" eemm Mas Doni, Sita mau balik mes dulu ya." ucap Sita.
" mau Mas antar sayang." Tawar Doni berharap Sita mau ia antarkan.
Dengan cepat dan keras Sita menjawab " TIDAK PERLU MAS !!!" sampai-sampai Sita kaget akan ucapannya sendiri.
" Baiklah tak masalah." jawab Doni datar.
Silla yang tidak seberapa tau kedekatan kedua orang yg bercengkrama di depannya hanya sekedar menjadi pendengar yang baik.
" Permisi." ucap Sita dan Silla saat meninggalkan club.
Setelah sampai Sita mencoba mencari keberadaan Setya, pertengkaran antar keduanya pun terjadi dengan penjelas yang tak masuk akal. Sehingga membuat Setya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
" Hanya itu yang bisa ku jelaskan pada mu Setya dia memang tunangan ku. Tunangan karna perjodohan keluarga ku dan keluarganya sejak kecil." Sita mencoba menjelaskan sejujur-jujurnya, karna memang itu yang sebenarnya.
" Lalu maksud mu menerima ku apa? " Ungkap Setya karna memang penjelasan yang tak masuk diakal, dia harus menjalani hubungan dengan calon istri orang.
Tiba-tiba Setya menggenggam kuat pergelangan Sita dengan kasar, dapat di lihat dari putih pucatnya di sekitar pergelang tangan Sita yang di genggam Setya.
" Lepas Setya tangan ku sakit." Sita memohon dengan mata mulai berkaca-kaca.
Di sebuah lorong yang tampak sepi Setya mengurung Sita dengan kedua tangannya yang membentur dinding.
Seketika itu satu tangan Setya memegang dagu Sita dengan penekanan.
" Degar baik-baik, aku paling tidak suka di tipu!!!!." Bisik Setya di telinga Sita, hingga Sita meneteskan air mata.
Sebenarnya setiap kali ada masalah Sita selalu dapat perlakuan yang sedikit kasar dari Setya, mungkin karna cinta yang membuat matanya buta. Hingga tak merasakan kerasnya perlakuan Setya.
Kadang sesekali Sita juga terpancing emosi hingga benda tak bersalah bisa menjadi korban di sela-sela pertengkaran keduanya.
" AKU AKAN MENINGGALKANNYA UNTUK MU SETYA!!!! " Sita meninggikan suaranya.
" Kecilkan suara mu, ini bukan ruangan kedap suara hingga kau bisa teriak - teriak semau mu." Ucap Setya setelah melepaskan Sita. Matanya memerah menahan amarah, tanpa sadar tangan setya mendarat pada jendela kaca yang ada disana. " Kita putus." ucap Setya lirih kemudian beranjak pergi.
" AKU TIDAK MAU SETYA!!!! " teriak Sita yang masih ada di posisi semula.
__ADS_1
Namun Setya tetap melangkah tanpa ada niat untuk menoleh, bahkan darah yang mengalir tidak dia rasakan.
Jam tepat pukul 08:00 yang artinya seluruh karyawan harus sudah ada di posisinya masing-masing.
Terlihat Setya sudah mengobati lukanya di klinik pabrik, perban melilit tangannya.
Disetiap kesempatan Setya selalu menghindari Sita, ketika jam istirahat pun Setya masih mencoba menghindar.
Dari hari kehari tidak ada kesempatan untuk keduanya bertemu, sejak pertama kali bekerja disini. Sitalah yang membantu Setya untuk memahami apa-apa saja yang harus Setya kerjakan. Sampai akhirnya hubungan mereka bisa terjalin lebih dari sekedar berteman.
****
Langit jingga sore hari menemani langkah kaki letih seluruh karyawan pabrik. Mas Nano berjalan di antara ratusan karyawan, nampak sesekali berbincang dengan rekan di sebelahnya.
Jarak mes dan pabrik tidaklah jauh jadi dapat di tempuh hanya dengan berjalan kaki.
Sudah dua bulan mas Nano di kota sejak kepulangannya ke kampung waktu itu, mas Nano tidak selalu setiap bulan pulang. Tunggu ada tanggal merah atau cuti baru bisa menenggok keluarga di kampung halaman.
" Har dua bulan lagikan lebaran apa kau masih betah gak pulang kampung? " Tanya mas Nano pada Hari, soalnya Hari adalah orang yang paling jarang pulang.
" Ya pulang lah No aku juga kangen ibu bapak ku." ujar Hari melow.
" Halah gak usah sok-sokan melow, mual aku melihat mu." Ucap Mas Nano sambil mendorong kecil pundak Hari.
Gurauan-gurauan mehiasi perbincangan ringan antara dua anak muda satu rumput itu.
" Eehh No, lupa aku mau cerita sesuatu sama kamu." ucap Hari dengan wajah serius.
" Heeemmm." jawab singkat Mas Nano yang masih melihat arah depan.
" Tau gak semalam Sita tertidur di depan kamar ku, lebih tepatnya sih pingsan." terang Hari saat mengingat kejadian semalam." Apa mungkin Sita hamil muda, mangkanya sampai pingsan." imbuh Hari tanpa beban.
Plaaakkkk...
Tangan Nano mendarat di kepala Hari " Jangan mengada-ada bagaimana bisa Sita hamil, yang benar saja." ucap mas Nano kemudian
Hari pun menggosok-gosok kepalanya sambil cengar cengir tak jelas. " Laahh aku tadikan bilang mungkin No." ucap Hari memcari pembenaran.
" Sudahlah tidak seharusnya kita membicarakan orang lain." mas Nano menegaskan, karena memang bukan urusannya.
.............
..........
.......
.......
.......
.....
....
....
__ADS_1
..
.